Tautan Takdir

Tautan Takdir
Drama Makan


__ADS_3

Catatan : Mulai sekarang Azell bakalan panggil  rumahnya Sassya itu rumah doraemon ygy.


♡♡♡


Keesokan harinya,di kediaman rumah doraemon. Sebuah mobil tampak memasuki pekarangan rumah dan kemudian berhenti di samping taman. Dari dalam mobil tersebut keluarlah seorang pria jangkung bertubuh altletis dengan rahang tegas yang menambah kharisma di wajahnya.


Pria itu tampak naik ke rumah tersebut dan mengetuk daun pintu.


"Tok..tok..tok.."


Beberapa kali ketukan barulah pintu tersebut di buka. Ibu dari pemilik rumah itu langsung melebarkan senyumnya saat tahu siapa yang datang.


"Nak Aska ayo silahkan masuk. Nyari Sassya ya? Dianya lagi masak di dapur. Nak Aska samperin aja langsung ke sana." Ujar Melissa ramah.


Sassya mengangguk dengan senyum yang tak kalah ramah juga. "Aska masuk dulu ya bu. Oh iya,ini ada sedikit oleh-oleh buat ibu. Semoga suka ya." Ujar Aska sembari menyerahkan sebuah paper bag pada Melissa.


Wanita itupun mengambil barang tersebut sembari mengucapkan terimakasih.


"Kalau begitu Aska masuk dulu ya bu. Permisi." Ucap Aska berpamitan.


Melissa memandangi punggung Aska yang sudah menjauh dengan perasaan yang sulit di jelaskan. Entah kenapa di satu sisi ia merasa Aska tulus pada Sassya tapi di satu sisi ia merasa ada yanh di sembunyikan oleh Sassya dan Aska.


"Huh,semoga saja kalian berdua tidak mempermainkan mama." Batin Melissa.


♡♡♡


Sementara itu,Aska kini sudah sampai di ruang dapur. Aroma masakan Sassya begitu menyeruak memenuhi indra penciumannya. Aska masih diam di ambang pintu begitu netranya menangkap sosok Sassya yang tampak tengah berjalan ke sana kemari dengan spatula di tangan kanannya dan serbet di tangan kirinya.


Rambutnya di kuncir satu menampakkan leher jenjang Sassya yang berhasil membuat Aska menelan salivanya dengan kasar.


"****. Kenapa dia jadi terlihat **** begitu?" Batin Aska tak habis pikir.


Dengan langkah kasar Aska menghampiri Sassya dan langsung menarik ikat rambut gadis itu hingga rambut panjang Sassya terburai.


Hampir saja Sassya berteriak karena kaget,namun Aska segera membekap mulut Sassya dengan tangannya.


"Jangan berteriak. Aku tidak mau orang-orang mengira aku melakukan hal yang tidak-tidak padamu." Sentak Aska.

__ADS_1


Setelah itu Aska melepaskan bekapannya dari mulut Sassya dan memundurkan tubuhnya sedikit menjauh dari Sassya. Memberi jarak di antara mereka.


"Kenapa kau mengikat rambutmu setinggi itu?" Tanya Aska dengan nada kesal,sembari menatap Sassya tajam.


Sassya memandang Aska dengan tatapan bingung. "Memangnya kenapa? Saya selalu mengikat rambut saya setiap saya memasak atau melakukan kegiatan lain." Jawab Sassya apa adanya.


Mendengar jawaban Sassya,Aska semakin kesal. "Jadi maksudmu saat kau berada di luar rumah kau juga mengikat rambutmu setinggi itu? Begitu?"


"I..iya,tentu saja. Memangnya kenapa? Saya kan melakukan itu agar tidak gerah. Tuan mana tau rasanya bekerja dengan rambut panjang,apalagi jika di urai. Rasanya sangat panas."


"Aku tidak peduli! Mulai hari ini dan seterusnya,aku tidak mengizinkanmu mengikat rambutmu jika sedang berada di luar kamar. Kalau kau berani mengikat rambutmu lagi,aku akan mengurungmu di dalam kamar sepanjang hari. Kau mengerti?"


"Ckkk! Tuan ini kenapa sih? Kalau tuan tidak suka dengan rambut saya ya sudah tidak usah di lihat. Selama saya bekerja di restoran dulu rambut saya juga selalu di ikat. Tidak ada yang mempermasalahkan itu."


"Kau..."


