
Bi Sumi menangis tersedu-sedu sembari memunguti bekas pecahan mangkok yang sudah tak berbentuk di lantai tersebut. Ia tidak menyangka di dunia ini ada orang sekejam Chintiya. Wanita yang sama sekali tidak punya hati dan sangat egois.
"Bibi harus kasih non Sassya makan apa? Di dapur sama sekali tidak ada makanan. Bahkan bahan makanan di kulkas pun sudah tidak ada. Sepertinya sudah di buang nona Chintiya. Apa bibi beli makanan keluar dulu ya?" Batin Bi Sumi.
"Tapi kalau beli makanan keluar bakalan lama. Tempat ini kan jauh dari pasar." Batin bi Sumi lagi.
Di saat sedang gundah-gundahnya. Tiba-tiba mbok Minah. Pembantu senior. Datang sembari membawa sebuang rantang yang entah apa isinya. Buru-buru bi Sumi menghampiri mbok Minah.
"Mbok!! Bawa apa mbok?" Tanya Bi Sumi dengan sedikit terburu-buru.
Mbok Minah menoleh."Ini,sisa makanan satpam di luar. Tadi makanannya saya anter keluar. Terus gak abis. Ya udah saya bawa masuk lagi,mau di panasin. Sayang kalau di buang. Kenapa memangnya?"
"Masih banyak ya lauknya?"
"Adalah sedikit. Gak banyak-banyak amat. Namanya juga sisa."
"Boleh saya liat?"
"Loh buat apa Sumi? Tumben sekali? Pelayan sudah makan semua kan,tadi pagi?"
"Buat non Sassya. Masih ada nasinya kan di sini?" Tanya bi Sumi sambil merampas rantang tersebut dan membawanya keluar lewat pintu belakang.
"MASIH!! TAPI ITU SISA SUMI!!" Teriak Mbok Minah agak tak setuju."Aduh bagaimana sih ini. Masa majikan di kasih makanan sisa." Mbok Minah jadi merasa tak enak sendiri.
Namun mbok Minah juga tak bisa mencegah karena tubuh Bi Sumi sudah menghilang di balik pintu.
♡♡♡
Sementara itu. Bi Sumi saat ini sudah berada di depan gudang kembali. Ia langsung berteriak memanggil nona mudanya. Berharap gadis itu masih sadar.
"Non!! Non Sassya masih sadar??" Teriak bi Sumi cukup keras.
Tak lama setelahnya tangan Sassya tampak kembali terjulur keluar.
"B..bibi b..ba..bawa makanan?" Tanya Sassya dengan suara terputus-putus.
Mendengar suara Sassya. Hati bi Sumi makin tercubit. "Bibi bawa makanan non. Tapi ini sisa security di luar? Non gak papa kalau makan-makanan sisa?" Tanya Bi Sumi tak enak hati.
Di dalam sana kedua mata Sassya yang tadinya nyaris terpejam. Kini terbuka dengan binar bahagia,andai seseorang bisa melihat binarnya.
__ADS_1
"Mau..bi. Sassya gak papa makan-makanan sisa." Sassya langsung mengeluarkan paksa kedua tangannya dari lubang sempit tersebut. Melambai-lambai seolah tak sabar menunggu bi Sumi memberinya makanan tersbut.
"Tapi non. Anu,rantangnya gak muat masuk ke dalam. Gimana dong non?"
Binar di mata Sassya kembali meredup."Yah..gimana ya?"
"B...bi..Bisa sodorin rantangnya ke depan lubang? Sassya makan sedikit-sedikit dari dalam sini. Sassya bener-bener laper bi." Ujar Sassya nyaris menangis.
Tak sampai hati menolak. Bi Sumi langsung mendekatkan rantang berisi makanan tersebut ke dekat tangan Sassya.
Tampak Sassya berusaha mengambil sejumput nasi dan membawa tanganny kembali masuk ke dalam. Tak lama setelahnya tangannya keluar lagi. Begitu seterusnya hingga cukup banyak nasi yang berhasil Sassya ambil.
"APA YANG BIBI LAKUKAN DISANA!!."
Rantang yang di pegang bi Sumi sontak jatuh takkal mendengar suara bariton yang tiba-tiba muncul tak jauh dari belakangnya. Perlahan bi Sumi menoleh.
"T..tuan!!" Pekik bi Sumi kaget. Saat melihat Aska berada di sana dengan raut wajah memerah. Ada Chintiya di belakangnya.
Aska tak mempedulikan teriakan bi Sumi. Ia terus berjalan mendekat hingga akhirnya merampas rantang tersebut dan membuangnya ke tanah.
