Tautan Takdir

Tautan Takdir
Hilang Tanpa Jejak


__ADS_3

"Bagaimana Lex? Ada kabar?" Tanya Aska pada Alex melalui sambungan telepon.


Terdengar helaan napas berat dari seberang sana. "Belum tuan. Saya sudah berkeliling ke beberapa stasiun dan terminal tapi tidak ada jejak ataupun tanda-tanda nona Sassya di sana."


"Bagaimana dengan nona Michelle? Apa ada kemungkinan dia bersama nona Michelle?"


"Tadi saya sudah ke mansion Dark Night tuan dan nona Sassya tidak ada di sana. Kalau nona Michelle,saya belum menghubungi beliau. Karena waktu sudah cukup larut,kita tidak mungkin menganggu nona Michelle selarut ini."


"Benar juga." Ujar Aska sambil melirik jam di pergelangannya,sudah pukul dua subuh.


"Kalau begitu kau kembali lah ke rumah Alex. Besok kau handle pekerjaan di kantor,aku akan tetap mencari Sassya." Ujar Aska sambil mematikan telepon dan kembali melajukan mobilnya menembus gelapnya malam.


♡♡♡


Mansion William


Jam sudah menunjukkan pukul setengah enam pagi,ketika salah satu penjaga gerbang membuka gerbang mansion.


"Itu apa ya?" Ujar pria paruh baya itu dengan tatapan menyorot ke sudut gerbang yang mana terdapat seonggok bayangan hitam seperti bersandar di sana.


"Kantong apa ya?" Pria paruh baya tadi kembali bertanya dengan gumaman.


"Sep!! Asep!!" Panggilnya pada salah satu pekerja yang tengah memanaskan mobil.


Pria yang di panggil Asep tadi tampak menoleh. Penjaga gerbang melambaikan tangannya,meminta Asep agar mendekat.


"Ono opo sih Samsul? Masih pagi iki lo,ojo teriak-teriak. Berisik. Nanti di marahin tuan." Ujar Asep dengan sedikit berbisik.


"Halah lambe mu. Lagian yo,tuan biasane udah  bangun jam segini. Memangnya kamu ndak tau kalau tuan suka olahraga pagi?"


"Olahraga pagi piye maksud sampeyan? Olahraga di kasur?" Asep malah bernegatif thingking membuat Samsul menoyor jidatnya.


"Otak sampeyan iki kudu di cuci biar waras. Wes lah,saya tuh manggil kamu buat nemenin saya ngeliat itu..."


Samsul menunjuk bayangan hitam yang tampak bersadar di lekukan ujung gerbang.


Asep refleks menolen,memperhatikan arah telunjuk Samsul.


"Memangnya di sana ada apa Sul? Hantu?" Tanya Asep ngawur.


"Sttss. Ojo ngawur." Tegur Samsul serius.


Dengan kesal,Samsul menarik si bawel Asep agar mengampiri bayangan yang membuatnya penasaran sedari tai.


Dan begitu sampai,kedua di buat kaget dengan apa yang mereka lihat.


"Owalah. Iki wong toh." Celetuk Asep dengan suara cempreng.


"Ssttss." Sekali Samsul menegurnya agar jangan berisik.

__ADS_1


"Mending kamu ke dalam sana. Panggilin tuan atau nyonya siapa tahu salah satu dari mereka udah ada yang bangun. Bawa ke sini biar dia liat langsung orang ini. Siapa tahu orang ini orang yang punya niat jahat,sekalian ambil tali buat ngikat orang ini." Ujar Samsul dengan cara berbisik.


Asep mengangguk patuh sedangkan Samsul memasang kuda-kuda,bersiap apabila sewaktu-waktu pris di depannya ini bangun.


Sesekali matanya menoleh ke sekeliling dan ia cukup terkejut saat melihat ada sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Itu mobil siapa ya?" Batin Samsul makin bingung dengan situasi yang sedang terjadi.


♡♡♡


Di dalam Mansion William


Zee keluar dari lift sambil menguap lebar,masih dengan sisa kantuk dan piyama doraemonya gadis itu berjalan menuju dapur.


"Selamat pagi nona muda."


Zee mengeliat begitu mendengar sapaan tak asing dari belakangnya.


"Loh mang Asep? Ngapain di dapur pagi-pagi? Bawa tali lagi? Mang Asep mau bikin jemuran?" Tanya Zee dengan raut heran.


Mang Asep menggeleng."Apa aku omongin aja ya sama nona muda?" Gumam Asep namun terdengar oleh Zee.


