Tautan Takdir

Tautan Takdir
Lupakan Masa Lalu


__ADS_3

Setelah cukup tenang,Sassya melepaskan dirinya dari pelukan Zee. Begitupun dengan Zee. Keduanya terlibat adegan tatap-menatap sebentar,hingga akhirnya Zee memilih membuka pembicaraan.


"Dari tadi gue gak liat tante Melissa,dia kemana?" Tanya Zee heran.


Sassya yang tadi sudah lebih baik malah kembali murung.


"Mama sakit,udah hampir seminggu ini. Gue juga harus kerja gantiin mama di rumah bu Tuti. Lo mau jenguk mama?" Tanya Sassya kemudian.


Zee melihat jam di pergelangannya sudah menunjukkan pukul lima sore.


Ia jadi memikirkan sesuatu.


Zee buru-buru meraih HP nya dan mengirim pesan pada dua orang di sampingnya itu. Jessie dan Bella.


Dua bodyguard Zee itu tampak mengangguk paham,detik berikutnya kedua orang itu langsung keluar tanpa mengatakan sepatah katapun membuat Sassya bingung.


"Mereka kemana?" Tanya Sassya heran.


Zee menggeleng."Cuma gue suruh periksa mobil. Tadi di taruh di pinggir jalan,takutnya di ganggu orang karna gak ada penghuninya." Ujar Zee santai.


Sassya tampak mengangguk paham. Mengingat jalan menuju ke rumah nereka memang sempit dan akan sulit di lalui mobil. Apalagi mobil Zee pasti mobil sport,sayang jika harus lecet-lecet karena dipaksa masuk.


"Ayo lihat tante Melissa. Gue juga pengen sekalian liat kamar lo." Zee menarik tangan Sassya agar bangun dari duduknya. Tidak ada rasa permusuhan sedikitpun dari mantan kakak tiri Sassya itu.


"Gue sama mama sekamar. Di sini kamarnya cuma ada satu." Sassya menjelaskan seluk beluk rumahnya pada Zee.


♡♡♡


Lagi-lagi Zee terenyuh begitu sampai di depan pintu kamar yang dimaksud Sassya. Dari luar saja pintunya sudah lapuk,Zee tidak yakin bagaimana kondisi perabotan di dalam sana.


"Ayo masuk,mama lagi tidur di dalam." Ujar Sassya sambil membuka pintu lapuk tadi,hingga engselnya menimbulkan bunyi berisik.


Begitu pintu terbuka mata Zee langsung menyorot pada sosok wanita yang tampak terbaring lelap.


Itu Melissa,wanita yang pernah menjadi ibu tiri Zee itu tampak sangat pucat dengan tubuh yang jauh lebih kurus dari yang sering Zee lihat dulu saat di mansion.


Zee berjalan pelan mengikuti langkah Sassya dan duduk di samping kasur lipat kecil yang tampak sudah usang. Di sebelahnya ada tikar kecil yang juga sama usangnya. Bahkan selimut dan bantal yang kini di pakai Melissa terdapat banyak bekas jahitan.


"Ma..bangun bentar! Lihat siapa yang datang jengukin kita." Ujar Sassya lembut sambil menepuk-nepuk lengan mamanya.


Melissa mengeliat sedikit mendengar ucapan sang putri. Pandangannya sedikit kabur karena tertidur cukup lama.


"Ba..ntu..ma..ma bangun..." Ujar Melissa lemah.


Sassya dengan sigap membantu Melissa bangun dan menyandarkannya ke dinding.

__ADS_1


Melissa tampaknya belum sadar akan kehadiran Zee.


"Gimana keadaan mama?" Tanya Sassya lembut sambil menurunkan selimut mamanya hingga sampai di paha.


Melissa tampak memaksakan diri untuk tersenyum sembari mengusap rambut sang putri.


"Mama udah sehat kok,besok mama bantu kamu kerja lagi. Kamu pasti capek kerja sendiri,maaf ya gara-gara mama sakit kamu harus resign dari restoran." Ujar Melissa dengan raut wajah bersalah.


Sedangkan Zee mengernyit. Sepertinya Sassya sengaja membohongi Melissa agar tidak menambah beban pikiran Melissa. Karena dari yang Zee tau,Sassya justru dipecat dari restoran karena membuat masalah dengan Sky Aska Ghatama.


"Shutt!! Kenapa mama ngomong gitu,Sassya senang bisa bantuin mama. Tadi juga Sassya udah dapet uang dari bu Tuti. Lumayan bisa buat beras,besok kita gak makan singkong bakar lagi." Ujar Sassya dengan raut berbinar,begitupun Melissa.


Dua orang itu bahkan melupakan kehadiran Zee yang sedari tadi tampak menahan tangisannya dengan melihat langit-langit kamar. Setelah bisa menguasai perasaannya,Zee mencoba menyadarkan kedua orang itu akan kehadirannya.


"Ekhmm...!!" Dehem Zee pelan membuat kedua orang itu menoleh serentak.


"Oh iya mama,Sassya lupa. Mama liat siapa yang datang...."


Melissa menoleh,tatapannya bertemu dengan kedua bola mata biru milik Zee yang juga kini tengah menatap lekat dirinya. Sontak kedua bola mata Melissa berkaca-kaca.


Bukannya menyambut Zee,ia malah berbalik memeluk Sassya."K..kamu cari masalah lagi sama mereka?" Tanya Melissa sesegukan di pelukan Sassya.