"Sayang! Mana kunci gudangnya? Sini,aku mau kasih pelajaran sama gadis bodoh itu. Berani-beraninya dia menghasut pelayan lain di saat aku tidak ada."
"Tuan!! Jangan!!" Bi Sumi berusaha melarang.
"Tuan jangan keterlaluan begini. Nona Sassya itu istri tuan!! Di mana hati tuan!!" Teriak bi Sumi tak habis pikir.
Tapi bukan Aska namanya kalau dia menggubris orang lain. Dengan cepat ia membuka pintu gudang tersebut dan mendorongnya secara paksa hingga Sassya yang berada di belakang pintu ikut terdorong.
"Dasar gadis bodoh!! Sudah ku bilang. Masa hukuman mu masih berlanjut sampai besok,siapa yang memberi izin mu untuk makan hah!!?" Teriak Aska marah.
"Sassya yang sudah sangat lemas tak berniat menjawab. Ia justru memunguti sisa makanannya yang tadi jatuh ke lantai akibat di dorong Aska dan mulai memakannya lagi.
"Bodoh!! Kenapa kau malah memakan sampah itu!!" Teriak Aska sedikit frustasi. Hatinya mendadak nyilu melihat gadis yang berstatus istrinya itu makan-makanan sekotor itu.
"S..saya lapar tuan. S..saya belum di beri makan sejak kemarin. Tuan tidak tahu bagaimana rasanya tinggal di dalam sini. Saya kedinginan,saya kelaparan,bahkan bernafas pun rasanya sulit. Kenapa hanya makanan sisa pun tidak boleh saya makan? Bahkan hewan yang hina saya masih di beri makan oleh tuannya. Apa saya serendah itu di mata tuan? Sampai makanan di lantai pun tidak boleh saya makan?" Lirih Sassha terisak-isak.
"Tuan jahat!!" Lanjut Sassya sambil memukul-mukul kaki Aska dengan gerakan lemah.
Melihat Sassya yang menangis tersedu-sedu. Hati Aska semakin merasa bersalah.
__ADS_1
"A...aku..." Aska berucap ragu-ragu. Rasanya ia sudah tak tega lagi. Jika harus melanjutkan hukuman untuk sang istri.
"S..saya hanya mau memunguti makanan yang tumpah di luar sana tuan. Saya janji tidak akan meminta makanan di dapur. Saya tidak masalah harus makan makanan kotor,asalkan perut saya terisi." Lirih Sassya lagi.
"Tapi..." Aska tak melajutkan ucapannya saat melihat Sassya bersujud tepat di bawah kakinya.
"Maafkan saya tuan!! Saya berjanji akan menjadi pelayan yang penurut setelah ini. Saya tidak akan melawan apapun yang tuan perintah. Tapi sebelumnya izinkan saya untuk mengisi perut saya barang sedikit saja." Pinta Sassya sungguh-sungguh.
Aska menghembuskan napasnya kuat-kuat. Menekan rasa sakit yang ada di dadanya.
"Terserah kau saja." Suruh Aska hampir tak terdengar.
Chintiya tersenyum puas saat melihat Sassya merangkak menuju tempat jatuhnya rantang tadi. Dengan susah payaj ia berusaha mengambil potongan ayam dari atas rumput. Jika dilihat-lihat,Sassya memang sudah mirip anjing. Tapi mau bagaimana lagi? Ia benar-benar lapar saat ini.
Satu potongan ayam hampir masuk ke mulut Sassya,namun bi Sumi cepat menepisnya.
"Non!! Jangan seperti ini!! Non ikut bibi,kita cari makanan ke luar ya. Bibi mohon."Bi Sumi ikut berjongkok di dekat Sassya.
"Pembantu sialan."Batin Chintiya. Ingin rasanya ia memarahi bi Sumi. Tapi ia mau menjaga image di depan Aska.
"Tidak apa-apa bi. Ayamnya masih bagus. Rumput di sini juga bersih kok." Ujar Sassya ringan.
Ia kembali merangkak,berusaha memunguti potongan ayam yang tadi terlempar tak jauh dari tempatnya.
Ketika potongan ayam tersebut berhasil Sassya raih,tiba-tiba terdengar teriakan dari arah pintu belakang.
"Buang makanan itu Sassya!!"
♡♡♡
Jeng-jenggg. Maaf ya guys. Aku baru up. Tiga yang lalu tuh aku sibuk mau pulang kampung. Di tambah lagi pas di perjalanan aku mabuk parah,mabuk kendaraan maksudnya. Jadi tuh baru hari ini sempat ngetik. Maaf ya.....
Jangan lupa like vote komen.
Sambil nunggu update-an aku
Mampir dulu yukk ke novel temen ku. Bisa cari judulnya kayak yg di bawah ini ya...
__ADS_1