
Sekitar jam tujuh malam,Zee akhirnya tiba di mansion. Begitu masuk ke dalam,Zee berniat langung ke kamarnya dan beristirahat.
Namun belum sempat masuk ke lift,suara berat William tiba-tiba saja menyapa indra pendengaran Zee.
"Azellea. Papa tunggu kamu di ruang kerja lima belas menit lagi." Ujar William tanpa intro membuat Zee tak sempat bertanya apapun. Bahkan saat Zee berbalik,sosok papanya sudah lebih dahulu menjauh.
"Kenapa perasaan gue gak enak ya?" Batin Zee.
Ia sebenarnya mau bertanya,tapi melihat papanya yang sudah berjalan menjauh membuat Zee mengurungkan niatnya. Ia pun segera masuk ke dalam lift dan naik ke lantai atas menuju kamarnya.
Lima belas kemudian,Zee kembali turun dan langsung berjalan menuju ruang kerja sang papa. Di dalam sana Zee langsung di sambut aura dingin dari William. Pria paruh baya itu menatap Zee tajam seakan hendak mengulitinya. Di sampingnya juga ada Diana,sang mama yang tampak menunduk dengan raut wajah takut.
"Why?" Tanya Zee pada sang papa.
"Apa maksud ini semua??" William menghempaskan sebuah map tepat di depan Zee.
Zee menunduk untuk mengambil map merah yang berada di depan meja papanya itu. Perlahan ia membuka dan mengeluarkan isi dari dalam sana,ada beberapa lembar kertas yang berisi foto-foto di mana Zee menemui Sassya dan Melissa. Juga salinan sertifikat rumah pun ada di sana.
Zee menaruh kembali barang-barang tersebut ke dalam map dan menatap papanya datar.
"Memangnya kenapa? Zee hanya melakukan hal yang wajar kepada sesama manusia. Apa Zee salah?"
"Salah!! Kamu boleh melakukan hal itu pada siapapun,kamu boleh memanusiakan siapapun. Papa tau kamu memang tipekal gadis yang tidak tegaan,tapi mereka bukan manusia yang pantas kamu manusiakan Azellea. Katakan pada papa berapa uang yang sudah kamu keluarkan untuk membantu mereka?? Suruh mereka ganti secepatnya."
"Pa! Itu uang Zee,Zee pakai tabungan Zee buat beli rumah dan tanahnya. Gak ada hubungannya sama uang papa ataupun perusahaan,kenapa ikut campur?"
"Zee!! Kamu sadar tidak siapa orang yang kamu bantu itu? Mereka parasit Zee!! Papa hanya tidak mau kamu berada dalam bahaya lagi karena mereka."
__ADS_1
Zee mendadak terkekeh kecil mendengar ucapan papanya yang terdengar naif.
"Berada dalam bahaya papa bilang? Papa lupa siapa yang dulu membawa parasit itu ke rumah kita? Papa sendiri yang membawa mereka masuk dan Zee yang menyelamatkan kita dari mereka. Lalu sekarang mereka sudah tidak punya apapun untuk kembali menjadi parasit,bahkan saat ini untuk bernafas pun mereka sulit jadi apa salah jika Zee iba?"
"Mungkin ada ratusan bahkan ribuan kejahatan yang mereka buat,tapi papa jangan lupa jika ada satu kebaikan di mana Mama Melissa yang selama 13 tahun menemani masa-masa sulit papa dan juga merawat bang Vian selayaknya ibu dan istri sesungguhnya. Mungkin kedengaran naif pa,tapi setidaknya itu bisa papa jadikan alasan untuk memaafkan mereka."
"Bahkan Zee yang sedari awal tidak pernah mendapatkan perhatian dari mama Melissa pun mau memaafkan mereka. Jadi kenapa papa gak bisa ngelakuin hal yang sama seperti yang papa lakukan? Atau papa masih cinta sama mama Melissa tapi ketutup sama rasa marah papa? Iya?"
"Zee!!"
Zee tersenyum mendengar bentakan papanya.
