
#Flashback On
Kamar VVIP nomor 211
Chintiya terbangun dari tidurnya,setelah sekian jam terlelap. Berbeda dari sebelumnya,kali ini ia langsung sadar situasi dan sadar jika dirinya berada di rumah sakit.
Rentetan peristiwa yang mengantarkannya hingga terbarin di ranjang rumah sakit ini pun ia ingat dengan baik.
Satu yang ada di pikirannya sekarang, menemui Aska dan meminta bantuan pria itu. Rasa mual tiba-tiba menyerang lambungnya saat nama Aska melintas di benaknya.
"Tidak boleh! Aku tidak boleh lemah dan terpengaruh oleh bayi sialan ini." Dengan segera Chintiya memanggil dokter dan meminta obat pereda mual.
Setelah meminum sesuai anjuran dokter, Chintiya langsung menghubungi rekan kerjanya sesama model agar membantunya keluar dari rumah sakit.
Semuanya berjalan mulus. Dan saat ini Chintiya sudah berada di jalan raya,dengan style masker hitam dan kacamata hitamnya ia membulatkan tekadnya untuk menemui Aska. Hari ini juga.
#Flashback Off
♡♡♡
"Sial!!" Rama mengumpat kesal saat menyadari Chintiya sudah kabur.
Tanpa mempedulikan raut bingung sang perawat,ia segera berlari keluar sambil sesekali menghubungi nomor Chintiya.
"Lo kemana lagi sih Chintiya." Bati Rama kesal.
Ia berjalan ke rumah sakit dan harus kembali di buat kesal saat melihat mobil yang tadi di pakai untuk membawa Chintiya lenyap.
Hari sudah menjelang malam. Lantas kemana ia harus mencari Chintiya?
"GPS!!" Seru Rama. Ia ingat pernah memasang alat pelacak di mobil Chintiya dan seharusnya ia bisa melacak keberadaan Chintiya dari alat itu.
Segera ia menghentikan taxi yang kebetulan lewat kemudian meminta sopir taxi untuk mengikuti arahannya.
♡♡♡
"Tokkk...tok....tok..."
Aska baru saja selesai mandi ketika pintu terdengar di ketuk dari luar.
Aska melihat jam. Sudah pukul 18:37. Sudah cukup malam,tumben sekali ada yang bertamu. Batinnya.
Ia menoleh ke arah kamar mandi. Masih terdengar gemericik air di sana,artinya Sassya masih mandi. Dengan langkah malas ia pun berjalan ke luar kamar untuk membukakan pintu.
"Ceklek..."
Pintu di buka.
Aska sedikit mengernyit melihat sosok perempuan berambut pirang panjang dengan piyama rumah sakit yang kini tengah membelakanginya.
Tunggu,tunggu. Aska kenal sosok ini. Dengan pelan Aska menyentuh pundaknya.
"Chintiya..."
Belum sempat sosok itu berbalik,Aska langsung menubruk tubuh Chintiya dan memeluknya dengan erat. Aska tenggelamkan kepalanya di ceruk leher Chintiya,menghirup dalam-dalam aroma tubuh wanita yang begitu ia rindukan.
Sejak kejadian ia di usir dari apartemen beberapa waktu lalu,mereka memang belum pernah terhubung lagi dan sekarang saat Chintiya ada di hadapannya. Aska tidak mau menyia-nyiakan kesempatan. Sekelebat bayangan Sassya muncul namun segera Aska tepis.
"I miss you so much." Bisik Aska.
Chintiya tidak membalas pelukan Aska. Rasa pelukan Aska terasa aneh bagi tubuhnya,ia mengeliat-ngeliat tidak nyaman dan berusaha melepaskan pelukan Aska.
"Aska kita perlu bicara."
__ADS_1
♡♡♡
"Pak ngebut pak. Cepetan..." Ujar Rama sambil menepuk-nepuk belakang kursi sang sopir. Meminta agar pria paruh baya itu mempercepat laju mobilnya.
Ia sudah tau lokasi Chintiya dan cukup kaget saat tahu Chintiya pergi menemui Aska.
Ia harus menghentikan pertemuan mereka sebelum mereka berbuat nekad. Kita tidak tidak pernah tahu isi otak seseorang bukan?
"Mas,kita sudah sampai di tujuan." Ujar sang sopir sambil menoleh ke belakang.
Rama menoleh memastikan dan setelah yakin. Ia merogoh dompet dan mengeluarkan beberapa lembar uang pink.
"Ini pak. Bayarannya. Makasih ya." Ujar Rama sambil keluar dengan terburu-buru.
"Mas kembaliannya." Teriak sang sopir.
"Ambil aja." Rama balas berteriak sambil menerobos masuk ke dalam gerbang yang tidak terkunci.
"Chintiya!!" Teriak Rama sambil berlari ke arah Chintiya yang baru saja di dorong oleh Aska.
Ia menatap Aska tidak percaya.
"Kau?" Tujuk Rama geram. Namun di detik setelahnya,ia terbelalak. "Sky Aska Ghatama?" Tanya Rama tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat.
Ia membantu Chintiya berdiri dan merangkul pundak Chintiya yang tampak bergetar karena wanita itu menangis.
Aska bersedekap dada memandang dengan jijik sekaligus sinis ke arah Chintiya dan Rama.
"Apa yang kau lakukan pada calon istriku?" Tanya Rama marah.
"Bukk." Aska meninju Rama tanpa aba-aba.
