Tautan Takdir

Tautan Takdir
Ngidam


__ADS_3

Sedari pagi tadi belasan anak Dark Night yang berada di mansion di buat pusing oleh keinginan Sassya yang minta di antar jalan-jalan ke pasar menggunakan jasa ojol. Entah kategori ngidam macam apa yang sedang wanita itu alami,tapi yang jelas Sassya sampai menangis meraung-raung meminta agar keinginannya terpenuhi.


"Sya,udah dong nangisnya. Kita bisa di marahin Zee kalau Zee tau kita biarin lo nangis selama tiga jam." Ujar Bara frustasi.


Tak ada respon dari bibir Sassya,hanya ada isakan-isakan lirih yang terdengar dari bibir wanita itu.


"Kita gak ngelarang lo ke pasar Sassya. Tapi gak naik ojek juga,lo tuh lagi hamil dan dokter Zara bilang kandungan lo lemah. Lo ada telinga gak sih?!" Bentak Rafa karena mulai emosi dengan tingkah Sassya.


"Huaa...." Tangis Sassya makin kencang saat di marahi oleh Rafa. Betina satu ini memang sensitif.


"Ya udah kita ke pasar." Putus Bara akhirnya.


Ucapan Bara langsung membuat air terjun di mata Sassya mengering. Dengan senyum sumringah dan wajah cerah ia segera berdiri dari tempatnya.


"Beneran?" Tanyanya antusias.


Bara mengangguk.


"Tapi bang." Rafa hendak protes.


Namun dengan segera Bara mencegahnya lewat tatapan mata.


"Turutin aja,gue punya cara tersendiri." Begitulah kira-kira maksud tatapan mata Bara.


"Huh..,ya udah gue ambil jaket dulu."Ujar Rafa mengalah. Semenjak kejadian hari itu,sikap Rafa memang banyak berubah. Terutama sikap sinisnya,ia kini lebih penyabar dan banyak mengalah pada Sassya.


"Yang lain juga ikut,ingat kata Queen. Kita harus jagain anak bawang satu ini seketat mungkin." Ujar Rafa sebelum meninggalkan kamar Sassya.


Akhirnya seluruh pria yang berjumlah 13 orang itu keluar dari kamar Sassya untuk mengambil jaket masing-masing. Siap-siap mengantarkan tuan putri kedua mereka ke pasar.


Sebelum berangkat,Bara dan Rafa menyempatkan diri untuk mengbubungi Zee. Setidaknya gadis itu harus di beritahu perihal ngidam aneh yang Sassya alami hari ini.


♡♡♡


"Kok naik mobil?" Tanya Sassya dengan wajah hampir menangis lagi saat melihat sebuah mobil Ferarri berwarna merah yang kini terpakir di depannya.


Bara menghela napas malas.


"Lo mau gue anterin ke pasar atau gak sama sekali?"


"Ya tapi kan gue requestnya naik ojek. Lo tadi juga juga udah nge-iyain ngidamnya gue kan?"


Bara mengangkat satu alisnya dengan wajah sok mikir."Kapan gue ngomong mau nganterin lo ke pasar pake ojek?" Tanya Bara mencoba mengingatkan Sassya.

__ADS_1


"Tadi kan,lo bilang..."


Sassya menjeda ucapannya setelah sadar jila Bara hanya mengiyakan ajakannya ke pasar tapi tidak dengan naik ojek.


"Udahlah Sya,sama aja. Naik ojek ataupun naik mobil tujuan lo tetep sama kan? Mau ke pasar,apa bedanya sih? Gak usah aneh-anehlah. Jangan egois lo jadi emak." Celetuk Rafa.


"Enak aja lo bilang emak,gue maunya di panggil mommy." Bentak Sassya.


Anak-anak Dark Night lain tampak cekikikan mendengar celotehan Sassya.


"Mommy Sassya tersayang...,lo mau ke pasar naik mobil atau gak sama sekali?" Kini giliran Andreas salah satu anggota Dark Night ikut membujuk.


Sassya mengerucutkan bibirnya,merajuk.


"Tapi kan ini keinginan anak gue. Kalau dia nanti ngiler karena keinginannya gak kesampain gimana? Lo mau tanggung jawab?"


"Gak ada yang begituan Sya. Mama gue dulu pas hamil adik gue juga ngidamnya selalu di turutin tapi pas adik gue lahir tetap aja dia ngiler. Namanya juga anak kecil." Ujar Gara salah satu anggota Dark Night yang kehidupan keluarganya paling harmonis di antara seluruh anak Dark Night.


