Tautan Takdir

Tautan Takdir
Persiapan Penyambutan Baby


__ADS_3

Kehamilan Sassya saat ini sudah menginjak usia yang kesembilan bulan. Sassya tidak di perbolehkan keluar kemanapun tanpa Aska,seluruh kegiatannya selalu di awasi dua puluh empat jam oleh orang-orang di rumah termasuk Aska yang sudah sejak bulan lalu membawa pekerjaannya pulang ke rumah agar bisa menjaga Sassya.


Saat ini,Aska sedang duduk di ruang tamu bersama dengan ibu mertuanya. Tak lama setelahnya,Melissa terlihat datang dengan membawa segelas susu ibu hamil di tangannya.


"Sayang,minum susunya dulu. Tadi pagi kamu belum minum susu kan? Mama liat susu yang di buatin bibi masih utuh di gelas,makanya maka buatin yang baru. Di minum ya."


Melissa berkata sambil meletakkan segelas susu hangat ke hadapan Sassya.


"Iya ma,nanti Sassya minum kok." Ujar Sassya dengan suara pelan membuat Melissa menyadari ada sesuatu yang berbeda dari raut wajah Sassya.


"Kamu kenapa sayang?"


Tanya Melissa heran melihat putrinya yang seperti tengah menahan sakit. Nyonya Ghatama ikut memperhatikan keadaan sang menantu dengan tatapan heran.


"Kenapa Sya? Ada yang sakit?" Tanya nyonya Ghatama memastikan. Ia bisa melihat ada sedikit keringat yang timbul di sepanjang pelipis Sassya.


Sassya menggeleng. "Gak tau ma,mom. Dari tadi rasanya kayak mules gitu. Aku pengen pup deh kayaknya."


Sassya berkata sambil berdiri dari duduknya dengan raut gelisah.


"Belum jadwal kamu melahirkan kan?" Tanya nyonya Ghatama lagi.


Sassya menggeleng. "Harusnya empat hari lagi mom. Kayaknya Sassya cuma mulas biasa deh,Sassya ke toilet dulu ya."


Ujar Sassya sambil beranjak dari duduknya dan berjalan menuju toilet.


Kedua wanita paruh baya tadi memperhatikan punggunh Sassya yang mulai menjauh dengan tatapan khawatir.


"Sassya beneran mau pup atau gimana sih? Kok perasaan saya bilangnya dia mau lahiran ya?" Ujar Melissa dengan raut penuh tanda tanya.


"Iya Mel,saya juga ngerasa gitu. Apa kita panggilin Aska aja ya? Dia ada di ruang kerjanya sekarang."


Ujar nyonya Ghatama memberi saran.


Nyonya Melissa mengangguk. Keduanya baru akan pergi ke ruangan Aska,namun mengurungkan niatnya ketika melihat Sassya sudah keluar dari toilet dengan raut wajah biasa-biasa saja. Seolah memang tidak terjadi apapun,padahal tadi baik Melissa maupun nyonya Ghatama yakin jika Sassya seperti sedang menahan sakit.


"Nak,kamu beneran gak papa? Perutnya masih sakit?"


Tanya nyonya Ghatama beruntun begitu sang menantu sampai ke hadapan mereka.


Sassya menggeleng. " Udah gak sakit lagi kok mom. Biasa aja sekarang,kan udah Sassya bilang cuma mules biasa. Perkiraan dokter itu empat hari lagi,jadi gak mungkinlah Sassya melahirkan sekarang." Ucap Sassya yakin sambil mendudukkan kembali badannya ke sofa dengan posisi menyandar.

__ADS_1


Perlahan mata Sassya terpejam membuat nyonya Ghatama dan Melissa kembali panik.


Nyonya Ghatama memilih ke luar dari ruang tamu untuk memanggil Aska sedangkan Melissa duduk di samping putrinya sambil mengelus-elus perut Sassya yang tampak sudah turun dengan gerakan lembut.


Sassya mengeliat,saat merasakan sentuhan di perutnya.


"Kenapa ma?" Tanya Sassya heran dengan kelakuan mamanya.


"Kamu beneran gak papa? Kalau ngerasa bilang,jangan diam aja." Ujar Melissa dengan raut khawatir.


Sassya menggeleng. "Sassya beneran gak papa ma. Udah gak sakit lagi,seriusan." Ujar Sassya sungguh-sungguh sambil berusaha bangun dari posisi menyandarnya.


Tak berapa lama,Aska tampak datang bersama dengan tuan dan nyonya Ghatama. Ketiganya langsung menghampiri Sassya,bahkan Aska langsung berjongkok di hadapan sang istri dan mengusap perut Sassya dengan lembut.


