
Zee berjalan mondar-mandir di pinggiran kasur Aska,menunggui pria sakit yang tak kunjung siuman itu dengan perasaan gusar.
"Zee,duduk dulu. Mama pusing liat kamu bolak-balik gitu." Diana yang ikut menunggui Aska terdengar menegur Zee untuk yang kesekian kalinya.
Zee masih belum menggubris membuat Diana naik darah. Wanita berusia dua puluh delapan tahun itu mengeluarkan jurus andalannya.
"Zee duduk!! Atau mama buang koleksi doraemon kamu!!"
"Grep..." Dengan patuh Zee langsung duduk rapi di atas sofa bahkan tidak berani berkedip.
Diana menghela napas berat. Anak gadisnya ini hanya takut dengan satu ancaman. Koleksi doraemonnya. Hanya itu,selain itu. Jangan harap Zee akan luluh.
"Eughh.."
Terdengar lenguhan membuat kedua ekor mata Zee melirik pelan ke atas kasur.
Aska tampak mengeliat-ngeliat silau.
Refleks Zee bangun dari duduknya dan langsung berjalan menuju tepi ranjang tempat Aska berbaring.
"Bangun lo!!" Zee menarik kasar kerah baju Aska membuat pria itu terduduk kasar.
"Bangun gue bilang!!" Bentak Zee tepat di depan wajah Aska.
Aska yang belum sepenuhnya sadar,tampak mengeliat bingung.
"N..nona Michelle?" Tanyanya dengan suara serak.
Aska mengangkat tangannya mencoba mengucek matanya untuk memastikan sosok apa yang ada di depannya kini.
Setelah sepenuhnya sadar,Aska pun kembali bertanya.
"Nona Michelle? Kenapa anda di sini?" Tanya Aska bingung.
Zee menatap Aska tajam,hidungnya kembang kempis bak banteng hendak mengamuk.
"Harusnya gue yang nanya. Lo ngapain di depan rumah bokap gue? Tiduran di sana? Lo gak punya rumah? Lo ada masalah lagi sama Sassya? Apalagi sekarang? Kemana lagi Sassya pergi??" Zee bertanya beruntun dengan cengkeraman yang semakin kuat hingga nyaris mencekik Aska.
"Zee,sayang...,tenang ya.." Diana berusaha menarik Zee karena kasihan melihat wajah Aska yang tampak memerah.
"Mama diam!!" Bentak Zee pada sang mama untuk pertama kalinya. Diana tersentak dan mundur beberapa langkah.
"Sekali lagi gue tanya sama lo! Ada masalah apa lagi lo Sassya??"
"M..maaf nona Mi..Michelle. I..is..istriku, d..d..dia pergi d..dari rumah." Aska berbicara tersendat-sendat.
__ADS_1
"Bugh..."
Suara pukulan menggema di dalam kamar,badan Aska terhempas ke lantai kamar porselen nan dingin dengan keadaan mengenaskan. Wajahnya memerah dengan napas tersengal-sengal.
"Pergi dari rumah katamu??" Suara Zee terdengar menggelegar.
Diana memandang anaknya takut dan langsung lari keluar kamar,ia harus mencari keberadaan sang suami.
"Maafkan saya nona Michelle." Aska berusaha bangun dengan posisi kepala tertunduk.
"Aku tidak butuh maaf mu. Aku hanya mau kau kembalikan adikku!! Bajingan sialan,kau tau ibu mertuamu punya riwayat penyakit jantung. Kondisinya bisa drop jika berita ini sampai ke telinganya. Di mana otakmu Aska??"
Zee mengusap wajahnya frustasi.
"Aska kau ikut melibatkan aku dalam masalah ini,apa kau tahu?? Terakhir Sassya menemui mamanya bersama aku,mama Melissa pasti akan marah besar kalau tahu aku ikut menyembunyikan masalah putrinya dari laki-laki seberengsek kamu!!"
"Bajingan!!"
"Bugh!!" Satu pukulan kembali melayang ke wajah Aska.
"Sudah aku bilang Aska. Jika kau merasa tidak bisa bertanggung jawab maka tidak usah. Aku masih sangat sanggup membantu Sassya menghidupi anaknya,ada teman-temanku di mansion Dark Night yang bisa menjadi ayah sambung untuk anak itu. Mereka bahkan lebih baik dari mu. Kau hanya laki-laki pengecut.."
"Nona saya mohon. Maafkan saya,saya sadar saya salah." Aska beringsut memeluk kaki Zee.
"Saya salah nona dan karena itu saya mau bertanggung jawab. Saya kemari untuk mencari tahu keberadaan istri saya,s..saya tidak tahu di mana dia sekarang."
"Memang kesalahan apa lagi yang kau buat Aska?" Tanya Zee hampir putus asa.