Sassya menatap Gara tak percaya. "Yang bener lo?"


"Sumpah demi Felis. Kucing piaraan adek gue. Gue gak bohong." Ujar Gara dengan mimik serius.


Sassya berdecak malas. "Ya udah deh,kalau gitu gue mau. Tapi gak jadi ke pasar!" Ujar Sassya lagi membuat anak-anak Dark Night kaget.


"Toko kue mama Diana. Gue tiba-tiba pengen makan red velvet."


"Hah??"


♡♡♡


Setelah melewati drama panjang yang penuh rintangan. Tepat pada jam makan siang,sampailah Sassya dan anak-anak Dark Night di toko Kue milik Diana,mama Zee. Zee juga berada di sana karena tadi sempat di hubungi oleh Rafa.


"Lo seriusan mau masuk ke dalam?" Tanya Zee yang kini semobil dengan Sassya.


Sassya mengangguk yakin.


"Tapi di dalam ada nyokap lo Sya. Lo gak papa kalau sampai ketemu nyokap lo dan dia curiga?"


"Aemm,gak papa. Gue hanya perlu ngelabuin mama. Nanti juga setelah ini gue mau ke rumah mertua untuk membuat drama yang sama."


"Untuk tuan dan nyonya Ghatama gue rasa lo gak perlu buat alasan apapun. Mereka saat ini berada di Amerika. Ada urusan bisnis di sana,mungkin selama beberapa bulan ke depan. Lo cuman perlu nyiapin alasan buat mama Melissa doang."


Mata Sassya membulat."Seriusan lo?"

__ADS_1


"Hm."


"Ya ampun,gue nyangka hidup gue semulus ini." Gumam Sassya girang. Ia berharap orangtua Aska pergi dalam jangka waktu yang lama ya setidaknya sampai kontraknya dan Aska berakhir. Dengan begitu,takkan banyak drama yang ia alami.


"Ya udah,kalau gitu anterin gue masuk."


Zee mengangguk."Duluan deh. Gue mau nyuruh anak-anak pulang duluan,kasian mereka kalau harus nunggu lo di sini kayak orang gabut. Mending nanti lo pulang sama gue."


"Terserah lo aja." Ujar Sassya sambil melangkah masuk ke dalam sedangkan Zee keluar untuk memberi tahu anak-anal Dark Night agar meninggalkannya dan Sassya di situ.


♡♡♡


"Mama...!!" Sassya berteriak bahagia begitu sampai di ruangan sang mama.


Melissa awalnya kaget,namun melihat kedatangan Sassya yang tampak riang gembira tanpa kurang satu apapun. Rasa kagetnya menguar,berganti dengan rasa bahagia.


"Sayang...,kok gak ngabarin mama dulu kalau kamu mau ke sini? Mama gak nyiapin apa-apa loh ini." Ujar Melissa gemas sambil mencubiti pipi Sassya.


Sassya menyengir bak kuda tertawa."Suprise ma. Tadi Sassya minta di anterin Zee ke sini,sekalian ada yang mau Sassya kasih tau."


"Kamu ke sini sama Zee? Suami kamu ke mana?" Melissa menanggapi ucapan Sassya dengan pertanyaan.


"Suami Sassya ada,masih kerja lah ma. Sassya sendiri udah gak kerja. Soalnya Sassya sekarang lagi hamil,makanya Aska ngelarang Sassya kerja. Nah karena Sassya udah gak kerja,Sassya jadi gabut dong. Makanya Sassya negerecokin Zee buat nganterin Sassya ke sini." Jelas Sassya panjang kali lebar.


"Loh mama kok nangis?" Sassya yang baru selesai bercerita tampak menatap mamanya bingung. Karena wanita paruh baya itu menangis.


"Mama terharu sayang. Jadi sekarang kamu lagi hamil?" Tanya Melissa terharu sambil mengusap perut Sassya.


Sassya mengangguk."Selamat ya ma,bentar lagi bakalan jadi nenek." Goda Sassya sambil tertawa.


Melissa ikut tertawa,namun hanya sebentar karena setelahnya raut wajah Melissa berubah serius.


"Apa Aska memperlakukan kalian dengan baik?"


♡♡♡


Yosshh guyss...jangan lupa like vote komen.


Maaf lama gak up,aku masih sakit ini sebenarnya..


Tapi maksa ngetik sampai 3 bab yang jumlahnya hampir 4 ribu kata...


Demi kalian ini...awas kalau gak kasih gift.

__ADS_1


__ADS_2