
Aska menatap sinis sesosok gadis yang di hadirkan oleh ibunya siang ini. Gadis bernama lengkap Shiva Morischa Adipsha,alias Shiva ini adalah perempuan yang konon akan di jodohkan pada Aska.
Sosoknya cantik,baik,tapi cukup kekanak-kanakan bila di bandingkan dengan Sassya. Istri tercintanya yang belum bisa ia temui sampai hari ini.
"Sky,bisa gak kita jalan-jalan? Aku bosen tau nungguin kamu kerja seharian."
Sosok astral yang sedari tadi Aska hindari tampak mulai membuka suara.
Aska pura-pura tuli. Sengaja tidak menjawab seolah tidak melihat dan tidak mendengar perkataan gadis bernama Shiva itu.
"Sky!!" Bentak Shiva dengan wajah cemberutnya. Sekarang ia sudah berpindah posisi jadi di depan kursi kerja Aska.
Aska melengos ke samping,namun kepalanya di tarik oleh Shiva sehingga mau tak mau ia harus menatap wajah Shiva.
"Lihat aku. Aku mau jalan-jalan tau!!" Bentak Shiva di depan wajah Aska. Dengan bibir di manyun-manyunkan.
Aska mendengus."Kau kan punya kaki. Jalan-jalanlah sendiri,aku sibuk." Balas Aska dengan nada malas.
Shiva melotot kesal."Kamu lupa ya? Mommy kamu kan nyuruh aku ke sini buat nemenin kamu. Itu artinya kemana-mana aku harus sama kamu."
Mendengar ucapan Shiva,Aska jadi menarik sudut bibirnya. Membentuk senyuman sinis.
Keduanya alisnya pun tampak terangkat,
"Mommyku menyuruhmu untuk menemani aku kan? Dan kau tau apa pekerjaan ku sehari-hari? Aku CEO. Mengurus kantor,dan mommy meminta mu untuk menemaniku. Salahmu sendiri karena kau mau melakukannya,kalau kau mau menemaniku ya duduk saja di situ sampai aku pulang bekerja. Itu tugasmu. 'Menemaniku. Bukan aku yang menemanimu'." Balas Aska belibet dan itu cukup membuat Shiva pusing.
"Tapi aku bosan Sky."
"Itu bukan urusanku." Ujar Aska sambil beranjak dari tempat duduknya.
Buru-buru Shiva menyusul dan langsung menempeli Aska.
"Kamu mau kemana?" Tanya Shiva dengan nada manja.
Aska risih sekali dengan kelakuan Shiva. Ingin rasanya ia membanting tubuh gadis ini ke dalam lubang tanah kemudian menguburnya hidup-hidup. Astaga Aska. Apa yang kau pikirkan? Itu nyawa anak orang.
"Aku mau kemana? Itu bukan urusanmu. Lepaskan tanganmu karena sentuhanmu membuat tubuhku alergi." Aska melepaskan pelukan Shiva dari lengannya kemudian melengang keluar.
Bulu kuduk Aska sedikit merinding membayangkan tubuhnya baru saja bersentuhan dengan ulat bulu.
Buru-buru ia menelpon Alex.
"Alex,carikan aku pakaian baru." Perintah Aska melalui sambungan telepon.
"Grep.."
Baru beberapa langkah Aska tak di buntuti. Kini sosok koala centil itu kembali menempeli dirinya,bahkan kali ini dengan berani sosok itu memeluk pinggangnya.
__ADS_1
"Shiva,jaga sikapmu!!" Bentak Aska. Ia mendorong tubuh Shiva dengan kasar membuat Shiva mundur beberapa langkah.
"Ini kantor Shiva. Jangan membuat ku malu dengan tingkah kekanak-kanakan mu itu!! Berjalanlah sendiri-sendiri kau sudah besar,jangan bertingkah seperti anak kecil apalagi di depan laki-laki yang sudah 'b-e-r-i-s-t-r-i." Ujar Aska sambil menekankan kalimat terkahirnya dengan sedikit ejaan.
"Kau mengertikan?!" Tanya Aska sekali lagi.
Shiva tak menyahut dan memilih pergi sambil menghentak-hentakan kakinya dengan kesal meninggalkan Aska yang hanya bisa meremas rambutnya,menahan kesal.
♡♡♡
Siang berganti menjadi sore dan entah bagaimana caranya,makhluk yang sedari tadi menempeli Aska kini sudah hilang. Tadi setelah mendapatkan telepon dari seseorang,Shiva tampak terburu-buru keluar dari kantor Aska. Bahkan tanpa mengatakan apapun,gadis itu tau-tau mengiriminya pesan bahwa ia ada urusan mendadak di rumah.
Lega? Tentu saja? Senang? Oh jangan di tanya. Jika tidak memikirkan image,mungkin saat ini Aska sudah lompat-lompat,salto jungkir balik,bahkan rol depan saking senangnya karena akhirnya terbebas dari tempelan hantu pohon ara satu itu.
