
"Obat pencegah kehamilan untuk apa?" Tanya Zergan setelah berusaha menetralisir keterkejutannya.
"Ih tentu saja untuk mencegah kehamilan. Memangnya apa lagi?"
"Bukan begitu? T..tapi kan kita tidak pernah melakukan 'itu' kenapa harus minum obat pencegah kehamilan? Kamu berniat untuk tidak punya anak? Atau jangan,jangan...kamu melakukannya dengan cowok lain ya? Begitu? Kamu selingkuh?" Tuduh Zergan keji.
Sandra sampai mengelus dadanya karena shock dengan tuduhan Zergan.
"Selingkuh kepalamu!! Ini untuk Sassya bukan untukku!!"
Mendengar itu,Zergan tambah bingung. "Untuk Sassya siapa? Apa maksudmu?"
"Ih,sayangku Zergan Ivander. Masa kamu tidak kenal dengan teman SMA mu sendiri sih. Sassya Bellvara itu loh,adik tirinya Zee." Jelas Sandra sambil menahan geram.
"Jadi bisa berikan obat pencegah kehamilannya padaku? Oh iya selain itu,aku juga ingin minta hal lain padamu. Tolong ya..." Sandra mulai membisiki rencana Alex tadi pada Zergan dan setelahnya Zergan hanya garuk-garuk kepala.
Bingung dengan planning yang ada di otak sekretaris Aska dan sekretaris Zee yang kini tengah menjelma menjadi bidadari berwujud kekasihnya.
Setelah mengambil barang yang Sandra mau. Zergan pun langsung menyerahkan barang tersebut pada Sandra dan mengajak gadis itu pulang bersama karena memang jam kerja mereka sudah sama-sama berakhir.
♡♡♡
Keesokan harinya,pagi-pagi sekali Alex sudah tampak stay di kantor. Tepatnya di ruangan Aska,sang bos. Sambil membawa sebotol pil yang sudah ia pesan dan siap ia berikan pada Aska.
"Selamat pagi tuan muda." Sapa Alex begitu Aska datang dan masuk ke dalam ruangannya.
"Pagi. Tumben sekali? Ada gerangan apa sampai datang seawal ini?"
Aska melihat jam masih menunjukkan pukul setengah delapan dan Alex biasanya baru datang karena berangkat bersama Aska tidak seperti hari ini. Laki-laki itu memilih berangkat sendiri.
"Ini. Pil pencegah kehamilan yang tuan minta. Alex menyerahkan sebotol pil pada Aska yang langsung di terima oleh pria itu.
"Saya pesan dalam jumlah yang cukup banyak. Anggap saja sebagai cadangan tuan,biar tidak cepat habis." Ujar Alex sambil menyelipkan sedikit senyuman misterius yang hanya dapat di mengerti olehnya.
Aska langsung menyunggingkan senyum bahagia melihat benda-benda bulat yang tampak dari balik botol kaca transparan tersebut.
"Bagus Alex,bagus. Aku suka cara kerjamu,gajimu naik dua kali lipat bulan ini."
Alex tersenyum tak kalah lebar mendengar ucapan Aska. "Terimakasih tuan,saya rasa saya memang layak mendapat kan itu." Jawab Alex sedikit bergurau."Karena anda akan lebih berterimakasih pada saya suatu saat ini." Lanjut Alex dalam hatinya.
"Kalau begitu,saya akan kembali ke ruangan saya tuan. Satu lagi,meeting pagi ini akan dilakukan lima belas menit lagi."
Aska mengangguk-angguk paham dengan senyum puas yang tak luntur dari wajahnya. Ia bahagia,sangat bahagia karena sudah mendapatkan sesuatu yang ia inginkan. Sesuatu yang bisa membuat hubungannya dan Sassya tidak terikat.
♡♡♡
Sementara itu di tempat lain,di sebuah club. Chintiya terbangun dari tidur lelapnya setelah semalam bertukar peluh dengan seseorang hingga hampir pagi.
Matanya menyipit saat merasakan pelukan seseorang yang baginya asing,apalagi saat ia mengendus bau parfumnya. Aromanya benar-benar asing.
"Ini bukan Aska." Batinnya.
Perlahan Chintiya menoleh.
"Deg..."
Mata Chintiya membulat sempurna melihat pria yang kini tengah mendekap tubuhnya. Seseorang pria tampan dengan wajah khas Asia. Ia tak kenal pria di hadapannya ini. Pria yang tengah terlelap ini tentu bukan Aska.
__ADS_1
"Siapa dia?" Batin Chintiya.
"Kenapa bukan Aska yang aku lihat saat aku bangun? Apa semalam aku melakukan sesuatu dengannya?"
Mata Chintiya perlahan menelisik tubuhnya bagian bawah. Di singkapnya selimut yang menutupi tubuhnya. Betapa kagetnya ia saat melihat tubuhnya polos tanpa sehelai benang pun.
"Apa yang sudah aku lakukan?" Batin Chintiya lagi.
