Tautan Takdir

Tautan Takdir
Jangan Buat Gue Marah


__ADS_3

Zee melajukan mobilnya dengan kencang menuju perusahaan Aska. Tidak peduli ada atau tidaknya laki-laki itu di sana,intinya Zee harus mencari keberadaan dua cecunguk tersebut,Aska dan Sassya.


"Brum..." Mobil Zee berhenti tepat di depan perusahaan Aska. Tanpa mau bersusah payah merapikan mobilnya ke parkiran. Bodo amat tentang etika,Aska saja tak punya etika.


Kedatangan Zee di kantor Aska jadi sorotan,  apalagi saat ini dirinya sudah berada di lobi,raut wajahnya yang biasanya datar tanpa ekspresi kini tergambar emosi di sana dan itu cukup membuat orang bergidik.


Bisik-bisik orang tentang 'ada apa dengan kedatangan nona Michelle pun terdengar'. Zee mengacuhkannya dan tetap melanjutkan langkahnya menuju meja resepsionis.


"Brakk.." Zee menggebrak meja resepsionis membuat semua mata yang lewat menoleh,sementara kedua resepsionis tampak menunduk dengan badan gemetar,tangan dan kaki berkeringat dingin,juga wajah pucat pasi.


"Lihat saya!" Bentak Zee saat melihat kedua resepsionis itu menundukkan kepala.


Perlahan kedua resepsionis yang bernama Manda dan Sinta,seperti di name tag nya. Mulai mengangkat kepalanya.


"Mana atasan kalian?" Tanya Zee to the point.


Keduanya tampak bergetar."I..itu nona,t..tuan Aska tadi keluar. Tidak tau kemana,k..kalau tuan Alex sepertinya ada di atas."


"Hubungi. Bilang aku MAU bertemu. SEKARANG."


"B..Baik nona. Mohon tunggu sebentar."


Zee melirik jam di tangannya."Lima menit. Aku beri kau waktu lima menit."


"B..baik nona."


Manda dengan cepat melakukan telepon pada sekretaris Aska tersebut. Sedangkan Zee masih setia menunggu dengan kedua mata elangnya yang mengawasi.


Tiga menit kemudian...


Manda meletakkan gagang teleponnya dengan hati-hati kemudian menatap Zee takut-takut.


"N..nona,begini. Sebebarnya tuan Alex sedang tidak ada di kantor. Beliau menghandle rapat di luar,tapi jika nona Michelle ingin bertemu. Tuan Alex meminta agar nona Michelle ke cafe Tropical,nanti di sana tuan Alex yang akan menemui nona."


"Hm. Terimakasih untuk  bantuannya." Ucap Zee kali ini dengan wajah yang lebih ramah.


Setelah itu,Zee beranjak pergi dari meja resepsionis. Kedua resepsionis tersebut lega bukan main melihat kepergian Zee. Aura yang tadinya mencengkam kini kembali cerah,seakan gumpalan awan hitam sudah pergi dan di gantikan oleh pelangi.


Zee memasuki mobilnya dan membanting pintu dengan keras.


"Brumm..." Mobil di belokkan dengan kasar hingga menyisakan kepulan asap dari bannya yang beradu keras dengan aspal.


♡♡♡


Dua puluh menit kemudian....


Zee masuk ke dalam cafe klasik denggan banyaknya tanaman hias di sekitar pintu masuk yang membuat suasana adem.


Dari jarak sekitaran sepuluh meter Zee bisa melihat seorang pria dengan jas hitam tampak sedang mengaduk-aduk kopi dan menyesapnya sesekali.


Zee berjalan menghampiri pria itu dan duduk tepat di hadapannya.


"Selamat siang nona Michelle." Alex berdiri sebentar sambil membungkukkan badannya memberi hormat.


Zee mengangguk singkat.

__ADS_1


"Jadi nona..."


"Langsung saja Alex,aku sedang malas berbasa-basi. Katakan ke mana Aska membawa Sassya?"


Kedua alis Alex tampak mengernyit ia juga tampak sedikit kaget."A..apa maksud nona? Bukankah nona Sassya ada bersama nona Michelle? Sudah beberapa hari ini tuan..."


"Aku tau. Tapi masalahnya semalam ada pria kurang ajar yang berani menerobos masuk ke dalam Markas Dark Night milik kami dan pagi tadi pria itu membuat kekacauan dengan cara meracuni teman-temanku dan bahkan menculik adikku dan pria kurang ajar itu adalah Sky Aska Ghatama. Atasan mu! Jadi katakan ke mana tuan mu membawa adikku."


