Tautan Takdir

Tautan Takdir
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Setelah melewati perjalanan selama setengah jam,Aska dan Sassya akhirnya tiba di rumah Sassya. Setelah Sassya turun dari mobil,Aska juga tampak membuntutinya dari belakang.


Sesampainya di depan pintu rumah,Sassya berbalik menatap Aska dengan ekspresi sendunya.


"Tuan,terimakasih sudah mengantarkan saya sampai ke rumah. Saya harap setelah ini,tuan berhenti menemui saya. Lagipula,dua minggu lagi acara pernikahan tuan dan Shiva kan? Jadi ada baiknya tuan mempersiapkan diri."


Ucapan Sassya membuat darah Aska mendidih. Tanpa banyak berkata,Aska langsung mendorong pelan tubuh Sassya dan mengunci pergeragakan Sassya di antara tubuhnya dan pintu rumah yang masih tertutup.


"Apa maksud ucapan kamu barusan?" Tanya Aska dingin.


Sassya tidak berani mengangkat kepalanya walau hanya sejenak. Dan hal itu membuat Aska tambah berang.


"Sassya lihat aku."


"Aku tidak mau tuan. Lagipula aku mengatakan hal yang sebenarnya,dua minggu lagi tuan akan di nikahkan dengan Shiva. Keputusannya sudah bulat,apalagi yang mau tuan pertahankan?"


"Bukk.."


Aska meninju pintu di belakang Aska dengan kuat membuat Sassya semakin gemetaran. Apalagi saat ini tangan Aska bergerak mencengkram dagunya dengan cukup kasar.


"Lihat aku!" Bentak Aska.


"Kau tau apa kesalahanmu Sassya?" Tanya Aska dengan nada dingin.


Sassya memberanikan diri untuk menggeleng.


"Tidak. Aku tidak tau dan aku tidak merasa membuat masalah apapun pada tuan." Balas Sassya berani.


Kedua tangan Aska kini beralih mencengkram kedua pundak Sassya dengan kuat membuat Sassya sedikit meringis.


"Tuan,sakit." Lirih Sassya membuat Aska tersadar dan melonggarkan sedikit cengkeramannya.


"Sassya,sudah aku katakan puluhan kali. Jangan membahas kata cerai,tidak ada yang akan bercerai. Aku tetap akan mempertahankan hubungan kita,dengan atau tanpa persetujuan orangtua ku. Apa sesulit itu kalimat ku untuk kau mengerti? Beri aku ruang Sassya,bagaimana caranya aku mempertahankan rumah tangga kita kalau belum apa-apa kamu sudah menyerah duluan."

__ADS_1


Aska berujar dengan perasaan campur aduk,antara marah,kecewa,dan frustasi. Semuanya terasa bersatu menggerogoti pikirannya.


"Tapi semuanya memang sulit di pertahankan tuan. Tuan pun tau kalau orangtua tuan orang yang punya kekuasaan,apapun bisa mereka lakukan untuk mengabulkan keinginan mereka,sama seperti saat di mana tuan mengancam saya dulu maka kemungkinan yang aka terjadi nanti juga seperti itu." Ucap Sassya lantang dengan suara tegas di depan wajah Aska.


Ia muak menjelaskan hal ini berkali-kali. Tapi sepertinya Aska memang harus di beritahu jika hubungan mereka akan sangat sulit untuk di bangun lagi. Apalagi ada tembok penghalang yang parahnya adalah orangtua Aska sendiri.


"Sassya,aku butuh kejujuranmu." Aska masih belum menyerah,ia menatap mata Sassya lekat-lekat.


"Katakan kepadaku dengan sejujur-jujurnya. Apa kamu mencintai aku? Apa ada aku di sini?" Tanya Aska dengan ekspresi serius dan satu tangan ia letakkan di depan dada Sassya.


Sassya terdiam. Bingung bagaimana harus merespon perkataan Aska.


"T..tuan.."


"Jawab Sassya!!" Aska kembali mengeluarkan suara kerasnya membuat Sassya ingin mundur tapi tidak bisa karena tubuhnya masih di himpit Aska dan juga pintu.


"Tuan,aku..,aku..,aku memang mencintai mu. Jauh sebelum tuan mencintai aku,aku sudah lebih dulu mencintai tuan. Tapi.."


Aska membungkam bibir Sassya dengan sebuah ciuman lembut. Ciuman yang cukup lama hingga Sassya memukul-mukul dada Aska setelah merasakan pasokan oksigennya berkurang.


