Tautan Takdir

Tautan Takdir
Duka dan Dilema


__ADS_3

Alamakk judulnya gess. Macam judul sinetron ikan terbangπŸ˜‚πŸ˜‚πŸ˜‚


Baca sampe abis baru komen,like sama votenya kencengin. Jan boom like tanpa baca ya,gua sleding lu padaπŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚


β™‘β™‘β™‘


Sassya mengguncang-guncang tubuh Melissa sembari terus berteriak memanggil sang mama. Namun tetap saja tak ada respon apapum dari Melissa.


Sassya juga mengecek detak nadi di pergelangan tangan sang mama. Ia sedikit bernapas lega karena ternyata mamanya hanya pingsan.


Sekarang yang harus Sassya lakukan adalah mencari bantuan untuk membawa mamanya ke rumah sakit. Tapi permasalahannya adalah tempat tinggal mereka jauh dari para tetangga,belum lagi akses ke rumah ini sulit di jangkau oleh kendaraan luar termasuk taxi.


Di tengah kepanikannya,Sassya teringat satu nama yang bisa di pastikan dapat menolongnya. Zee.


Sassya dengan segera mengambil kembali ponselnya yang tadi sempat jatuh dan segera menghubungi Zee. Melihat jam sudah menunjukkan pukul enam sore,ia yakin jika Zee pasti sudah sampai di mansion.


Ia pun segera menelpon Zee,namun di saat genting seperti ini Zee malah tak bisa di hubungi. Ponsel gadis itu tidak aktif karena setelah beberapa kali di telepon hanya terdengar suara operator yang menjawab panggilan Sassya.


Sassya sudah semakin putus asa,apalagi di luar hujan makin lebat di sertai suara petir yang bergemuruh. Air mata Sassya lagi-lagi menetes,ia benar-benar kalut saat ini.


"Bentar ya mah,Sassya cari bantuan dulu." Guman Sassya sambil mengecup pelipis mamanya beberapa kali.


"Gimana ini??" Sassya terus bertanya pada dirinya sendiri.


Hingga beberapa saat Sassya kembali teringat satu orang lagi dan orang ini adalah harapan terakhirnya. Semoga saja dia tidak keberatan membantu Sassya. Orang itu tak lain adalah Sky Aska Ghatama.


Sassya pun segera merogoh saku bajunya,mencoba mencari kartu nama yang tadi sore Aska berikan padanya. Dengan sedikit tidak sabaran ia mengetikan nomor telepon Aska dan mulai melakukan panggilan. Beberapa setelahnya ada nada sambung dan panggilan di angkat.


"Halo,tuan Sky." Sapa Sassya tanpa basa-basi.


"Halo? Ini siapa? Askanya lagi ruang kerja. Ada yang di sampaikan?" Terdengar suara seorang wanita yang menjawab dan itu berhasil membuat Sasya kaget.


"Ini siapa ya? Saya ingin bicara langsung dengan tuan Sky,apa bisa??"

__ADS_1


"Saya mamanya,kalau kamu memang ada urusan penting dengan Aska saya akan panggilkan dia. Kamu tunggu sebentar ya."


Di seberanh telepon Sassya tampak menunggu dengan perasaan was-was. Ada rasa takut saat dirinya akan meminta bantuan pada Aska,dengan meminta bantuan Aska artinya dia akan berhutang budi pada pria itu selamanya,belum lagi Sassya juga berencana akan meminjam uang untuk biaya rumah sakit nantinya. Itu artinya Sassya berhutang banyak hal pada pria satu itu.


"Halo!!"


Sassya terperanjat ketika mendengar suara berat yang terdengar di seberang telepon. Ia tahu itu Aska.


"H..halo tuan,saya Sassya. Apa saya menganggu waktu tuan?"


"Ckk,rupanya ini kau bodoh. Jadi bagaimana? Kau sudah pikirkan jawabanmu? Lau bersedia?"


"S..saya sudah pikirkan jawabannya tuan. Saya akan menjawab jika saya sudah bertemu tuan secara langsung..."


"Kapan? Besok? Malam ini?"


"Malam ini tuan,tapi sebelumnya saya ingin meminta bantuan pada tuan. Saya mohon,ibu saya jatuh pingsan tadi dan di sini tidak ada bantuan,saya...."


"Ckk!! Kau itu merepotkan sekali. Cepat kirim alamatmu,aku akan menyuruh orang-orangku untuk menjemput ibumu dan membawanya ke rumah sakit."


"Baik tuan,saya akan kirimkan alamatnya. Segera."