"Mau ngomongin apa sih mang?" Tanya Zee makin heran.


"Anu non,gini. Sebenarnya di depan sono noh. Di dekat gerbang,ono itu. Opo,itu loh non..."


Zee mengerutkan keningnya bingung. "Apa sih mang? Yang jelas dong,penasaran nih." Ujar Zee kesal.


Diana masuk ke dapur dengan raut ikutan bingung saat melihat Zee sedang berbincang dengan pekerja di mansion mereka.


"Itu loh ma,mang Asep ngomongnya belibet. Gak paham Zee nya. Katanya itu,ono,itu,di depan sana,di gerbang,ada apalah pokoknya. Emang nya ada apa sih mang?" Tanya Zee masih dengan raut penasaran.


"Aduh,mamang susah jelasinnya non,nyonya. Gimana kalau nona muda  sama nyonya besar liat langsung ke depan? Ini mamang juga udah bawa senjata buat siap siaga." Ujar Asep dengan raut serius.


Diana dan Zee saling tatap bingung.


"Ya udah deh ma,ayo kita ke depan."


Zee merangkul lengan mamanya dan berjalan beriringan menuju ke luar rumah.


"Ada apa sih mang?" Tanya Zee begitu sampai di depan gerbang.


Asep meletakkan jari telunjuknya di depan mulut.


"Sssttss,non jangan berisik. Nanti malingnya bangun.." Ujar Asep sambil menunjuk ke ujung gerbang di mana ada Samsul yang tengah berjongkok menghadap ke arah sesosok orang yang kata Asep tadi adalah maling.


Zee yang penasaran langsung mempercepat langkahnya ke arah. Belum sempat ia melihat ke arah orang tersebut. William muncul mengagetkan mereka.


"Kalian di sini rupanya.." Ujar William,masih dengan celana sport pendek dan baju kaus hitamnya. Sepertinya pria paruh baya itu habis lari pagi. Karena ada sepatu olahraga juga yang menempel di kakinya.

__ADS_1


Ia langsung merangkul Diana dengan mesra membuat Zee melengos.


"Ada maling pa,katanya..."


"Ujar Zee sambil menunjuk ke arah sosok yang meringkuk di antara lekukan gerbang.


"Maling? Serius kamu?" William menatap anak bungsunya dengan raut khawatir.


Segera ia menarik Zee kebelakang tubuhnya membuat Zee makin berdecak.


"Gak usah lebay deh pa. Baru katanya doang.." Ujar Zee sambil menepis tangan papanya dan maju lagi ke depan.


"Heh,maling!!" Panggil Zee sambil menendang kaki sosok tersebut hingga sosok itu tersungkur.


"Kok gak bangun sih?" Tanya Zee kesal.


Dengan kasar,Zee tarik bagian belakang baju orang tersebut hingga posisinya terlentang.


Mata Zee membola kaget,ia kenal sosok di depannya ini.


"Aska?? Heh? Ngapain lo di sini?" Zee mengguncang-guncang tubuh Aska dengan kuat. Namun Aska malah makin terkulai lemas.


Dengan sedikit kaku,Zee meraba jidat Aska. "Panas." Batin Zee.


"Mang Asep,pak Samsul. Tolong gotong Aska ke dalam,ke kamar tamu sepertinya dia demam." Perintah Zee dengan raut setengah panik.


Sesuai komando,kedua orang itu sigap memampah tubuh lemah Aska dan membawanya masuk ke dalam mansion sesuai perintah Zee.


"Ma,pa. Tolong pinjam ponsel kalian. Telepon dokter Heru sekarang." Ujar Zee masih dengan raut panik.


William dan Diana berbarengan menyodorkan ponsel mereka,Zee mengambil ponsel papanya.


"Pasword?"


"Tanggal pernikahan kami." Ujar William.


Zee mengangguk paham dan langsung melakukan panggilan terhadap dokter Heru.


Setelah selesai,Zee mengembalikan ponselnya pada sang papa dan langsung berjalan hendak masuk ke dalam.


William dan Diana plonga-plongo melihat gerak-gerik Zee,dan sebelum Zee jauh melangkah. William mencengkal tangannya.


"Zee,jelaskan semua ini? Sebenarnya dia siapa? Kenapa kamu sepanik ini? Apa hubungan kamu dengan dia?"


"Deg..."


♡♡♡


Buah apel buah kedondong.

__ADS_1


Bagi like vote komen dong...


__ADS_2