
Kediaman keluarga Ghatama....
Dua orang pria tampak sedang berbicang-bincang di sebuah ruang pribadi,di rumahnya.
"Bagaimana? Kamu sudah dapat informasi tentang wanita itu?"
"Sudah tuan,namanya Sassya Bellvara. Dari info yang saya dapat,dia hanya tinggal bersama ibunya. Perusahaan mereka bangkrut dan ayahnya pergi meninggalkan mereka dalam kondisi terlilit hutang. Saat ini keduanya sedang mati-matian bekerja untuk melunasi hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya. Ibunya bekerja sebagai pembantu harian ke rumah-rumah sedangkan Sassya sendiri bekerja sebagai pelayan di restoran,di mana tuan bertemu dengannya tempo hari."
Pria bernama lengkap Sky Aska Ghatama tersebut tampak tersenyum miring melihat map berisi informasi tentang seorang gadis yang kemarin membuatnya terlambat bertemu dengan pemilik perusahaan nomor satu di Asia tersebut.
"Baguslah,kau atur jadwalku untuk menemuinya,kalau bisa aku mau besok." Ujar Aska dingin.
Alex tampak mengangguk paham mendengar perintah bosnya."Baik tuan,ada lagi?"
"Tidak!! Kau boleh pulang sekarang."
"Baik tuan,saya permisi."
Aska mengangguk membiarkan asistennya itu keluar dari ruangan pribadinya. Setelah asistennya keluar Aska kembali menatap dokumen tadi.
"Cantik!!" Guman Aska pelan saat melihat foto Sassya.
"Eh,apa yang ku katakan barusan? Tidak-tidak aku pasti sudah gila jika mengatakan wanita bodoh ini cantik." Aska menggeleng-geleng membuang jauh-jauh pikiran konyolnya.
"Ku rasa sebaiknya aku tidur, sepertinya otakku sedikit lelah memikirkan kerjasama yang batal dengan nona Michelle."
Aska berujar sambil beranjak menuju kamarnya. Tapi begitu melewati ruang tamu ia terkejut melihat kedua orangtuanya berada di sana dan tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Mom? Dad? Ada apa? Kenapa menatapku seperti itu?"
Aska berkata malas pada kedua orangtuanya yang seperti ingin mengulitinya.
"Duduk Aska,ada yang mommy dan Daddy mu ingin tanyakan."
Perasaan Aska sudah tidak enak mendengar ucapan sang mama yang menyiratkan sesuatu. Namun ia tetap berjalan menghampiri kedua orangtuanya dan duduk di hadapan mereka.
"Apa yang mau mom dan dad tanyakan?" Tanya Aska setelah duduk di hadapan kedua orangtuanya.
__ADS_1
"Begini Aska,mommy dengar Daddy kamu sudah menyerahkan padamu untuk memegang perusahaan utama di sini selama dua minggu terakhir. Tapi kamu tidak lupakan kalau itu masih atas nama Daddy kamu. Artinya Daddy masih punya hak penuh untuk menarik kembali sewaktu-waktu. Benarkan yang mommy bilang?"
Aska mengangguk."Lalu,dimana masalahnya?" Tanya Aska masih belum paham.
"Ckk,kamu ini lupa atau bagaimana? Mommy dan Daddy kan sudah pernah bilang,kalau perusahaan itu akan jadi milik kamu sepenuhnya jika kamu sudah menikah. Usia kamu sudah 25 tahun Aska,Mommy dan Daddy hanya mau memastikan kamu akan menikah dengan wanita baik-baik dan nanti kamu bisa punya keturunan yang bisa mewarisi perusahaan kamu."
Aska menghela napas kasar.
"Menikah lagi,menikah lagi. Andai saja mommy dan Daddy merestui hubungan aku dan Chintiya pasti saat ini aku juga sudah menikah. Kalian saja saja yang membuatnya sulit...."
"Aska!! Jangan melawan ucapan mommy mu."
Suara tuan Ghatama terdengar menegur putra tunggalnya itu.
"Mom hanya tidak mau kamu punya istri seperti dia. Kau tidak bisa lihat,selama ini dia memanfaatkan uangmu. Bahkan kemarin mommy dengar kamu membelikan dia mobil baru. Kamu juga membelikan dia apartemen,itu semua bukan permintaan murah Aska. Kamu sadar tidak,kelakuan pacar kamu itu justru akan merugikan kamu. Perusahaan kamu dan juga kamu butuh orang yang bisa mengelola keuangan. Jika kamu menikah dengan Chintiya,mau jadi apa kamu kedepannya? Pikirkan juga masa depan perusahaan kamu yang nantinya ada di tangan kamu."
Suara nyonya Ghatama terdengar sangat serius di setiap ucapannya. Sedangkan Aska,pria itu tampak menulikan telinganya. Menganggap ucapan mamanya hanya seperti angin berlalu.