Aska makin tertunduk. "Se..sepertinya Sassya mendengar pertengkaran saya,Rama dan Chintiya. Bahkan mungkin Sassya mendengar tentang rencana saya yang mau melenyapkan bayi kami.."
"Bugh.." Kali ini bukan lagi pukulan tapi tendanganlah yang Zee hadiahkan ke perut kosong Aska.
"Otakmu Aska!! Di taruh di mana otakmu saat itu? Dia,bayi itu!! Dia anakmu,darah daging mu Aska. Setidak-tidaknya kamu menginginkan anak itu,tidak bisakah kamu memanusiakan dia dan Sassya? Dimana rasa kemanusiaan kamu?? Bahkan binatang pun tahu caranya menyayangi anak Aska,kamu manusia tapi sikap kamu,derajat kamu. Jauh!! Jauh lebih rendah di bandingkan binatang. Pikiran kamu,dendam kamu,rencana kamu. Itu semua gila Aska,gak logis!!"
Aska terisak mendengar setiap kata yang keluar dari mulut Zee. Sesakit itu dan ia baru menyadari semuanya di titik ini. Ucapan Zee berhasil memberinya pukulan keras,lebih keras dari ratusan pukulan yang ia dapatkan sejak kemarin.
Begitu tajam dan melukai perasaan Aska.
Tapi semua ucapan Zee benar adanya,Aska adalah pria gila yang tega menyusun rencana jahat hanya demi keegoisannya.
Jika di pikirkan lagi,dendam Aska tidak bertuan. Tidak ada hal yang terlalu serius yang sampai harus membuat Aska menjebak Sassya sedalam ini. Semua murni keegoisan Aska dan ia harus terima konsekuensi atas keegoisannya.
"Aku tidak mau tahu. Sekarang,kau keluar dari rumahku. Cari Sassya,kemanapun itu. Aku mau kau menemukannya dalam keadaan baik sebaik saat pertama kali kau mengambilnya dari ibunya."
"Grep.." Zee menarik kasar kakinya dari cengkeraman Aska dan berjalan ke luar kamar. Meninggalkan Aska yang kini masih terunduk dengan sejuta penyesalan di hatinya.
__ADS_1
♡♡♡
"Bughh..."
Zee menabrak papa dan mamanya begitu badannya keluar kamar.
Namun,karena masih di selimuti emosi. Zee tidak mengucapkan sepatah katapun dan langsung menerobos pergi. Dengan cepat William menahan tangan anaknya.
"Zee,jelaskan. Ada apa sebenarnya? Apa yang kamu lakukan pada putra tunggal Ghatama? Zee? Anak papa? Kamu gak bunuh anak orang kan?" Tanya William dengan khawatir saat melihat wajah datar Zee.
Zee mendengus." Zee capek pa. Mau mandi dan harus ngantor. Kalau papa penasaran, papa cek langsung kondisi bajingan itu di kamar. Zee pamit." Ujar Zee dingin sambil melanjutkan langkahnya meninggalkan Diana dan William yang masih di penuhi tanda tanya.
Begitu sampai di kamarnya,Zee langsung mencari keberadaan handphonennya dan mengirimkan pesan pada beberapa orang.
"Cari Sassya ke seluruh penjuru kota,sekarang juga!!"
Setelah selesai mengirimkan pesan,tangan Zee kini beralih memijat pelipisnya yang terasa pening. Masalah kehidupan rumah tangga Sassya yang selalu melibatkan dirinya ternyata cukup menguras tenaga dan otak Zee.
Dan hanya dengan mengingat segala keegoisan Aska dan kebodohan Sassya,sudah cukup membuat tensi Zee naik.
"Sassya,Sassya,di mana kah engkau wahai adikku yang bodoh.."
♡♡♡
Deru sepeda motor terdengar dari luar mansion,membuat Aska yang tadinya masih bersimpuh di lantai perlahan bangun.
Dengan langkah tertatih,ia berjalan pelan keluar kamar dan langsung berjalan menuju halaman mansion. Di depan garasi,Zee tampak sedang mengeluarkan motornya. Dari penampilannya,dapat dilihat jika gadis itu tidak akan pergi ke kantor.
"Mungkinkah nona Michelle tau di mana keberadaan istriku?" Batin Aska.
"Aku harus mengikutinya.."
♡♡♡
Jangan lupa Like Vote Komen....
Next part kita akan masuk penyelesaian konflik.
Sesuai kata aku kemarin,akan ada 120 part....
Jadi dari bab 96-100 kita masuk penyelesaian konflik.
Dan bab 101-120 kita menuju ending....
Kemudian 121-140 sepertinya ada bonchap. Kalau ya...,tapi gak janji juga soalnya aku lagi persiapan novel baru dan sekarang lagi sibuk bikin plot.
__ADS_1
Fyuhhh😤😤#lumayancapek😁