
Sassya mengemasi barang-barang yang bisa ia bawa ke dalam tas. Termasuk kalung pemberian Zee yang sepertinya benar-benar akan ia gadai. Juga handphonenya yang sepertinya juga harus ia jual.
Karena hanya dua barang itulah yang bisa ia gunakan untuk menyambung hidup kedepannya. Kartu yang waktu itu Zee beri,ia tinggalkan di mansion Dark Night. Memang siapa yang menyangka jika hidupnya akan seburuk ini.
Niat hati ingin kembali ke rumah suami,karena Aska berjanji akan bertanggung jawab. Namun apa? Ia malah mendapati kenyataan jika pria yang ia cintai punya niat terselubung dan malah ingin membahayakannya.
Diam-diam Sassya terisak,teringat ucapan Aska beberapa menit lalu.
#Flashback On
Chintiya baru selesai mandi dan hendak berganti pakaian. Usai berganti pakaian,ia berniat keluar untuk mencari keberadaan Aska yang tidak terlihat di dalam kamar.
Namun saat ia baru membuka pintu kamar,ia mendengar suara ribut dari depan rumah. Penasaran dengan apa yang terjadi,Sassya pun mencoba mengintip.
Ia terkejut melihat Aska mendorong Chintiya. Belum sampai di situ,detik berikutnya Sassya kembali di kagetkan dengan kedatangan Rama,apalagi saat Rama membentak Aska.
Sassya semakin penasaran dan memilih mendekat ke arah keributan. Dari jarak kurang lebih satu meter,Sassya bersembunyi di balik guci. Ia mulai menguping.
Terjadilah percakapan serius antara Aska dan Chintiya yang masih bisa ia dengan dengan jelas. Dan kalimat terkahir yang di katakan Aaka membuat Sassya merasakan sakit yang amat sangat,sampai-sampai badannya merosot ke lantai dengan tubuh berguncang hebat.
"Iya,Sassya hamil. Dan seharusnya bayi itu kita lenyapkan..."
#Flasback Off
Sassya m3r3mas d4d4nya yang mendadak terasa nyeri. Sakit sekali rasanya saat mengetahui kenyataannya langsung dari mulut Aska. Orang yang ia cintai dan mati-matian dia bela.
"Zee benar,kita memang tidak boleh terlalu percaya sama omongan orang." Batin Sassya sambil mengusap air matanya dengan kasar.
"Lo harus pergi sya. Lo pasti bisa hadapin ini semua." Ujar Sassya meyakinkan dirinya sambil mengangkat tas jinjingnya yang beberapa potong berisi pakaian.
Malam ini juga,Sassya memantapkan diri untuk pergi dari rumah Aska. Pergi tanpa tahu arah dan tujuannya kemana. Intinya ia mau pergi,ke tempat yang hanya ia yang tahu.
"Selamat tinggal tuan Aska."
Sassya berjalan keluar melewati tubuh Aska yang tampak pingsan. Ia sempat melongo sebentar,namun tidak ada penjaga di . Bahkan pembantu pun tidak terlihat batang hidungnya. Entah kemana perginya mereka,Sassya tidak peduli. Karena itu jauh lebih baik,ia lebih mudah pergi dari rumah Aska tanpa penghalang.
♡♡♡
Sassya terus berjalan menyusuri sepinya jalanan malam. Tanpa tahu ke mana arahnya,sesekali ia mengelap peluhnya,sepertinya ia akan mencari terminal terdekat. Ia berniat pergi keluar kota saja,ke tempat yang semoga saja sulit bahkan mustahil di jangkau oleh Aska ataupun Zee.
"Brukk..." Sassya terjatuh tersandung kakinya sendiri.
"Shhss." Ia meringis sakit,lututnya tampak berdarah.
"Auchh..." Sassya mengernyit silau.
Dari ujung jalan muncul sebuah mobil berwarna merah dengan kecepatan sedang. Merasa takut,Sassya segera bangkit dan berusaha berlari menjauhi mobil tersebut.
Ia tidak tahu siapa pemilik mobil itu dan karena itu ia harus waspada.
Tanpa Sassya sadari mobil tersebut bergerak semakin cepat hingga hampit menyerempet Sassya.
__ADS_1
"Brakk..."
Sassya terpental mundur ke belakang. Mobil tersebut berhenti tepat beberapa CM di depannya. Sassya nyaris saja tertabrak. Untungnya belum,karena Sassya sudah lebih dulu jatuh.
"Klep." Pintu mobil terdengar di buka.
Entah kerasukan apa,Sassya tidak dapat menggerakkan badannya sama sekali.
Ia sudah pasrah sepasrah pasrahnya,apalagi saat melihat sebuah kaki jenjang turun dari sana.
