Tautan Takdir

Tautan Takdir
Miris


__ADS_3

"Zee...?"


Raut wajah Sassya tampak terkejut melihat manusia yang kini tengah berjongkok di bawah jendela kamarnya dan sang mama.


Sedangkan Zee yang kepergok malah menyengir kuda.


"H..hai Sya hehe...gimana kabar lo?" Sapa Zee salah tingkah sendiri.


"B..baik,t...tapi kok bisa..??"


"Udah diem dulu. Nanyanya nanti aja. Lo gak mau nyuruh gue masuk atau apa gitu? Pegel ini kaki gue." Gerutu Zee yang masih setia dengan posisi jongkoknya.


"Ah...iya sorry lupa...ayo masuk lewat depan." Sassya tampak berjalan buru-buru keluar kamar untuk membukakan pintu depan. Satu-satunya pintu yang ada di rumah kecil itu.


"Bella,Jessie kalian berdua bantuin gue berdiri." Ujar Zee  yang kesulitan berdiri karena ujung heelsnya menancap di tanah.


Kedua bodyguard Zee itupun buru-buru membantu nona muda mereka agar berdiri dari jongkoknya.


"Anda tidak apa-apa nona?" Tanya Jessie khawatir,apalagi saat melihat keringat bercucuran di pelipis Zee. Cuaca hari itu memang cukup panas.


"Gak papa,ayo muter ke depan. Gue kepanasan di sini." Omel Zee lagi sambil sedikit berlari menuju halaman rumah.


"Masuk Zee.." Ujar Sassya begitu Zee sampai di depan pintu.


"Ah iya,kalian berdua juga ayo masuk." Sassya juga mempersilahkan Bella dan Jessie masuk.


Ketiga orang itu pun masuk ke dalam rumah dengan langkah pelan. Apalagi Zee,gadis itu yang tampak paling hati-hati saat berjalan.


Bagaimana tidak,selain kecil dan sempit. Rumah berbahan dasar papan yang kini di huni oleh Sassya tampak begitu rapuh. Bahkan di sana sini terdapat bagian yang bolong termasuk lantai dan atapnya.


"Duduk Zee,gue ke belakang bentar." Suara Sassya terdengar mengusik Zee yang sedang sibuk memperhatikan detail rumah mantan adik tirinya itu.


Setelah selesai mengamati dari tempatnya berdiri. Zee memilih duduk di salah satu kursi yang terbuat dari bambu dan rotan.


Namun belum sepenuhnya bokong Zee menyentuh kursi,suara 'krieet' dari decitan kursi membuat Zee buru-buru menjauh dari kursi bambu tersebut.


"Nona sepertinya kursi itu sudah rusak. Apa sebaiknya kita tunggu di mobil saja? Atau nona mau berdiri saja?"


Tanya Bella saat melihat sang nona yang tampak serba salah di situ.


"Gue duduk di lantai aja..."

__ADS_1


Ujar Zee cepat..


"Tapi nona,pakaian anda bisa kot..."


"Diamlah!! Kalian berdua juga harus duduk,papa gak bayar kalian buat jadi tiang bendera di situ." Geram Zee pada kedua bodyguardnya yang tampak begitu cerewet.


Mendengar Zee yang tampak kesal membuat Bella dan Jessie mengalah,akhirnya keduanya ikut duduk di samping Zee dengan posisi setengah jongkok.


"Duduk yang benar!! Kalian berdua kayak orang mau BAB tau!!" Zee kembali mengomel.


Mau tak mau kedua bodyguardnya memindahkan posisi duduk mereka dengan mengikuti Zee yang tampak duduk bersila tanpa rasa risih,padahal lantai yang ia duduki tampak ssngat berdebu.


Hingga beberapa saat kemudian, Sassya kembali datang dengan membawa sebuah nampan yang cukup besar dan usang kemudian meletakkannya ke hadapan Zee dan kedua bodyguardnya.


"Cuma punya ini Zee,gue sama mama belum belanja." Ujar Sassya sambil menyerahkan ketiga gelas berisi teh panas.


Zee memandang horor teh di depannya,sudahlah cuaca panas. Bukannya di kasih es,eh malah di suruh minum teh panas. Tapi ia harus maklum,di rumah ini bahkan tak ada listrik apalagi kulkas.


Untuk menghargai Sassya,


Zee tetap mengangkat gelasnya untuk meminum teh buatan Sassya.


