
Mobil yang membawa Sassya tadi akhirnya berhenti di depan sebuah gerbang besi setinggi dua meter yang tampak di jaga oleh beberapa bodyguard.
Gerbang di buka,dan mobil berjalan masuk ke dalam. Setelah sampai di parkiran mobil berhenti,kedua bodyguard yang berada di depan turun terlebih dahulu untuk membukakan pintu mobil.
Sassya keluar diikuti pria asing barusan. Mata Sassya beredar melihat pemandangan di depannya ini. Sebuah rumah mewah berlantai dua yang berada cukup jauh dari pemukiman lain.
Tembok dengan tinggi lebih dari 5 meter tampak berdiri kokoh melindungi rumah tersebut dan bisa di pastikan akan sangat sulit bagi maling untuk masuk ke sini.
Belum lagi taman kecil di samping teras dan juga dua buah kolam ikan serta pendopo kecil yang tampaknya menjadi tempat nyaman untuk bersantai.
"Sebuah rumah yang sangat elegan." Batin Sassya.
"Anda sudah puas melihat-lihat nona?" Suara menyebalkan yang sedari tadi tak Sassya harapkan,kembali terdengar.
Sassya mengangguk." Saya sudah puas,jadi dimana tuan yang anda maksud?? Bisa saya menemuinya sekarang?" Tanya Sassya dengan nada penuh penekanan.
"Mari nona ikut saya. Saya akan antarkan anda ke ruangan tuan muda."
Pria tersebut berjalan mendahului Sassya masuk ke dalam rumah. Di dalam rumah lagi-lagi Sassya kagum dengan desain rumah serba estetik ini. Hampir semua barang di dalam terbuat dari kayu dan tertata dengan sangat artistik.
"Nona kita sudah sampai." Suara pria tadi kembali menyadarkan Sassya dari lamunannya.
"Saya akan masuk ke dalam untuk memberi tahu tuan. Anda tunggu di sini sebentar." Ujarnya sebelum menghilang di balik pintu.
♡♡♡
Di dalam ruangan
"Selamat sore tuan,nona Sassya sudah menunggu anda di luar." Ucapnya pada pria yang kini tengah membelakanginya.
Pria tersebut tak bergeming,hanya suaranya saja yang tedengar.
"Bagus.l Suruh dia masuk,dan kau boleh keluar."
"Baik tuan."
Pria bernama Alex tadi berlalu keluar untuk memanggil Sassya. Di luar Sassya sudah menunggu dengan gelisah. Ketika melihat Alex keluar dengan tampang datarnya,Sassya semakin gelisah.
"Nona,tuan meminta anda untuk masuk ke dalam. Nanti jika sudah selesai nona silahkan keluar temui saya,di ruang tamu. Ah iya nona,motor anda tadi juga sudah di bawa kemari oleh orang suruhan saya. Jadi anda tenang saja." Jelas Alex yang mengira raut gelisah Sassya di sebabkan oleh motornya yang tadi tertinggal di taman.
Sassya hanya mengangguk. Ia bahkan tak peduli tentang motornya,yang ia pedulikan adalah nyawanya saat ini. Bahkan sampai sekarang Zee belum menghubunginya membuatnya takut setengah mati.
"Nona,kenapa anda masih di situ?? Silahkan masuk,karena tuan saya tidak suka menunggu."
__ADS_1
"Eh...."
Sassya kaget ketika Alex tiba-tiba berada di sampingnya dengan sorot mata tajam.
"A...iya..iya..,saya masuk sekarang."
Tanpa berlama-lama lagi,Sassya segera memutar knop pintu dengan kedua tangan yanh sudah berkeringat dingin.
"Klek.." Pintu terbuka,menampakkan ruangan yang cukup luas. Di dalam ruangan tersebut ada sebuah meja kerja dengan banyaknya tumpukan dokumen dan seperangkat komputer,lalu sebuah kursi kerja berwarna hitam dan sebuah laci yang di atasnya terdapat segelas minuman.
Tapi yang menjadi pertanyaannya adalah.
"Yang punya ruangan kemana ya??" Gumam Sassys lirih.
Takut-takut ia melangkah ke dalam ruangan. Namun ia juga sudah terlanjur masuk,masakan ia harus keluar lalu kabur. Tidak lucu jika bodyguard-bodyguard yang di luar tadi menangkapnya lalu menyeretnya kembali ke sini.
"Permisi,ada orang tidak??" Teriak Sassya sedikit kencang.
1...detik...2....detik....3....detik....dan seterusnya.
Tidak ada tanda-tanda seseorang di dalam sana membuat Sassya menggeram."Gue pasti di kerjain." Batinnya.
