
Rama menatap ponsel di tangannya untuk yang kesekian kalinya. Ini sudah hari kedua dan sejak kemarin hingga semalam dan hingga hari ini lagi,ia masih menunggu telepon ataupun pesan dari seseorang yang tak lain adalah Sassya.
Hatinya di liputi rasa penasaran tinggi,tentang hubungan aneh yang kemarin di ceritakan Sassya.
Sassya bilang,Chintiya punya pacar bernama Aska dan Aska itu suami Sassya. Lalu kenapa bisa Chintiya berpacaran dengan Aska kalau Aska suami Sassya? Lalu kenapa bisa Sassya dan Rama adalah korban Chintiya dan Aska? Dan baru tadi pagi juga Rama di kejutkan dengan kabar kehamilan Chintiya,tadi pagi Chintiya pingsan dan Rama langsung memanggil dokter ke sana.
Setelah di periksa ternyata Chintiya hamil. Tadi wanita itu sempat menolak berita mengejutkan tersebut,ia bahkan nyaris menghancurkan barang-barang di kamar hingga dokter terpaksa memberikannya obat penenang dosis rendah dan kini wanita itu tengah tidur.
"Shitt!! Kenapa jadi serumit ini?" Batin Rama sambil mengusak rambutnya frustasi.
"Prang..." Terdengar bunyi benda jatuh dan pecah dari dalam kamar Chintiya,membuat antensi Rama terpecah.
Matanya membulat,dan tubuhnya bergerak cepat menuju kamar. Sesampainya di sana ia melihat lampu tidur di atas nakas yang baru tadi ia ganti sudah pecah lagi.
Dan di tepi kasur ada Chintiya yang tengah duduk bersimpuh sambil memeluk lutut. Kedua pundaknya juga bergetar,sepertinya wanita muda itu menangis.
"Ya ampun. Padahal lampunya baru aku beli." Batin Rama tak rela,melihat lampu bermotif ikan itu pecah mengenaskan di lantai.
"Lo kenapa lagi sih Chin?" Tanya Rama dengan nada sedikit kesal sambil berjalan mendekati Chintiya.
Chintiya mengangkat kepalanya dengan wajah kusut,mata sembab dan rambut acak-acakkan yang menutupi sebagian wajahnya.
"Kau!!" Tunjuk Chintiya pada Rama.
"Kenapa kau memasukkan kecebong hidup ke dalam rahim ku. Hu...hu..hu...,aku tidak mau hamil anakmu bodoh!! Aku punya kekasih!!" Chintiya memukul-mukul dada Rama yang kini sudah duduk bersimpuh di hadapannya.
Rama hanya diam,membiarkan Chintiya melampiaskan emosinya. Ia sendiri bingung harus bereaksi seperti apa,karena otaknya juga sedang kacau saat ini.
"Aku mati saja!! Aku tidak mau Aska tau kehamilanku!! Dia akan membeciku!! Jadi lebij baik aku mati saja!!"
Chintiya makin meraung tidak jelas. Tubuhnya semakin melemah hingga hampir luruh ke lantai jika Rama tidak menahannya.
"Jangan macam-macam Chin. Gue udah bilang sedari awal,gue bakalan tanggung jawab. Jadi lo gak perlu mikirin kekasih lo lagi,gue bisa perlakuin lo lebih baik dari..."
"Bohong!! Pokoknya aku mau gugurin anak ini. Dia gak pantes hidup di rahim aku,dia bukan anak aku!!"
Rama memejamkam matanya,masih berusaha sabar menanggapi ucapan Chintiya yang sudah kelewat batas.
"Chintiya dengerin gue. Oke fine,kalau lo gak mau ngakuin anak itu. Gak masalah,tapi tolong. Tolong biarin dia hidup di sana sampai dia lahir,gue janji bakalan rawat anak itu sendiri kalau lo emang gak mau terlibat,tapi tolong jangan berbuat hal yang bisa membahayakan kalian."
__ADS_1
"Aku gak mau Rama!! Aku gak mau anak ini hidup," Chintiya memukul-mukul perut datarnya dan itu berhasil membuat emosi Rama menanjak.
"Hentikan bodoh!!" Rama menahan tangan Chintiya dan langsung memeluk gadis itu kuat agar ia tidak meronta.
"Hiks..hikss...,perut ku sakit!!" Tangis Chintiya kembali pecah saat merasakan sakit luar biasa di perutnya.
Badannya terkulai lemas di dalam pelukan Rama membuat Rama panik bukan main.
"Kau kenapa,hei!" Rama mengguncang-guncang bahu Chintiya sedikit kasar namun Chintiya sudah terlanjur tak sadarkan diri.
"****!!" Umpat Rama kesal.