Aska tidak jadi melanjutkan ucapannya,mulutnya sudah lebih dulu di sumpal oleh potongan paha ayam berukuran cukup besar yang membuat Aska mau tidak mau harus diam.


"Nah lebih baik tuan makan ayam goreng saja,mengoceh terlalu banyak sepertinya membuat tuan lapar. Tuan mau makan sekalian?" Tawar Sassya dengan wajah polosnya.


"Kau mau membunuh ku ya? Lagi pula kau pikir aku sudi memakan masakanmu? Memangnya seenak apa masakan mu sampai berani menawari ku,kau tahu! Aku..emphh."


Sassya kembali membungkam mulut Aska. Kali ini ia menyuapkan sesendok tumis kangkung yang sudah cukup dingin ke dalam mulut Aska.


"Bagaimana tuan? Apa masakan saya tidak cukup enak untuk di coba? Tuan jangan lupakan jika saya mantan pelayan di restoran,walaupun saya bukan juru masak. Tapi sedikit tidaknya,saya banyak belajar. Jadi tuan tidak perlu meragukan kemampuan saya." Ujar Sassya dengan geram.


Aska diam tak menjawab. Ia masih sibuk mengunyah sayur kangkung tadi,kemudian memakan potongan ayam goreng yang tadi masih di genggamnya. Setelah selesai Aska melemparkan sisa tulang ayan tersebut ke dalam wastafel dan kembali menatap Sassya.


"Ambilkan aku piring. Aku berubah pikiran,sepertinya masakan mu cukup bisa di makan. Memang kau ini berbakat jadi pelayan." Ujar Aska dengan tak berdosanya.


Ia menarik salah satu kursi dan mulai duduk,menunggu Sassya mengambilkannya piring,nasi dan lauk.


Sassya yang melihat kelakuan Aska hanya bisa menghela napas kesal. "Suami macam apa yang mengatai istrinya pelayan. Cih." Batin Sassya.


Andai saja Aska bukan suami sekaligus orang yang sudah membantunya dan ibunya mungkin sudah Sassya beri sianida di makanannya. Biar cepat koid.


"Segini cukup tuan?" Tanya Sassya pada Aska setelah selesai mengambilkan nasi dan lauk ke dalam piring Aska.

__ADS_1


Aska melirik piring yang di sodorkan Sassya dengan mata memicing. "Kau kira aku kucing? Tambah lagi,porsi segitu mana bikin kenyang."


"Sudah numpang makan,banyak bacot lagi." Batin Sassya.


"Beras di rumah saya sedikit tuan. Jadi harus hemat-hemat kalau makan." Jawab Sassya sefrontal-frontalnya.


Aska memutar bola matanya malas. "Kasian sekali hidup istriku ini. Tapi tetap saja tidak sopan memberi tamu makanan seporsi kucing. Sekarang tambahkan porsinya dan aku akan mengirimkan beras ke rumah mu ini sebanyak yang kau mau. Siang ini juga."


"Benarkan?" Tanya Sassya antusias.


Aska mengangguk.


"Wah terimakasih tuan. Anda memang suami yang sangat bertanggung jawab. Ini ambilah,saya tambahkan lagi. Tuan makanlah dengan kenyang,nanti kalau kurang boleh nambah lagi."


"Kau pikir aku kuli??"


"Tidak tuan,anda suami saya yang baik hati dan dermawan. Sekali lagi terimakasih."


Setelah mengatakan hal itu Sassya segera berlari keluar dapur dan mencari ibunya ke kamar.


Dari dapur,Aska masih bisa mendengar teriakan Sassya.


"Ma!! Ayo makan siang!! Aku masak banyak!! Tenang aja nanti Aska yang bakalan ganti semuanya!!"


Suara teriakan Sassya serta kalimatnya membuat Aska geleng-geleng.


"Selain bodoh. Ternyata aku juga menikahi gadis gila. Entah bagaimana kehidupanku selama setahun ke depan." Aska geleng-geleng kepala membayangkan ia harus tinggal serumah dengan gadis aneh sekelas Sassya.


♡♡♡


Otor : Piye guys? Apakah anda melihat ada tanda-tanda cinta di antara mereka?


Readers : Rama mana thor? Kagak di munculin biar ada konflik gitu?


Otor : Jangankan Rama,Rami,Ramu dll nya nanti juga bakalan muncul 🤣🤣


Ku tunggu kalian ngamuk-ngamuk di eps berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2