Tautan Takdir

Tautan Takdir
Tidakk!!


__ADS_3

Sassya mengerjab-ngerjab kan matanya pelan ketika merasakan cahaya silau yang menusuk netranya. Perlahan matanya yang tadi terpejam kini mulai terbuka.


Matanya terbelalak ketika melihat seseorang yang kini tengah menatapnya tajam.


"T..tuan..?" Panggil Sassya takut.


Sosok yang kini berada di depannya adalah Aska.


"Apa yang barusan terjadi..?" Batinnya..


Sassya menoleh ke kanan dan ke kiri. Betapa kagetnya ia saat tau jika dirinya sedang berada di rumah sakit,itu artinya...


"Apa tuan Aska tau aku hamil?" Batin Sassya takut.


"T..tuan..anda.."


"Gugurkan anak itu!!"


Suara Aska terdengar bak petir di telinga Sassya. Untuk beberapa saat,wanita muda itu tidak tahu harus bereaksi seperti apa


"Tuan..saya..."


"Aku sudah bilang padamu berkali-kali!! Jangan sampai kau hamil!! Aku sudah memberi mu obat,apa kau tidak meminumnya? Kau lupa aku bilang,aku tidak menginginkan anak dari mu. Lupa kamu hah??!!"


Aska membentak Sassya dengan keras hingga badan wanita itu gemetaran.


Bahkan dengan kasarnya,Aska mencengkram kerah baju rumah sakit yang Sassya kenakan.


"Kau dengar bodoh!!"


"Aku tidak menginginkan keturunan yang lahir dari perempuan murahan seperti kau. Aku tidak mau punya anak dari mu!! Gugurkan anak itu dengan kemauan mu,atau kalau tidak aku yang akan menggugurkannya secara paksa."


"Tapi tuan...anak ini tidak berdosa. Aku tidak pernah melewatkan seharipun tanpa meminum obat pemberian tuan,tapi aku tidak tau kenapa anak ini tetap hadir di sini. Semua di luar kendali ku tuan,tidak bisakah tuan membiarkan anak ini tetap hidup. Aku janji,aku akan.."


"Diam kau!!"


Pria itu menunjuk wajah Sassya dengan kasar.


"Kau dengar!! Aku tidak mau ada keturunan Ghatama yang lahir dari wanita murahan dan pembunuh sepertimu!! Kau,sama sekali tidak pantas mengandung keturunan Ghatama!"


"Saya tidak mau menggugurkan anak ini tuan!!"


"Tidak mau?" Tanya Aska marah.


Matanya mendadak merah menahan gejolak emosi. Tanpa sadar,ia meraih pisau buah yang ada di samping nakas dan mengayunkannya ke perut Sassya.


"Kalau begitu aku yang akan melenyapkan kamu dan anakmu!!"


"Plash!!"


Pisau menancap di perut Sassya hingga membuat wanita itu menjerit sakit.

__ADS_1


"Tidak..tidak..! Apa yang sudah aku lakukan?"


Aska panik-sepanik paniknya ketika melihat darah membanjiri pisau dan tangannya.


"Sasa!! Sasa!! Bangun!! Jangan tinggalkan aku!!


Sasaaaaaaa!!"


♡♡♡


"SASA!!"


"Brukk!!"


Aska terjatuh dari sofa yang ada di ruang kerjanya dengan posisi miring.


"Achh." Rintihnya sakit.


Ia melihat ke sekeliling dan baru menyadari jika ia sedang berada di dalam ruang kerjanya. Tadi sepulang dari bandara untuk menjemput Chintiya,Aska langsung kembali lagi ke kantor untuk menghadiri rapat. Setelah menghadiri rapat,ia pun kembali ke ruang kerjanya dan tanpa sengaja tertidur.


"Tapi mimpi tadi? Apa maksudnya? Kenapa aku merasa semua seperti nyata?"


"Ya ampun Sasa..."


Aska segera berlari mengambil kunci mobil dan di atas mejanya dan berlari ke luar ruang kerjanya.


"Tuan anda mau ke mana?"


"Alex aku harus pulang. Perasaanku mendadak tidak enak."


Aska tidak menjelaskan lebib detail maksud ucapannya. Ia hanya menepuk pundak Alex kemudian berlari menuju lift.


"Sasa kau tidak kenapa-napa kan? Aku mengkhawtirkan mu. Aku tidak tau kenapa,tapi aku merasa ada sesuatu yang terjadi padamu."


Batin Aska sambil meremas dadanya yang tiba-tiba terasa nyeri.


♡♡♡


Sementara itu di sebuah rumah sakit,beberapa perawat tampak berlalu-lalang. Keluar masuk ke dalam ruangan VVIP. Di dalam ruang VVIP tersebut ada seoarang wanita yang sedang terbaring dalam kondisi tak sadarkan diri. Namun jika di lihat dari kondisi fisiknya,tak ada luka yang terlalu serius.


