
"Gue paham Sya. Gue memang HANYA,mantan kakak tiri lo. Sedari awal gue memang tidak ada hubungan apapun sama lo sampai bokap gue jadiin lo dan nyokap lo bagian dari keluarga William. Gue juga paham kalau gue gak seharusnya peduli sama orang yang udah pernah gue buang. Gue paham. Sangat paham. Sebelumnya bahkan saat pertama kali kalian keluar dari mansion,gue gak pernah janji buat gak ikut campur urusan lo. Tapi kali ini,gue rasa gue harus janji kalau gue gak bakalan ikut campur lagi sama urusan lo."
"Gue pamit." Zee berjalan keluar dari ruangan Sassya dengan perasaan campur aduk.
Sementara Sassya,gadis itu memandang sendu kepergian Zee. Ia tahu,Zee adalah gadis sensitif. Semenjak mamanya meninggal,emosi Zee tidaklah stabil tapi perlahan Zee bisa mengendalikan dirinya. Namun hari ini Sassya kembali menggoreskan satu luka lagi di hati Zee.
Zee pernah di anggap bayangan oleh keluarganya sendiri akibat Sassya dan ibunya dan kali ini di posisi yang berbeda tapi sebagai orang yang sama. Untuk kedua kalinya,Sassya berhasil melukai Zee.
"Maaf kakak." Lirih Sassya.
Tak lama isakannya menggema di dalam ruangan rawat tersebut. Sungguh ia tak bermaksud menyakiti Zee,sedikitpun.
"Sekali lagi maaf."
♡♡♡
"Sayang!!" Chintiya berjalan terpincang-pincang menghampiri Aska yang tampak terbaring dengan banyaknya perban di wajahnya.
Laki-laki tersenyum tipis saat merasakan sapuan lembut di bibirnya. Ia menatap wajah sang kekasih yang berada di dekat wajahnya dengan tatapan penuh damba.
"Bagaimana keadaanmu?" Tanya Aska sambil menyapun lembut wajah Chintiya dengan sedikit susah karena ada infus di tangannya.
"Aku baik-baik saja. Harusnya aku yang bertanya,bagaimana keadaanmu. Beruang ganas itu benar-benar hampir membunuhmu,kenapa dia tega sekali. Aku takut padanya."
Chintiya menangis tersedu-sedu di atas dada Aska. Sakit sekali hatinya saat melihat sang kekasih di pukuli habis-habisan oleh seorang wanita.
"S..sttss...jangan menangis. Memangnya kau tidak mengetahui sifat nona Michelle? Dia memang begitukan? Lagipula itu wajar,nona Michelle marah karena kita bermain-main dengan adiknya."
Chintiya mendengus."Sayang,bagaimana bisa kau tidak tau kalau Sassya itu adiknya nona Michelle? Tau begitu,kau cari saja wanita lain. Kenapa harus berurusan dengannya?"
"Sayang sudahlah. Lagipula hubungan nona Michelle dan wanita bodoh itu tidak sebaik itu. Aku bisa jamin kalau wanita bodoj pasti akan tetap pada pendirian. Dia sangat menyayangi ibunya yang tua itu jadi dia akan memilih ibunya dari pada kakaknya. Aku jamin itu."
"Maksudmu?" Chintiya tak paham maksud ucapan Aska.
Aska tersenyum."Aku pegang kendalinya sayang." Ujar Aska sambil mengusap-usap kepala sang kekasih dengan penuh kasih sayang.
Bayangan Sassya dan Zee yang bertengkar setelah Zee keluar dari ruangannya tadi membuat Aska semakin semangat untuk cepat sembuh. Ia benar-benar bisa memastikan jika Sassya akan menolak tawaran Zee mentah-mentah.
Lagipula,di sadari atau tidak. Aska memang belum siap melepaskan Sassya,gadis itu seperti memiliki daya tarik tersendiri yang membuat Aska sedikit merasa rugi jika melepaskannya.
__ADS_1
♡♡♡
"Drttt..." Dering suara ponsel membuat Sandra yang tengah sibuk dengan tumpukan dokumen di depannya mendadak menghentikan kegiatannya sejenak untuk mengangkat telepon tersebut.
"Halo Ar?"
....
"Iya gue di kantor."
....
"Enggak,kenapa emang?"
....
"Ponsel Zee gak aktif?"
