
Sekitar sepuluh menitan berlalu,Zee akhirnya menyelesaikan kegiatan mandinya. Gadis itu keluar dari kamar mandi dengan wajah segar dan lansung masuk ke dalam walk in closet untuk mengganti pakaian.
Usai berganti pakaian,Zee kemudian beranjak menuju tempat tidur,niatnya mau mengambil handphone jika saja pintu kamarnya tidak di ketuk dari luar.
"Zee ini mama!!" Teriakan cempreng Diana terdengar dari balik pintu kamar.
"Bentar ma!!" Bales Zee sambil berjalan ke arah pintu dengan kedua tangan sibuk mengeringkan rambut menggunakan handuk.
"Ceklek." Suara pintu terbuka.
"Mama boleh masuk?" Tanya Diana hati-hati,takutnya Zee masih marah.
Zee mengangguk dan berjalan mendahului mamanya kemudian duduk di salah satu sofa.
Diana berbalik menutup pintu, sebelum akhirnya menyusul dan duduk di sebelah Zee.
"Kamu gak mau ngejelasin sesuatu sama mama?" Tanya Diana memulai obrolan sambil menatap lekat sang putri yang masih sibuk mengeringkan rambut.
"Ngejelasin apa?" Tanya Zee pura-pura bodoh,padahal ia sudah tau apa maksud pertanyaan Diana.
"Azell bukannya mama gak tau ya, gerak-gerik kamu dari semalam itu memang mencurigakan. Kemarin malam mama mergokin kamu lagi di kamar Sassya,kamu ngapain coba di sana?"
"Bongkar baju lah,mama liat sendiri kan kemarin?"
"Ckk kalau itu mama juga tau,maksud mama buat apa kamu bongkar baju-baju dia?"
"Sejak kapan mama jadi kepo?"
"Azell denger,mama gak bakalan bilang apa-apa sama papa,kalau kamu mau jujur sama mama."
Diana menjeda ucapannya sejenak sambil menarik kedua pundak Zee hingga posisi Zee yang tadi menyamping kita menghadap ke arahnya.
"Kamu ketemu sama Sassyakan tadi? Atau sama mamanya juga? Atau keduanya?" Tanya Diana beruntun.
Tidak ada perubahan dari raut wajah Zee,raut wajahnya tampak datar seperti biasa.
"Iya Zee ketemu sama mereka berdua." Jawab Zee setelah beberapa saat di tatap lekat oleh sang mama.
Diana menurunkan tangannya dari pundak Zee.
"Tuh kan bener tebakan mama,jadi kamu bongkar baju kemarin buat di kasih ke Sassya?"
Zee mengangguk.
"ASTAGA AZELL!! Kalau papa kamu tau dia bisa marah besar. Sekarang gimana? Setelah ini kamu bakalan sering nemuin mereka? Kalau papa kamu nyari tahu soal ini gimana? Atau gimana kalau mereka kembali jahatin kamu kayak dulu gimana?"
Zee mendengus sambil memundurkan tubuhnya dari hadapannya sang mama. Jarak mereka terlalu dekat,karena wajah sang mama berada tepat di depan wajahnya.
"Biasa aja kali ma!! Lagian sekarang mereka bisa apa? Mama gak liat sih kondisi mereka dan kalau papa nanti ujung-ujungnya tau juga gak masalah,Zee yang bakalan hadapin papa. Mama tenang aja. Zee gak mau jadi orang yang jahat banget lah,Zee gak setega itu,andai mama tau kalau sekarang mereka bahkan gak punya tempat tinggal. Mama Melissa sakit-sakitan. Sassya,beberapa hari yang lalu baru aja di pecat dari tempat kerjanya karena membuat masalah dengan tuan Aska. Hidup mereka serba susah ma." Jelas Zee panjang lebar.
Ia memang tau semuanya,tau jika Sassya kemarin habis dipecat karena secara tak sengaja menumpahkan minuman pada tuan Aska. Zee juga sudah tau jika itu salah satu alasan kenapa Aska terlambat menemuinya,Sandra sudah mencari informasi secara detail tentang Sassya kemarin.
"Ma,Zee boleh minta sesuatu gak?" Tanya Zee beberapa saat kemudian.
__ADS_1
Diana menoleh dengan kedua alis terangkat."Bantuan apa?"
"Mama bisa gak rekrut mama Melissa sama Sassya buat kerja di toko mama? Di bagian apa aja deh,tapi Zee rasa di tempat yang gak terlalu sering ketemu publik,soalnya banyak yang kenal sama mereka,Zee takut ada gunjingan miring yang berujung buruk ke toko mama,gimana? Bisa ya? Please,Zee gak mungkin suruh mereka kerja di kantor Zee sedangkan komisarisnya masih papa."
"Gimana ma?" Tanya Zee lagi karena Diana tak langsung menjawabnya.