Zee yang mendengar ucapan Melissa mengernyit heran. Berbeda dengan Sassya,gadis itu tampak paham jika sang mama pasti masih takut dengan kejadian dua tahun lalu. Tepatnya ia takut sekaligus di hantui rasa bersalah.


Zee menggaruk kepalanya yang mendadak gatal."Tante..look at me!! Zee datang ke sini karena kemarin Zee ketemu Sassya di cafe Zee. Tapi pas Zee panggil Sassyanya kabur,Zee langsung suruh orang cari alamat tempat tinggal kalian. Setelah dapet,Zee langsung ke sini buat mastiin. Zee juga udah gak marah kok sama kalian,suer deh!!!"


Zee menjelaskan dengan panjang lebar dan sungguh-sungguh. Mendengar itu Melissa yang tadinya memeluk Sassya kini berbalik menatap mantan putri tirinya itu.


"K...kalian gak bohongin mama kan?" Tanya Melissa takut-takut.


Sassya dan Zee kompak menggeleng.


Melihat respon kompak kedua gadis di hadapannya ini mampu membuat Melissa begitu lega. Ia memberanikan diri menatap Zee dalam-dalam.


Gadis itu sudah banyak berubah,tatapan Zee yang dulu selalu menyorot dingin kini sudah lebih hangat,sikapnya yang dulu irit bicara,kini tampak sedikit bawel. Ia jadi merasa menyesal pernah berbuat buruk pada gadis cantik di hadapannya.


Detik berikutnya,tanpa di duga Melissa menghambur ke dalam pelukan Zee."Maafin mama!! Maaf...!! Mama benar-benar minta maaf...!!" Suara Melissa terdengar tersendat-sendat karena menanangis.


Zee mengusap-usap pelan pundak mantan mama tirinya itu. Kemudian memaksa Melissa agar melihat ke arahnya.


"Tante dengar,Zee juga minta maaf. Zee tahu kehidupan kalian gak akan mudah setelah keluar dari mansion. Karena itu kemarin Zee mutusin buat nyari tau tentang kalian. Zee senang bisa ketemu kalian di sini,jadi jangan berpikir kalau Zee masih benci sama kalian,ok?"


Melissa mengangguk lagi.


"Terimakasih nak,mama senang dengernya."

__ADS_1


Zee tersenyum mendengar Melissa berkali-kali memanggil dirinya dengan sebutan mama. Ia tahu wanita itu dulu selalu menggunakan panggilan 'saya' jika bicara dengan dirinya.


Tapi kini raut penyesalan terlihat jelas di wajahnya. Zee jadi berpikir tidak ada salahnya jika ia juga memanggi Melissa dengan sebutan mama seperti yang Melissa lakukan sekarang.


"Emm,Zee kepikiran sesuatu. Zee dengar mama dan Sassya kerja jadi pembantu harian,benar?" Tanya Zee memastikan.


Keduanya mengangguk.


"Berapa gaji yang kalian dapat sehari?" Tanya Zee lagi.


Sassya dan mamanya menggeleng.


"Gak pasti Zee,tergantung kerjaannya apa aja. Kalau cuma nyuci ke rumah-rumah,paling sehari dapat seratus ribu atau bisa sampai dua ratus tergantung berapa banyak rumahnya." Jelas Melissa.


Zee mengangguk paham. Gadis itu langsung meraih telapak tangan Melissa dan mengusapnya pelan.


"Tangan mama kasar sekarang." Ucap Zee serius.


Melissa buru-buru menarik kembali tangannya dari genggaman Zee seraya tersenyum kikuk.


Zee yang melihat kelakuan Melissa kembali tersenyum."Mama dengerin Zee. Gimana kalau Zee kasih kalian pekerjaan? Mama Zee punya toko kue yang lumayan besar. Tapi Zee harus tanya dulu sama mama boleh atau enggaknya kalian kerja di sana. Mungkin besok atau lusa Zee ke sini lagi buat kasih tau. Zee bakal bujuk mama kok tenang aja."


Melissa dan Sassya tampak sedikit kaget mendengar Zee berulang menyebut kata 'mama'. Otak mereka langsung mencerna sesuatu.


"Maksud lo papa William sekarang....?" Sassya menggantung pertanyaannya.


Zee jadi merasa tak enak sudah membicarakan hal ini pada dua orang yang pernah mengisi hari-hari di keluarganya itu.


"Mama senang dengernya,pasti kali ini mama kamu lebih baik dari mama kan? Mama juga senang dengar kamu mau kasih pekerjaan buat kami. Kamu benar-benar baik,mama bersyukur kenal dengan orang seperti kamu."


Melissa tampak berusaha mengalihkan perhatian Zee dari rasa sungkannya.


"Gue juga senang Zee,gimana? Lo punya adek lagi dong berati setelah gue?" Tanya Sassya antusias.


Zee menggeleng."Mama keguguran waktu kandungannya berusia dua bulan. Gue masih bungsu di rumah." Jawab Zee jujur.


"Lagian,asal lo tau aja!! Mama gue baru umur 27 tahun. Masih ting-ting waktu nikah sama papa," seloroh Zee asal sambil tertawa kecil.


Melissa dan Sassya awalnya melongo kaget. Namun detik berikutnya mereka ikut tertawa membayangkan ibu baru Zee yang pasti keliatan hampir seumuran dengan Zee dan Davian.


♡♡♡


Part ini agak sedih gak sih guys? Jujur aku mau buat scan sedih tapi gak tau caranya dan menurut aku ini udah agak sedih sih ya walaupun aku gak yakin nge feel atau enggak ke kalian..


Tapi tetap like vote komen ya... Biar aq semangat up.

__ADS_1


__ADS_2