
"Ekhmm." Alex tiba-tiba berdehem,memecah kesunyian yang terjadi beberapa saat yang lalu.
"Ada apa tuan? Anda sakit tenggorokan?" Tanya Sassya heran.
Alex menggeleng."Nona,bisakah anda mengganti nama panggilan nona pada saya? Sekarang status nona sudah berubah menjadi nona muda,artinya nona juga majikan saya. Akan aneh kalau nona memanggil saya dengan panggilan tuan. Jadi mulai hari ini panggil saya Alex. Tanpa ada embel-embel tuan di depannya."
"Tapi tuan.."
"Nona!"
"Baiklah-baiklah! Aku akan memanggil mu kak Alex karena kau lebih tua dariku. Umurku itu baru dua puluh tahun,sangat tidak sopan jika harus memanggilmu dengan nama."
Alex tampak berpikir sejenak. Tak lama setelahnya ia pun menjawab."Baiklah terserah nona."
"Aku juga punya syarat lagi." Lanjut Sassya."Kau tidak boleh memanggil nona. Panggil namaku saja,rasanya juga canggung kalau kau memanggil ku nona. Statusku itu pelayan bukan majikanmu."
"Tapi.."
"Tolonglah,kau tidak mau aku memanggilmu 'tuan' kan?"
"Baiklah 'Sassya'. Bagaimana? Nona puas?"
"Ih puas apanya? Barusan itu kau memanggilku 'nona' lagi. Sekarang panggil namaku dengan benar."
"Baiklah Sassya. Aku meminta kau turun dari mobil sekarang karena kita sudah sampai di toko pakaian. Pilihlah beberapa pakaian untukmu,nanti jika sudah selesai beritahu aku. Biar aku bayarkan."
Sassya segera turun dari mobil,di ikuti Alex dari belakang. Jika di lihat dari penampilan keduanya,Alex sudah seperti majikan yang berpacaran dengan pelayan di rumahnya.
"Nasib-nasib." Batin Alex.
♡♡♡
Selang beberapa menit berlalu,Sassya akhirnya keluar dengan menenteng beberapa buah paper bag yang sudah di pastikan berisi pakaian miliknya. Ia langsung membawa barang-barang tersebut ke mobil sedangkan Alex bertugas untuk membayar.
"Sassya,sepertinya kita tidak biss singgah untuk makan di luar. Aku sudah terlambat ke kantor,aku ada rapat siang ini,nanti di kantor aku akan pesankan makanan. Kau bisa makan di ruangan ku. Tidak masalahkan?" Tanya Alex saat keduanya sudah kembali ke mobil.
"Terserah kau saja. Aku ikut-ikutan saja,asal kelakuan mu tidak mengancam nyawa." Jawab Sassya sedikit bergurau,namun si dingin Alwd tak bergeming sedikitpun.
"Alex,apa di kantor ada ayah mertua?" Tanya Sassya tiba-tiba.
Alex menggeleng."Tuan berada di kantor pusat,sedangkan aku dan tuan Aska mengurus cabang kantor utama."
"Oh begitu. Syukurlah,aku takut jika bertemu dengan ayah mertua. Dia pasti akan curiga kalau tahu aku ikut ke kantor,apalagi itu denganmu."
"Nona tenang saja,nanti kita akan lewat pintu masuk belakang,di sana hanya ada penjaga inti. Jadi kedatangan nona ke kantor ini tidak akan di ketahui karyawan."
"Alex!! Kenapa kau merubah nama panggilan mu lagi? Panggil aku 'Sassya',bukan 'nona'!"
"Tapi saya tidak nyaman nona."
"Kalau begitu nyamankan saja,kau mau aku suruh memanggilku sayang? Begitu?"
__ADS_1
"Eh?" Alex menatap Sassya tak percaya.
"Sepertinya nona harus ke psikiater."
♡♡♡
"Nona tunggu di sini. Sebentar lagi makanan yang saya pesan akan datang,setelah itu nona boleh makan dan saya akan turun ke bawah untuk rapat."
"Emm" Jawab Sassya malas.
Keduanya kini sudah berada di dalam ruang kerja milik Alex dan sedari tadi Sassya hanya mendengar Alex mengoceh ini dan itu dan Sassya mencoba untuk tidak peduli.
"Nona,makanannya sudah datang. Silahkan di makan,nanti jika sudah selesai taruh saja di meja situ." Alex menunjuk meja di ruang kerjanya.
Sassya mengangguk paham."Em kak Alex!l Panggilnya tiba-tiba.
Pria itu menoleh."Ada apa nona?"
"Kalau misalnya aku butuh sesuatu di sini bagaimana?"
"Nona tinggal telepon saya saja,atau minta bantuan sekretaris saya di luar sana."
"Handphoneku rusak kak Alex. Kemarin jatuh ke dalam air. Lalu handphonenya tidak bisa menyala."
"Kalau begitu gunakan telepon kantor. Sudah ya nona,jika ada apa-apa nanti nona hubungi saja sekretaris saya. Saya benar-benar harus turun untuk rapat."