"Yang mommy kamu katakan itu benar. Daddy juga sudah memikirkan bagaimana jadinya kamu nanti jika hidup dengan orang yang tidak tepat seperti Chintiya. Jadi Daddy minta,dalam dua hari ke depan kamu sudah membawa calon istri kamu ke hadapan mommy dan Daddy!!"
"D..dua hari Dad? Are you serious? Daddy ini masalah serius!! Bagaimana caranya aku menemukan calon istri dalam dua hari. Lagipun daddy tau,aku masih berpacaran dengan Chintiya. Aku tidak mau putus dengannya dan menikah dengan orang yang tidak ku suka. Daddy pun tau kan rasanya pasti sulit?"
"Tidak daddy rasa!! Kamu tau? Daddy dan mommy malah menikah karena dijodohkan. Buktinya sampai sekarang kami baik-baik saja. Jadi tidak ada lagi alasan untukmu."
"Tapi dad..."
"Atau kamu mau mommy yang mencarikan jodoh untukmu? Kamu taukan tuan William? Pengusaha nomor satu itu? Mommy dengar anak bungsu tuan William masih gadis. Apa perlu mommy jodohkan kamu dengan dia?"
Mata Aska membulat mendengar ucapan sang mommy. Tentu saja ia tahu siapa anak yang dimaksud mommynya itu. Siapa lagi kalau bukan 'Azellea William Michelle'.
"Tidak perlu ku rasa. Asal mommy tau,tadi dia menolak bekerja sama dengan perusahaan kita. Aku tidak sudi menikah dengan gadis angkuh seperti itu. Bahkan jika bisa,ini akan jadi terakhir kalinya aku berurusan dengannya."
"Itu karena kesalahan kamu,siapa suruh kamu terlambat menemuinya tadi siang. Asal kamu tahu,nona Michelle itu sangat tepat waktu. Jadi jangan bertele-tele dengannya."
Ucapan tuan Ghatama membuat Aska melongo."Darimana daddy tau masalah Aska?"
"Ckkk,kamu pikir tadi daddy tidak memeriksa keadaan kantor? Kamu lupa perusahaan itu masih atas nama daddy. Apapun yang terjadi di kantor saat ini masih daddy pantau."
__ADS_1
"Satu lagi,jangan lupa perintah daddy tadi. Bawakan calon istrimu ke hadapan kami dalam waktu dua hari. Jika tidak dapat,kami akan menjodohkan mu dengan nona Michelle."
Setelah berkata begitu,tuan dan nyonya Ghatama langsung berjalan meninggalkan putranya yang tampak frustasi memikirkan ucapan mommy dan daddynya.
"Argghhh,kenapa jadi seperti ini." Teriak Aska frustasi.
"Lebih baik aku menjadi perjaka tua daripada harus menikah dengan nona Michelle. Lihat saja kelakuannya tadi,bahkan gadis lain akan menjerit kagum jika aku mengedipkan mataku. Tapi apa? Nona Michelle malah mengusirku dari ruangannya. Ku akui dia cantik,tapi dia angkuh. Semoga saja gadis itu menjadi perawan tua seumur hidupnya."
♡♡♡
"Uhuk...uhukk...uhukk..."
Zee yang sedang melakukan vidio call dengan Sandra mendadak tersedak air ludahnya sendiri.
"Sialan,kenapa tenggorokan gue mendadak gatel gini. Perasaan tadi baik-baik aja. Ini telinganya juga ikutan gatel,heran!!"
Zee menggaruk-garuk leher dan telinganya bergantian. Ia heran kenapa dua area itu mendadak gatal,di seberang telepon Sandra tampak heran melihat kelakuan sahabat sekaligus atasannya itu.
"Lo kenapa sih??" Tanya Sandra heran.
Zee menggeleng."Gak tau mendadak telinga sama tenggorokan gue gatel."
"Ada yang ngomongin lo kali?".Tebak Sandra Asal.
Zee mengernyitkan kedua alisnya."Siapa.yang nerani ngomongin gue? Gak sayang nyawa kayaknya tu orang."
"Udahlah gak usah di pikirin. Gue kan cuma nebak. Jadi gimana ini? Lo mau cari tau sendiri ke lokasinya atau gue suruh orang buat ke sana?"
Sandra mengembalikan topik pembicaraan mereka tadi. Saat ini keduanya memang tengah membahas perihal keberadaan Sassya yang tadi sudah di cari tau oleh Sandra. Gadis itu memang sangat cekatan,hanya dalam waktu beberapa jam ia sudah berhasil mendapatkan informasi keberadaan Sassya lengkap dengan lokasinya.
Di seberang Zee menggeleng." Lo gak perlu suruh orang lain,Gue penasaran banget kalau belum ketemu mereka. Jadi gue bakalan ke sana langsung,besok sepulang kerja."
"Terserah lo aja,ingat kalau ada apa-apa hubungi gue sama Kai."
"Iya San,gue tau."
Setelah itu pembicaraan keduanya berakhir. Zee mematikan telepon dan mencoba untuk tidur.
__ADS_1