"Zee hanya bertanya pa. Menyimpan dendam gak akan ngembaliin apapun,Zee punya mama Diana sekarang,keluarga kita sudah utuh saja Zee sudah senang. Zee bukannya tidak marah, Zee masih sangat ingat semua perbuatan mereka,tapi apa gunanya Zee marah? Gak bakalan bikin keadaan balik lagi."
"Sekarang terserah pada papa,papa mau maafin mereka silahkan. Enggak ya udah,urusan mereka bakalan kayak gimana semuanya dalam pengawasan Zee,Zee gak seceroboh papa,Zee bisa jamin kalau gak akam ada penghianatan dari mereka kedepannya dan kalaupun ada biarkan itu jadi tanggung jawab Zee."
Ucap Zee sebelum akhirnya beranjak meninggalkan ruang kerja sang papa. Di dalam ruangan William hanya bisa terdiam mencerna seluruh ucapan yang baru saja di lontarkan oleh Zee.
Jika di pikirkan ulang,ucapan Zee memanh ada benarnya. Bahkan dengan cara membunuh Melissa dan Sassya pun tak akan mengembalikan mendiang ibu dan istri pertama nya dulu. Semuanya memang sudah terlambat dan jalan untuk menyembuhkan luka batin adalah dengan saling memaafkan.
Setelah memikirkan itu semua,William akhirnya menarik napas sedalam mungkin kemudian menatap wajah istrinya yang masih menunduk takut. Perlahan ia mendekat ke arah Diana dan memeluk tubuh kecil wanita itu.
"Maaf." Ucap William tulus.
Di depan pintu ruangan Zee tersenyum kecil. Ia belum benar-benar pergi dari sana,sengaja menunggu bagaiaman reaksi papanya setelah mendapat ocehan panjang lebar dari papanya dan Zee cukup lega setelah mendengar kata maaf teeucap dari mulut papanya.
Ini adalah hubungan keluarga yang selalu Zee impikan sedari dulu. Sebesar apapun masalah,hindari pertengkaran,cari inti permasalahnnya,jika ada yang harus di bicarakan,bicarakan lah baik-baik. Jika memang perlu meminta maaf,maka lakukan.
__ADS_1
♡♡♡
Sementara itu di rumah doraemon milik Sassya dan Melissa. Tampak Sassya sedang merapikan beberapa pakaian yang tadi di kirimkan oleh Zee ke rumah mereka lewat jasa kurir.
Cukup banyak barang-barang Zee kirimkan tadi dan itu membuat Sassya agak kualahan merapikannya ke dalam lemari. Sebenarnya ia ingin meminta bantuan bi Asih tapi sayang beliau harus membantu Melissa jadi tak ada pilihan lain,Sassya lah yang harus merapikan semuanya sendiri.
Hampir satu jam Sassya merapikan barang-barang pemberian Zee ke dalam lemari hingga akhirnya selesai juga. Baru berniat ingin mandi,teleponnya tiba-tiba berbunyi menampakkan pesan dari Aska yang mengatakan akam menjemputnya setelah ia pulang dari luar kota nanti.
Sassya hanya bisa menarik napas berat.
"Kehidupan sulit akan di mulai kembali. Semangat Sassya." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri.
Tidak ada bayangan apapun tentang bagaimana kehidupannya setelah bersama Aska nanti. Satu harapan Sassya,semoya saja waktu satu tahun berjalan dengan cepat.
Sesuai janjinya pada sang mama,jika setelah lepas dari Aska ia akan membawa mamanya pergi jauh dan memulai kehidupan dimana hanya ada dia dan sang mama.
Tanpa bayangan masa lalu,tanpa bayangan rasa bersalah dan tanpa bayangan orang-orang yang membenci mereka.
Rasanya Sassya sudah tak sabar menuju saat di mana itu semua terwujud. Semoga saja.
♡♡♡
Reader : Si Zee di novel ini banyak bacot ya thor? Mana bijak lagi bacotannya. Kuliah psikolog mana dia thor?
Otor : Les dia sama gue kemarin? Klean ga ada yang mau daftar kah? Bayarnya pake like vote komen aja. Nanti gue ajarin ilmu trekegsksmsmsmsmsbxbxns. Paham gak?
Reader : mending turu😴😴😴
__ADS_1
Otor : 😐🙄