Tautan Takdir

Tautan Takdir
Hukuman


__ADS_3

Tarik napas yang dalam sebelum membaca. Lalu hempaskan!!!


Ok. Siap?? Lanjut!!


♡♡♡


Matahari mulai menyingsing di ufuk timur. Sesosok wanita paruh baya yang semalaman berjaga di depan pintu gudang kini kembali terbangun dari tidur tak lelapnya.


Buru-buru ia menggedor-gedor pintu kayu tersebut untuk memastikan jika keberadaan orang yang semalam ia jaga sedang baik-baik saja.


"Nona muda!!"


"Tok!!tok!!tok!!" Wanita itu menggedor-gedor pintu dengan sekuat tenaga karena tak mendapat sahutan dari dalam sana.


"Nona ayo jawab saya. Bilang kalau anda baik-baik saja di dalam sana!! Jawab nona!!" Teriaknya panik.


Dengan setengah berlari,ia kembali masuk ke dalam rumah menuju tempat di mana kamar tuannya berada.


"Tok...tok...tok..."


"Tuan Aska!! Tolong buka pintunya!! Bibi mohon." Wanita itu berlutut di depan pintu menunggu pemiliknya membukakan pintu tersebut.


Tak lama setelahnya Chintiya keluar dari dalam sana dengan tatapan nyalang.


"Pelayan bodoh!! Apa yang kau lakukan di depan kamar kekasihku?? Kau sudah bosan bekerja ya?" Tanyanya geram.


Tanpa menghiraukan amarah Chintiya,pelayan paruh baya itu langsung memegang unjung kaki Chintiya dengan gemetaran.


"Maaf nona,tapi bisakah nona beritahu tuan Aska agar mengeluarkan nona muda dari dalam gudang. Saya khawatir terjadi hal buruk pada nona muda."


"Kau tidak salah meminta hal itu padaku? Dengar pelayan bodoh,di sini aku lah nona mudamu. Dia sama dengan kalian,statusnya hanya pelayan. Untuk apa kau membelanya."


"T..tapi nona."


"Merepotkan sekali. Aska tidak ada di sini!! Dia sudah di kantor. Kau pergilah. Wanita bodoh itu tidak akan di keluarkan dari sana sampai besok. Mengerti kan?"


Setelah mengatakan hal itu,Chintiya membanting pintu kamar Aska dengan kasar hingga nyaris mengenai wajah pelayan di depannya itu.


Pelayan bernama Sumi tersebut,mau tak mau harus kembali dengan tangan kosong.


"Bagaimana ini? Aku tidak mungkin membiarkan nona muda terkurung di sana selama itu. Nona muda begitu baik,kenapa tuan Aska begitu tega menghukum istrinya di gudang gelap itu."

__ADS_1


Bik Sumi bergumam pilu. Di tengah gumamannya,sebuah ide tiba-tiba terbersit di otaknya.


Dengan segera wanita itu lari ke halaman rumah mencari penjaga lelaki untuk membantunya.


Setelah memanggil salah  penjaga,bi Sumi langsung membawanya ke gudang belakang.


"Kau dengar Agus. Di dalam sana,ada nona muda. Tuan menghukumnya semalam di sana dan tadi pagi saat aku panggil nona tidak menjawab. Aku takut dia kenapa-napa." Ujar Bi Sumi dengan raut khawatir.


"Lalu bagaimana? Kita tidak mungkin mengeluarkan nona dari dalam sana tanpa kunci,pintu gudang ini dari kayu jati. Pasti sulit sekali untuk di dobrak. Lagipula tuan pasti akan memecat kita jika tahu ikut campur urusannya."


"Tapi di dalam ada nona muda. Dia juga majikan kita Agus. Apa kau tega melihat majikan sebaik nona muda harus menderita di sana karena ulah suaminya sendiri? Cobalah berpikir sedikit,jika pun kau tidak mengaggap nya majikanmu maka anggaplah dia adikmu. Nona Sassya masih terlalu muda untuk menanggung penderitaan seberat ini."


"Baiklah-baiklah. Aku punya solusi. Bagaimana kalau pintunya kita bolongi saja pintu ini. Setidaknya nona muda punya celah untuk sekedar bernapas di dalam sana walaupun kita tidak sepenuhnya membuka pintu." Usul Agus.


Bi Sumi tampak berpikir sejenak."Terserah lah. Apapun yang bisa membantu nona muda,lakukan lah dengan segera."


