
Satu tahun kemudian...
Tak terasa satu tahun sudah berlalu,kehadiran Gavriel Brata Ghatama adalah anugrah terindah bagi keluarga kecil Sassya dan Aska. Bahkan saat ini Aska sebagai daddy siaga,tengah sibuk menyiapkan pembukaan sebuah perusahaan di bidang Teknologi Industri untuk anak mereka yang baru berusia satu tahun itu.
Alasan Aska melakukan hal itu tak lain tak bukan adalah untuk menunjang masa depan anaknya nanti. Perusahaan yang ia pimpin saat ini tentu bisa saja mengalami goncangan sewaktu-waktu,jadi ia harus mempersiapkan perusahaan lain untuk anaknya dan masa depan anaknya.
Tak hanya itu,perusahaan Teknologi Industri tersebut juga bekerja sama dengan perusahaan besar lainnya di antaranya perusahaan William.Corp,Ivander's Group,dan juga perusahaan milik Kaivano Anggara.
Dan saat ini Aska tengah melakukan meeting bersama ketiga kliennya itu di sebuah restoran milik Zee.
"Kejutan..."
Sassya tiba-tiba masuk ke dalam ruang VVIP yang sudah mereka pesan bersama si munggil Gavriel.
Aska sempat kaget beberapa detik namun langsung menampilkan senyum cerahnya saat melihat keberadaan istri dan anaknya itu.
Tak hanya Aska,Zee,Kaivan,Zergan juga tampak menyambut kedatangan Sassya dan baby Gavi dengan senyum hangat mereka.
"Ponakan onty,ayo sini." Zee merentangkan tangannya ke arah bayi berusia satu tahun tersebut.
Namun baby Gavi malah melengos dan merentangkan tangannya ke arah sang daddy membuat yang ada di ruangan itu tertawa.
"Makanya Zee,muka lo jangan dingin-dingin terus. Takut anak gue sama lo." Ledek Sassya sambil menyerahkan baby Gavi ke dalam gendongan Aska.
Setelahnya ia juga duduk di samping Aska dan berhadapan dengan ketiga klien Aska.
"Kalian udah makan siang?" Tanya Sassya pada semua yang ada di situ.
Aska menggeleng. "Belum sempat. Baru selesai rapat,rencananya mau balik ke kantor masing-masing. Tapi karena kebetulan kamu datang,gimana kalau kita pesan makanan terus makan siang di sini."
Aska berkata sambil terus menciumi kedua pipi anaknya.
"Bagaimana nona Michelle,tuan Zergan dan tuan Vano?" Aska meminta persetujuan pada ketiga rekan kerjanya itu.
Ketiganya manusia batu itu mengangguk kompak.
Sassya menghela napas malas melihat para batu di depannya ini. Mendadak ide cemerlang muncul di otaknya.
"Sayang,aku suruh teman-teman aku yang lain ke sini juga ya. Mereka bertiga gak ada yany bisa becanda,berasa lagi duduk sama prasasti jadinya." Celetuk Sassya sambil menatap malas ke arah Zee,Zergan dan Kaivan.
"Kai lo telpon Delice,bang Zergan telpon Sandra,lu Zee telpon Clara sama Davian,biar gue hubungin Agatha sama Nathan." Sassya memberi perintah pada ketiga temannya itu.
Lagi-lagi ketiganya hanya mengangguk membuat Sassya benar-benar muak. Memang sebanyak apapun orang di ruangan itu,jika sikap mereka mirip Zee,Kaivan dan Zergan. Maka rasanya sama saja dengan tidak ada orang.
Suasana baru ramai setelah empat lima menit kemudian di mana Delice akhirnya datang berbarengan dengan Clara,Davian dan Sandra.
Tak lama kemudian,keluarga kecil Agatha juga menyusul datang dan langsung bergabung dengan teman-temannya itu.
"Morning calon besan.." Agatha masuk dengan gaya hebohnya sambil duduk nemplok di kursi yang ada di sebelah Sassya.
Sassya memutar bola matanya malas.
"Udah siang Tha. Stop halu!" Sassya membalas ucapan Agatha dengan nada meledek.
"Jangan belagu Sya,kalo sampe anak lo nanti kepincut sama anak gue gimana? Besanan kan kita??" Agatha masih gencar melancarkan ide konyolnya.
__ADS_1
"Udahlah Sya,yang waras ngalah. Agatha kalau gak halu mana hidup." Celetuk Delice sambil membolak-balik buku menu di hadapannya.
"Mending anak lo,lo jodohin sama anaknya Zee. Lebih kaya dia Sya,siapa tau kan nanti anak Zee sama abang gue cewek." Kini giliran Delice yang berbicara konyol.
