Tautan Takdir

Tautan Takdir
Ya Udah Terserah Lo


__ADS_3

"Ayo pulang!" Zee berusaha menarik tangan Sassya namun gadis itu menghindar ke sisi lain seraya memeluk erat lengan Aska.


Zee menggeram kesal.


"Sassya!! Jangan buat gue marah!!


Zee kembali mencoba menggapai tangan Sassya,namun gerakannya di hentikan oleh Aska. Pria itu menghalangi pintu dengan menggunakan badan besarnya.


Pintu yang memiliki dua daun tersebut memang cukup merepotkan,sebelah pintunya masih tertutup dan Sassya bersembunyi di bagian daun sebelahnya. Sedangkan bagian daun pintu yang terbuka di halangi Aska dengan badan besarnya.


"Aska. Kembalikan adikku!" Bentak Zee geram.


Aska masih tak bergeming. Seolah ucapan Zee hanya angin lalu.


"Aska!!"


"Nona Michelle. Bicaralah baik-baik,apa nona Michelle tidak di ajarkan etika ber.."


"Plak!!"


Zee menampar pipi Aska dengan kasar membuat kepala pria itu tertoleh ke samping.


"Tutup mulutmu. Jangan pernah mengajari aku tentang etika,kau tak ubahnya laki-laki pengecut yang juga tidak punya etika. Laki-laki pengecut yang berani menikahi wanita secara paksa,menghamilinya secara paksa dan kini memaksanya kembali dengan cara menculiknya,harusnya predikat lelaki minus etika itu jatuh ke tangan mu. Bukan aku!"


Aska terdiam menanggapi ucapan Zee. Namun jika di lihat ke wajahnya,tak ada tanda-tanda jika pria itu menyesal. Justru tampangnya semakin di buat menyebalkan dan itu berhasil membuat Zee naik darah.


"Aska. Keluar kau!!" Zee berusaha menarik Aska keluar,namun Sassya yang berada di belakang Aska terus memeluk lengan Aska membuat tubuh pria itu tertahan.


"Zee. Jangan kasar-kasar. Gue gak papa kok di sini,ini emang kemauan gue. Bu..bukan tuan Aska yang paksa." Sassya berusaha menjelaskan dengan suara memelas.


Zee menghentikan aksi tarik menariknya kemudian menatap Aska tajam.


"Aska. Tolong berhenti membuat masalah,aku tau kau tidak tulus pada Sassya,kau menjemput Sassya karena mau menggugurkan anak yang ada di dalam kandungan Sassya,mengaku saja!"


"Itu tidak benar!" Jawab Aska cepat.


Zee melengos malas. "Lalu apa tujuanmu? Mau merawat? Apa kau lupa jika kau tidak mau ada keturunan Ghatama yang hadir dari rahim adikku? Tidak mungkin kan kau berubah pikiran secepat itu! Jadi kembalikan adikku."


"Aku tidak mau."


"Sassya! Please jangan buat gue pusing,lo sendiri yang bilang kalau Aska gak mau punya anak dari rahim lo. Lo kenapa mau di ajak balik ke sini? Lo pikun? Gak takut kalau Aska macam-macam?" Tanya Zee kesal.


Sassya masih belum memunculkan wajahnya. Namun suaranya terdengar menjawab,"Zee. Dengerin gue,anggap aja apa yang gue bilang gak pernah terjadi. Gue nyaman kok di sini,beberapa hari di mansion Dark Night ngebuat gue sadar kalau gue gan bisa jauh-jauh dari suami gue,tuan Aska. Lo gak bakalan ngerti rasanya Zee,karena lo belum nikah." Semprot Sassya asal mangap.


"Semprul." Batin Zee mengumpat.


"Sya..."


"Gue janji Zee. Setelah ini gue pasti gak bakalan ngerepotin lo. Gue..."


