
Hari yang melelahkan bagi seorang Azellea akhirnya berakhir untuk hari ini. Gadis itu kini sudah berada di dalam mobilnya untuk melakukan perjalanan pulang ke rumah setelah seharian berkutat dengan tumpukan dokumen dan angka-angka yang membuatnya hampir muntah.
Di tengah perjalanan,ponsel Zee tiba-tiba berdering. Begitu ia melihat nama pemanggil,ternyata salah satu sahabatnya lah yang menelpon.
"Halo Liz." Sapa Zee pada sang penelpon yang tak lain adalah Delice,sahabat sekaligus calon adik iparnya.
"Zee sibuk gak? Nongki yuk,kita udah di cafe lo ini. Gue,Agatha sama kakak ipar lo di sini. Kalau gak sibuk join ya."
Mendengar tawaran sahabatnya,Zee tampak berpikir sejenak. Memang semenjak menjabat jadi CEO di perusahaan papanya,Zee sudah sangat jarang berkumpul bersama temannya,waktunya di habiskan untuk kerja dan kuliah. Karena memang ia masih berstatus mahasiswa saat ini.
"Iya deh gue ke sana." Ujar Zee setelah berpikir sejenak. Ia melihat jam di tangan sudah menunjukkan pukuk setengah lima. Tidak masalah jika nongkrong sebentar,ya walaupun sebenarnya ia sangat mengantuk.
"Mantap!! Di tunggu mbaknya." Gurau Delice dari seberang telepon.
Zee tersenyum tipis."Sandra udah kalian hubungin?" Tanya Zee setelahnya.
"Lah kan kalian berdua kan sekantor,kenapa gak lo ajak langsung aja?"
"Gue sebenarnya udah di jalan. Mau pulang,Sandra juga mungkin udah di jalan."
"Ya udah nanti gue telepon si Sandra,lo buruan ke sini."
"Hm"
Telepon di matikan,Zee langsung mengalihkan perhatiannya pada Bella. Bodyguard yang merangkap jadi supir pribadinya.
"Bel,kita ke Cafe Santuy dulu ya. Gue ada janji sama teman-teman."
Bella mengangguk dengan patuh. Di sebelahnya Jessie,bodyguard Zee satunya lagi tampak memasang wajah kurang setuju.
"Apa tidak sebaiknya kita pulang saja nona? Sepertinya nona kelelahan,bibir nona muda saja sudah pucat." Ujar Jessie khawatir.
Zee menggeleng."Gue cuma ngantuk. Jadi gue mau tidur bentar,pas sampai di sana nanti bangunin ya."
Tanpa menunggu lama,Zee menurunkan sedikit sandaran bangku mobilnya dan mulai memejamkan matanya. Lima belas menit setelahnya Zee pun terlelap.
♡♡♡
Tiga puluh menit setelahnya Jessie tampak menguncangkan bahu Zee dengan pelan.
"Sudah sampai nona muda." Ujarnya pelan.
Zee mengeliat sekilas,kemudian berusaha membuka matanya yang masih terasa sangat berat.
"Ayo,kalian juga ikut masuk." Suruh Zee pada kedua bodyguardnya yang tampak ingin menunggu di mobil.
__ADS_1
Dengan patuh Jessie dan Bella pun mengangguk. Ketiganya turun dari mobil dan langsung berjalan memasuki cafe.
Begitu sampai di sana,Zee langsung di sambut hangat teman-temannya yang sudah menunggu sedari tadi.
"Ckk,ibu CEO sibuk banget ya!! Gue kira lo udah lupa sama kita." Celoteh Agatha begitu melihat kedatangannya.
Zee tersenyum kecil melihat istri dari kakak ipar Davian itu.
"Kalau gak ada jadwal ketemu dosen mungkin gue juga gak bakal ke sini." Jawab Zee lesu sambil mendudukkan bokongnya di kursi.
"Bukannya tadi lo bilang baru pulang kerja?" Tanya Delice memastikan.
Zee mengangguk."Habis puker gue langsung ke sini."
"Kalian berdua,cari meja lain. Gak usah nunggu di belakang gue." Perintah Zee pada Bella dan Jessie yang tampak masih berdiri di belakang nya . Keduanya pun menurut dan langsung mencari kursi lain yang tak jauh dari meja Zee dan teman-temannya.
"Bilang mama,makasih ya ayam saus kedelai nya kemarin." Suara Clara terdengar berbicara.
Zee mengangguk."Mama juga nyuruh lo main ke rumah kalau lo ada waktu." Ujar Zee menyampaikan pesan Diana semalam.
"Clara doang nih? Kita gak?" Ucap Delice bergurau.
"Kalian juga boleh,tapi nginep. Siangnya gue pasti sibuk." Jawab Zee jujur.
"Sesibuk itu? Kan ada Sandra,dia aja sih yang suruh kerjain tugas lo!!" Saran Delice tak berakhlak.
"Sembarangan!!" Sandra mendorong pelan kepala calon adik iparnya itu membuat si empunya cemberut.
"Udah-udah,kenapa kalian berdua malah ribut." Agatha si ibu hamil melerai dua sahabatnya yang tampak akan adu mulut.
"Ngomong-ngomong,gimana hubungan lo sama bang Arkhan?" Pertanyaan Delice yang ditujukan pada Zee membuat teman-teman yang lain ikut menoleh karena mereka juga penasaran.