Belum satu jam Chintiya sadar,dan sekarang ia sudah pingsan lagi. Rama makin khawatir dengan kondisi kandungan Chintiya serta psikologis wanita itu,ia takut mereka kenapa-napa.
Rama langsung menggendong Chintiya keluar apartemen. Setidaknya gadis itu harus mendapatkan perawatan langsung di rumah sakit,bila perlu ia akan menyuruh psikolog sekaligus untuk membantu memperbaiki kondisi mental Chintiya.
Dan urusan,kekasih Chintiya. Siang ini juga ia akan mencari Sassya untuk meminta penjelasan,atau bila perlu ia ke kantor nona Michelle karena bisa di pastikan wanita serba tahu itu sudah tahu permasalahan Sassya.
♡♡♡
Perusahaan William.Corp
Sedari pagi Zee tampak uringan-uringan di ruangan kerjanya. Pacarnya,Arkhan. Yang sudah dua tahun ini tinggal di New York,mendadak hilang tanpa kabar.
Dan sekarang,sudah pukul dua belas siang di Indonesia dan berati di New york sekitar pukul satu pagi. Makin tidak mungkin saja untuk Zee menghubungi Arkhan. Padahal ia sangat kangen dengan ocehan pria itu,sekaligus ingin menanyakan perihal cokelat yang kemarin siang di beri Sassya padanya.
"Argghh!!" Teriak Zee frustasi.
Bersamaan dengan itu,Sandra tampak masuk ke dalam ruangan Zee sambil menenteng tas.
"Kenapa lo?" Tanya Sandra heran saat melihat raut wajah Zee yang tampak kusut.
"Eh?" Zee tersadar jika ada orang lain di sana.
"Ckk...,ngapain lagi lo ke sini? Mau minta izin pulang lagi?" Tanya Zee sinis. Sudah dua hari ini Sandra selalu pulang cepat karena sibuk mengurusi persiapan pesta pernikahannya dan Zergan dan kesibukan Sandra cukup membuat Zee sibuk juga,karena banyak hal yang harus Zee handle sendiri.
"Iya. Gue sama Zergan hari mau nemuin WO yang bakalan ngurus persiapan gedung pernikahan gue,gak papa kan?"
"Hm."
__ADS_1
"Lo kenapa sih?" Tanya Sandra heran. Zee memang dingin,tapi vibes dinginnya kalau lagi ada masalah tuh nambah,jadi Sandra curiga.
"Tanya sama suami lo nanti,adiknya kemana? Telepon sama chat gue kalau bisa di balas. Jadi orang sok sibuk banget,gue yang CEO aja masih sempat meritilin keyboard buat nanya apa kabar." Gerutu Zee emosi,mana dia lagi datang bulan. Double emosi jiwa guys!!
"Ohhhh..,itu. Ya,nanti gue tanyain. Gue pulang ya." Ujar Sandra sambil melangkah kembali menuju pintu.
Zee berdecih."Gitu doang?"
Sandra yang sudah meraih handle pintu kembali berbalik."Ya terus?"
"Gak jadi. Udahlah,mending sana lo. Pulang sana."
"Oke. Ini juga mau pulang." Ujar Sandra santai membuat Zee makin bertanduk,namun Sandra mengacuhkannya.
Sesaat setelah Sandra keluar....
"Ceklek.." Pintu dari kayu jati tersebut kembali terbuka.
Zee mengangkat alisnya."Kenapa lagi?"
"Itu,sebenarnya tadi gue mau nyampein pesan dari dokter Zara. Tadi katanya dia ke mansion Dark Night dan di sana dia nemuin anak-anak pada pingsan,Rafa dan Bara juga ke kunci di ruangan kerja mereka,setelah dokter Zara periksa,katanya mereka tadi di bawah pengaruh bius. Dokter Zara udah coba hubungin lo,tapi gak di balas. Nanti coba di cek handpone lo. Gue pamit lagi nih." Ujar Sandra sambil menutup kembali pintu ruangan Zee dan kali ini ia benar-benar melangkah pulang.
Sedangkan Zee,gadis itu segera memeriksa ponselnya dan benar saja. Ada puluhan pesan dari dokter Zara,Dirga,Bara,dan Rafa.
Dan saat ia membuka isi pesan yang di kirim Dirga. Mata Zee seketika melotot. Jantungnya berpacu cepat dan emosi di otaknya seketika naik ke ubun-ubun.
"SASSYA BELLVARA!!!"
♡♡♡
Otor : Gue mau pantun dulu....
Buah manggis buah ke dondong.
Bagi votenya dong...
Lagi-lagi....
Buah apel buah semangka
__ADS_1
Like komennya juga jangan lupa...
EAaaaaaaa😂😉😘