"Atas dasar apa? Sampe lo berani ngomong kayak gitu? Lo di kasih jaminan apa sama Aska? Janji palsu yang belum tentu bisa dia tepatin?" Tanya Zee kesal sekesal kesalnya.

__ADS_1


"Zee,Aska suami gue..."


"Fine. Gue tau! Tapi dia CUMA suami kontrak! Berhenti pura-pura bego Sya,jangan karena hormon hamil lo,otak lo jadi ikutan konslet."


"Gue serius! Gue janji gue bakalan baik-baik aja di sini."


"Sya!" Zee mengusap wajahnya frustasi.


Andai saja bibir Sassya sekarang ada di depan wajahnya. Mungkin sudah Zee jadikan perkedel saja,agar berhenti protes dan mau menuruti maunya.


"Sya.."


"Gue janji Zee. Janji!"


"Bukan satu kali Sya. Lo udah ngomong kayak gini berkali-kali. Lo selalu bilang,setelah masalah ini lo gak bakalan ngerepotin gue,setelah masalah itu lo gak bakalan ngerepotin gue. Lo selalu bilang lo akan baik-baik aja tanpa gue. Tapi apa? Ujung-ujungnya lo ketemu gue lagi! Ujung-ujungnya tetap gue yang bantuin lo.  Jangan biasain diri lo buat ngejanjiin hal yang gak bisa lo tepatin Sya.."


"Makanya itu Zee. Gue mohon lo sekarang pergi biar gue bisa nepatin janji gue." Teriak Sassya memotong ucapan Zee dari belakang Aska.


"Gue bakalan pergi kalau lo ikut."


"Gue gak mau. Lo pergi-pergi aja,gue bisa kok tanpa lo." Sassya masih kekeh pada pendiriannya.


"Oke kalau itu mau lo. Tapi liat aja,dalam satu atau dua hari ke depan,gue jamin. Lo bakalan liat perubahan dalam diri suami lo yang mati-matian lo bela sekarang. Gue jamin Sya,dia gak bakalan berubah jadi baik kecuali di kasih musibah." Zee berkata sambil menunjuk-nunjuk muka Aska namun Aska masih tak gentar di tempatnya.


" Zee mendingan lo pergi deh. Jangan buat keributan di sini gue capek,gue mohon lo pergi ya."


"Oke gue pergi. Tapi..."


"Nona dengar kan? Apa yang istri saya bilang? PERGI." Aska menekankan kata 'pergi' di depan wajah Zee.


"Jadi..." Aska mengangkat satu tangannya kemudian menunjuk gerbang rumahnya.


"Anda tau kan di mana pintu keluarnya? Oh, atau perlu saya tunjukkan? Kalau begitu ayo." Aska bersiap menarik tangan Zee namun segera di tepis oleh Zee.


"Tidak perlu bersusah payah. TUAN SKY YANG TERHORMAT. Saya bisa PERGI sendiri dari tempat menjijikan ini. Lagipula untuk apa saya mati-matian membela dan berusaha menolong orang yang sama sekali TIDAK BUTUH bantuan saya. Buang-buang waktu saja."


Ucapan Zee terdengar sangat sarkas dan pastinya menyinggung Sassya yang saat ini hanya bisa tertunduk takut di belakang Aska. Jauh di sudut hatinya,ia sedikit menyesal sudah melawan Zee. Tapi ia juga sudah kepalang basah. Ia sudah terlanjur meludah dan tidak mungkin menjilat ludahnya lagi.


"Saya permisi." Ucap Zee singkat dan tajam,sebelum akhirnya berbalik meninggalkan dua pasangan aneh tersebut.


♡♡♡


Satu jam kemudian....


"Brak...!!" Zee membanting pintu mobilnya dengan kencang. Saat ini dirinya sudah kembali ke kantor dan hari benar-benar sudah sore,sudah hampir pukul empat dan sebentar lagi jam pulang kerja,seharusnya.


Namun karena agenda Zee harus tertunda akibat mengurusi Sassya,terpaksa untuk hari ini ia harus lembur. Sungguh hari yang sangat sial bagi seorang Azellea William Michelle.


