
"Bi,kira-kira yang bagus yang mana?" Tanya Sassya pada bi Sumi.
Saat ini keduanya sudah ada di dalam apotek. Tengah mencari model tespeck yang bagus. Pasalnya,petugas apotek itu memberinya lima buah tespeck dengan berbagai merk membuatnya bingung.
"Ambil semuanya aja non. Bukannya tadi,tuan sudah kasih non uang? Kan gak rugi juga non. Siapa tau nanti ada hasil yang buram. Non masih bisa cek pake yang lain."
"Iya juga sih bi."
"Ya udah deh."
Sassya akhirnya mengambil semua tespeck tadi dan membayarnya dengan uang pemberian Aska tadi di tambah sisa uang miliknya yang tadi di beri bi Sumi. Ia memilih tidak menggunakan kartu karena takut Aska melihat tagihan kartu kreditnya.
"Kita langsung pulang kah bi?" Tanya Sassya setelah keduanya keluar dari apotek.
"Jangan dulu deh non. Gimana kalau kita cari barang-barang alibi buat mengelabui tuan Aska. Non kan tadi bilang sendiri kalau gak mau tuan Aska tau tentang kehamilan non. Kalau tuan tau non beli tespeck,tuan pasti curiga."
"Iya juga sih. Emm,gimana kalau kita jajan bi? Beli es krim atau apa gitu."
"Boleh deh non."
"Oh iya bi. Sekalian beli dalaman. Tadi pas izin Sassya buat alasan konyol dengan bilang mau cari dalaman. Biar tuan Aska gak curiga,Sassya harus cari dalaman." Ujar gadis itu mengingat pembicaraannya dan Aska tadi pagi.
"Ya udah deh non."
Jawab bi Sumi tanpa protes. Toh ia juga senang bisa menemani wanita yang beberapa hari lagi berniat kabur jika ia memang positif hamil. Rencananya nanti,bi Sumi lah yang akan membantu kepergian Sassya.
Bi Sumi sudah mendengar cerita dari Sassya,tentang Aska yang tak menginginkan anak darinya. Hal inilah yang membuat bi Sumi kasihan dan tak melarang saat Sassya memilih kabur.
Lagipula nanti,Sassya akan tinggal di kampung halaman bi Sumi. Tidak kabur dalam artian sebenarnya. Ia hanya menyembunyikan dirinya sampai bayi itu lahir. Ia takut terjadi apa-apa pada bayinya nanti. Itupun jika ia benar-benar hamil.
Setelah menyelesaikan misi membeli tespeck dengan alibi jalan-jalan. Kini Sassya bersama bi Sumi sedang menuju kamar bi Sumi. Rencananya Sassya akan melakukan tes di kamar bi Sumi besok pagi-pagi. Sebelum Aska bangun tidur.
♡♡♡
Keesokan paginya,sekitar jam empat subuh. Sassya sudah bangun,dengan sedikit kesusahan ia berusaha melepaskan pelukan Aska yang masib erat di pinggangnya.
"Mau kemana Sasa?" Tanya Aska dengan suara serak. Karena terusik oleh pergerakan Sassya.
__ADS_1
Sassya sedikit gugup karena Aska memergokinya bangun. Untung kamar mereka remang-remang,jadi ia tak sulit menyembunyikan kegugupannya.
"Tuan,bisakah tangan tuan di pindahkah? Saya mau ke toilet." Ujar Sassya sambil berusaha menyingkirkan tangan Aska dari pinggangya.
Bukannya melepas. Aska malah,semakin mengeratkan pelukannya. Ia juga menenggelamkan kepalanya di dada Aska dan mencuri kesempatan untuk menyusu pada dada polos itu. Sassya sampai mendesah kecil di buatnya.
"T..tuan..saya ingin buang air kecil." Ujar terbata-bata sambil berusaha menjauhkan kepala Aska dari dadanya.
Bukan Aska namanya kalau langsung nurut. Ia malah ikut bangun dan langsung mendudukkan badannya membuat selimut yang di pakai keduanya tersingkap.
"T..tuan.." Sassya sudah was-was melihat tatapan Aska yang tampak lapar.
"Ayolah! Sekali lagi,boleh?"
"Tuan.." Mata Sassya sudah memelas berharap tuan suaminya ini mengerti jika ia sudah lelah akibat pergulatan mereka semalam.
Tapi di balik itu semua,alasan terbesar ia menolak adalah karena pagi ini ia mau melakukan tes kehamilan pada dirinya. Ia takut bila berhubungan badan,tes nya nanti malah terganggu.