"Cukup. Tidak usah di lanjutkan,setidaknya kalimat jika kamu mencintai aku sudah cukup untuk di jadikan alasan berjuang. Aku akan memperjuangkan mu."


Setelah mengatakan hal itu,Aska memeluk Sassya dengan erat. Tindakan Aska membuat Sassya lagi-lagi mematung tanpa bisa merespon apapun.


Menyadari tak ada respon apapun dari sang istri,Aska melepaskan pelukannya kemudian menatap Sassya dengan dingin membuat yang di tatap menunduk takut.


Dengan menghela napas kesal,Aska kembali mengangkat dagu Sassya dengan pelan. Kemudian berkata.


"Maaf. Maaf kalau kelakuan ku selama ini membuatmu takut dan tertekan. Aku tau aku bukan pria sempurna,bahkan jauh dari kata sempurna,aku sadar betapa egois dan arogannya aku dulu. Karena itu hari ini,aku Sky Aska Ghatama. Ingin meminta maaf secara sungguh-sungguh. Kepada kamu,kepada anak kita,dan kepada ibu juga walaupun dia tidak berada di sini. Aku tau kalian semua kecewa dan aku sadar karena aku juga kamu harus masuk ke dalam jebakan konyol yang aku buat. Aku benar-benar minta maaf."


Sassya terbelalak,melihat Aska yang saat ini tengah berlutut di hadapannya. Dengan segera Sassya menarik pundak Aska agar kembali berdiri.


"Tuan,cukup. Tidak perlu melakukan hal seperti ini,aku sudah memaafkan tuan jauh sebelum tuan minta maaf. Lagipula,kejadian dulu bukan sepenuhnya kesalahan tuan. Jika saja hari itu aku tidak menabrak tuan dan menumpahkan jus di berkas tuan,kemungkinan pernikahan kita tidak pernah terjadi dan kita tidak akan pernah sampai di tahap ini. Sampai di sini,aku sadar. Pertemuan aku dan tuan Aska memang suatu  takdir dan karena itu aku mau menemani tuan untuk berjuang satu kali lagi."

__ADS_1


Sassya mengatakan kalimat panjang tersebut dengan lugas dan di akhiri dengah sebuah senyuman merekah yang terbit dari bibir keduanya.


Aska menatap Sassya dalam begitupun sebaliknya. Hingga entah siapa yang memulai,yang pasti saat ini bibir kedua orang itu sudah kembali menyatu oleh sebuah ciumaba yang saling menuntut dan juga membalas.


Ciumana tersebut baru berakhir setelah terdengar deheman dari arah belakang. Sassya melepaskan tautan mereka dengan ekspresi gugup,sementara Aska ikut menoleh ke belakang.


Tampak di sana,ada Zee,Delice dan juga Melissa yang tengah menatap dua insan tidak tau tempat itu dengan ekspresi datar.


"M..,mama ngapain di sini?" Satu pertanyaan konyol keluar dari bibir Sasssya.


Melissa berdecak kesal.


"Ngapain? Kamu tanya mama ngapain di sini? Harusnya mama yang tanya begitu Sassya,ngapain kamu di luar rumah? Bawa tas selepang,terus? Barusan? Apa yang barusan kamu lakukan?" Melissa bertanya dengan raut tak habis pikir.


Dengan cepat ia berjalan mendekati Sassya dan hendak menarik Sassya. Namun gerakan Melissa di tahan oleh tubuh Aska yang sengaja menyembunyikan Sassya di belakang tubuh tingginya.


"Ibu tolong,apapun yang terjadi jangan pernah memarahi Sassya. Istri saya tidak bersalah,Aska yang salah. Jadi kalau ibu mau marah,marahin Aska. Jangan Sassya."


Ujar Aska dengan ekspresi sangat serius.


Delice sampai bertepuk tangan saking kagumnnya melihat drama telenovela yang live persis di depan mata kepalanya.


"Wow...,sungguh kisah cinta yang mengharukan. Tapi sayangnya tuan Aska dan nona Sassya,apapun yang kalian lakukan saat ini tidak akan berguna karena undangan pernikahan tuan Aska dan Shiva serta undangan pernikahan Sassya dan Raynand sudah di sebarkan oleh nyonya Ghatama satu jam yang lalu."


Ujar Delice dengan santai tanpa mempedulikan raut wajah Aska dan Sassya yang tampak sudah pucat.


♡♡♡


Drama oh drama...


Ending kapan thor?


Sabar eeee....,ingat 120 part...

__ADS_1


Tenang aja...


Beres pastinya...


__ADS_2