"Heh!! Mau kemana kau? Kenapa tidak di periksa lagi? Kalau adik dan keponakan ku kenapa-napa bagaimana?"


Gadis berwajah datar yang sedari tadi mengomando situasi kini terdengar menegur dokter yang menangani sang adik dengan ketus.


"Maaf nona Michelle,tapi keadaan nona Sassya tidak mengkhatirkan."


"Tidak mengkhawatirkan katamu?? Lalu kenapa sampai sekarang belum sadar?"


Gadis yang menunggui Sassya tadi tampak marah besar saat melihat adiknya terbaring dengan selang infus di tangannya. Apalagi sejak tadi,Sassya belum juga sadar.


"Nona tenanglah.Nona Sassya hanya mengalami pendarahan ringan karena tadi sempat shock,kami juga sudah memberikan perawatan sesuai kebutuhan pasien. Saat ini nona Sassya hanya masih dalam pengaruh obat,karena itu nona Sassya belum sadar."

__ADS_1


"Kau mencoba membohongiku?"


"Tidak nona Michelle. Saya serius."


"Hm. Baiklah,kau boleh pergi. Kalau sampai sepuluh menit ke depan Sassya belum juga sadar,aku akan menggantungmu di depan gerbang rumah sakit. Paham!!"


"Baik nona."


Dokter muda itu buru-buru keluar setelah berhasil meyakinkan Zee. Dalam hati ia sempat mengumpat karena kelakuan Zee yang di anggapnya lebih bodoh dari pada orang bodoh.


"Cih!! Dasar beruang,apa nona Michelle tidak bosan marah-marah terus. Ku sumpahi nona Michelle keselek."


"Uhuk..uhukk..."


Dokter tersebut terperanjat ketika mendengar suara batuk dari dalam. Ia tak menyangka doanya terjawab secepat itu.


Namun untuk memastikan jika Zee benar-benar tersedak. Ia pun memelongokan kepalanya ke dalam kamar Sassya.


Dokter mendengus malas,ternyata bukan Zee yang tersedak melainkan Sassya yang baru saja bangun. Dengan langkah gontai dokter tersebut memilih putar balik lagi,masuk ke kamar Sassya tepat waktu adalah cara paling aman untuk menghindari amukan Azelsaurus.


Melihat kehadiran dokter muda,bername tag Zara tersebut. Zee yang biasanya bandel,perlahan mundur teratur. Memberi ruang bagi Zara untuk memeriksa keadaan Sassya.


"Gimana?" Tanya Zee. Setelah Zara selesai memeriksa keadaan Sassya.


"Semuanya baik nona Michelle. Kondisi detak jantung nona Sassya dan janinnya juga stabil,tidak ada yang harus di khawatirkan. Mungkin hanya ada memar di jidat dan itu bisa hilang dalam beberapa hari,mungkin besok sudah hilang. Saya resepkan obatnya dulu ya,nanti nona bisa urus administrasinya."


Dokter Zara menjelaskan secara detail tentang keadaan Sassya. Sengaja melakukan itu agar Zee tak bawel,makhlum kadang gadis itu suka bertingkah di luar nalar.


Usai memberitahu Zee beberapa pesan tambahan lainnya,dokter Zara pun akhirnya keluar dari ruangan Sassya meninggal kan Sassya dan Zee yang tampak canggung satu sama lain.


Sassya bahkan hanya berani melirik Zee sekilas-sekilas,selebihnya gadis itu memilih menunduk. Tatapan Zee yang selalu datar membuatnya selalu takut.


Namun berbaring dalam posisi terlentang lurus selama beberapa jam membuat Sassya merasa kebas. Ingin mencari posisi nyaman,gadis itu mencoba mengubah posisi sandaran kursi. Namun segera di cegah oleh Zee.


"Jangan banyak gerak dulu. Bisa kan minta tolong! Kebiasaan ceroboh lo dari dulu gak ilang-ilang ya!! Bisa gak sih,sejam aja. Lo gak bikin orang khawatir,lama-lama gue cekek juga lo ya. Biar koid sekalian."


Mendengar ucapan Zee,Sassya tambah takut. Belum sempat ia berbicara Zee sudah lebih dulu mengeluarkan suara.


"Jangan di ulangi lagi Sya. Bayangin kemarin kalau gue gak datang,gimana nasib lo sama ponakan gue!! Gue khawatir Sya!!"


♡♡♡


Otor : Apa anda merasa di prank?? Jika iya maka lambaikan tangan ke kamera. Tapi jika tidak maka berikan love,like,vote dan komen...


Save di rak fav ya biar tau kapan aku up nya....


Luvv kalian♥♥♥♥


♡♡♡


Aku mau promo guys...mampir ya ke novel temenku ini...

__ADS_1



__ADS_2