"Anak Zee? Masih lama itu,orang pacaran aja sama-sama sibuk gitu,yang satu sibuk mengejar pendidikan yang satu sibuk ngurusin kantor. Mana sempat mikiran anak,gue takutnya nih ya,kita semua udah dapat mantu lah Zee sama Arkhan baru mau tunangan. Gawat!!"
Sandra angkat suara meledek calon adik iparnya itu.
Zee mendengus tanpa berniat membalas ucapan Sandra membuat Sandra semakin gencar menggodanya. Saat ini memang yang tidak membawa pasangan hanya Zee,karena Arkhan sudah kembali ke New York beberapa bulan lalu.
"Si Ar belum ada niatan balik gitu Liz? Gak kasihan ama ceweknya? Atau jangan-jangan udah punya cewek baru dia di sana? Kali aja kan?"
Clara kakak ipar Zee juga tampak ikut menggoda Zee.
"Harusnya bulan depan udah balik sih Clar. Kan kuliahnya udah selesai,tapi gak tau nih baliknya bakal sendiri atau gimana." Delice ikutan menggoda Zee.
"Jelaslah balik rame-rame. Namanya juga naik pesawat penumpangnya pasti banyak,jangan ngaco deh."
Zee yang sudah risih dengab godaan teman-temannya akhirnya buka mulut juga.
"Nah gitu dong. Diam mulu dari tadi,sesekali Zee lo itu harus bawel. Takutnya nanti abang gue ketemu cewek yang lebih hangat dan perhatian terus malah oleng gara-gara pacarnya kelewat dingin." Ceplos Delice asal namun berhasil membuat Kaivan di sebelahnya tersedak.
Semua menoleh ke arah tunangan Delice tersebut dengan tatapan heran.
"Lah? Yang di ajarin siapa,yang ke sindir siapa." Agatha geleng-geleng kepala setelah sadar jika ternyata si dingin Kaivan tersindir oleh ucapan tunangannya sendiri.
"Apaan sih." Kaivan mengelak sambil pura-pura sibuk memeriksa HP-nya.
"Daripada ribut,mending pesan makanan." Davian melerai pembicaraan tak berfaedah dari teman-temannya itu.
Pria yang paling senior dalam menjalani rumah tangga itu akhirnya buka suara.
Akhirnya Davian dan Nathan menghubungi pelayan restoran agar mengantarkan makanan ke ruangan mereka.
Tak berapa lama makanan yang mereka pesan akhirnya datang juga,merekapun menyantap makanan tersebut dengan suasana penuh canda tawa. Kebahagiaan Sassya dan keluarga kecilnya benar-benar sudah lengkap.
Di mulai dari pertemuan Aska dan Sassya,pertolongan Zee dan anak-anak Dark Night,bantuan dari Delice dan Agatha,sampai pada kejutan yang di siapkan oleh Rama dan orangtua Aska. Semua hal tersebut berhasil merangkai ribuan kisah dan ribuah momen yang sampai kapanpun tidak akan Sassya lupakan.
♡♡♡
Dan sore ini,tepatnya setelah acara makan siang di restoran Zee tadi siang. Aska dan Sassya akhirnya pulang ke rumah mereka.
Sesampainya di rumah,ternyata ada orangtua Aska dan Melissa yang sudah menunggu mereka. Katanya rindu pada baby Gavi.
Karena kebetulan Aska dan Sassya pun butuh waktu untuk membersihkan diri setelah beraktivitas di luar,baby Gavi pun akhirnya di serahkan kepada kedua oma dan opanya sedangkan Aska dan Sassya berjalan beriringan menuju kamar mereka.
Begitu sampai di dalam kamar,Aska langsung memeluk Sassya dari belakang. Kepalanya juga ia telusupkan di antara ceruk leher Sassya sambil menghirup aroma tubuh sang istri.
"Mau mandi sendiri atau mandi bareng?" Tanya Aska di dekat daun telinga Sassya.
Menyadari gelagat aneh sang suami. Sassya segera membalikkan badannya dan melingkarkan tangannya ke pinggang Aska dengan posisi saling tatap.
Sejenak tak ada pembicaraan di antara keduanya. Aska dan Sassya hanya saling mengunci pandangan dalam diam.
Barulah setelah beberapa saat Sassya akhirnya buka suara.
__ADS_1
"Terimakasih." Lirih Sassya sambil menyandarkan kepalanya di dada bidang Aska.
"Terimakasih karena sudah hadir di hidup aku,memperjuangkan aku,dan menghadirkan keluarga baru di hidup aku. Terimakasih untuk semuanya,tuan Sky Aska Ghatama." Sassya berkata dengan nada lirih dan pelukan yang semakin erat.
