Tautan Takdir

Tautan Takdir
Ketemu


__ADS_3

"Ikuti rute ini,tadi Sandra bilang tempatnya sedikit jauh dari pemukiman warga. Perhatikan maps baik-baik gue gak mau kita salah jalan."


Perintah Zee pada Bella yang bertugas menyetir. Perempuan itu pun mengangguk paham,dan langsung menjalankan mobilnya ke tempat yang Zee maksud.


Hingga sekitar empat puluh lima menit setelahnya,mobil yang di tumpangi Zee berhenti di depan sebuah gang kecil yang tampak begitu sempit untuk di lalui mobil.


"Nona sepertinya mobil tidak bisa masuk ke dalam. Nona bisa lihat sendiri,jalannya begitu kecil. Bahkan motor pun akan sedikit kesulitan untuk masuk ke sana." Jelas Bella.


Zee meminta Bella untuk menurunkan kaca jendela mobil agar ia bisa melihat keluar. Memang benar apa yang Bella katakan,jalan di depannya itu benar-benar kecil dan sempti. Ia jadi khawatir Sandra salah memberi alamat,atau Bella yang salah jalan.


"Bella kamu yakin alamatnya sesuai maps?" Tanya Zee memastikan.


Bella mengangguk." Tentu,nona bisa lihat sendiri. Petanya masih menunjukkan arah ke depan sana,yang artinya kita harus masuk ke dalam untuk menuju alamat yang nona maksud."


"Apa gak ada jalan lain?" Tanya Zee lagi.


Bella menggeleng."Hanya ada satu jalan di sini nona,anda bisa lihat di sekeliling sini saja tidak terawat. Tempatnya juga cukup kumuh,seperti bekas ladang yang sudah tidak di garap bertahun-tahun. Saya jadi ragu, apa nona Sandra salah memberi alamat?"


"Kenapa tidak nona coba hubungi nona Sandra lagi. Saya rasa ada alamatnya salah,nona bisa di sekitar sini tidak ada rumah penduduk satupun kecuali di belakang kita tadi."


Zee tampak memikirkan ucapan kedua bodyguardnya itu. Sepertinya memang benar,ia harus menanyakan langsung pada Sandra daripada menunggu tidak jelas di depan gang sempit ini.


Zee melakukan panggilan vidio hingga dua kali,namun tak ada jawaban. Zee tak menyerah,ia mencoba sekali lagi dan akhirnya panggilan tersebut di angkat oleh Sandra.


"Sorry Zee,gue baru keluar


dari ruang rapat."


Ujar Sandra begitu panggilan tersambung. Zee hanya mengangguk sebagai jawaban.


"San,ini gue udah ngikutin alamat yang lo kasih. Tapi kayaknya ada yang salah deh,di sini gak ada rumah penduduk satupun. Bahkan sekitarnya cuma ada ialang,kayak bekas ladang yang udah ditinggal bertahun-tahun. Lo yakin gak salah alamat?"


"Salah alamat?


Gak mungkinlah Zee, lo tau


Gue gak pernah setengah-


Setengah kalau nyari informasi.


Kata orang suruhan gue alamatnya


Emang di situ kok."


"Tapi seriusan,gangnya kecil banget San. Lo harus liat sendiri."


Zee berkata sambil memberi kode pada Bella agar membukakannya pintu. Gadis itu beranjak turun dari mobil di ikuti kedua bodyguarnya.


"Nah lo bisa lihat sendiri,di depan cuma ada jalan kecil. Bahkan mobil gue aja gak bisa masuk,sedangkan di sekitarnya..."


Zee memutar kamera HPnya menunjukkan tempat di sekitar yang hanya di tutupi ialang dan pohon singkok yang sudah sangat tinggi melebihi tinggi badannya.


Di seberang sana,Sandra juga tampak aneh melihat keaadan di sekitar Zee. Memang benar,seperti tempat yang sudah lama tidak terjamah. Apa benar ia salah alamat?


"Emm,Zee coba lo jalan sekitar


10 atau 20 meter ke depan deh.


Kalau semisalnya gak ada satupun rumah yang lo temui,gua saranin mending pulang dulu. Kita cari infonya sama-sama."


Zee mangangguk setuju,gadis itu memilih berjalan maju memasuki gang sempit tersebut dengan diikuti Jessie dan Bella tentunya.

__ADS_1


♡♡♡


"San,lo yakin di dalam sana aman. Gimana kalau ada binatang ? Gimana kalau gue mati di terkam macan? Atau di dalam ada ular sanca besar yang bakal nelan gue?"


Zee berasumsi yang tidak-tidak, padahal ia baru berjalan sejauh lima meter. Bahkan mobilnya saja masih keliatan dari tempatnya berdiri.


"Lebay deh,lagian sejak kapan


Lo punya rasa takut?"


"Anjirr gua juga manusia gebleg!!"


"Jaga bicara anda nona Michelle.


Mana ada CEO ngumpat kayak gitu."


"Buktinya gue ada."


Sandra memberenggut malas,Zee memang ahli dalam urusan berdebat.


Keduanya terdiam karena Zee tampak kembali berjalan maju,hingga beberapa menit setelahnya...


"San,San,San!!"


Pekik Zee tiba-tiba membuat Sandra heran. Apalagi raut wajah Zee berubah tegang seperti habis melihat kuyang.


^^^"Apaan sih? Muka lo kayak orang nahan BAB tau!!"^^^


"Lo tau gak,kok gue ngerasa lagi berada di tempat suting film horror ya? Lo tau gue pernah nonton film horror yang judulnya 'Arang' tempatnya mirip ini tau."


Zee berkata sambil membalikkan kamera ke arah sebuah rumah usang yang berjarak kurang lebih 3 meter daei tempatnya berdiri.


