Tautan Takdir

Tautan Takdir
Perubahan


__ADS_3

Satu bulan berlalu setelah kejadian di mana Aska berhasil mengambil kehormatan Sassya. Dalam satu bulan ini,terhitung sudah puluhan kali mereka kembali melakukannya. Mengingat ada obat pencegah kehamilan,membuat Aska tak takut melakukannya lagi dan lagi.


Lain halnya lagi dengan Sassya,wanita itu memang tidak menolak saat Aska melakukannya. Bukan karena ia takut,tapi karena memang semakin hari ia semakin menyukai Aska. Apalagi perlahan sikap pria itu mulai baik padanya.


Sassya tidak tau apakah kebaikan Aska padanya bersifat sementara karena Sassya adalah pemuas ranjangnya. Atau karena memang ada perubahan rasa dalam diri pria itu. Sassya tak tau.


Tapi yang ia tau,ini kesempatan bagus. Apalagi tak ada Chintiya di sisi mereka. Karena wanita itu mendadak pergi ke luar negeri. Tiga hari,setelah kejadian di club.


Lalu kedua orangtua Aska? Mereka sudah kembali ke mansion Ghatama,sejak Aska memberitahu mereka jika ia dan Sassya sudah menjadi 'suami istri' dalam artian sebenarnya. Semua barang-barang Aska yang kemarin di sita pun kini sudah di kembalikan.


♡♡♡


Pagi ini,Sassya terbangun dengan kantuk yang masih menyelimuti wajahnya. Entah kenapa badannya hari terasa sangat malas,dan rasanya tidak mau ia gerakkan.


Tapi saat netranya menoleh ke samping dan menatap Aska yang masih tertidur lelap. Di dalam hatinya muncul niat untuk membuatkan makanan kesukaan Aska. Nasi goreng seafood.


Berjalan pelan turun dari ranjang,Sassya segera memungut piyama miliknya yang tergeletak di lantai. Dan mulai berjalan ke kamar mandi untuk cuci muka. Setelahnya ia pergi ke dapur,untuk membuatkan sarapan.


Saat sudah berada di dapur. Sassya mulai menyiapkan bahan-bahan yang sudah tersedia di kulkas. Ia juga menyiapkan bumbu-bumbu seperti bawang dan lain sebagainya. Namun saat mengupas kulit bawang putih,rasa mual tiba-tiba menjalar dalam lambung hingga ke mulutnya.


Cepat-cepat Sassya berlari ke wastafel dan mulai mencoba memuntahkah isi perutnya. Namun tak ada yang keluar,hanya cairan bening saja. Namun kejadian pagi ini membuat badan Sassya cukup lemas. Hampir saja ia merosot ke lantai jika seseorang tak menahan pinggangnya dari belakang.


"Hei,kenapa?" Aska yang tadinya masih di kamar,kini mendadak ada di belakangnya.


Di baliknya badan Sassya,dan pandangannya menelisik hingga mendapati jika Sassya sedikit pucat pagi ini.


"Kau sakit?" Tanyanya sambil mengecek dahi Sassya.


"Normal."Ucapnya diikuti gelengan Sassya.


"Saya tidak sakit tuan. Mungkin sedikit masuk angin. Karena itu saya merasa mual." Jawab Sassya menebak.


Aska mengernyit."Mual? Kau tidak hamil kan?" Tanyanya menyelidik.


Sassya ikut mengernyit."H..hamil? T..tidak mungkinlah tuan. Saya kan selalu minum obat yang tuan kasih itu. Bahkan sekarang obatnya tinggal sedikit karena saya rutin minum." Jelas Sassya.


Aska yang mendengar ucapan Sassya merasa lega. Ia segera menjauhkan tubuhnya dari Sassya dan kembali ke kamar. Tadinya ia memang turun untuk minum. Lagipula ini hari minggu,santai saja.


Berbeda dengan Aska yang bernafas lega. Sassya malah sedikit panik. Memang setelah mengkonsumsi obat pencegah kehamilan itu,Sassya belum datang bulan. Baik bulan lalu maupun bulan ini. Sassya memang meminum obat itu pertengahan bulan kemarin,tapi bulan ini juga sudah pertengahan dan ia masih belum datang bulan juga.


"Bahaya! Bahaya! Ini efek obat,atau jangan-jangan gue hamidun lagi. Mati gue,jangan sampe!!" Batin Sassya panik.


"Tapi kan gue minum obat terus!! Gak mungkin kan obatnya gak mempan? Haruskah gue periksa?" Sassya berbicara pada dirinya sendiri.


Bi Sumi yang baru saja masuk ke dapur tampak memandangnya heran.

__ADS_1


"Non Sassya!" Panggilnya,Sassya menoleh."Non Sassya kenapa ngomong sendiri?"Tanya bi Sumi heran.


Sassya menggeleng."Sini deh bi!" Panggilnya pada wanita yang akhir-akhir sudah ia anggap seperti ibunya sendiri.


Wanita itu pun mendekat."Kenapa sih non?"


"Bi..bibi ada niatan ke pasar gak sih hari ini?"