"Baiklah,baiklah..sana turun. Tapi kau harus kembali dalam lima menit,setelah itu ke sini. Tidurkan aku,aku mau tidur di peluk." Pinta Aska manja dengan menampilkan puppy eyesnya yang menjijikan.
"Mati ajalah lo Aska!!" Batin Sassya geram.
"Tolong Tuhan,tukarin gue jadi Zee sepagi ini bisa gak sih?"Batin Sassya sambil menggigit lidah lidahnya karena kesal.
"Tuan,setelah ini aku harus turun ke bawah untuk membantu pelayan lain membuat sarapan. Tuan lupa kalau ini hari kerja?"
"Kau kan istriku."
Sassya melongo mendengar ucapan Aska.
"Wah!! Sejak kapan nih orang gila tambah gila? Please,ada gak sih rumah sakit jiwa yang buka sesubuh ini. Di dekat sini deh kalau ada,gue mau nganter orang gila." Batin Sassya makin menjadi-jadi.
"Tuan. Aku harus ke toilet dulu,lima menit lagi aku akan ke sini untuk menidurkan tuan. Bagaimana?"
"Ckk..pergilah!" Dengan tak rela Aska melepas tubuh Sassya dekapannya.
Sassya yang sudah bisa bernafas lega pun langsung meninggalkan Aska dan melajukan langkahnya ke toilet. Lima menit kemudian Sassya benar-benar sudah kembali.
__ADS_1
Melihat Sassya kembali naik ke ranjang,Aska langsung beringsut ke pangkuan Sassya dan mulai memejamkan matanya. Satu tangannya menarik tangan Sassya agar mengusap kepalanya. Aska benar-benar menunjukkan sisi manjanya pagi ini.
Setelah hampir setengah jam menidurkan bayi besarnya. Aska akhirnya tertidur juga,kali ini sangat pulas bahkan Aska sampai mendengkur kecil. Perlahan Sassya angkat kepala Aska dari pahanya,ia sangga kepala Aska dengan kedua tangannya sebelum akhirnya ia mengambil bantal untuk menggantikan posisi pahanya tadi.
"Bye mister arogan!" Batin Sassya bersorak riang."Gue bebas!!"
Buru-buru ia beranjak keluar kamar dan langsung menuju paviliun. Sassya sudah tak sabar untuk melakukan tes. Walau di satu sisi ia berharap hasilnya negatif,tapi di sisi lain ia juga berharap hasilnya positif.
Menurut Sassya,jika pun nanti ia akan bercerai dengan Aska. Ia ingin ada seorang anak di antar mereka yang bisa ia bawa sebagai kenangan. Tak masalah jika ia harus menjaganya seorang diri. Toh ibunya dulu juga begitu bukan?
Setelah berjalan selama lima menut,Sassya akhirnya sampai di paviliun. Ia masuk ke dalam dan langsung menuju kamar bi Sumi. Suasana masih sepi karena memang aktifitas di rumah itu biasanya di mulai jam lima,yang artinya dua puluh menitan lagi.
"Tok...tok...tok..." Aska mengetuk pintu kamar bi Sumi beberapa kali.
Tak lama perempuan paruh baya itu keluar dengan wajah segar. Sepertinya baru selesai cuci muka.
"Bibi! Pagi-pagi udah seger aja." Gurau Sassya begitu melihat bi Sumi.
Bi Sumi tersenyum kecil menanggapi gurauan Sassya."Kayak si non enggak. Ayo masuk,bentar lagi bibi mau ke rumah utama loh."
"Iya bi. Ini Sassya langsung tes apa gimana?"
"Langsung lah non,tunggu apalagi. Non mau nunggu-nunggu sampai besok-besok? Keburu tuan Aska tau itu mah."
"Iya deh bi. Mana tespecknya? Sini Sassya minta tiga. Nanti kalau hasil pertama buram kan Sassya bisa langsung tes pakai yang duanya lagi."
"Bentar bibi ambil. Non tunggu di toilet." Ujar bi Sumi sambil berlalu menuju lemari pakaiannya.
Sassya menurut. Gadis itu langsung masuk ke toilet. Tak lama setelahnya bi Sumi datang dan menyerahkan tiga buah tespek pada Sassya.
Setelah mencelupkan ketiga tespeck itu secara berbarengan Sassya dan bi Sumi sama-sama saling pandang dengan raut wajah berbeda dan perasaan berbeda pula.
"Gak papa non." Ujar Bi Sumi sambil menenangkan Sassya yang tampak meneteskan air matanya.
Ia menarik gadis itu ke dalam pelukannya.
♡♡♡
__ADS_1
Sambil nunggu aku up...mampir ya ke novel temenku ini...