Jadi untuk memanfaatkan kesempatan yang sudah ada,Aska pun memutuskan untuk mengunjungi rumah sang istri. Sesuai dari info yang ia tahu,ibu mertuanya itu bekerja dari pukul delapan pagi hingga pukul tujuh malam.
Waktu sekarang pukul empat sore dan itu adalah kesempatan bagi Aska untuk menemui istrinya,secara diam-diam tanpa perlu berseteru dengan mertua.
Jadi di sinilah Aska berada,dengan satu tangan terangkat. Bersiap memberi ketukan pada daun pintu di depannya.
"Tok.."
"Ceklek..."
Pucuk di cinta ulam pun tiba. Tak perlu mengulang hingga tiga kali,sosok wanita yang selama satu bulan ini ia rindukan akhirnya muncul di depan mata.
Keduanya saling tatap dalam balutan rasa canggung dan rindu hingga akhirnya Sassya buka suara.
Tuan? Entah kenapa kata itu terdengar menyakitkan di telinga Aska.
Tak mau kehilangan kesempatan,Aska segera menarik Sassya ke dalam pelukannya.
"Aku ke sini,karena aku merindukanmu." Ujar Aska dengan sedikit gugup. Ia bisa merasakan ada tonjolan diantara tubuh keduanya dan tonjolan itu berasal dari perut sang istri.
Tangan Aska perlahan terulur untuk mengusap perut Sassya. Ada perasaan hangat yang sulit ia jabarkan.
"Tepatnya aku merindukan kalian." Lanjut Aska lagi dengan suara yang lebih lirih.
Sassya terdiam. Tidak bergerak,tidak juga membalas pelukan Aska. Hingga akhirnya Aska sadar jika tak ada respon dan langsung melepaskan pelukan mereka.
"Kenapa?" Tanya Aska dengan ekspresi sedih.
"Kau tidak merindukan aku ya?" Tanya Aska lagi.
Tak ada jawaban. Sassya tampak membeku di tempatnya.
Perlahan tangan Aska terangkat hendak menyentuh wajah Sassya,namun dengan cepat Sassya mundur hingga tangan Aska berakhir menyentuh angin.
__ADS_1
Aska tersenyum kecut melihat reaksi Sassya yang tampak menghindari dirinya.
Namun ia tidak boleh menyerah,apalagi ada hal yang saat ini harus ia sampaikan.
"Sasa dengarkan aku. Aku tau aku salah dan aku datang ke sini untuk meminta maaf,mungkin kedengarannya terlambat. Tapi aku bersungguh-sungguh Sasa. Aku..,aku tidak ingin berpisah denganmu. Aku sadar aku mencintai kamu."
Ujar Aska dengan ekspresi serius.
Sasssya tersenyum sinis.
"Tuan pandai sekali berbohong."
"Aku tidak berbohong Sassya,aku mencintaimu." Aska bersuara sekali lagi dengan nada lebih tegas.
Sedetik kemudian ia sudah maju dan kini memegang erat kedua pergelangan tangan Sassya.
"Sasa,dengarkan aku. Saat ini memang segala yang aku ucapkan terdengar mustahil dan mendadak,tapi kau harus tau. Aku sungguh-sungguh mengenai perasaanku padamu. Ada banyak hal yang ingin aku katakan lagi,tapi ada hal yang lebih penting juga yang mau aku beritahu. Mau mendengarkannya?"
Sassya menatap Aska dengan bingung. Sikap dan cara bicara Aska sedikit berubah,lebih lembut dan hangat dari biasanya.
Perlahan tapi pasti,kepala Sassya mengangguk.
"Katakan,apa yang mau tuan katakan."
Mendengar jawaban Sassya,ada kelegaan di hati Aska. Namun itu hanya bertahan sebentar dan hilang setelah ia ingat ucapan mommynya semalam.
Inilah alasan Aska datang ke sini,ia butuh bantuan Sassya dan ia harus menjelaskan semuanya pada Sassya.
"Sasa dengarkan aku,aku mencintai kamu. Apa kamu mencintai aku? Jawab dengan jujur." Pinta Aska sungguh-sungguh.
Sassya gugup mendengar pertanyaan Aska.
"B..bukannya tuan sudah tau jawabannya. Kenapa tuan tanyakan lagi?" Tanya sassya dengan kepala tertunduk.
Aska menghela napas semakin lega.
"Syukurlah." Desahnya lega. Sedetik kemudian ia kembali menatap Sassya dengan intens.
"Katakan hal itu di depan mommyku,bilang pada mereka kalau kita saling mencintai. Kau tau Sassya,suami tampanmu ini akan di jodohkan."
♡♡♡
Miawwww.....
Selepas tanggal 31,aku bakalan kreji up...
Bantai langsung tamat rencananya. Aku udah stok bab,jadi untuk tiga hari ke depan aja kalian masih di gantung2.
__ADS_1
Sisanya nanti gak lagi,kenapa? Ya karena tanggal satu november nanti aku udah luncur novel baru....
Yang artinya novel ini harus di tuntaskan...