"Coba lihat,ini satu-satunya rumah yang ada di sini. Gue bahkan gak yakin buat nyebut itu rumah,itu barang kok lebih mirip kandang ayam ya?"


"Coba lihat sekitar Zee,


ada rumah lagi gak selain itu?


Kalau gak ada,kemungkinan aja


itu rumah Sassya dan Melissa."


"Ngaco,sejak kapan Sassya mau tinggal di rumah kayak gitu. Gila aja lo, Sassya itu sedari kecil tinggal di mansion kayak gue. Lo kalau ngelawak yang lucu dikitlah."


"Gue serius Zee,coba lo


periksa dulu. Lagian lo lupa kalau keluarga Sassya terlilit hutang? Aset mereka pasti udah habis buat bayar hutang-hutang ayah kandung Sassya


Di Singapura dulu."


"Lah tumben lo pinter?"


"Dari dulu yang bego itu elo. Udah sana cepeten lo periksa rumahnya.


Kalau gak ada orang,berati gue yang salah info."


"Sipp,kalau sampai lo salah info,


gaji lo gue potong setengah."


"Kalau infonya bener,lo harus

__ADS_1


Kasih satu unit apartemen lo


yang di dekat kantor buat gue,deal?


"Deal!!"


Zee mematikan telepon setelah mengatakan hal itu.


Ia memasukkan handphone ke saku blazernya dan berjalan mendekati bangunan usang yang bahkan terkesan horror di hadapannya ini.


"Nona anda yakin di dalam ada orang?" Tanya Jessie tak yakin.


Zee mengangkat kedua bahunya.


"Gue gak yakin,tapi jendela rumahnya kebuka. Kalian bisa lihat,halamannya juga bersih. Kalau pun di dalam sana bukan Sassya atau Melissa,gue tetap masuk. Mungkin ada hal yang bisa gue bantu buat penghuni rumah di sana."


Langkah kaki Zee terhenti di depan rumah usang tersebut. Ia ingin mengetuk pintu,namun niatnya urung saat mendengar bunyi benda jatuh dari dalam rumah.


Zee menduga bunyinya berada di bagian belakang. Gadis itu berjalan memutari rumah kecil tersebut hingga sampai di bagian belakang.


Tidak berbeda jauh dari bagian depan,di belakang rumah ini ternyata juga banyak tanaman singkong dan ialang. Bedanya ialang di situ seperti pernah di bakar jadi tidak terlalu lebat. Di sekitarnya juga ada tanaman kangkung dan cabe yang tampak tidak subur sama sekali.


Di situ juga ada tungku batu dan bekas arang perapian yang sudah hampir padam,membuat Zee menduga pemilik rumah pasti habis membakar sesuatu di situ."


Selain perapian ada juga jemuran yang dibuat dari kayu yang sudah reot. Di situ ada beberapa pakaian usang yang dijemur dengan tak beraturan membuat Zee menghela napas sesak.


Sedari tadi,tak ada pemandangan menarik yang dapat ia lihat. Hanya ada benda-benda usang yang dilihat sekilas saja sudah tidak layak pakai.


Ia heran,bagaimana pemilik rumah ini bisa betah tinggal di sini. Zee yang hanya melihat tampilan rumahnya saja sudah bergidik ngeri.


Walau sering kabur dari mansion,Zee tetap saja tak pernah menemui rumah semacam ini. Ia kabur dari mansion untuk menuju mansion,jadi yang namanya tinggal di rumah kecil belum Zee rasakan.


Tempat paling kecil yang pernah Zee kunjungi tidak lain adalah apartemennya sendiri. Tapi walau kecil,fasilitasnya mewah.


Berbeda dengan rumah di depannya sekarang,wajar jika Zee menyebutnya kandang ayam.


Lihat saja keadaannya,lapuk dimana- mana. Sarang laba-laba memenuhi dinding rumah,sebagian atapnya sudah rusak dan reot,warna kayunya sudah sangat pudar dan bau apek.


Zee kembali berjalan mendekat ke bagian rumah yang jendelanya juga terbuka. Sepertinya di sini ada dua jendela,satu di depan tadi dan satunya di belakang tepat di atas kepala Zee saat ini.


"Mama ayo minum obat dulu,ini udah aku siapin."


Zee langsung mendekatkan telinganya ke dinding rumah begitu mendengar suara perempuan yang tidak asing di telinganya. Itu suara Sassya,ia yakin!!


Hingga beberapa saat Zee tidak lagi mendengar percakapan apapun membuatnya heran sendiri.


Zee memilih berjongkok di bawah jendela,ia juga memberi kode agar kedua bodyguardnya mendekat. Jessie dan Bella pun menurut dan langsung ikut berjongkok di samping Zee.


"Nona sepertinya di dalam ada orang." Bisik Jessie memberitahu.


Zee mengangguk."Iya,gue yakin banget itu Sassya. Tadi itu suara dia,kalian dengerkan?" Tanya Zee balik dengan nada berbisik juga.


Kini giliran kedua bodyguardnya yang mengangguk.


Hingga hampir sepuluh menit ketiga orang itu masih saja berjongkok di bawah jendela kayu tersebut. Zee yang mulai merasakan pegal di kakinya memilih berdiri.


"Hachimm!!"


Zee kaget bukan main ketika Bella tiba-tiba bersin di sampingnya. Mampuslah sudah,Zee yakin orang di dalam sana pasti mendengar suara bersin Bella yang begitu nyaring.


Ia memilih kembali berjongkok dan menutupi kepalanya dengan tas. Tapi nasib Zee tidak mujur karena dari atas terdengar suara perempuan membuat Zee mau tak mau mendongak.

__ADS_1


"Zee...?"


__ADS_2