
Apartemen Chintiya...
Pagi ini,merupakan hari sekaligus pagi yang sangat,sangat,dan sangat menyebalkan bagi Chintiya. Bayangkan saja,sedari semalam hingga bangun tidur tadi pagi. Dirinya tak henti-henti di ganggu oleh makhluk asing bernama Ramadika Wijaya.
Sebenarnya semalam ia sudah menghalangi Rama masuk,namun dengan segala drama gila yang Rama lakukan membuat Chintiya tak berkutik. Lalu pagi ini,entah apa yang akan Rama lakukan lagi. Chintiya hanya bisa pasrah menunggu tindakan gilanya.
"Sayang!! Di mana handuknya??"
Terdengar suara teriakan seorang pria dari dalam kamar Chintiya yang berhasil membuat wanita itu ingin membanting piring yang kini ada di tangannya.
"Sayang..."
"Ramadika!! Berhenti memanggilku sayang!! Namaku Chintiya Gabriella!! Dan aku bukan kekasihmu!!"
Teriak Chintiya dengan nada marah. Abaikan para tetangga apartemennya yang mungkin terganggu dengan kegaduhan yang terjadi di rumahnya sepagi ini.
Beberapa saat setelah Chintiya berteriak,tak ada lagi suara heboh dari dalam kamarnya. Chintiya mengira,Rama sudah berhenti berulah tapi nyatanya...
"Aaaaaa....!! Rama!! Apa yang kau lakukan?? Di mana pakaianmu??"
Chintiya berteriak kaget dan nyaris mati berdiri saat melihat Rama keluar dengan menggunakan hot pant ketat miliknya. Jelas saja pakaian yang Rama kenakan membuat 'anunya' tampak menonjol. Sangat jelas!
"Bodoh!! Di mana pakaianmu? Kenapa memakai hot pant milik ku??" Chintiya bertanya sambil menutup kedua matanya dengan tangan. Wajahnya sudah panas melihat pemandangan ajaib nan langka yang sedang tayang secara live di depan matanya ini.
"Tidak,tidak,tidak. Mata suciku..." Batin Chintiya menjerit.
"Ckk..,lebay!" Rama berdecak sambil menyingkirkan tangan Chintiya dari wajahnya.
Setelah itu,Rama dengan santainya duduk di depan meja makan sambil mengunyah sandwich yang sudah di buat oleh Chintiya.
"Bocah! Bisakah kau tidak bersikap seenaknya? Ini apartemen ku tapi kau bersikap seolah ini rumahmu,kau..."
"Sttss. Ini emang apartemen lo,tapi gue calon suami lo. Jadi sebentar lagi apartemen lo bakalan jadi apartemen kita,atau kalau lo keberatan kita bisa pindah ke rumah gue yang ada di Surabaya. Gimana?"
"Gila!" Sentak Chintiya sinis.
"Jangan marah-marah. Lo gak takut kalau nanti jatuh cinta sama gue? Secara gue ganteng,ya gak?"
Rama berdiri dari duduknya sambil menaik turunkan kedua alisnya untuk menggoda Chintiya.
"Bocah! Duduklah,aku tidak nyaman melihat celana yang kau kenakan!" Bentak Chintiya sambil membuang muka ke arah lain. Rama memang tidak tahu malu.
"Kenapa tidak nyaman? Harusnya lo membiasakan diri,karena nanti setelah kita nikah,lo bakalan lihat yang lebih-lebih dari ini." Rama semakin gencar menggoda Chintiya.
"Bocah! Apa kau tidak di ajari sopan santun? Usia ku lebih tua dari mu! Jadi jaga sikap dan bicaramu! Dan satu lagi,ganti pakaian mu dengan pakaian lain. Jangan mengenakan pakaian milikku seenaknya!"
__ADS_1
Rama berdecak malas,memang Chintiya kira ia tidak risih memakai hot pant? Ia risih tau,tapi mau bagaimana lagi.
"Pakaian gue masih otw,pakaian yang semalam udah gue taruh di mesin cuci tadi pagi. Masa gue pakai lagi,nanti yang ada badan gue gatel-gatel. Gue juga gak mungkin telanjang,ntar yang ada lo ngiler lagi liat burung onta peliharaan gue."
"Ramadika!! Aku bilang jaga bicaramu! Lagipula kau bisa memakai pakaian ku yang lain,kenapa harus..." Chintiya menghentikan ucapannya sambil menatap sinis ke arah celana yang di kenakan Rama.
Rama hanya menyengir melihat tatapan risih Chintiya."Soalnya pakaian lo yang bahannya elastis cuman ini,masa gue harus pake dress gak muat dong. Gak mungkin juga gue pake daster lo,ntar di kira mau main bola dangdut lagi."
Chintiya mendengus malas. "Banyak alasanmu. Aku jadi makin berharap kau cepat pergi dari sini."
"Oh,tidak bisa. Kalau gue pergi,lo juga harus ikut. Lo kan calon istri gue."