....
"Dia tadi ke rumah sakit,jengukin Sassya. Sampai sekarang belum balik."
....
....
"Ok. Bye."
"Drtttt..."
Baru beberapa detik telepon di matikan,ponsel Sandra kembali bergetar. Jika tadi dari Arkhan,maka sekarang dari Diana. Ibu dari sahabat sekaligus bosnya di perusahaan ini.
Sandra : "Halo tante..."
Diana : "Halo Sand. Anak tante di kantor gak Sand? Udah jam tiga lo ini,masa ponselnya gak aktif terus dari jam dua belas tadi. Dia lagi rapat kah?"
Sandra : "Anu tan. Zee nya lagi gak ada di sini. Nanti Sandra coba cari ya. Sandra bingung juga nih kenapa Zee tiba-tiba ngilang gini.
Diana : "Tolong ya Sand. Malam ini kita ada acara makan malam sama klien bisnis papanya . Tante mau ngajak dia nyalon dulu,eh dianya malah ngilang. Padahal tadi pagi dia udah janji. Tolong banget ya Sand."
__ADS_1
Sandra : "Pasti tante. Tante tenang aja,Sandra langsung lacak Zee setelah ini. Udah dulu ya tan."
Diana : Iya Sand. Terimakasih.
Sandra : Sama-sama tante.
Sambungan telepon terputus. Sandra memijat pelipisnya yang mulai terasa pening. Ketidakaktifannya ponsel Zee pastilah ada hubungannya dengan Sandra,gadis itu jarang menonaktifkan ponselnya kecuali lowbat dan itu tidak mungkin. Ponsel adalah sebagian dari hidup Zee. Semua pekerjaan Zee terhandle dari benda canggih satu itu dan Zee selalu menyiapkan power bang untuk antisipasi ponselnya.
Jika sampai tidak aktif,pasti ada apa-apanya.
"Ini anak ngerepotin gue mulu dah. Ada masalah idup apalagi sih lo Zee. Belum juga kawin udah berat aja beban lo. Gimana entar. Kejer gue kalau terus-terusan jadi asisten lo."
Omel Sandra sambil merapikan barang-barang di atas mejanya. Ia pulang untuk mencari keberadaan Zee. Ia bisa di bunuh Kaivan atau Arkhan atau yang lebih parah adalah William dan Davian juga akan membunuhnya jika sampai Zee di temukan dalam keadaam lecet atau semacamnya.
Ya walaupun kedengarannya lebay,apalagi Zee adalah gadis yang bisa melindungi dirinya sendiri. Tapi tetap saja,Zee harus di khawatirkan karena Zee pernah mengalami riwayat PTSD. Bisa bahaya kalau tiba-tiba ada hal yang memacu hal itu kambuh.
"Berabe...berabe..." Sandra buru mengambil tasnnya dan berlari keluar dari ruang kerjanya.
♡♡♡
Di sisi lain,Zee saat ini tengah duduk di dalam sebuah bar. Di meja mini barnya sudah ada enam gelas wine yang tampak sudah kosong.
Zee kembali memesan segelas lagi dan langsung menegukknya setelah minuman tersebut datang.
"Brakk!!" Zee tiba-tiba menendang meja di depannya dengan kuat.
Untung di ruangan VVIP itu tidak banyak orang. Jika tidak,mungkin sudah puluhan orang Zee ajak adu jotos untuk melampiaskan emosinya.
"Zee!!" Seseorang tiba-tiba masuk dari arah pintu dan berjalan cepat ke depan meja Zee.
"Tujuh gelas anjir!! Mau mati lo?" Sandra merampas gelas yang baru di pegang Zee dan langsung membantingnya ke lantai.
"Ayo ikut gue pulang!! Nyokap sama pacar lo nyariin lo mati-matian,lo malah menggila di sini. Udah gak waras ya lo?" Bentak Sanra geram.
Bukannya menjawab,Zee malah menelungkupkan wajahnya ke meja dan tak lama terdengar suara cekikikan yang membuat Sandra emosi jiwa.
Tanpa permisi Sandra memukul tengkuk Zee hingga gadis akhirnya gadis itu tak sadarkan diri.
"Ngerepotin." Batinnya.
__ADS_1
Aku mau promo lagi guyss. Ini novel temenku juga ya... Boleh di liat dulu sapa tau naksir