Tautan Takdir

Tautan Takdir
Menyesali


__ADS_3

Jangan lupa like vote komen dan kirim hadiahh😌


♡♡♡


"Mphhpp..."


Sassya meronta-ronta di dalam pelukan Aska. Pria itu mengukung tubuh kecilnya membuatnya susah bergerak. Bahkan beberapa kancing piyama miliknya sudah berhasil Aska buka.


"T..tuan jangan seperti ini.." Sassya masih berusaha menghalau tangan dan bibir Aska yang berusaha menyentuh tubuhnya.


"T...tuan...emphh...."


Aska kembali mencium Sassya dengan buas membuat gadis itu sampai menangis. Tangan-tangan Sassya meremas kuat sprei di sisinya saat bibir Aska benar-benar sudah menguasai bagian atas tubuhnya.


Bahkan tenaganya melemah,otak dan tubuhnya memberikan reaksi yang berbeda pada setiap sentuhan yang Aska beri.


"Ah..." Satu d354h4n lolos dari mulut Sassya ketika merasakan bibir Aska m3n93mut salah satu bukitnya.


Suara erangan Sassya membuat Aska semakin bergairah. Apalagi saat ini Sassya sudah tidak melawan,gadis itu pasrah sepasrah pasrahnya menerima setiap perlakuan Aska pada tubuhnya.


"Boleh kah?" Tanya Aska setelah berhasil membuat tubuh Sassya melemas.


Tak ada jawaban dari bibir Sassya karena gadis itu juga ragu dengan pikirannya. Namun Aska yang sudah di kuasai nafsu tak mau menunggu lama.


Dibukanya penutup terakhir yang ada di tubuh Sassya. Saat itu juga,Sassya menjerit ketika merasakan sakit yang menjalar saat alat tempur milik Aska berhasil mengambil mahkotanya.


Aliran darah yang mengalir di bawah sana,menadandakan hilangnya keperawanan Sassya. Ya gadis itu masih menjaga mahkotanya dengan baik kendati pernah menjadi pribadi yang kurang baik di masa lalunya.


Dan malam itu,di kamar Aska. Terjadi sesuatu yang selama ini harusnya mereka lakukan,Aska berhasil menjadi kan Sassya wanita sekaligus istri yang sebenarnya.


♡♡♡


"Shhhh." Sassya meringis saat terbangun dari tidur keesokan harinya.


Seluruh badannya nyaris remuk karena kejadian semalam. Perlahan Sassya langkahkan kakinya menuruni ranjang,berusaha sekuat mungkin menahan rasa sakit yang masih menguasai inti tubuhnya.


"Sassya..."


"Deg."


Jantung Sassya nyaris berhenti di tempat ketika mendengar suara seseorang yang begitu ia hindari. Tubuhnya yang masih polos mendadak merosot ke tepi tempat tidur.


Aska yang melihat Sassya merosot ke bawah dengan kedua pundak bergetar langsung merasa bersalah. Ia sudah bangun lebih dulu daripada Sassya tadi. Tapi ia sengaja menunggu wanita bangun untuk melihat reaksinya.

__ADS_1


Dan saat melihat keadaan Sassya yang tampak sangat terpuruk. Rasa bersalah langsung menjalari perasaan Aska.


Buru-buru Aska turun menghampiri sang istri dan langsung menarik Sassya ke dalam pelukannya.


"Maaf." Ucap Aska lirih.


Tak ada jawaban,yang ada Sassya malah semakin terisak mendengar ucapan sang suami yang seolah menyesal sudah menidurinya.


"Maaf..maafin aku. Itu semua di luar kendali,salahmu juga karena semalam tidak menghindariku."


Ucapan Aska membuat Sassya langsung mendorong kasar tubuh Aska.


"Keterlaluan sekali anda tuan Aska. Tidak bisakah anda berpikir,jika bukan karena anda mabuk dan menarik paksa saya. Kita tidak akan berakhir seperti ini."


Tak terima karena di salahkan oleh Sassya,Aska pun kembali melayangkan ucapan kasarnya.


"Sudah ku bilang itu di luar kendaliku!! Kau tau,jika tidak ada laki-laki atau pun perempuan yang bisa mengendalikan dirinya saat mabuk termasuk aku!! Apalagi sepertinya semalam aku berada dalam pengaruh obat." Suara Aska terdengar meninggi.


Makin miris saja senyuman yang tercetak di bibir Sassya Bahkan setelah kehormatannya di renggut,tak ada niatan sedikitpun bagi Aska untuk meminta maaf dengan tulus. Malah yang terjadi sebaliknya,Aska menyalahkan Sassya seolah semua terjadi karena keinginan Sassya.


"Tuan tak bisakah tuan meminta maaf? Tidakkah tuan berpikir jika saya sudah di rugikan dalam hal ini. Tuan sudah melanggar kesepakatan untuk tidak saling berkontak fisik selama kita menikah,s..saya takut jika kejadian malam tadi membuat saya hamil. Apa yang harus saya lakukan?"