"Baiklah-baiklah. Terimakasih kak Alex."
Setelah sampai di dalam lift,Alex menyempatkan diri untuk menelpon seseorang yang pastinya sudah menunggu informasi darinya.
"Halo,nona Sandra."
"Bagaimana Alex? Apakah Sassya mendapat perlakuan baik di rumah Aska?"
"Saya tidak pasti nona. Kekasih tuan Aska ada di Indonesia saat ini,dan sepertinya kedatangan kekasih tuan Aska cukup memperkeruh keadaan."
Terdengar hembusan napas berat dari seberang sana."Baiklah,kau awasi saja. Jangan sampai mereka melewati batas. Terutama kekasih Aska itu,aku akan memberitahu hal ini pada Zee. Dia kembali akan kembali besok. Jika terjadi apa-apa pada Sassya,aku tidak bisa menjamin bagaimana kelangsungan perusahaan Ghatama. Jadi bekerjalah dengan baik. Zee bukan aku yang bisa di ajak bertoleransi."
Alex mengangguk paham walaupun Sandra tidak bisa melihat responnya. Ya setidaknya hari ini ia sudah mengamankan Sassya. Tugasnya sedikit berkurang,hanya tinggal memastikan gadis itu aman saja.
"Merepotkan sekali hubungan anda tuan Aska. Kenapa juga juga anda harus memasukkan diri ke dalam kandang singa. Kalau sudah begini,aku juga yang kena getahnya. Sungguh nasib." Batin Alex.
Setelahnya pria itu kembali melanjutkan tujuannya untuk turun ke bawah. Menghadiri rapat yang tadi sempat ia tunda karena harus menemui Sassya.
♡♡♡
Di sisi lain,Chintiya dan Aska kini tengah sibuk melakukan kegiatan melepas rindu dengan bercengkrama di kamar milik Aska.
"Sayang hentikan,aku geli." Pekik Chintiya,ketika tangan nakal bermain di atas kedua gundukan miliknya.
Pria itu memang tidak menyentuhnya lebih,tapi tangan-tangannya selalu liar menyentuh titik-titik sensitif milik Chintiya.
__ADS_1
"Arggh. Rasanya aku benar-benar ingin memakanmu. Kau tahu!"
Aska berkata sambil mendaratkan ciuman kasar di bibir Chintiya.
"Mmpphh." Chintiya menggeram,ketika tangan Aska kembali mere-mas gundukan miliknya.
"Sayang! L..lepas." Ujar Chintiya terbata.
Gadis itu hampir kehabisan napas karena ciuman brutal dari Aska."Kau mau membunuhku ya?" Tanyanya sedikit merajuk.
"Aku gemas denganmu. Wajahmu,bibirmu,semuanya benar-benar candu."
"Kalau begitu sentuh saja aku,aku tidak melarangmu bukan? Sudah ku bilang,aku milikmu."
"Tapi kita belum resmi."
"Mau sampai kapan kau menahan diri?" Tanya Chintiya geram."Aku sudah menunggu momen di mana aku bisa memiliki mu seutuhnya Aska!! Kenapa kau susah sekali di takhlukkan." Chintiya membatin geram.
Aska menggeleng."Aku tidak tahu,tapi aku mencintaimu dan aku tidak mau merusak dirimu sebelum kamu resmi menjadi milikku."
"Kalau begitu ceraikan wanita bodoh itu!!"
"Aku tidak mau! Eh,ma..maksudku aku tidak bisa." Ujar Aska sedikit salah tingkah. Bibir dan otaknya sedikit keseleo.
"Kenapa kau tidak bisa? Kau mencintainya?"
"Omongan gila apalagi ini?" Tanya Aska dengan wajah tak suka."Aku tidak mungkin mencintainya sayang. Tapi kau juga harus ingat jika kita membutuhkannya untuk mendapat kepercayaan orangtuaku."
"Orangtuamu menyukai gadis bodoh itu. Benar?"
"Sedikit."
"Cih!! Aku semakin membencinya,aku juga takut jika nanti kau jatuh cinta padanya."
"Sttsst." Aska menutu mulut Chintiya dengan jari telunjuknya."Itu tidak akan terjadi,aku mencintai mu. Sungguh."
"Lagipula,selama kau di sini kau boleh melampiaskan emosi mu padanya. Jika itu bisa membuat mu lebih baik."
"Benarkah?"
"Iya."
"Teriamkasih sayang."
Chintiya tersenyum licik."Awas kau wanita bodoh. Aku akan membuat hidupmu menderita selama aku di sini,lihat saja." Batin Chintiya.
♡♡♡
Udah guys!! Aku lagi capek banget!! Rasanya gak mood banget buat konflik,pen mogok makan aku,masa udah dua hari ini ngetik,nabung bab ilang mulu.
Ujung-ujungnya ngetik ulang,kan capek😭😭😭😭😭
__ADS_1
Semangatin aku kek.