Saking leganya Sassya sampai mematikan penggilan secara sepihak dan langsung mengirim alamat gang rumahnya agar orang suruhan Aska cepat datang. Setelah itu ia dengan susah payah memindahkan tubuh mamanya untuk di bawa ke ruang tamu.


Setelah selesai memindahkan Melissa Sassya pun menyalakan lampu petromaks di dalam rumah. Setelah selesai ia pun beranjak ke luar untuk mengambil motor dan mulai menjalankannya ke luar gang.


Ia akan menunggu di depan gang,karena ia tak mau membuat orang suruhan Aska berpikir jika mereka salah alamat saat melihat gang sempit menuju rumahnya itu.


β™‘β™‘β™‘


Tiga puluh menit berlalu,dua orang suruhan Aska akhirnya datang. Setelah sedikit berbasa-basi Sassya langsung mengajak kedua pria itu untuk menjemput ibunya ke rumah. Ke dua orang itu langsung menurut,sepertinya Aska sudah memerintahkan pada mereka agar jangan protes pada apapun yang Sassya minta.


Akhirnya Melissa berhasil di bawa keluar dengan cara di angkut menggunakan motor milik Sassya. Setelahnya ke empat orang itu pun melanjutkan perjalanan ke rumah sakit dengan menggunakan mobil.

__ADS_1


Sesampainya di rumah sakit,Sassya cukup kaget karena ternyata Aska dan Alex sudah tiba di sana. Keduanya menunggu di loby rumah sakit dan setelah melihat Sassya datang,Aska langsung menyuruh para perawat untuk membawa Melissa ke ruang VIP agar mendapat perawatan yang terbaik.


β™‘β™‘β™‘


Kini Melissa sudah di periksa oleh para dokter di ruangannya. Sementara di kursi tunggu pasien,Sassya sedari tadi terus saja berjalan bolak-balik,bolak-balik di depan pintu. Alhasil kelakuan Sassya membuat Aska yang tadi memutuskan ikut menunggu jadi jengkel.


Ia pun langsung menegur Sassya."Hei!! Bodoh!! Kau itu bisa duduk tidak sih!?? Mataku sakit melihat kelakuanmu yang mirip setrikaan baju."


"Tuan,saya ini sedang mengkhawatirkan keadaan mama saya,bagaimana saya bisa duduk?"


"Kau itu memang bodoh,apa kau pikir dengan mondar-mandir di situ ibumu itu akan sembuh ha? Sekarang duduklah sebelum aku menyuruh orang untuk memotong kedua kakimu agar kau tidak bisa berjalan sekalian."


Mendengar ancama Aska,mau tak mau Sassya akhirnya duduk. Walaupun pria di depannya itu bicara dengan nada biasa tapi di telinga Sassya ucapan Aska malah terlihat seperti kutukan yang harus di waspadai.


"Nah begitu baru bagus. Jadi sekarang langsung saja ke intinya. Aku ingin membahas masalah tadi siang,bagaimana caramu membayar hutangmu padaku? Belum lagi waktuku malam ini,aku tadi sedang bekerja saat kau menelponku jadi aku harap kau tau caranya balas budi."


"S..ssaya tau tuan. Karena itu saya bersedia melakukan apapun yang tuan mau." Jawab Sassya lirih. Ia tidak punya pilihan.


"Termasuk menikah denganku?"


"Iya." Sassya mengangguk dengan berat hati.


"Baguslah."


"Alex,sekarang berikan surat yang aku minta kemarin pada gadis bodoh ini. Suruh dia membaca dan jangan protes pada apapun yang tertera di sana."


"Deg.." Perasaan Sassya kembali was-was. Sepertinya ia akan di jadikan tawanan oleh Aska kali ini.


β™‘β™‘β™‘


Otor : Hayoo kira-kira apa isi suratnya? Apa si Sassya bakalan di jadiin 'anu' sama si Aska? Btw kemarin ada yg ngira emaknya si Sasa bakalan ninggoy gak? Kalau ada jan lupa minta maaf. Masih idup tu orangnyaπŸ˜‚πŸ˜‚


Readers : kenapa kagak di bunuh aja sih thor?? Udah tua juga,emangnya nanti perannya si ntan Lisa di sini ngapain aja? Paling nyempil di pojokan. Bunuh aja lah thor.

__ADS_1


Otor : Shutt,hidup mati mereka di tangan otor. Kalian like vote komen aja dulu soalnya hidup tidaknya karya ini ada di tangan kalian πŸ˜‚πŸ˜‚


__ADS_2