"E..enggak sih non. Kan kemarin bibi baru belanja. Non juga ikut persaan,ngapain ke pasar lagi?"


"Nanti keluar lagi,boleh gak sih bi? Temenin Sassya,Sassya mau beli sesuatu." Ujar Sassya setengah berbisik.


"Ih si non mah. Ngapain bisik-bisik sih,di sini kan cuma ada kita. Memangnya non mau beli apa?"


"Tespeck."


"Hah?? Non hamil??" Pekik bi Sumi kencang.


"Sttss." Sassya langsung mencubit pelan lengan bi Sumi.


"Jangan keras-keras dong bi. Belum pasti ini. Satu lagi! Jangan ngomong sama siapa-siapa. Janji?"


"Maaf non,keceplosan. Iya,bibi janji."


"Ya udah,kalau gitu habis masak nanti kita keluar ya bi."


Kedua manusia beda usia itu pun melanjutkan kegiatan memasak mereka,yang tadi sempat tertunda. Usai masak,Sassya masuk ke kamarnya untuk mandi dan bersiap-siap ke luar. Sebelum keluar,ia berpamitan pada Aska yang tengah duduk di tepi ranjang sambil memangku laptop.


"Tuan." Panggil Sassya pelan begitu sampai di dekat Aska.


Pria itu menoleh dengan raut datar."Kenapa?" Tanyanya.


"Anu,begini tuan. S..saya mau izin keluar bersama bi Sumi. Saya mau..."


"Bukankah kemarin kau sudah keluar? Kenapa sekarang mau keluar lagi?"


"Eh,begini tuan. Ada yang mau saya beli. Urusan perempuan,bolehkan?"


"Kau mau membeli dalaman?" Tebak Aska asal. Namun dengan bodohnya Sassya mengangguk membuat Aska memasang tampang geli.


"Keluarlah. Tapi ingat,jangan macam-macam di luar. Jangan melakukan hal yang bisa membuat aku malu. Mengerti?"


"Baik tuan."


Namun bukannya beranjak. Sassya masih mematung di dekat Aska. Membuat pria itu berdecak.

__ADS_1


"Apalagi Sasa! Kau mau minta di antar? Atau kau mau pinjam mobil?"


"Eh? Memangnya saya boleh pinjam mobil tuan?" Tanya Sassya tak percaya.


Aska mengangguk."Tidak masalah jika kau pergi dengan bi Sumi. Tapi jangan merusak mobilku..."


"Wah tuan!! Terimakasih sekali!! Kalau begitu apa saya juga boleh meminta uang jajan? Tadinya saya mau meminjam uang dengan bi Sumi. Tapi sepertinya hari ini tuan sedang baik,jadi saya minjam uangnya sama tuan aja. Boleh?" Tanya Sassya penuh harap. Bahkan dengan tak tau malunya gadis itu menampakkan puppy eyesnya membuat Aska melongo.


"Gemes!" Batin Aska.


"Ekhmm" Pria itu berusaha menetralisir rasa gemasnya pada Sassya. Jangan sampai wanita itu ia lahap lagi.


"Kau mau meminjam uang? Memang kau bisa menggantinya? Kau kan tidak punya penghasilan." Pancing Aska sengaja menggoda Sassya.


Gadis itu sedikit merubah ekspresinya jadi memelas."Ya sudahlah kalau tuan tidak mau meminjamkan saya uang. Saya pinjam uang bi Sumi aja."


Sassya berniat membalikkan badannya ke luar kamar dengan perasaan kecewa  karena tak mendapatkan apa yang ia mau.


Namun di luar dugaan Aska malah mengatakan hal yang membuatnya melongo.


"Ambil Credit Card di dompetku. Kau boleh menggunakannya untuk apapun. Anggap itu nafkah dariku selama kau menjadi istriku." Suruh Aska.


Sassya sampai melongo di buatnya.


"T..tuan bercanda?" Tanya Sassya tak yakin.


"Apa aku terlihat bercanda?"


"T..tidak."


"Ya sudah,kalau begitu ambil saja kartunya. Lagipula aku masih punya empat." Pamer Aska pongah.


"Tapi tuan,sebaiknya saya mengambil uang case saja. Terlalu berlebihan jika harus pakai kartu kredit."


"Kau membantahku? Aku tidak mau di tuding suami miskin oleh otak julidmu."


"Eh saya mana pernah berpikir begitu tuan."


"Sasa,aku tidak menerima penolakan. Pakai kartuku,karena aku hanya punya uang case seratua ribu di dompet. Ambil saja uangnya kalau kau mau. Tapi kartuku juga harus kau ambil,kalau tidak! Aku akan melahapmu sampai kau tidak bisa berjalan."


Sassya langsung gelagapan mendengar ucapan  Aska. Dengan langkah kilat ia mengambil kartu dan uang di dompet Aska kemudian berlari bagaikana boyboyboy toufan meninggalkan Aska.


♡♡♡


Like vote komen....

__ADS_1


Sambil nunggu aku up...baca dulu ya novel temenku ini ya...



__ADS_2