Tautan Takdir

Tautan Takdir
Dokter Bilang


__ADS_3

Mata Sassya mendadak berkunang-kunang saat melihat sebuah mobil box berisi ratusan kardus susu hamil yang kini sedang di pindahkan ke dalam mansion Dark Night.


"Bara? Ini seriusan kiriman dari Zee buat gue?"


Tanya Sassya pada Bara,pria yang tadi memberitahunya tentang kegilaan Zee pagi ini. Zee hampir membuat satu mansion migren karena ulahnya,bayangkan saja. Hari masih pagi dan gadis itu sudah berulah dengan cara mengirimkan ratusan kardus susu hamil untuk Sassya ke Mansion Dark Night. Gila.


"Udahlah Sya,Queen emang gitu. Lo mending masuk,mandi,terus sarapan. Koki dan ahli gizi yang Queen kirim semalam udah nunggu lo di ruang makan. Nanti barang-barang ini,biar gue sama anak-anak yang urus."


Ujar Bara sambil menepuk pundak Sassya.


Tak ada pilihan lain,Sassya hanya menghela napas pasrah dan memilih masuk ke dalam. Ia sudah tak bisa membayangkan lagi,bagaimana kegilaan-kegilaan yang akan Zee buat selama sembilan bulan ke depan.


Sementara Bara? Pria itu langsung memanggil anak-anak Dark Night lainnya untuk membantunya mengangkut kardus-kardus susu itu ke dalam mansion.


"Drrtt..."


Bara menghela napas kesal saat ponselnya berbunyi. Kardus yang tadi sudah ia raih kembali ia letakkan untuk mengangkat sebuah panggilan dari seseorang yang ia kenal walau belum melihat nama pemanggilnya. Makhlum ia sengaja memberi ringtone khusus untuk nomor satu ini.


Bara : "Halo Queen."


Zee : "Gimana? Udah datang kiriman gue?"


Bara : Udah. Lagi di angkut ke dalem sama anak-anak. Lo seriusan ngirim susu bumil sebanyak ini Zee? Emang lo yakin bakalan di minum semua?"


Zee : Dokter bilang,ibu hamil harus di jaga nutrisinya.


Bara : (Menepuk jidatnya dengan raut wajah frustasi.) "Gua tau Queen. Tapi satu kotak susu aja belum tentu habis seminggu,lah ini ratusan kardus. Mubazir Queen."


Zee : "Terus gimana?"


Bara : "Ntar deh,gue omongin dulu sama Sassya,nanti biar dia ambil bagian dia. Terus sisanya,gimana kalau di bagiin ke ibu-ibu hamil di luar sana. Di buat bazar atau gimana gitu?"


Zee : "Atur deh Bar,yang penting susunya gak kebuang sia-sia."


Bara : Yoi. Gue lanjut kalau gitu.


Zee : Hm.


♡♡♡


"Bagaimana Alex? Kau sudah tau di mana keberadaan istriku?"


Tanya Aska pada sang asisten yang pagi ini ia sambangi ruangannya.


Alex menggeleng."Belum tuan. Saya sudah mengerahkan orang-orang saya untuk mencari keberadaan nona Sassya. Namun mereka belum memberi kabar apapun."


"Ckk..apa anak buahmu sekarang berubah bodoh? Masa hanya mencari satu orang saja mereka tidak bisa? Kau yakin mereka bekerja?"


"Tuan tenanglah. Selama ini pun tuan tau kalau orang-orang suruhan saya selalu berhasil melakukan tugas yang tuan perintahkan. Mereka hanya butuh waktu,ini baru semalam tuan."

__ADS_1


Mendengar kata "baru" yang Alex ucapkan,hati Aska tambah panas. "Baru katamu?"


"Kau tau Alex,aku bahkan tidak bisa tidur sepanjang malam tadi karena memikirkan di mana keberadaan Sassya. Kau pikir aku bisa tenang saat tau istriku kabur? Coba kalau kau ada di posisi ku,bagaimana reaksimu?"


Mendengar ucapan Aska,Alex tersenyum sinis. "Tuan Aska,kenapa anda sepanik ini? Bukankan tuan tidak mencintai nona Sassya? Pernikahan kalian HANYA di atas kertas. Tuan lupa dengan perjanjian kontrak yang tuan buat? Bukankah setelah satu tahun nanti tuan akan menceraikan nona Sassya? Lalu kenapa tuan berkata seolah-olah tuan tidak mau kehilangan nona Sassya? Tuan mencintai nona Sassya?"


Aska terkesiap."Apa maksudmu?" Tanyanya gugup.


Alex tak menjawab dan makin tersenyum sinis. Hal itu membuat Aska geram.


