
Melihat kelakuan Sassya yang tampak lucu saat ketakutan,Aska malah tersenyum miring."Aku menemukan mainan baru sekarang."Batinnya.
Otak Aska tiba-tiba kepikiran untuk mengerjai Sassya lagi."Berdiri bodoh!! Siapa yang mengizinkan mu duduk di lantai?? Jangan mengotori ruangan ku dengan jejak menjijikan milikmu."
"Apa katanya?? Hei tuan,apa kau tidak lihat kalau badanku ini sangat bersih. Jejak menjijikan mana lagi yang kau maksud?? Dasar pria gila." Lagi-lagi Sassya membatin.
"Tunggu apa lagi bodoh?? Ayo bangun dari situ."
"I..iya tuan saya berdiri sekarang."
Saya buru-buru berdiri dan kini ia kembali berhadapan dengan Aska.
"Nah bagus. Tetap lah di situ dan jangan kotori ruanganku dengan jejak kakimu."
"Baik tuan."
Aska semakin terhibur saja melihat kelakuan Sassya yang sudah mirip kelinci kecil saat ini. Dengan langkah sok tegas ia pun kembali ke kursi kebesarannya dan duduk di sana.
"Ekhmm!!" Aska berdehem dengan keras membuat Sassya menoleh heran.
"Ada apa tuan?? Apa anda sakit tenggorokan??" Tanya Sassya dengan polosnya.
"Bodoh,kau menyumpahi ku sakit ya?? Sekarang kau cepatlah kemari,mau sampai kapan kau berdiri di situ??"
"T...tapi tuan,bukankah tadi..."
"Kemari ku bilang!!" Aska berkata sambil menatap tajam pada Sassya.
Dengan perlahan Sassya beringsut maju hingga saat ini posisinya sudah menempel di pinggiran meja yang berseberangan dengan Aska.
"Ckk,kau itu memang bodoh ya?? Kau tidak lihat tanganku menunjuk kemana? Aku bilang kemari,bukan ke sana." Aska menunjukkan tempat di mana Sassya seharusnya berdiri dengan menggunakan tangannya.
"Tapi tuan,di sini saja sudah dekat. Saya bahkan bisa mendengar suara anda dengan jelas." Ujar Sassya dengan nada cukup lembut,berusaha menahan rasa geram yang kini sudah berada di tengkuknya mungkin saja dalam hitungan menit rasa geram itu akan pindah ke ubun-ubun.
"Kau!! Cepat kemari sebelum aku menyeretmu dengan tanganku!!" Kali ini Aska tampak semakin marah melihat betapa keras kepalanya Sassya.
Sassya yang di ancam pun semakin takut,andai saja pintu tidak terkunci Sassya pasti sudah menerobos keluar dan kabur dari tempat ini saat ini juga.
Dengan perlahan ia berjalan ke tempat yang Aska inginkan hingga saat ini posisinya sudah berada di depan Aska. Jarak keduanya mungkin hanya tinggal beberapa jengkal.
"Ckk,masih jauh." Protes Aska.
Sassya pun beringsut maju selangkah lagi.
"Kurang dekat.."
"Maju sedikit lagi."
"Brukk!!"
"Kyakk!! "Apa yang kau lakukan pria mesum!! Lepaskan aku!!" Sassya meronta-ronta di dalam posisinya saat ini.
Ia kini sudah berada di atas pangkuan Aska dengan kedua tangan Aska memeluk erat tubuhnya.
"Tuan Sky,lepaskan aku!!" Sassya terus berontak.
__ADS_1
Namun bukannya melepaskan,Aska malah semakin senang menggoda Sassya. Kepala Aska perlahan maju hingga kini wajahnya berada tepat di sebelah pipi kanan Sassya.
"Mama!! Tolong!!" Sassya menggeleng-geleng sekuat tenaganya. Alahasil."Bukk!!"
"Bodoh apa yang kau lakukan!!?" Teriak Aska kaget. Pelukannya terlepas karena pria itu kini tengah sibuk mengusap hidungnya yang berdarah akibat benturan dari kepala Sassya.
Sassya yang mendapat kesempatan lepas pun langsung kabur dan kembali menggedor-gedor pintu.
"Ceklek."
Mata Sassya berbinar ketika mendengar suara pintu yang tampak akan dibuka dari luar. Ia segera menarik knop pintu dan bersiap kabur.
"Hei!! Berhenti!!"
Aska tau-tau sudah berada di belakang Sassya dan menarik gadis itu hingga berbalik menghadapnya. Tangannya menarik pinggang Sassya hingga tubuh keduanya merapat.
"Kau..."
Aska tak jadi melanjutkan kalimatnya karena pintu tiba-tiba terbuka.
"Brukk." Keduanya terjatuh dengan posisi Sassya menindih Aska yang kini berada di bawahnya.
"Cup.." Bibir Sassya menempel tepat di bibir Aska.
"Alex!! Apa yang kau lakukan??"