Hati-hati gadis itu menuruni ranjang agar tak membuat pria di sebelahnya bangun. Setelah berhasil,ia segera memungut pakaiannya dan mengenakannya.
Mengabaikan sakit di inti tubuhnya,Chintiya terus berjalan ke luar club dan akhirnya pergi meninggalkan area club tersebut dengan menggunakan mobilnya.
"Sial!!" Chintiya mengumpat sambil menangis tersedu-sedu. Ia tidak menyangka akan menyerahkan kehormatannya pada pria lain selain Aska.
"A..aku..tidak pantas lagi untuk Aska. Tapi aku mencintai Aska." Chintiya terus menangis tersedu-sedu di sepanjang jalan bahkan ia harus menerima runtunan klakson karena hampir menabrak pengendara lain.
Sementara itu pria yang tadi Chintiya tinggalkan sudah terbangun dan langsung mencari kemana gerangan wanita yang semalam ia perawani.
"Sial!! Kemana dia? Aku sudah berjanji akan bertanggung jawan,kenapa dia malah pergi?"
Pria itu menyibak selimut dengan kasar,dan langsung memunguti pakaiannya di lantai. Matanya sempat melirik ke atas sprei. Ada bercak darah di sana.
"Jadi gadis itu benar-benar masih suci? Tapi kenapa ia ada di club dan kenapa ia bisa masuk ke kamarku? Apa dia nyasar?" Batin pria itu tak habis pikir.
"Aku harus mencarinya,kemana pun!" Tekadnya.
Ia segera mencari keberadaan handphonenya dan mulai menghubungi seseorang.
"Ko! Handle semua pekerjaanku di Surabaya. Aku akan kembali beberapa minggu lagi,bilang pada papa dan mama kalau ada hal yang harus aku selesaikan di sini."
Setelah menelpon asistennya yang bernama Ziko,pria itu segera keluar dari kamarnya. Ia harus menemui petugas club dan menyuruh mereka untuk mengecek satu persatu cctv. Ia mau menyelidiki tentang gadis itu.
♡♡♡
Di kantor William.Corp.
Sandra masuk ke ruangan Zee seperti biasanya,mengejutkan gadis itu dengan cara membanting pintu.
Zee yang sudah sangat,sangat,sangat dan sangat terbiasa hanya bisa memasang wajah datarnya. Tak tau harus merespon bagaimana.
"Lo gak kaget?" Tanya Sandra yang bosan melihat wajah Zee yang sudah mirip kanvas kosong. Putih,bersih,tanpa lukisan,tanpa warna,tanpa isi,tanpa ekspresi.
"Kaget." Jawab Zee seadanya karena ia memang kaget. Tapi ekspresinya itu loh. Ck.
"Zee kaget tuh gini....eh ayam..copot..monyong...kodok..."Ujar Sandra sambil menunjukkan ekspresi kaget versinya namun hanya di tatap malas oleh Zee.
"Dasar manekin." Umpat Sandra.
"Zee lo gak mau tau sesuatu?" Pancing Sandra melihat Zee yang tak bertanya apapun padanya.
Zee menggeleng."Gak."
"Zee!!"
"Apa?"
"Ini tentang Sassya. Menarik!! Lo gak mau tau?"
__ADS_1
"Gak!!"
"Serius?"
"Ya."
"Beneran serius?"
"Iya."
"Zee!! Sassya udah di perawanin..."
Satu detik....
Dua detik....
Tiga detik...
Empat detik...
Lima detik....
"Oh."
"Duarrr!!"
Dunia Sandra rasanya runtuh mendengar kalimat keramat yang kembali keluar dari mulut Zee.
"Ini berita hot woiiii!! Panas!!! Anget!! Heboh!!mencengangkan dan menegangkan Zee!! Tegang Zee!! Tegang...gak bisakah lo kasih reaksi yang lebih wow dari yang tadi????" Tanya Sandra dengan raut wajah memerah dan seribu tanda tanya di dalam otak kanan kiri,atas dan bawahnya. Ia frustasi.
"Oh,wow!!" Zee kembali merespon sambil bertepuk tangan berdiri dari kursinya,selayak guru yang memberi apresiasi tak ikhlas pada murid yang presentasinya jelek.
"Udahlah!! Males gue sama lo!!"
Sandra terlanjur merajuk hingga ia kembali membanting pintu saat keluar dari ruangan Zee.
Sedangkan Zee? Jangan di tanya,gadis itu tetap stay 'bodo amat'.
"Sassya di perawanin?"
"Hm..."
"Bukan urusan gue...."
♡♡♡
Like vote komen...
Mau ngomong sama si kutub Zee?
Don't try try boskyuuuuu
Bikin darah tinggi....
Mending ngomong sama otor yang cuuuaaanteeeek seantero alam gaib ini....
😌😁😁🤣
__ADS_1
Guys. Sambil nunggu aku up..mampir yuk ke novel temenku...nih spoilernya...