"Alex dengar. Aku tidak mungkin mencintai gadis bodoh itu. Aku tampak khawatir bukan karena mencemaskannya,aku hanya..hanya...tidak mau orangtuaku tau masalahku dan mereka akan semakin mempersulit tujuan ku. Kau tau kan aku menikahi Sassya untuk memperoleh jabatan tertinggi di kantor ini."


Alex tersenyum meledek. "Benarkah? Tuan yakin jika tuan tidak ada rasa dengan nona Sassya...atau..."


"Omong kosong apa itu? Sudahlah Alex,jangan memperkeruh keadaan. Aku minta kau segera temukan wanita itu karena aku akan menghukumnya."


"Satu lagi! Aku tidak mungkin mencintai Sassya karena aku akan segera menikahi Chintiya setelah tujuan kami tercapai."


Setelah mengatakan hal itu,Aska keluar dari ruangan Alex dengan perasaan berkecamuk. Ada jutaan perdebatan yang kini bersarang di kepalanya dan ia semakin merasa dirinya kacau.


Sementara Alex yang melihat kepergian Aska hanya bisa membatin miris.


"Tuan Aska yang bodoh. Kita lihat sampai kapan kau bisa mempertahankan keegoisanmu." Batin Alex.


"Andai saja tuan mau sedikit menurunkan ego tuan,mungkin tuan bisa bertemu dengan nona hari ini. Karena sebenarnya,aku sudah tau di mana keberadaan nona."


"Aku beranji akan menjadi bayang-bayangmu Sassya Bellvara."


Ucap Alex sambil mengetik sebuah pesan lagi pada seorang pembantu Aska yang kini sudah menjadi patner in crime nya.


♡♡♡


Sementara di rumah Aska,bi Sumi tampak mengendap-endap masuk ke dalam kamar Aska menggunakan kunci cadangan.


Di tangannya ada beberapa alat tespeck yang kemarin di pakai oleh Sassya untuk melakukan tes kehamilan.


Ia juga menyelipkan sebuah kertas berisi surat palsu yang ia buat seolah-olah itu tulisan Sassya. Sebenarnya bi Sumi takut melakukan itu,tapi ia sudah mendapatkan jaminan dari seseorang. Intinya ia harus tetap melakukan hal itu.


"Demi nona muda." Batin bi Sumi sambil meletakkan benda-benda yang ia bawa tadi ke bawah tumpukkan pakaian yang ada di dalam lemari Aska.


Setelah selesai melakukan tugasnya,bi Sumi pun keluar dan langsung mengirimkan pesan pada seseorang.


"Beres tuan." Tulis bi Sumi di dalam pesannya.


"Semoga ini menjadi awal yang baik untuk nona Sassya." Batinnya.


♡♡♡


Ghatama Company.

__ADS_1


"Nanti malam?" Tanya Aska pada sang penelpon yang tak lain adalah kekasihnya Chintiya.


Alex yang tadi berniat mengantarkan dokumen untuk di tanda tangan kini memilih menguping di depan pintu yang baru sedikit ia buka.


"Baiklah,aku akan ke apartemen mu nanti sore. Atau kamu mau aku pulang sekarang untuk menemani mu belanja?"


"..."


"Baiklah kalau begitu,aku memang agak sibuk siang ini. Tapi aku berjanji akan datang tepat waktu nanti malam."


"..."


"Tentu saja sayang."


"..."


"Baiklah sampai ketemu nanti malam."


"..."


Aska menatap nanar ponsel yang kini berada di tangannya,rasa berkecamuk semakin melanda hatinya. Ada rasa aneh di dalam dirinya yang membuatnya enggan bertemu dengan sang kekasih. Namun ia tidak mungkin


mengabaikan Chintiya.


"Hah,sudahlah. Aku yakin ini hanya perasaan sesaat. Sebaiknya aku segera menghubungi Alex agar dia cepat mengantarkan dokumen yang harus di tanda tangan."


Aska baru akan menelpon,namun Alex yang sudah mendengar semuanya dengan sigap masuk.


"Saya di sini tuan.".


Alex melangkah masuk dengan beberapa dokumen di tangannya.


Aska mendongak."Sejak kapan kau di sini?"


"Baru saja. Saya memang mau mengantarkan dokumen untuk di tanda tangan."


"Kau menguping pembicaraanku dan Chintiya?"


"Tidak juga,aku baru datang saat tuan berkata ingin menghubungiku." Bohong Alex.


Mendengar jawaban Alex,raut wajah Aska berubah sedikit lega. Namun Alex bisa melihat ada gurat lain di wajah tuannya itu.


Tuan Aska,tuan Aska. Sepertinya pertahanan anda mulai goyah.


♡♡♡


Guys sambil nunggu aku up...mampir dulu ya ke novel temen otor ini...


__ADS_1


__ADS_2