Mendapat persetujuan dari bi Sumi,Agus  segera keluar mencari alat yang mungkin bisa ia gunakan untuk membuka pintu. Hingga setelah beberapa saat,Agus kembali datang dengan membawa sebilah pisau daging di tangannya


"Di rumah ini tidak ada benda tajam atau semacamnya. Hanya ada pisau dapur dan pisau daging ini,bagaimana menurutmu? Apa ini bisa berguna?" Tanya Agus tak yakin.


"Mana ku tahu. Cobalah kau buat sedikit lobang dulu,barangkali nona muda masih sadar di dalam sana."


Dengan segera Agus mendekati pintu dan mulai membuat lobang dari bawah pintu.


Gadis itu langsung mendudukkan tubuh lemahnya,berusaha mengeluarkan suaranya untuk mencari tahu ada apa di luar sana.


"B..bi!! Apa bibi masih di luar?" Tanya Sassya lirih.


Mendengar ada suara samar-samar,bi Sumi langsung menempelkan telingannya ke dinding.


"Non!! Nona masih sadar? Jawab bibi non." Panggil bi Sumi sedikit keras.


"A..aku l...laper bi."


"Sabar ya non,bibi sedang mencari cara untuk membantu nona keluar dari sini." Balas bi Sumi sendu.


Sassya sudah ia anggap seperti anak sejak kali pertama ia melihat Sassya di sini. Tidak tega sekali rasanya membiarkan Sassya menjalani hukuman sesulit itu.


"Bagaimana Agus? Apa bisa di buka?"


"Susah Sum,baru berhasil sedikit saja." Agus menunjukkan lubang kecil yang mungkin hanya muat di masuki jempol kaki saja.

__ADS_1


"Pintunya terlalu tebal untuk di buka menggunakan pisau daging." Ujar Agus sedikit putus asa.


"Mana pisaunya? Coba sini,biar aku yang coba."


Agus menyerahkan pisau tersebut pada bi Sumi. Dengan segenap tenaganya,bi Sumi mulai memukul-mukul daun pintu tersebut dengan mata pisaunya. Hingga setelah hampir dua menit,sebuah lubahng seukuran kepala manusia mulai terbentuk.


"Nona! Bisakah nona julurkan tangan nona keluar?"


Tak ada jawaban dari dalam. Namun tak lama setelahnya sebuah tangah terlihat menjulur keluar dengan sedikit gemetaran.


Bi Sumi segera meraih tangan Sassya dan menggenggamnya seerat mungkin. Dapat ia rasakan tangan Sassya sudah sedingin es.


"Aku lapar bi." Lirih Sassya lagi-lagi membuat hati bi Sumi mencelos.


"Agus,kau keluarlah dari sini. Pergi ke paviliun dan ambil selimutku di kamar. Aku akan membuatkan nona Sassya makanan di dapur."


Setelah mengatakan itu,bi Sumi dan Agus akhirnya meninggalkan Sassya sendirian di situ. Bi Sumi segera ke dapur sementara Agus mengambil selimut ke paviliun.


♡♡♡


"Sedang apa kau di sini?"


Bi Sumi yang tengah memasak sontak menoleh terkejut saat mendengar nada tak bersahabat dari belakangnya.


"Nona Chintiya."Gugupnya."A..anu. Saya sedang membuat mie instan nona,semua makanan di dapur sudah habis. Jadi saya terpaksa memasak mi instan ini."


"Kalau makanan di dapur sudah habis,berati kalian sudah makan bukan? Lalu untuk siapa mie instan itu?"


"Eh,itu. Tentu saja untuk saya nona,tadi pagi saya melewatkan sarapan. Jadi sekarang saya lapar lagi."


"Benarkah?"


"I..iya."


"Bukan untuk nona muda kesayanganmu itu kan?"


"Eh,bagaimana nona tahu?" Tanya Bi Sumi keceplosan.


Mendengar hal itu,Chintiya mendadak murka dan langsung menghempaskan mi instan yang tadi sudah di masukkan ke mangkok hingga tumpah bersamaan dengan mangkok yang sudah tak berwujud.


"Nah!! Berikan makanan di lantai itu pada noma mudamu. Makanan seperti itu baru pantas untuknya."

__ADS_1


Setelah mengatakan hal itu,Chintiya tanpa rasa bersalah meninggalkan dapur dengan angkuhnya.


__ADS_2