Tautan Takdir

Tautan Takdir
Tenpat Aman


__ADS_3

Sassya senyum-senyum kuda melihat kelakuan Zee yang saat ini sedang telaten menyuapinya semangkuk bubur yang tadi ia beli dari luar.


Sassya jadi heran,sebenarnya hati dan mood Zee itu terbuat dari apa? Kadang gadis ini galak tidak main-main,dingin tak tersentuh,tapi sekalinya hangat dan baik kelakuannya sudah bak seorang ibu.


"Zee..." Panggil Sassya pada Zee yang sedang meniup-niup bubur miliknya.


Zee menoleh."Paan?"


"Lo kepribadian ganda gak sih?"


"Hah?"


"Ih,gak usah pura-pura budeg. Lo lagi tidur aja bisa kaget dengan orang napas. Gak mungkin kan lo gak denger omongan gue barusan."


"Hm."


"Tuh kan." Sassya mendengus malas."Mode dinginnya kumat." Batin Sassya.


Cepat-cepat ia mengunyah makanan yang ada di mulutnya. Kemudian merebut mangkok dan sendok dari tangan Zee dan mulai makan sendiri. Zee terlalu memperlakukannya seperti anak kecil.


"Zee." Panggil Sassya setelah menyelesaikan makannya.


"Kenapa?"


"Setelah ini,gue boleh minta tolong gak? Pinjemin rumah lama,gue kemungkinan akan numpang di sana beberapa minggu sampe gue dapat modal buat pergi ke luar kota. Boleh gak?"


"Rumah lama?" Zee mendadak tersenyum miring.


"Serius lo mau tinggal di sana? Terus tadi apa kata lo? Beberapa minggu sampe lo dapet modal? Sassya...Sassya...daripada lo kabur-kaburan tanpa tujuan gini. Mending lo diam di bawah perlindungan gue,gue bahkan sanggup pake banget buat bikin Aska gak bisa nemuin lo. Asalkan satu,nurut sama gue."


"Maksud lo?"


"Aska tau kan alamat rumah lama?"


Sassya mengangguk.


"Si bego. Udah tau Aska tau alamatnya,terus ngapain lu ngumpet di sana. Gue jamin dah,seribu persen. Aska besok atau mungkin hari ini pasti bakalan nyari lo. Percaya sama gue,dia gak mungkin ngebiarin lo pergi sebelum rencananya berhasil. Lo tau kenapa?"


Sassya mengangguk lagi."Karena tujuannya belum tercapai kan?"


"Bagus kalo lo tau. Nanti gue bakalan anterin lo ke suatu tempat,mungkin gak bakalan nyembunyiin lo sepenuhnya. Ada kemungkinan Aska tau lokasi lo,tapi tenang. Dia gak bakalan bisa nyentuh lo seujung kuku pun kecuali lo sendiri yang melakukan kecerobohan tanpa sepengetahuan gue."


"Gimana? Gimana? Maksud lo?"


"Sttss. Ikut aja."


♡♡♡

__ADS_1


Sassya melongo menatap bangunan berlantai dua di hadapannya ini. Tadi,sepulang dari rumah sakit. Zee mengajaknya ke suatu tempat yang kata Zee merupakan rumah keduanya.


"Ternyata di sini tempat teraman menurut lo?" Tanya Sassya sedikit ngeri.


Zee mengangguk mantap."Yup. Markas Dark Night. Di dalam nya ada teman-teman gue yang pastinya siaga jagain lo. Ada gue dan Kai pastinya,ada Bara dan Rafa dan banyak lagi temen-temen gue lainnya. Lo tenang aja,urusan kandungan lo. Gue bakalan cari dokter pribadi,ahli gizi dan satu perawat khusus yang bakalan merhatiin kesehatan lo selama di sini. Yang paling penting adalah,lo aman dari jangkuan Aska."


"Karena gue bisa jamin,kalau Aska berani deketin lo. Dia harus bonyok dulu ngehadapin Bara dan Rafa,mereka itu ibarat tombak sekaligus perisai bagi Dark Night. Gue aja bisa kewalahan ngehadapin mereka,apalagi Aska yang sabuk hitam aja gak punya. Cih,miris."


Ucap Zee menghina,bahkan ia tak sadar jika pacarnya tak berbeda jauh dengan Aska. Arkhan pun tidak terlalu bisa bela diri.


"Ayo masuk."


Zee menggandeng Sassya masuk ke dalam bangunan bernuansa gelap itu dengan santainya. Tanpa memperhatikan raut wajah Sassya yang tampak ngeri.


"Zee,di dalam apa gak cowok semua?"


"Iyalah."


"Masa iya,lo tega biarin gue sama cowok-cowok di dalem. Kalau mereka ngapa-ngapain gue gimana?"


Mendengar pertanyaan Sassya yang seperti menilai teman-temannya badboy. Zee jadi tidak terima.


"Kagak bakal Sya!! Udah deh,gue dari umur 13 tahun sampe sekarang bareng sama mereka. Jangankan di apa-apain,mereka bentak gue gak pernah. Intinya mereka baik." Puji Zee yang tak terima teman-temannya di nilai buruk.