"Harusnya aku yang bertanya. Apa yang kau lakukan pada kekasihku? Kenapa kau bisa menidurinya dan kenapa dia bisa hamil anakmu?" Tanya Aska berang.
"Aska. Stop. Dengerin aku dulu.." Chintiya berusaha meraih tangan Aska namun Aska mengelak.
Chintiya menggeleng-geleng dengan air mata yang masih becucuran.
"Aska please!! Kita bisa gugurin anak ini,aku juga gak mau hamil anak dia." Ujar Chintiya sungguh-sungguh.
Rama melotot seraya bangun dari posisinya.
"Cukup ya Chint. Aku mau tanggung jawab sama anak yang ada perut kamu,apalagi yang kamu harapin dari dia? Dia udah nikah,kamu mau berbagi suami?" Tanya Rama dengan emosi tinggi.
Chintiya dan Aska menoleh kaget ke arah Rama.
"Darimana kamu tahu?" Tanya keduanya berbarengan.
Rama berdecih sinis."Nona Michelle yang bilang!! Tapi sebagai sahabat Sassya,aku turut prihatin melihat gadis sebaik Sassya di nikahi laki-laki sebejat anda..."
"Tutup mulut mu!!" Teriak Aska.
"Heh bocah!! Kalau menurutmu aku jahat,berati wanita ini juga sama jahatnya." Aska menunjuk Chintiya.
"Aku nyesal Chint. Nyesal karena udah buang-buang waktu buat memperjuangkan wanita murahan kayak kamu. Aku korbanin hidup aku buat kamu,aku nikahin gadis yang gak aku suka demi kamu,aku harus berurusan sama nona Michelle demi kamu. Apa balasan kamu?"
"Lihat sekarang. Di saat semua rencana yang aku susun sudah berhasil,perusahaan papa udah jadi milik aku. Kamu berulah. Kamu hamil dengan orang lain,tidur dengan laki-laki lain. Ini balasan kamu Chint? Asal kamu tau,sedikit lagi. Sedikit lagi impian kita buat sama-sama akan terwujud andai kamu gak gagalin semuanya."
"Kamu lihat wajah aku." Aska menunjuk wajahnya yang di penuhi lebam.
"Kamu lihat kan gimana perjuangan aku buat ngelawan nona Michelle. Bahkan malam kemarin aku rela mengendap-ngendap mengambil Sassya dari kediaman nona Michelle,demi kamu Chint. Niatnya aku akan melenyapkan bayi yang ada di kandungan Sassya dan buat itu jadi alasan buat ngusir dia. Tapi apa? Kamu datang ke sini dan.."
"Sassya hamil?" Chintiya mengcengkram kedua bahu Aska dengan kuat.
__ADS_1
Sementara Rama masih terdiam menyimak pertengkaran dua sejoli itu.
"Iya,Sassya hamil. Dan seharusnya bayi itu kita lenyapkan..."
"Bukk.." Kini giliran Rama yang menonjok Aska.
"Lancang sekali mulutmu!! Di mana tanggung jawabmu sebagai seorang laki-laki hah?" Tanya Rana dengan emosi ia mencengkram kerah Aska dan mendorong Aska ke dinding.
Chintiya,jangan di tanya. Wanita itu sudah terduduk karena shock sekaligus tidak percaya dengan pendengarannya.
"Lepaskan tanganmu." Aska berusaha melepaskan cengkeraman Rama.
"Tidak akan!!"
"Buk..."
"Buk..."
"Buk..."
"Buk..."
Rama memukuli Aska bertubi-tubi,"kau lebih baik mati bajingan." Teriak Rama sambil menghantan ulu hati Aska dengan kakinya.
Aska batuk darah karena pukulan Rama. Rama masih bernafsu memukuli Rama,namun suara seseorang yang jatuh di belakangnya membuatnya tersadar akan sesuatu.
Chintiya pingsan.
"Brukk..."
Badan Aska di hempaskan dengan kasar oleh Rama dan setelahnya ia berbalik meraih tubuh Chintiya dan membawanya dengan terburu-buru kedalam mobil.
Chintiya tak hanya pingsan tapi juga pendarahan.
♡♡♡
Sementara itu di dalam rumah Aska. Seseorang tengah sibuk mengemasi barang-barangnya.
"Aku harus pergi. Zee benar,Aska berbahaya."
♡♡♡
Di bawah ini ada cuplikan untuk bab yang akan aku up besok...semoga saja memancing rasa penasaran kalian...
Check it out....😂😂
♡♡♡
Otor : Ada sedikit pengumuman. Novel ini tuh sudah aku rinci sejak awal pembuatan dan menurut rincian aku ada 120 bab dari awal sampe penyelesain konflik. Memang agak panjang ya....
Dan karena ini sudah memasuki bab 90+ artinya sebentar lagi akan tamat.
Lantas apakah 120 adalah end? Jawabannya no...
Aku sudah memikirkan akan ada bonchap 20 chapter lagi...
Jadi totalnya ada 140 bab. Semoga aja masih ada yang mau baca..
Aku gak maksud buat novel ini kayak gak ada abisnya alias mbulet-mbulet. Semua udah aku pikirin aku udah buat plot dan di atas bab 95 nanti kita akan masuk ke penyelesain konflik dan di sini memang lagi klimaksnya jadi wajar kalau konflik belum berkesudahan...
Mohon pengertiannya.....
__ADS_1
Hehe. Like vote komen jangan lupa...