"Kenapa? Kata mommy perut kamu sakit,mau di cek ke dokter? Siapa tau itu tanda-tanda kontraksi awal." Ujar Aska sambil terus mengusap-usap perut sang istri dengan gerakan pelan.


Sassya menggeleng. "Cuma mulas biasa,sekarang udah gak sakit lagi kok. Justru aku ngerasa ngantuk sekarang."


Sassya berkata sambil menguap lebar.


"Ya udah kalau ngantuk aku anterin ke kamar ya. Kita tidur siang,aku temenin. Mau?"


Sassya mengangguk cepat. "Mau." Ujarnya sambil berdiri merangkul lengan Aska.


Nyonya Ghatama menatap Melissa dan suaminya secara bergantian.


"Sayang,kok aku ngerasa kalau Sassya itu mau lahiran ya? Perasaan aku doang atau gimana ya? Tapi aku lihat perut dia udah turun banget itu loh. Apa gak sebaiknya kita hubungi dokter Zara biar dia duluan siapin ruangan buat Sassya. Kita gak bisa ngarepin Aska,dia juga kurang ngerti hal kayak begitu. Liat aja muka dia tadi masih ragu-ragu pas aku bilang Sassya kontraksi. Kita aja deh yang bertindak." Ujar nyonya Ghamata dengan raut serius.


Melissa mengangguki ucapan besannya itu.


"Saya rasa memang ada baiknya kita mempersiapkan semuanya sekarang. Takutnya nanti ada apa-apa." Ujar Melissa memberi dukungan pada besannya itu.


Tuan Ghatama mengangguk paham.


"Baiklah kalau begitu,sayang kamu hubungi dokter Zara agar menyiapkan ruangan dan keperluan bersalin Sassya di rumah sakit. Aku suruh sopir siapkan mobil untuk kita,dan bu Mel tolong suruh pelayan siapkan keperluan Sassya dan calon bayinya nanti. Seperti baju,dan lain-lain itu juga harus di siapkan." Ujar tuan Ghatama membagi tugas mereka masing-masing.


Setelah itu,ketiga orangtua itu membubarkan diri masing-masing sesuai tugasnya.


♡♡♡


Sementara itu di dalam kamar,Sassya tidak dapat memejamkan matanya sama sekali. Baru mau terlelap,ia sudah kebelet buang air kecil. Bahkan jika di hitung dari sejak awal masuk kamar tadi,sudah ada lima kali Sassya bolak-balik ke kamar mandi hanya untuk buang air kecil.

__ADS_1


Aska sampai khawatir melihat kelakuan istrinya itu. Dan kini untuk yang keenam kalinya,Sassya kembali masuk ke kamar mandi.


Namun kali ini durasi Sassya di kamar mandi cukup lama,membuat Aska yang menungguinya di depan pintu tambah cemas.


"Sayang.." Panggil Aska sambil mengetuk pintu toilet.


Tak lama setelahnya,Sassya tampak keluar dengan wajah pucatnya membuat Aska tambah panik.


"Sayang,kamu kenapa?"


Tanya panik sambil memegangi kedua pundak Sassya dan membantunya berjalan keluar toilet.


Sassya mengusap-usap perutnya dengan gerakan lembut.


Wajah teganggnya tadi berangsur membaik. Ia meplepaskan tangan Aska dari pundaknya kemudian berjalan ke tepi ranjang.


Aska ikut duduk di sebelahnya sembari mengusap punggung Sassya.


"Kenapa hemm? Sakit lagi?" Tanya Aska memastikan.


Sassya menggeleng ragu. "Aku gak tau kenapa? Tadi pas aku pipis ada keluar lendir juga,tapi gak ada darahnya. Pas aku coba berdiri,perut aku mendadak mules banget. Tapi pas aku coba bawa jalan ke sini,mulesnya ilang. Aku kenapa ya?"


Tanya Sassya pada Aska dengan wajah bingung.


Aska ikut menatap istrinya itu dengan bingung. Saat ini Aska seperti suami bodoh dan benar-benar tidak berguna. Namun detik berikutnya Aska mengerjab saat ia tersadar sesuatu.


"Sayang,tadi pagi mommy bilang kemungkinan aja kamu mau lahiran. Apa jangan-jangan kamu memang mau lahiran,kita ke rumah sakit ya."


Aska berkata sambil menarik pergelangan tangan Sassya.


"Arghhh..."


Aska tiba-tiba berteriak kencang saat tangan munggil sang istri mencengkram erat pergelangannya.


"Perut aku sakit lagi..." Teriak Sassya menggema memenuhi ruangan kamar.


♡♡♡♡


Riweehh uiii yang nulis gak tau gimana caranya menggambarkan proses orang yang mau melahirkan...


Maaf ya kalau ngawur,aku kurang paham soalnya belum berpengalaman.

__ADS_1


Aing kan masih kecill😁


__ADS_2