"Drrttt.." Handphone di saku blazer Zee terasa bergetar.


Setelah melihat nama pemanggil Zee pun mengangkatnya dengan malas. Panggilan vidio tersebut pun terhubung dan terpampanglah wajah segar Arkhan yang sepertinya habis mandi. Tumben pikir Zee padahal hari ini hari sabtu. Bukankah seharusnya Arkhan sedikit bersantai menyambut weekend? Dia kan mahasiswa beda dengan Zee yang seorang CEO.

__ADS_1


"Halo Ar."


"Hai..." Arkhan menyapa Zee dengan senyum sumringah.


"Mau ke mana sepagi ini?"


Tanya Zee menyelidik. Ya,waktu di tempat Arkhan seharusnya memang masih pagi. Atau lebih tepatnya subuh,sekitar jam lima. Karena saat Arkhan menelponnya di mobil tadi,di New York harusnya masih malam dan sekarang di Indonesia hampir pukul empat sore dan artinya di New York hampir pukul lima subuh.


"Aku ada acara sama teman-teman aku di luar kampus. Makanya siap-siap dulu." Ujar Arkhan sambil sesekali terlihat menyugar rambutnya.


Tidak di pungkiri,tinggal lama di luar negeri makin membuat Arkhan mirip bule,dan itu membuat Zee khawatir Arkhan akan ketempelan cewek-cewek bule. Padahal dia kan juga bule.


"Hei..,kenapa bengong?" Tanya Arkhan membuat Zee tersadar.


"Gak papa. Jadi ada acara ya? Sama siapa aja?" Tanya Zee mencoba menanggapi dengan positif thingking walaupun otaknya bernegatif thingking. Melihat Aska yang sudah punya istri secantik Sassya saja bisa mendua,apalagi Arkhan yang statusnya masih pacar.


"Sama teman-teman aku. Kamu tenang aja,kita ramai-ramai kok."


"Oh ya,semalam kamu kemana? Kenapa ponsel gak bisa di hubungi?"


Arkhan tampak menggaruk-garuk kepalanya.


"Semalam ya? Aku ke club. Hehe."


"Kamu sering main ke club?" Tanya Zee lagi.


Arkhan terdiam sebentar,kemudian tampak mengangguk."Lumayan."


"Sama siapa?"


"Temen Zee. Tapi serius aku gak ngapa-ngapain cuma minum sedikit aja,kamu kenapa sih? Kayak curiga gitu?"


"Gak papa. Kalau bisa kurangin kebiasaan kamu Ar,aku takut kamu terlalu terjerumus ke dalam pergaulan bebas."


"Zee. Aku bisa jaga diri,aku udah dua tahun di sini dan selama ini aku gak kenapa-napa kan? Udah ya kamu tenang aja,dua minggu lagi aku pulang buat ngehadirin pernikahan Zergan. Kamu jemput aku ya di bandara buat mastiin keadaan aku kalau kamu masih gak percaya. Sekarang aku harus siap-siap karena sebentar lagi aku mau keluar. Bye sayang.."


Arkhan seenaknya memutuskan telepon tanpa menunggu jawaban Zee membuat mood  Zee makin hancur saja.


"Drrttt.."


Beberapa detik setelahnya ponsel Zee kembali berdering. Kali ini dari nomor tak di kenal,malas menanggapi. Zee memilib memasukkan handphonenya ke saku blazernya.


Namun handphonenya kembali bergetar. Dengan kesal Zee pun langsung mengangkat teleponnya.


"Halo!!" Sapa Zee ketus.


"Halo,dengan nona Michhele? Bisa kita bicara sebentar?? Tentang Sassya."


♡♡♡


Jangan lupa Like vote komen....😀😀

__ADS_1


Besok UP dua bab. Bayar utang karena kemarin gk up. Aku sakit kemarin hehe😂


__ADS_2