"Sebentar nona..." Jessie menghentikan Zee yang hendak meletakkan bibir gelas ke mulutnya.


"Ngapain lo minum punya gue!!" Teriak Zee geram membuat Jessie hampir tersedak.


"I..itu nona,saya mau memastikan tidak ada bahaya dalam minuman nona."


Ucapan Jessie membuat raut wajah Sassya berubah sedih sedangkan Zee melongo seraya menoleh ke arah Sassya.


"G..gak ada Zee sumpah!! Itu murni teh,kalau gak percaya boleh tukeran sama punya gue. Atau lo boleh buang juga gak papa kok." Ujar Sassya lirih.


Sadar akan masalalunya dengan Zee, Sassya tau jika orang-orang di depannya ini tidak mungkin mempercayainya semudah itu.


Namun diluar dugaan,Zee malah merebut kembali gelas yang tadi diambil Jessie dan langsung meneguknya sedikit karena masih panas.


"Tehnya enak kok." Ujar Zee cepat sambil menahan rasa panas di lidahnya.


Sassya yang melihar raut wajah Zee tampak menahan sakit kembali merasa bersalah.


"Perlu gue ambilin air putih?" Tanya Sassya khawatir.

__ADS_1


Zee menggeleng."Gak usah,ini aja cukup. Nanti kalau mau,gue ambil sendiri."


Sassya mengangguk paham.


"Ini apa?" Tanya Zee beberapa saat kemudian.


Sassya menoleh pada benda setengah gosong yang masih terletak di nampan yang ia bawa tadi. Kemudian menoleh lagi pada Zee yang tampak kebingungan.


"Itu singkong bakar,kemarin gue sama mama kehabisan beras. Karena belum punya uang gue inisiatif bakar singkong buat dimakan. Kebetulan mama tanam singkong di belakang, cobain deh."


Sassya berujar sambil mengupas kulit singkong tadi dan mulai memasukkan ke dalam mulutnya. Sedangkan Zee malah menatap miris,ia tidak bisa membayangkan bagaimana susahnya kehidupan Sassya dan Melissa selama satu tahun terakhir.


"Sassya apa kalian baik-baik aja selama ini?" Tanya Zee tiba-tiba,membuat Sassya yang sedang asik memakan singkong menghentikan kegiatannya.


Gadis itu menatap Zee sebentar kemudian tersenyum tulus.


"Setidaknya ini lebih baik daripada hidup dengan kekayaan tapi harus ngerusak hidup orang lain."


"Maaf..." Lanjut Sassya kemudian dengan suara bergetar.


Zee tersentak kaget,melihat gadis di hadapannya yang kini tampak menangis.


"G..gue sama mama minta maaf. Gue sadar ini udah terlambat. Gue juga sadar kalau kami gak pantes dapet maaf dari lo. Lo boleh benci sama gue,itu hak lo. Tapi gue bener-bener pengen minta maaf walaupun lo gak akan..."


"Udah gue maafin!!" Potong Zee tegas, gadis itu langsung menarik Sassya ke dalam pelukannya.


Mendapat perlakuan seperti itu, Sassya tambah sesegukan. Gadis itu balas memeluk erat tubuh Zee.


Sejujurnya sedari awal Zee masuk ke sini dan melihat Sassya. Zee tidak merasa jika gadis itu adalah Sassya yang sama dengan yang ia kenal dulu.


Gadis itu banyak berubah,mulai dari fisiknya yang tidak seterawat dulu, pakaian yang apa adanya. Juga sikapnya yang jauh lebih dewasa dibanding dua tahun lalu.


Juga wajah angkuh yang dulu Sassya miliki sudah hilang entah kemana.


Zee jadi merasa seperti orang jahat karena sudah membuat mereka menderita seperti sekarang. Walau Sassya bilang mereka baik-baik saja. Tetap saja,Zee bisa merasakan beban berat dalam tangisan Sassya yang kini masih berada di dalam pelukannya.


♡♡♡


Readers : si Zee kaya banget deh thor. Gue jadi kepo,dia pernah jajan pake duit dua ribu gak thor?


Otor : Jangankan duit dua ribu,goceng aja dia gak pernah nyimpen. Gue aja sampe iri,dulu gue pas SD jajannya cuma somay,lah dia pas TK jajannya sushi kualitas premium. Miris.

__ADS_1


Readers : RIP otor. Jangan lupa like vote komen buat otor. Kasian orangnya lagi meratapi nasib.


__ADS_2