Alex terdiam mencerna ucapan Zee. Detik setelahnya ia menghela napas berat.


"Nona sepertinya kita perlu bicara."


Alex kemudian berbicara dari awal tentang dirinya yang tidak mengetahui rencana Aska sama sekali,tapi ada satu hal yang bisa ia tebak. Alex pun menceritakan juga tentang ucapan Aska yang mengatakan ingin menggugurkan bayi yang ada di dalam kandungan Sassya.


Seperti biasanya jika menyangkut tentang Sassya,maka Alex pasti akan berada di kubu Sassya. Sama seperti sekarang.


"Jadi begitulah nona Michelle. Sepertinya tuan Aska ingin menjalankan rencananya. Saran saya,nona temui tuan Aska di kediaman mereka secara langsung. Kemungkinan besar tuan Aska dan nona Sassya ada di sana."


Zee tak menjawab setelah Aska selesai bercerita. Tapi ia langsung meraih tasnnya dan pergi ke luar cafe membuat Alex harus menghela napas berat.


"Dasar batu bernapas." Batinnya mencibir.


♡♡♡


Sesuai perintah otakknya,Zee kembali menjalankan mobilnya ke target selanjutnya. Kediaman Aska,di tengah perjalanan handphonenya berdering.


Tertera nama sang pacar di sana membuat Zee menghela napas malas. Pria itu menelpon di saat yang tidak tepat,namun Zee tetap mengangkatnya.


"Halo."


"Halo sayang,sedang apa?" Terdengar sapaan lembut dari seberang sana.


"Sudah makan siang?"


"Belum."


"Kenapa tidak makan."


"Belum sempat." Jawab Zee kurang mood.


Terdengar helaan napas berat di sebelah sana.


"Kamu lagi gak mood?" Tanya Arkhan saat mendengar nada bicara Zee yang kurang enak juga jawabannya yang pendek-pendek.


"Hm"


"Oh ya,maaf ya kemarin aku gak balas chat kamu. Gak jawab telepon kamu juga,aku kemarin ada acara sama teman-teman aku di sini."


"It,s okay."


"Kamu marah?"


"Enggak."


"Yang mau kamu bicarain penting gak?"

__ADS_1


"Enggak Ar. Udah dulu ya,gue sibuk banget nih."


"Tut." Zee langsung mematikan telepon tanpa persetujuan Arkhan.


Mobil yang ia kendarai kini sudah sampai di depan pagar rumah Aska.


Zee membunyikan klakson berkali-kali hingga beberapa setelahnya pintu gerbang di buka oleh seorang pria yang berusia sekitar tiga puluh delapan tahun.


Zee segera membawa mobilnya masuk ke dalam pekarangan rumah dan parkir sembarangan.


Setelahnya ia turun dan langsung berjalan ke depan pintu rumah Aska.


"Nona tunggu." Pria yang menjaga gerbang tadi berusaha menghentikan Zee.


Zee mendengus." Aku tidak akan membuat kekacauan. Tenanglah."


"Tapi."


"Diam di situ dan jangan bergerak jika masih mau berjalan dengan kaki utuh." Gertak Zee membuat pria itu mundur beberapa langkah ke belakang.


Zee merogoh ponselnya dan langsung melakukan panggilan.


"Sassya." Panggil Zee begitu panggilan tersambung.


"Keluar sekarang. Gue di depan rumah Aska."


"Hah?" Terdengar nada tak percaya di depan sana.


"Jangan nge-drama Sya. Keluar atau pintunya gue hancurin!!" Bentak Zee geram.


Panggilan terputus.


♡♡♡


Lima menit kemudian...


Pintu terbuka,Aska muncul dengan Sassya berada di belakangnya.


"Siang menjelang sore nona Michelle." Sapa Aska basa-basi namun Zee tak menatapnya sedikitpun,tatapannya tertuju tajam pada makhluk di belakang Aska.


"Ngapain lo di sini?"


"G...gue.."


"Ayo pulang!" Zee berusaha menarik tangan Sassya namun gadis itu menghindar ke sisi lain seraya memeluk erat lengan Aska.


Zee menggeram kesal.


"Sassya!! Jangan buat gue marah!!


♡♡♡


Maaf guys...garing...


Aku lagi gak fokus...

__ADS_1


Gak mood juga...


Tapi Like vote komen tetap kasih ya...😀


__ADS_2