Merasa dirinya hanya dipermainkan,Sassya pun bermaksud untuk keluar,lebih baik ia kembali ke taman. Hari ini ia ada janji temu dengan Zee dan itu lebih penting daripada meladeni permainan orang asing yang aneh.
"Ceklek...ceklekk..ceklek..."
"Tolong!! Woi!! Siapapun yang di luar,gue mohon bukain pintu!!"
"Brak!!"
"Brak!!"
Sassya menggedor-gedor pintu dengan sangat kuat. Kedua matanya sudah terasa panas,ia hampir menangis sekarang.
"Puk!"
"Apa yang kau lakukan bodoh,kau bisa merusak pintu ruangan kerjaku."
"Gleg." Sassya menelan ludahnya dengan susah payah ketika mendengar suara berat seorang pria yang barusan menepuk pundaknya.
Perlahan Sassya menoleh dengan kewaspadaan tingkat tinggi,Sassya sudah menyiapkan kuda-kudanya. Hingga....
"Bruk...brukk..brukk.."
__ADS_1
"Pergi sana!! Dasar setan!! Orangtua mesum,jangan ganggu saya!!"
Sassya melancarkan pukulan pada pria tadi dengan menggunakan tas kecilnya sebagai senjata.
"Hei!! Bodoh!! Apa yang kau lakukan!! Kau mau aku mematahkan tangan kecil mu ini hah??!!"
Pria yang tak lain adalah Aska itu menghentikan pukulan Sassya dengan cara mengcengkram erat pergelangan tangan Sassya.
"T..tuan Sky,b...bagaimana bisa??" Sassya seketika gemetaran saat tau siapa makhluk yang baru saja ia pukuli.
"Ckk..tentu saja bisa. Apa Alex tidak memberi tahumu jika aku yang meminta mu kemari??"
"T..tidak,l..lagi pula s..siapa itu Alex?? Apa dia yang menjemput saya tadi??"
"Memangnya siapa lagi kalau bukan dia? Kau ini ternyata cukup bodoh,pantas saja pekerjaan hanya menjadi pelayan restoran. Sayang sekali dengan wajahmu,padahal kalau di lihat-lihat kau itu lebih cocok menjadi cleaning servis."
"Eh..?" Batin Sassya melongo mendengar penuturan Aska."Gue kira dia mau bilang kalau muka gue ini cantik dan lebih cocok jadi model,eh taunya malah cleaning servis lalu apa bedanya dengan pelayan dasar pria sombong."
"Lihat,kenapa lagi dia ngeliat gue dari atas sampai ke bawah?? Oh mau di congkel ya matanya."
"Wahai tuan muda yang terhormat,andai saja aku masih menyandang marga William,mungkin sekarang mulut sombongmu itu sudah ku potong dan kujadikan soto cingur."
Batin Sassya terus berontak,bahkan keduanya tangannya sudah saling meremas,menahan diri agar tidak mencolok mata Aska yang kini tampak seperti detektif yang tengah meneliti targetnya.
"T..tuan,sebenarnya apa tujuan tuan membawa saya kemari?? Apa karena masalah kemarin? Tapi bukankah tuan sudah meminta manager saya untuk memecat saya,sekarang saja saya sudah tidak bekerja,lalu ada urusan apa lagi tuan dengan saya??"
"Ckk,pertanyaan mu terlalu banyak. Sekarang kau duduk lah,ada yang ingin aku bicarakan!!" Perintah Aska dengan nada sedikit menekan.
"Tunggu apa lagi?? Cepat duduk!!" Kali ini Aska langsung mengeluarkan bentakannya karena melihat Sassya yang tampak mematung di tempatnya.
"T..tapi tuan,an..anu tuan!!"
"Anu apa lagi,kau tuli ya?? Aku bilang duduk,ya duduk. Atau kau mau aku yang mendudukan mu??"
"Heh pertanyaan macam apa itu??"
"Baik tuan,akan tetapi saya harus duduk di mana? Di sini tidak kursi selain yang satu itu." Sassya menunjuk kursi kerja milik Aska yang berada di seberang meja.
"Ckk,kau itu bodoh ya. Duduk ya tingga duduk,jangan cerewet. Atau jangan-jangan kau mau duduk di pangkuan ku??"
"Eh,tentu saja tidak tuan. Saya lebih baik duduk di lantai saja."
Sassya langsung memerosotkan tubuhnya ke lantai ruangan yang pastinya sangat dingin apalagi AC saat ini menyala. Pasalnya dari sekian banyak perabotan kayu di sini,hanya di ruangan Aska lah yang lantainya terdapat porselen.
__ADS_1
♡♡♡
Jejaknya shayyy. Like vote komen jan lupa