Aska sedikit tertegun mendengar ucapan Sassya."Kenapa aku tidak kepikiran." Batinnya.


"Tapi bagaimana dengan Chintiya? Aku tidak mungkin punya anak dengan wanita yang tidak aku cintai,itu akan menjadi masalah untukku dan kekasihku." Separuh hati Aska protes tentang rencana pertamanya.


"Bodoh,dengarkan aku! Aku tau aku dan kau sama-sama belum siap dengan kehadiran anak. Terutama aku,jadi tolong jangan tersinggung ataupun marah dengan saranku ini. Tapi sepertinya untuk kebaikan kita,aku menginginkan kau mengkonsumsi obat pencegah kehamilan. Aku akan menghubungi Alex nanti,jadi kau tak perlu memikirkan soal kehamilan. Anggap kejadian tadi malam tidak pernah terjadi."


Aska benar-benar mengucapkan kalimat itu tanpa memikirkan perasaan Sassya. Bahkan Sassya pun tidak bisa menjawab saking tak percayanya dengan otak picik Aska.


"Kau tunggu di sini. Aku akan ke kantor untuk mengurus pekerjaan,siang nanti nanti Alex akan ke sini untuk mengantarkan obat pencegah kehamilan padamu."


Setelah mengatakan hal itu,Aska berlalu meninggalkan Sassya yang masih tak bergeming dari posisinya.


Hingga sampai beberapa menit berlalu,barulah otak Sassya kembali jalan dan memberi Sassya perintah untuk segera memunguti pakaiannya yang semalam terlepas kemudian memakainya lagi.


"Aku membencimu tuan!! Sangat membencimu!!" Ucap Sassya penuh penekanan namun dengan nada lirih.


♡♡♡


"Obat pencegah kehamilan? Untuk apa tuan?" Tanya Alex bingung,karena tadi setelah tiba di kantor Aska datang ke ruangannya dan langsung menyuruhnya mencari obat pencegah kehamilan.


"Sudahlah tidak usah banyak bertanya. Lagipula ini salahmu juga,kenapa semalam kau tiba-tiba datang dan membawa ku pulang ke runah. Jadi anggap saja ini terjadi karena kecerobohan mu."

__ADS_1


"What??" Batin Alex.


"Tapi tuan,aku melakukan itu untuk tuan. Memangnya tuan siap jika nona Chintiya hamil?"


"Aku memang belum siap jika Chintiya hamil. Tapi aku lebih tidak siap jika yang hamil malah wanita bodoh itu. Aku tidak mau menjadi ayah dari anak yang ibunya tidak aku cintainya."


"Pemikiran bodoh apalagi ini? Dia itu istrimu bodoh. Istrimu! Jika kau tidak mau bertanggung jawab,biar aku yang melakukannya." Batin Alex geram.


"Tuan,sebaiknya pikirkan baik-baik lagi ucapan tuan. Nona muda itu istri tuan,tidak ada yang salah jika nona muda hamil karena nona muda sudah bersuami dan itu wajar."


"Itu tidak wajar Alex. Aku dan wanita bodoh itu hanya menikah kontrak. Ku ingatkan jika kau lupa. Jadi jangan melawanku,carikan aku obat pencegah kehamilan. Aku akan melakukan apapun agar tidak terikat lama dengan wanita sialan itu." Putus Aska.


Tanpa melihat perubahan di wajah Alex,Aska dengan segera meninggalkan ruangan asistennya itu dengan angkuh.


"Anda terlalu egois tuan."


"Tapi aku,Geovano Alexander tidak akan membiarkan tuan menyiksa wanita yany aku cintai. Aku di pihakmu,Sassya Bellvara."


Batin Alex sambil mengirimkan pesan pada seseorang yang di rasa bisa membantu masalahnya saat ini.


♡♡♡


Udahh sekian...maaf jika tak sesuai ekspetasi....


Karena otor punya pemikiran tersendiri,tak afdol rasanya jika adegan nganu di sini dibuat panas sedangkan hubungan Sassya dan Aska masih bermasalah.


Lagipula sedari otor ngetik,setan mesum yang biasanya keliaran di otak otor mendadak ilang hingga akhirnya otor gak bisa bikin adegan nganu🤣🤣🤣


Jadi tolong nanti pada saat komen,sekenanya saja...


Jangan bikin gua jantungan...mogok nulis guenya ntar..


Akan ada adegan nganu yang di jabarkan tapi tentu bukan di sini...


Karena ini adalah jalan menuju puncak konflik...🤣🤣🤣


Like vote komen dongg..


Sebelum lanjut part berikutnya aku mau promo lagi ya...


mampir ke cerita temen otor ini...


__ADS_1


__ADS_2