"Bentar,mama mikir dulu ini. Masalahnya mama juga takut,kalau papa kamu tau gimana?"
"Ada Zee ma,percaya sama Zee deh."
"Ih kamu aja takut sama papa kamu."
"Siapa bilang Zee takut? Zee cuma segan sama yang lebih tua,mama lupa Zee gak pernah takut apapun." Ujar Zee songong.
"Gimana kalau besok atau kapan gitu, mama ketemu sama mereka langsung? Jadi nanti mama bisa nilai mereka cocoknya di bagian mana. Gimana?"
"Emm,boleh deh ma. Lagian besok Zee mau ngajak Sassya jalan-jalan. Jadi nanti sekalian Zee cari waktu yang pas buat kalian ketemu."
"Ya udah kamu atur aja. Mama mau ke kamar,nanti di cariin papa kamu lagi."
"Ok lah,makasih mama."
Diana menangguk sembari mengusap lembut pucuk kepala Zee.
"Mama balik ya." Teriak Diana di ambang pintu.
Zee mengangguk. Namun tiba-tiba perutnya berbunyi membuatnya tersadar jika dirinya belum makan malam. Zee melihat jam di tangannya sudah menunjukkan hampir jam sembilan malam.
"Ma tungguin Zee!!" Teriak gadis itu membuat Diana mengurungkan niatnya masuk ke dalam lift.
"Anu ma,eheh..he. Zee laper,masih ada makanan gak ya di bawah?"
Tanya gadis itu dengan menunjukkan deretan gigi putihnya.
Diana yang gemas langsung mencubit kedua pipi Zee dengan lembut." Mama buatin nasi goreng aja ya,makanan tadi pasti udah di bawa sama pelayan ke paviliun semua. Lagipula pasti udah dingin,jadi mama buatin nasi goreng aja ya?"
"Boleh deh." Zee mengangguk setuju.
Keduanya berjalan beriringan masuk ke lift dan turun ke lantai bawah.
♡♡♡
Hampir jam sepuluh malam Zee kembali ke kamarnya. Usai makan malam tadi,ia masih menyempatkan diri ke ruang kerja papanya untuk menyelesaikan beberapa pekerjaan yang tadi siang belum terlalu rampung.
Setelah ini Zee berencana mengirimkan pesan pada Sandra untuk mengatakan di mana alamat tempat mereka bertemu besok.
Tak lupa ia juga mengirimkan pesan pada Sandra agar mencari perumahan kosong yang ada di dekat toko kue mamanya.
Setelah merasa semuanya beres barulah Zee merebahkan badannya ke tempat tidur sembari memejamkan matanya. Namun handphonenya lagi-lagi berbunyi membuat Zee kembali membuka matanya.
Senyum terukir di wajah cantik gadis itu ketika melihat nama si penelpon.
"Hallo Ar..." Sapa Zee begitu wajah sang pacar terpampang melalui sambungan vidio call.
__ADS_1
^^^"Hai...lagi ngapain?" ^^^
"Mau tidur sih tadi rencananya."
^^^"Tadi? Berati sekarang udah^^^
^^^gak jadi tidur?" Goda Arkhan.^^^
Zee mendengus kecil.
"Kamu lagi dimana,di kampus kah?"
Tanyanya mengalihkan pembicaran.
^^^"Iya , di sini baru jam sebelas siang. ^^^
^^^Aku masih ada 2 mata kuliah lagi.^^^
^^^Ini aja baru kelar kelas,bentar lagi ^^^
^^^Masuk. Cuma tadi liat wa kamu online. Jadi aku langsung vc."^^^
^^^"Emang kamu habis ngehubungin siapa malam-malam begini?"^^^
"Sandra,maslaah kerjaan. Gak usah curiga,aku gak bakalan selingkuh di sini. Yang harus di curigain itu kamu,di sana kan banyak bule cantik."
^^^"Gak ada yang secantik kamu."^^^
Kedua pipi Zee mendadak memerah mendengar ucapan Arkhan.
"Aku mau tidur ya,bye!!
"Klik."
Zee mematikan telepon secara sepihak. Setelah berpacaran dengan Arkhan Zee jadi sulit mengontrol ekspresinya bila berhadapan dengan pria tersebut.
Teleponnya kembali berbunyi, Zee melirik nama pemanggilnya. "Arkhan" namun Zee memilih tak mengangkatnya dan bersiap untuk tidur.
Besok akan ia banyak kegiatan,ia tidak mau mati muda karena jantungan malam ini.
♡♡♡
Halo semua gimana part ini?
Komen dong kalau kalian ada saran,kritik,atau ungkapan buat otor.
Apa kalian suka dengan cerita ini?
Kalau begitu silahkan like dan masukkan ke rak favorit hehe.
Kalau kalian suka authornya juga
Silahkan vote dan kasih otor tips berupa hadiah hehe.
__ADS_1