Aska segera mendorong tubuh Sassya hingga terguling ke samping. Ia pun duduk dan menatap Alex dengan tajam.
"Maaf t..tuan s...saya kira t..tadi..Saya permisi tuan."
Sementara di dalam ruangan Aska mendadak heran ketika merasakan ruangan berubah jadi sunyi,hanya terdengar suara detak jam dinding saja. Seketika ia menoleh ke samping dan melihat Sassya kini tengah menangis tanpa suara.
"Ada apa dengan mu bodoh?? Harusnya yang sakit di sini aku,kau membuat hidung ku berdarah lalu tadi kau juga menindihku. Kenapa malah kau yang menangis??"
"Hikss,tuan jahat!! Tuan mencuri ciuman pertamaku!!" Teriak Sassya cukup nyaring dan berhasil membuat telinga Aska berdengung.
"Tapi tunggu dulu? Apa katanya tadi? First kiss??"
Wah,otak licik Aska mendadak mengeluarkan lampu cerah. Sepertinya ada permainan lagi yang akan ia buat.
"Apa katamu tadi?? Aku mencuri first kiss mu?"
"Hiks.." Sassya mengangguk sambil masih terus menangis.
"Baik lah,aku minta maaf. Jadi menurutmu apakah aku harus mengembalikan ciuman mu yang sudah aku curi?"
"M..memangnya bisa??" Tanya Sassya dengan bodohnya.
"Lihat dia memang bodoh."
"Tentu saja bisa. Mendekatlah ke sini."
Aska memberi kode agar Sassya mendekat ke depannya.
Mata Sassya memicing menyadari ada yang tidak beres.
__ADS_1
"Ckkk kau itu lamban sekali bodoh." Aska segera menarik tangan Sassya hingga kini gadis itu sudah duduk tepat di depannya.
"Cupp.." Tanpa aba-aba Aska kembali mencium bibir Sassya bahkan sedikit me****** dan menggigitnya hingga bibir gadis itu terbuka.
"Mphhmm"
Sassya berusaha melepaskan ciumana mereka dengan cara memukul-mukul dada Aska. Namun bukan Aska namanya jika ia tidak bisa membungkam Sassya.
Dengan sedikit dorongan,Sassya kini sudah terbaring di lantai dengan satu tangan Aska di belakang kepalanya dan satu lagi menahan tangan Sassya yang tadi terus memukulnya. Posisi keduanya kini sudah sangat intim dengan Aska yang berada di atas.
Keduanya berciuman hampir dua menit dan Sassya sudah hampir kehabisan napas. Air mata gadis itu terus menerus mengalir apalagi saat tangan Aska meliar dan menjamah area yang tidak seharusnya ia pegang.
"Sial!! Kenapa jadi seperti ini."
"Hah...!!" Aska melepaskan ciuman mereka dan segera bangun dari posisinya.
"Sial,hampir saja aku kelepasan."
Aska memandang Sassya yang kini juga sudah duduk dengan kepala tertunduk. Gadis itu masih menangis membuat Aska sedikit merasa bersalah. Namun untuk meminta maaf,ia masih gengsi.
"Sudahlah,tidak usah menangis. Aku hanya menciummu bukan menelan*jangimu." Tegur Aska dengan nada tak bersalah.
"Hanya? Tuan bilang hanya?? Tuan hampir saja..."
"Ckk!! Kau itu terlalu banyak bicara. Sekarang berdirilah karena aku ingin membicarakan hal serius."
Aska akhirnya bangun dari posisi duduknya dan berjalan menuju meja kerjanya sembari mengambil satu buah map berwarna merah kemudian membawanya lagi ke hadapan Sassya yang masih duduk di lantai.
"Brak!!" Aska melemparkan map merah tersebut tepat di dekat lutut Sassya.
"Kau baca itu baik-baik. Setelah itu pikirkan bagaimana caramu membayarnya."
Kepala Sasya seketika mendongak."Membayar apa? Apa yang tuan maksud??"
"Baca saja dulu!! Kau tau caranya membaca kan??"
Tanpa bertanya lagi Sassya segera meraih map tersebut dan mulai membukanya. Matanya sektika membulat melihat setiap baris kata yang tertulis di dalam sebuah kertas yang ada di dalam map tersebut.
♡♡♡
Reader : Thor kok gak kasih tau kalau bakalan ada adegan nganunya sih??
Otor : Adegan nganu apa sih?? Gak usah aneh-aneh!!
Reader : Alah,adegan makan madu langsung dari sarangnya itu loh thor.
Otor : Buset makan madu dari sarangnya,lu kira kagak di gigit lebah kali ya.
Reader : Taulah thor!! Sok polos lu!! Awas aja sampe emak lu baca ini cerita,di kutuk lu thor. Mana KTP baru jadi lagi sok lu thor.
Otor : Udah diam!! Baca aja dulu,like vote komen jangan lupa.
Reader : Besok yang lebih hot lagi ya thor.
Otor : 🙄😒
__ADS_1