
Sementara itu,di sebuah rumah minimalis. Seorang gadis cantik bermata biru tengah sibuk memberi perintah ke sana kemari kepada beberapa pelayan yang bertugas.
"Iya,sebelah sana. Nah situ. Agak kanan dikit,nah gitu kan sip!"
Zee memberi arahan pada para pekerja yang kini tengah menata perabotan di dalam rumah baru yang akan di berikan pada Sassya itu. Di sampingnya ada Sandra,Bella dan Jessie yang sedari hanya bisa melongo melihat bagaimana antusiasnya seorang Azellea dalam hal ini.
Mereka jadi heran,sebenarnya Zee ini mau menata rumah untuk Azellea apa untuk dirinya sendiri. Pasalnya semua fasilitas di dalam rumah itu,mulai dari walpaper dinding hingga sofa,semuanya bermotif doraemon. Perlu di ingatkan jika doraemon adalah kartun favorit Zee.
"Zee lo beli rumah ini buat siapa sih sebenarnya?" Tanya Sandra.
Zee menoleh dengan raut wajah bingung.
"Buat Sassya sama mamanya lah. Kan gue bilangnya juga gitu kemarin."
"Tapi Zee,sejak kapan Sassya sama mamanya suka doraemon??"
"Oh itu." Zee menyengir dengan wajah tak berdosanya. "Ini tuh sebagai alibi biar mereka ingat terus sama gue. Sekalian sebagai bentuk kreativitas terpendam gue." Jawab Zee dengan jumawa.
"Kreativitas terpendam darimananya??" Tanya Sandra lagi-lagi dengan nada agak jengkel. Matanya sakit melihat nuansa biru langit yang memenuhi setiap sudut ruangan rumah ini.
"Kreativitas yang gak bisa gue lakuin di mansion." Jawab Zee mantap.
"Lo bayangin aja kalau mansion gue renovasi jadi serba-serbi doraemon. Apa lo pikir bokap gue gak bakalan stroke liatnya,gue juga gak mau di ledekin sama bang Vian. Belum lagi kalau misalkan ada acara di rumah terus ada kolega bisnis papa gue,bayangin aja dulu deh San. Bisa di lelepin di wastafel kepala gue."
Sandra mengangguk-angguk paham. Makin ke sini ia memang merasa jika kadar kewarasan Zee semakin menurun,ia jadi bergidik membayangkan bagaimana nantinya rumah Zee dan Arkhan saat keduanya sudah menikah.
"Mirip toko doraemon permisah." Batin Sandra miris.
"Nona muda,maaf mengganggu. Tapi semua ruangan sudah selesai di dekorasi sesuai keinginan nona muda. Apa ada lagi yang harus kami kerjakan?" Salah satu pelaya menghampiri Zee.
Zee menoleh dan mengedarkan pandangannya menyapu seluruh sudut ruang tamu dengan ekor matanya. Kepalanya mengangguk-angguk tanda ia puas dengan apa yang baru saja di lihatnya.
"Kerja bagus. Makasih ya bi. Kalian semua boleh kembali ke mansion. Ingat jangan sampai papa tau,kalau Zee bawa kalian keluar dari mansion."
Semua pelayan yang berjumlah enam orang itu mengangguk paham. "Kalau begitu kami permisi nona muda."
"Hm" Zee mengangguk singkat. Namun setelahnya kepalanya terangkat saat ia teringat sesuatu.
"Bi Asih!!" Panggilnya pada salah satu pelayan yang berjalan di barisan paling belakang.
Sang empunya nama menoleh. "Ada apa nona muda?" Tanyanya.
"Bibi,Zee boleh minta tolong gak? Bibi bilang sama papa kalau bibi mau berhenti kerja. Pura-pura aja bilang bibi mau ngurus sawah atau apa gitu." Suruh Zee.
Bi Asih tampak menandang nona mudanya dengan raut wajah terkejut."Non Zee mau mecat bi Asih?? Kenapa non bibi salah apa??" Tanya Bi Asih panik.
__ADS_1
Zee menghela napas berat setelah sadar ia salah bicara."Bukan gitu bi maksudnya. Maksud Zee,bibi harus keluar dari mansion karena Zee mau kasih bibi kerjaan baru di rumah ini. Tugas bibi di sini jagain mama Melissa."
"Nyonya Melissa non??" Tanya bi Asih memastikan.
Ia memang sudah tau perihal rumah ini dan juga perihal Sassya dan Melissa. Lagipula Melissa dan Sassya juga mantan majikannya dulu.
"Iya bi,ya mau ya. Gak papa kok. Mama Melissa nya udah berubah jadi baik sekarang."