Sepatu highells yang orang itu kenakan pun tampak mewah dan sempat membuat Sassya terkesima.
Detik berikutnya sang pemilik kaki keluar,Sassya refleks mendongak dan langsung melongo dengan apa yang sekarang ia lihat.
Sassya mengucek-ngucek matanya tak percaya.
"Sialan. Cewek songong." Batin Sassya.
"Kenapa lo plonga-plongo?"
Suara cempreng nan ketus itu menyadarkan Sassya dari kekagetannya.
"Gak...,gak...,gue pasti salah liat." Sassya berusaha membuang mukanya ke arah lain.
Gadis di depannya terdengar berdecak.
"Mak lampir...,lo ngapain di sini?" Tanya orang itu lagi.
"Bukan urusan lo. Udah deh,mending lo pergi sana. Hus...hus.."
Sassya mengusir gadis di depannya ini dengan gerakan mengusir anjing.
"Eh,lancang lo ya." Gadis tadi tampak emosi dan hendak menjambak Sassya.
"Sassya."
Satu orang lagi turun dari mobil. Sassya menoleh,orang itu juga. Ketiganya saling tatap dan di detik berikutnya. Sassya tak sadarkan diri,alias pingsan.
♡♡♡
"T..tuan.."
"Tuan Aska..,tuan Aska bangun."
Aska mengeliat saat merasakan badannya di guncang-guncang oleh seseorang.
"Eughh.." Aska mengeliat.
"Arghh." Lenguhnya saat merasakan seluruh badannya hancur lebur.
"Tuan. Syukurlah anda sudah sadar."
__ADS_1
Alex menghela napas lega sambil membantu Aska bangun.
"Tuan apa yang terjadi? Kenapa tuan tiduran di luar?" Tanya Alex heran.
Aska belum menjawab dan masih berusaha mengumpulkan tenaganya untuk menarik napas.
"Alex ambilkan aku minum." Perintah Aska begitu badannya sudah duduk dengan tegak.
"Baik tuan." Alex berlalu ke dalam rumah untuk mengambil minuman.
Di depan pintu,Aska masih bertingkah bak orang linglung. Sambil mengusap-usap perutnya yang terasa nyeri. Ia mencoba mengingat-ingat sesuatu.
"Ah iya,Ramadika dan Chintiya. Kemana dua bajingan itu?" Aska berguman-gumam bingung.
Matanya menatap ke samping,dan menangkap jendela kamarnya belum di tutup.
"Arghh. Aku lupa kalau aku sudah memecat seluruh karyawan di rumah ini. Tapi bukannya di dalam ada Sassya?" Batin Aska.
"Sassya??" Aska tiba-tiba mendapat kekuatan dan langsung bangkit dari duduknya.
"Sassya!!" Panggilnya keras sambil berlari masuk ke dalam rumah.
Alex yang baru keluar dari dapur sambil menenteng secangkir air tampak mengernyitkan keningnya bingung.
"Ada apa lagi tuan?" Tanya Alex bingung karena melihat raut wajah Aska yany panik.
"Sassya,Alex. Sassya hilang. Cepat bantu aku geledah rumah ini. Mungkin Sassya masih ada di sini."
Ucapan Aska membuat Alex nyaris menjatuhkan gelas yang di bawanya.
"J..jadi benar tuan membawa nona Sassya dari mansion nona Michelle?"
"Darimana kau tahu?"
"Tadi siang nona Michelle ke perusahaan,dia sepertinya marah besar." Alex seperti tersadar akan sesuatu. Luka di wajah Aska.
"Tuan? Apa lebam baru di wajah tuan juga perbuatan nona Michelle?"
Aska berdecak."Bukan. Ini perbuatan Ramadika Wijaya,bajingan yang sudah menghamili Chintiya. Sudahlah,aku malas bercerita tentang mereka. Sekarang kau bantu,kita harus temukan istriku karena aku mau meminta maaf padanya,aku tahu aku salah dan aku mau memulai kehidupan pernikahan kami dengan sungguh-sungguh. Aku mau memperbaiki semuanya dari awal. Karena itu aku harus menemui Sassya." Ujar Aska dengan raut sungguh-sungguh.
Alex menatap tuannya tidak percaya. "Tuan,Anda serius dengan ucapan Anda?" Tanya Alex memastikan.
Aska mengangguk."Aku serius Alex. Karena itu bantu aku mencari Sassya."
Aska hendak berjalan keluar namun langkahnya di hentikan oleh ucapan Alex.
"Ini sudah pukul sembilam malam tuan dan di luar hujan,kemana tuan mau mencari nona Sassya?"
♡♡♡
Ikan seluang ikan buntal...
__ADS_1
Like vote komen ya...😂😂