Aska ikut mengeratkan pelukannya kemudian membalas ucapan Sassya.
"Bertemu dengan mu dulu memang di luar rencanaku. Tapi sekarang memperjuangkan kamu dan membahagiakan keluarga kec kita adalah tujuan hidupku sekarang dan kedepannya. Jika kamu bertanya apa alasan paling kuat yang membuat aku sangat mau memperjuangkan kamu,aki tidak akan bisa menjabarkannya,terlalu banyak alasan jika itu tentang kamu. Alasan yang paling kuat dan jelas adalah karena aku mencintai kamu." Balas Aska setengah berbisik di telinga Sassya.
"Kenapa tidak dari dulu kita seperti ini? Kenapa juga dulu kita harus menyakiti. Kalau di pikir-pikir kita dulu lucu ya,beberapa kai hampir berpisah tapi ujung-ujungnya kembali lagi."
"Takdir memang punya cara untuk mempertemukan kita Sya,takdir juga punya cara untuk menyatukan kita. Harus ada proses untuk menempa perasaan kita agar tidak mudah goyah di kemudian hari. Setelah semua yang kita lewati,kamu pasti akhirnya sadar kalau ternyata memperjuangkan cinta tidak semudah ungkapannya. Banyak hal yang harus kita lalui agar sampai di titik ini. Sekarang saatnya berjuang sama-sama." Ujar Aska sambil mengelus pelan puncak kepala sang istri.
Sassya tersenyum membalas ucapan Aska.
"Kamu tau,dulu sebelum ketemu kamu. Aku gak pernah menentukan target aku nikah umur berapa,sama siapa dan kayak gimana calon suami aku nanti. Dulu sewaktu masih di keluarga William,aku cuma punya satu cita-cita di hidup aku. Jadi model hebat dan di kenal banyak orang. Tapi setelah semuanya hilang dan aku di pertemukan dengan kamu,gambaran masa depan aku berubah. Aku mau punya suami dan keluarga kecil utuh yang aku bangun sama suami aku yaitu kamu." Ujar Sassya dengan sedikit malu-malu.
Aska terkekeh mendengar ungkapan Sassya.
Istri polosnya itu memang selalu menggemaskan.
"Cup." Satu ciuman lembut mendarat di kening Sassya.
"Berati sekarang cita-cita kamu sudah tercapai?" Tanya Aska serius.
Sassya mengangguk."Sudah dan itu bersama kamu." Gombalnya receh.
Lagi-lagi Aska terkekeh.
"Kalau kamu punya cita-cita seperti itu. Aku juga punya cita-cita yang ingin aku capai sekarang."
Aska menatap mata Sassya serius membuat yang di tatap penasaran.
"Memang cita-cita kamu apa?" Tanya Sassya memastikan.
"Membuat keluarga kecil dengan banyak anak bersama dengan kamu." Ucap Aska dengan tawa puasnya sambil mengecupi seluruh wajah Sassya dengan gemas membuat Sassya ikut tertawa karena kegelian.
Begitulah kisah cinta mereka. Berawal dari pertemuan tidak sengaja,saling memanfaatkan,kehadiran anak di perut Sassya,hingga akhirnya tumbuh sebuah rasa tak asing yang sering orang sebut cinta.
Cinta keduanya bisa di bilang aneh,sikap Aska yang dulunya egois membuat cinta yang seharusnya terlihat jadi tertutupi. Namun setelah melewati banyak hal,Aska akhirnya sadar jika ternyata selama ini ia lah yang menginginkan Sassya.
Dan setelah menekan ego yang ada di dalam dirinya lalu menerima kenyataan jika sebenarnya ia dan Sassya saling mencintai. Keduanya harus kembali di beri cobaan dari orangtua Aska dan teman-teman Sassya.
Semuanya seakan hampir membuat Aska dan Sassya menyerah,ketika akhirnya sebuah kejutan datang dan akhirnya mengantarkan mereka hingga sampai di titik ini.
Di titik di mana Takdir Bertaut dan benar-benar mempersatukan mereka.
~Tamat~
♡♡♡
Capek guys!!
Maaf ya kalau endingnya tidak memuaskan. Ending ini hanyalah bentuk formalitas dari target 120 bab.
Ending sebenarnya ada di bab 114 (Melebur) nah itu klimaksnya. Enam bab selanjutnya itu cuma untuk memenuhi target aja...
__ADS_1
Jadi novel ini sudah selesai ya guys...
Tinggalkanlah like vote komen terakhir kalian di sini...