Tautan Takdir

Tautan Takdir
Tengah Malam


__ADS_3

Zee keluar sambil memijit pelipisnya yang sedikit pusing. Ia baru saja keluar dari kamar Sassya setelah hampir satu jam membujuk wanita itu agar mau makan.


Jika kalian bertanya bagaimana cara Zee mengancam Sassya,oh jawabannya pasti dengan cara ekstrim.


Ia tahu jika Sassya takut pada cicak bahkan cenderung phobia,jadi dengan senang hati Zee membawa kedua makhluk imut-imut mencengangkan tersebut dalam sebuah toples dan mengancam akan meletakkannya di kepala Sassya jika ia tidak mau makan.


Dan berhasil,Sassya akhirnya mau makan walaupun masih dengan muka kusut dan bibir manyun bak corongan bensin. "Bodo amatlah,yang penting dia makan." Begitulah motto Zee hari ini dan mungkin seterusnya jika menghadapi ibu hamil modelan Sassya.


♡♡♡


"Lo langsung pulang Queen?" Tanya Bara begitu Zee datang dan menghempaskan tubuhnya ke atas sofa.


Zee mengangguk."Langsung..,tapi gue capek banget. Ada yang bisa nganterin gue gak?"


Beberapa anak Dark Night tampak mengangkat tangannya tanda bersedia.


"Biar gue aja." Kai yang baru muncul dengan sekantong coffee cup terdengar menyela.


Setelah meletakkan kantong kresek berisi beberapa gelas kopi tersebut,Kai merogoh saku jasnya dan mengeluarkan kunci mobil.


"Ayo,mau pulang sekarang kan?"


Tanya Kaivan lagi.


Zee menatap Kaivan ragu. Sejujurnya ia tidak mau semobil berdua dengan Kai,secara pria ini pernah menyukainya di masa lalu dan bahkan saat Zee sudah berpacaran dengan Arkhan pun Kaivan masih menyukai Zee,sementara hal lain yang membuat Zee sungkan adalah status Kaivan saat ini. Ia adalah tunangan Delice dan kabarnya mereka akan menikah setelah Delice lulus kuliah,sedangkan Delice juga merupakan calon adik ipar Zee. Rumit.


"Kok ngelamun? Ayo gue anterin."


"Eh." Zee menggaruk tekuknya yang tak gatal karena kepergok melamun." Ya udah deh,ayo. Tapi ke apartemen gue ya,takutnya  bokap gue curiga kalau gue pulang selarut ini."


Kai mengangguk singkat.


♡♡♡


Pukul dua belas malam...


Sepasang kaki tampak mengendap-endap dari balik tembok sebuah mansion mewah. Sesekali sepasang kaki tersebut berhenti dan tubuhnya tampak di rapatkan ke tembok bak orang tengah menguping.


Samar-samar masih bisa di dengar jika di dalam mansion tersebut ada suara orang-orang yang menandakan masih ada penghuni yang bangun.


Setelah mengendap-endap mengintari tembok yang tingginya lebih dari lima meter tersebut. Akhirnya tibalah pria bertopeng tersebut di satu sudut yang terdapat pintu masuk dari besi. Di sudut pintu tersebut ada cctv yang membuat pria itu harus semakin merapatkan tubuhnya ke cerungan tembok agar badannya terhindar dari jangkauan CCTV.

__ADS_1


Berbekal dua gulung tali dan dua buah pengkait,pria itu perlahan memanjati tembok kokoh tersebut hingga beberapa menit ia sudah sampai di puncak.


Masih ada beberapa rintangan sulit lagi yang harus ia hadapi,salah satunya adalah menuruni tembok tadi. Dan dengan penuh kehati-hatian serta niat dan tekad yang sudah di bulatkan,akhirnya pria misterius tadi mendarat juga di atas rerumputan yang berada di tepian mansion.


Masih dengan posisi mengindari jangkauan CCTV,pria itu pun merangkat menuju ke bawah sebuah kamar yang menjadi target pencapaiannya malam ini.


Namun karena posisi kamar itu berada di lantai dua,artinya ia harus memanjat lagi dan permasalahannya ada CCTV di dinding. Memang dirinya memakai topeng namun CCTV tersebut tetap harus di atasi. Caranya adalah dengan di tutupi menggunakan tanah.


"Ini cara terekstrim bertamu yang pernah ku lakukan."


Situasi cukup aman saat ini,dan hal itu di gunakan oleh sang pria untuk naik ke atas balkon dan blashhh....