"Tapi kan mereka baik sama lo karena mereka takut sama lo. Adanya juga mereka yang bonyok kalau gangguin lo,lah gue?"


"Sassya Bellvara! Denger ya! Gue bisa bela diri di ajarin sama mereka,jadi kalo mereka emang punya niat macam-macam sama gue. Udah dari dulu gue jadi makanan mereka,percaya sama gue. Gak semua anak motor itu brandal kok,contoh paling nyata ya geng Dark Night ini." Pamer Zee bangga.


"Udah yuk." Zee menarik paksa tangan Sassya yang masih keliatan ragu untuk melangkah masuk.


"Loh,Queen? Wah tumben...GUYS!! Ada Queen datang...!!"


Andreas,salah satu anggota Dark Night yang kebetulan berpapasan dengan Zee yang baru masuk langsung berteriak heboh.


Sontak teriakan Andreas mengundang kedatangan anggota Dark Night yang lain. Jadilah,tak sampai lima menit. Ruangan yang biasanya di jadikan tempat kumpul anak-anak Dark Night sudah penuh dengan kedatangan puluhan anggota Dark Night.


Di barisan paling depan,ada Rafa dan Bara yang merupakan tangan kanan Zee dan Kai. Keduanya yang cukup mengenal Sassya tampak heran sekaligus sinis saat melihat wanita itu ada di samping Zee.


"Queen? Lo ngapain bawa orang asing masuk ke sini?" Tanya Rafa sinis.


Kembaran Bara itu memang bukan tipe laki-laki yang suka menyembunyikan ketidaksukaannya. Jika ia tidak suka maka ia akan terang-terangan mengatakannya. Tak seperti Bara yang masih bisa basa-basi.


"Fa." Tegur Bara tak enak hati.


"Udah gak papa." Ujar Zee sambil tersenyum tulus. Ia tau anggota Dark Night yang lain pastilah masih belum bisa menerima masa lalunya Sassya.


"Jadi gini guys. Emm,ini Sassya. Kalian tau kan? Dia adek gue."

__ADS_1


"So?" (Rafa)


Di sebelahnya Bara dengan sigap menyenggol lengan Rafa,memberi isyarat agar jangan memotong ucapan Zee.


"Dia saat ini sedang ada masalah. Detailnya bakalan gue jelasin nanti,intinya gue mau lo semua kerja sama buat jagain Sassya di saat gue lagi gak ada. Mungkin selama sembilan bulan ke depan,kita. Gue dan kalian. Harus jagain Sassya dari jangkauan suaminya yang bernama Sky Aska Ghatama. Kalian pasti kenal sama dia,dia pengusaha kontruksi sekaligus properti."


"Jagain dia?" Tanya Rafa tak percaya. Lagi-lagi laki-laki itu yang paling sinis sifatnya.


"Gue gak mau!!"


Rafa berlalu meninggalkan semua yang ada di situ dengan raut wajah yang benar-benar berang. Hal itu cukup membuat Sassya makin takut untuk tinggal bersama mereka.


"Zee,gue kayaknya..."


"Maafin adek gue."


Bara tiba-tiba memotong ucapan Sassya sebelum gadis itu selesai berbicara.


"Denger,Rafa memang sulit menerima orang baru. Siapapun itu,sifat dia memang keras kepala dan sinis semenjak mama kita ninggalin kita. Dia juga jadi benci sama perempuan,termasuk lo kayaknya. Mungkin di dunia ini,satu-satunya perempuan yang gak dia benci ya cuma Zee. Jadi harap maklum. Tapi lo tenang aja,dia gak bakalan ngapa-ngapain lo kok. Dia gak sekasar itu."


Ujar Bara menyakinkan.


Zee mengangguk membenarkan.


"Lo tenang aja,mereka semua di sini sebenarnya baik. Cuma masing-masing dari kami punya masa lalu yang cukup sakit dan terkadang hal itu bikin sifat kami sedikit sulit di pahami bagi kebanyakan orang. Nanti lo juga terbiasa."


Zee menepuk pelan pundak Sassya.


"Gue anter lo ke kamar." Ujarnya sambil menarik pelan tangan Sassya.


Sedangkan Sassya,gadis itu memilih pasrah saja. Ya setidaknya ia masih punya Zee,gadis itu memang galak. Tapi ia percaya,Zee bisa dan mampu melindunginya selama sembilan bulan ke depan. Jadi ia memilih tetap tinggal.


"Semoga menjadi awal yang baik. Lo bisa Sya."


Batinnya.


♡♡♡


Readers : Jangan bilang ada CILOK nanti thor?


Otor : Ada atau Jangan?


Readers : Hadirin semualah tor,cilok,sate,otak-otak,batagor,somay. Biar mantap.


Otor : Sipp...terima like vote komen tapi ya...


Readers : Tergantung Sikon.

__ADS_1


Sambil nunggu up lanjutan...mampir dulu yuk ke novel temen ku guys.. Nih judulnya...



__ADS_2