"Gitulah,kadang kabaran,kadang enggak. Kadang dia telpon gue udah tidur,kadang gue telpon dia yang tidur. Intinya gitulah!!" Zee menjawab dengan malas,menjalin hubungan LDR memang sulit. Apalagi zona waktu antara New York dan Indonesia berbeda 11 jam.
"Sabar ya,abang gue gak bakalan selingkuh kok." Ujar Delice sambik menepuk-nepuk pundak Zee.
"Santai,kalau Arkhan berani selingkuh bolongin aja palanya Zee!!" Sahut Sandra mengompori Zee,seraya memasukkan kentang goreng ke dalam mulutnya.
"Enak aja!! Gak harus dibolongin juga, lo mau jadi ipar durhakim? Lo juga Zee,jangan percaya. Abang gue itu setianya melebihi merpati dan buaya air tau!!" Delice terdengar membela sang abang.
Sedangkan Zee malah tak menjawab, ia sedikit memikirkan ucapan Sandra. Apalagi hubungan mereka sudah berjalan dua tahun,LDR pula. Bisa saja Arkhan bosan dan mencari pacar baru di sana. Iyakan? Tapi apa iya?
Zee tanpa sadar menggeleng-gelengkan kepalanya membuang pikiran kotor yang akan meracuni otaknya.
Kelakuan Zee membuat Clara yang berada tepat di sampingnya heran sendiri. Karena penasaran kakak ipar Zee itu pun bertanya.
__ADS_1
"Zee!! Lo kenapa?" Tanya Clara sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Zee.
"Hah? Apanya?" Tanya Zee sedikit kaget melihat tangan Clara berada di depan wajahnya.
"Lo kenapa geleng-geleng sendiri? Mikiran omongan Sandra?"
"Eh? Enggak kok!! Gue masih ngantuk tadi sempat ketiduran di mobil, gue ke toilet dulu ya,mau cuci muka!!"
Tanpa menunggu jawaban teman-temannya Zee berlalu ke toilet. Sebelumnya ia sempat memberi kode pada Bella dan Jessie agar tidak mengikutinya. Ia malas jika harus di buntuti seperti anak kecil.
♡♡♡
Sementara itu di luar cafe,sebuah mobil hitam tampak memasuki area parkir cafe. Hingga tak lama setelahnya mobil tersebut benar-benar berhenti dan terpakir dengan rapi sejajar dengan kendaraan lainnya.
"Kenapa kita ke sini??" Tanya seorang gadis pada pria yang tadi membawanya ke sini.
Ternyata orang yang du dalam mobil itu tak lain adalah Sassya dan Rama.
"Kan udah gue bilang,gue bakalan traktir lo sepuasnya hari ini. Di dalam nanti lo boleh pilih makanan apa aja,asal jangan beli cafenya. Tabungan gue kurang." Ujar Rama sambil nyengir kuda.
Namun Sassya yang masih panik tak berniat tertawa sedikitpun dengan candaan Rama, malah ia enggan keluar dari mobil. Pasalnya ia sangat tau siapa pemilik cafe ini,ya walaupun tidak pasti ada orangnya di dalam sana tetap saja Sassya takut.
Cafe ini sangat erat kaitannya dengan masa lalunya. Bisa saja ia bertemu salah satu dari mereka,jika sampai itu terjadi,Sassya tak yakin apakah ia masih bisa menghirup udara bebas setelah ini.
"Ayo turun,apa lagi?? Gue laper nih."
"Ta....tapi Ram,di sini makanannya mahal-mahal. Lagipula tadi kan kita juga udah jalan-jalan ke taman,ke mall. Lo lupa?? Bahkan saking lamanya kita jalan-jalan,sekarang aja udah mau malam. Udah hampir jam 5,pulang aja ya..." Pinta Sassya memelas.
Rama menggeleng."Hari ini spesial buat perpisahan kita,jadi lo gak boleh pulang sebelum gue puas jalan-jalan sama lo. Lagipula ini yang terakhir Sya."
Sassya terdiam,sebenarnya tidak masalah dengan jalan-jalan. Masalahnya ada di cafe ini,"kita pindah tempat kalau gitu." Pinta Sassya sekali lagi.
Rama menggeleng."Kita udah terlanjur di sini Sya,lagipula bensin mahal. Rugi kalau habis buat nyari tempat lagi,mending kan uang bensinnya buat kita makan di sini."
"Nah sekarang lo turun,atau gue gendong? Gue gak menerima penolakan."
Pasrah,itulah yang bisa Sassya lakukan. Apalagi melihat Rama yang sudah lebih dulu keluar mobil membuat Sassya tak enak jika harus menolak.
Dengan langkah gontai Sassya berjalan keluar dari mobil. Namun belum jauh berjalan,matanya menangkap sebuah mobil sport berwarna hitam yang tampak mencolok keberadaannya dari mobil lain.
Mata Sassya mendadak memicing memastikan penglihatannya. Tidak salah lagi,ia tahu itu mobil siapa. Mulai dari platnya saja ia sudah dapat menebak siapa pemilik mobil mewah satu itu.
"Aduh gimana ini." Sassya menggigit ujung telunjuknya karena gugup.
Rama yang tadi sudah berjalan di depan harus berbalik lagi karena kesal dengan cara jalan Sassya yang terlalu lambat.
__ADS_1
"Ayo buruan,lemot banget lo kayak kuya." Gemes Rama dan langsung menarik tangan Sassya agar segera masuk ke dalam cafe.