"Enak saja,siapa yang mau menjadi istrimu. Aku hanya akan menikah dengan..."
Hu..gg." Chintiya membekap mulutnya saat rasa mual kembali menyerang sebelum ia berhasil menyebut nama Aska. Entah kenapa setiap kali ia melihat atau mengingat Aska,ia akan merasa mual.
"Lo kenapa?" Tanya Rama sambil mendekat dengan raut bingung. "Lo mau nikah sama siapa? Jangan bilang lo udah punya pacar?"
Chintiya mengangguk cepat."Tentu saja,aku punya pacar dan aku akan menikah dengan..."
Chintiya tak melanjutkan ucapannya dan langsung berlari menuju wastafel.
"Huek..." Wanita itu malah muntah-muntah tanpa melanjutkan ucapannya.
"Lo kenapa sih? Lo sakit?" Tanya Rama dengan raut khawatir.
Chintiya menggeleng."Aku baik-baik saja. Aku memang sering mual akhir-akhir ini,mungkin masuk angin." Jawab Chintiya santai sambil memijit pelipisnya yang sedikit berdenyut.
Kedua alis Rama mendadak terangkat,ia jadi mencurigai sesuatu. Hal ini sudah pernah ia lihat sebelumnya,kakaknya yang ada di Surabaya pernah mengalami hal serupa setelah tiga bulan menikah. Apa jangan-jangan...
"Ayo kita ke rumah sakit."
Rama langsung menarik tangan Chintiya,hendak membawanya ke rumah sakit. Namun segera di tahan oleh Chintiya.
"Untuk apa ke rumah sakit? Sudah aku bilang,aku baik-baik saja. Hanya masuk angin,dan aku tidak tipes jadi tidak perlu ke rumah sakit."
"Ckk. Siapa yang bilang lo tipes sih? Lo itu emang gak tipes,tapi gue curiga nya lo hamil. Anak gue,kita kan udah 'nganu'." Jawab Rama frontal.
"Deg.
Udara di sekitar mendadak terasa mencekam ketika Rama mengatakan kalimat keramat tersebut. Bahkan Chintiya sampai lupa bernapas saking shocknya.
"Kenapa aku sampai melupakan hal sepenting ini?" Batin Chintiya merutuki kebodohannya.
Ia benar-benar tidak ingat untuk meminum obat kontrasepsi setelah kejadian malam itu. Dan ia juga tidak ingat kapan terakhir ia datang bulan.
__ADS_1
"Tidak,tidak,ini tidak boleh di biarkan." Batin Chintiya.
Kemudian ia menatap Rama dengan gugup."S..sepertinya kau salah sangka. Aku..., aku meminum obat kontrasepsi setelah kejadian malam itu. Jadi tidak mungkin hamil,aku hanya masuk angin."
Mendengar jawaban Chintiya,hati Rama sedikit merasa kecewa. Namun ia pria yang tidak mudah menyerah. Jadi ia tetap akan menyiapkan seribu alasan untuk membuat Chintiya mau menjadi miliknya.
"Lo bilang lo pake obat kontrasepsi? Jadi gimana kalau kita ke rumah sakit buat beli obat penyubur kandungan. Karena sebentar lagi lo nikah sama gue,gak ada alasan buat lo gak hamil. Gimana?"
"Ckk..,aku tidak mau! Kau tuli ya?"
"Gue gak menerima penolakan!" Rama menaikkan suaranya.
"Lagi pula kita tidak mungkin ke rumah sakit dengan pakaian mu yang seperti itu." Chintiya berkata meledek sambil meneliti penampilan Rama.
"****.."ย Umpat Rama geram.
"Ting Tong..." Bel apartemen Chintiya mendadak berbunyi bersamaan dengan suara seseorang yang Rama kenal di luar sana.
Rama tersenyum senang.
"Pucuk di cinta,ulam pun tiba. Kau tidak bisa menghindar lagi sayang."
โกโกโก
Haii... Guys...
Welcome to Oktober ya...
Semoga keadaan kalian sehat-sehat selalu dan selalu di beri kebahagiaan apapun kondisi kalian saat ini....
Maaf ya gess,kemarin gak UP, Azell kemarin sakit.
Udah flu,asam lambungnya kambuh,terus alergi dingin juga. Si sakit kayaknya suka banget ngeroyokin Azell...
Oh iya,mungkin ada sebagian dari kalian yang pas baca terus rada gamang gitu liat percakapan antara Chintiya dan Rama. Maaf ya bahasanya memang aku setting begitu,kalau pas bagian Rama,pake 'gue lo' karena dia masih usia milenial gitu.
Nah pas bagian Chintiya,sengaja aku pakai,aku kamu,aku kau,atau saya gitu. Soalnya umur Chintiya itu kan udah kategori cewek dewasa. Ya buat bedain aja,antara karakter dia dan Sassya gitu guys...
Ini belum masuk ******* ya guys...santai-santai aja dulu...
Nanti kita berantem...๐๐๐
Like vote komen ya guys...
Buat nyemangatin otor....
__ADS_1