Jika segalanya berjalan dengan mulus maka ia akan segera masuk ke dalam kamar sang target.


"I,m coming..."


♡♡♡


Tok... Tok... Tok...


Beberapa kali terdengar ketukan dari balik pintu balkon. Pria itu sudah harap-harap cemas. Kepalanya melongo ke sana kemari memastikan keadaan seratus persen aman.


Masih belum ada reaksi apapun dari dalam sana,tanda-tanda sang pemilik akan membukakan pintu untuknya pun belum ada.


"Sassya Bellvara."


"Sassya Bellvara."


"Sassya Bellvara."


Panggilnya berulang.


Di dalam sana sang penghuni kamar yang sudah tertidur lelap tampak terusik. Matanya mengerjab-ngerjab sebelum akhirnya terbangun dan samar-samar ia mendengar namanya di panggil dari arah balkon.


Bulu kuduknya agak merinding apalagi saat melirik jam sudah menunjukkan waktu tengah malam. Siapa yang berada di luar sana? Pertanyaan itu jelas langsung terbersit di otaknya.


"Sassya Bellvara."


Sassya membulatkan matanya,ia kenal suara berat satu ini. Dengan segera ia membuka selimut dan turun dari tempat tidur,kaki telanjangnya melangkah pelan-pelan menuju pintu balkon.


"Ceklek..."

__ADS_1


Tatapan Sassya dan orang itu bertemu,entah kenapa melihat sosok yang ia kenali juga sosok yang sangat ia rindukan tersebut membuat perasaannya berkecamuk.


Seketika itu juga Sassya menangis sambil menarik masuk pria tersebut dan memeluknya erat. Ia tidak peduli jika pria ini terkejut atau bahkan akan mendorongnya. Ia tidak peduli.


Namun semua pra-duga di otak Sassya salah. Pria itu justru membalas pelukannya dengan hangat sembari mengusap-usap punggung Sassya dengan lembut.


"Tenanglah bodoh,kenapa kau menangis?"


Sassya menggeleng dan memilih semakin membenamkan tubuhnya ke dada pria tersebut.


"Tuan ak..aku merindukanmu." Akhirnya Sassya bersuara.


Aska menghela napas berat. Hatinya mendadak mencelos mendengar ucapan Sassya ada rasa sakit sekaligus rasa yang sulit di jelaskan,tak di pungkiri pelukan Sassya juga membuatnya merasa nyaman. Tanpa sadar Aska semakin mengeratkan pelukannya sembari menghirup aroma shampo yang merebak dari rambut Sassya.


Di pisahkan cukup lama dengan Sassya membuat Aska sedikit sadar jika ada sedikit ruang yang hilang dan itu semakin terasa saat ia berpelukan dengan Sassya dalam posisi sedekat ini.


"Krukk.."


Tiba-tiba perut Sassya berbunyi membuat adegan semi romantis barusan terpaksa harus berakhir. Sassya melepaskan dirinya dari pelukan Aska dan mundur beberapa langkah sambil terus menunduk menutupi wajah jengahnya. (Catat guys: Jengah dlm KBBI \=malu\=grogi\=salting)


"Kau lapar?" Tanya Aska heran. Padahal sudah tengah malam,tidak mungkin kan Sassya belum makan.


"Apa teman-teman nona Michelle tidak memberimu makan?" Tanya Aska lagi.


Sassya menggeleng. "B..bukan begitu,i..ini memang hormon hamil. S..selain itu aku juga tidak mau makan." Ujar Sassya gugup.


"Kau tidak mau makan karena hormon hamil juga?"


Sassya menggeleng,membuat Aska menatapnya dengan tanda tanya.


"Lalu kenapa?"


"K..karena aku...,aku mengkhawatirkanmu tuan Aska,dan aku melakukan aksi mogok makan agar Zee mau mempertemukan aku dan tuan!"


♡♡♡


Otor : sebenarnya tuh...tadi aku mau buat Alex yang datang. Tapi karena aku mau mempercepat novel ini tamat maka aku harus selesain konflik akhir ini,masih ada plot twice sih soalnya masih sekitaran dua puluh bab lagi menuju tamat.


Jadi kayak masih ada konflik-konflik lain lagi,dari pihak Chintiya,dari pihak Rama,Zee,Alex,dan tokoh utama.


Pokoknya gitulah.

__ADS_1


Terus nanti juga ada dua puluh bab yang udah aku setting buat bonchap,semoga aja masih ada yg baca...


Like vote komen guys..


__ADS_2