"T..tapi non,kalau tuan besar tau."
"Zee yang tanggung jawab. Gaji bibi Zee naikin tiga kali lipat gimana??"
"Dil non dil!!" Jawab Bi Asih tanpa pikir panjang.
"Gaji tiga kali lipat,siapa yang gak mau!!" Batin bi Asih.
Zee tersenyum lega."Makasih ya bi. Mohon bantuannya. Kalau gitu mulai besok pagi bibi harus sudah ada di sini. Hari ini boleh balik dulu karena Zee juga mau ke rumah sakit setelah ini."
Bi Asih mengangguk paham dan akhirnya berlalu ke luar.
Zee kini beralih pada Sandra,Jessie dan Bella.
"Kalian bertiga boleh balik ke kantor. Jessie,Bella kalian kalau di tanya sama papa bilang aja gue ada urusan berdua sama Delice."
"Baik nona muda." Jawab keduanya tanpa protes.
♡♡♡
Siang ini Zee memacu mobilnya dengan kecepatan sedang menuju rumah Delice. Ia sudah lama tak membawa mobil sendiri jadi ia akan menikmati waktunya sebaik mungkin.
Sesuai rencana semalam. Hari ini Zee akan mengajak Delice untuk bertemu Sassya,pasalnya kemarin gadis itu merengek ingin bertemu dengan Sassya setelah mendengar cerita tentang Sassya kemarin.
Setelah setengah jam berkendara,Zee akhirnya tiba juga di rumah milik keluarga calon suaminya itu. Di teras rumah tampak Delice tengah mengikat tali sepatunya. Zee yakin gadis itu pasti sudah bersiap sedari tadi karena jika tidak Zee pasti akan di buat jamuran menunggunya.
"Ayo Zee berangkat."
Delice masuk ke dalam mobil dan langsung duduk di samping kursi Zee.
Zee mengangguk."Kata Sassya mamanya di rawat di rumah sakit yang ada di jalan Flamboyan." Ujar Zee membuka obrolan.
Delice menoleh dengan raut wajah mengkerut." Kok gue ngerasa agak familiar ya sama nama jalannya."
"Kenapa emangnya?" Tanya Zee heran.
Delice tampak berpikir sebentar,"Kayaknya gue tau deh rumah sakit itu."
__ADS_1
"Serius lo?"
"Iya serius Zee. Kalau gue gak salah sih,coba deh kita ke sana dulu.l
"Emangnya ada apa sama tuh rumah sakit?? Berhantu??" Tanya Zee ngaco.
Delice menggeleng." Jalan aja dulu,nanti juga lo bakalan tau."
Zee mengembuskan napasnya dengan kasar.
Ia paling tidak suka di buat penasaran.
Hampir satu jam keduanya berkendara,mobil Zee akhirnya tiba juga di rumah sakit yang semalam di katakan Sassya padanya.
Matanya Zee mengernyit melihat sebuah rumah sakit mewah yang kini berdiri di depannya.
"Ini Sassya gak salah kasih alamat kan?? Sekaya apa majikan dia sampai bela-belain bawain mama Melissa ke rumag sakit segede gini?" guman Zee yang dapat di dengar oleh Delice.
Delice pun tampak heran sekaligus agal terkejut."Benar Zee dugaan gue."
"Apaan?"
"Liat tulisan di gerbang masuk." Tunjuk Delice ke arah gapura masuk.
Zee melihat arah telunjuk Delice dan membacanya secara lantang."Ivander's Hospital??" Ujar Zee menyebutkan tulisan yang di bacanya.
"Lah ini rumah sakit keluarga lo? Yang di kelola Zergan kan?"
"Iya Zee,wah kebetulan macam apa ini??"
"Ayo buruan masuk,kita gak usah ke resepsionis. Lo tanya Sassya aja mamanya di rawat di kamar no berapa,terus kita suruh bang Zergan antarin ke sana."
"NO!!" Tolak Zee tegas.
"Kayaknya Sassya nyembunyiin sesuatu dari gue. Gue bakalan masuk ke sana tanpa ngasih tau dia. Gue curiga ada something."
Delice mengernyit. "Apa itu??"
Zee mengangkat kedua bahunya."Gue belum tau."
♡♡♡
Otor : Aduhh guys. Otak gue konslet banget beberapa hari ini. Gak tau kenapa gak ada satupun ide yang muncul padahal gue udah berulang-ulang baca kerangka... Huhuhuuuu ada solusi kah?
Readers : Minum baygon thor!!
__ADS_1
Otor : Mati gue,elah!! Like vote komen ajalah biar gue gak tambah stress.😪🦍😭😭😭