Tautan Takdir

Tautan Takdir
Monster


__ADS_3

Aska mengusap pipinya yang memerah karena baru saja mendapatkan hadiah spesial dari Chintiya. Hadiah yang bahkan tidak pernah terbayangkan sedikitpun oleh Aska selama ia menjalin kasih dengan Chintiya.


"Chintiya menamparku? Yang benar saja!"


"Ada apa dengan kekasihku hari ini? Kenapa dia tiba-tiba berubah menjadi monster."


Gumam-gumam lirih terdengar dari mulut Aska saat ia keluar dari kawasan apartemen Chintiya. Gadis itu bahkan berhasil mendepak Aska keluar dari apartemennya dengan cara yang sangat tidak sopan.


Andai orang itu bukan,Chintiya. Mungkin sudah Aska tampar,Aska pukul,atau Aska lemparkan saja dia ke bawah. Untuk melampiaskan emosinya.


Merasa keadaannya tak baik,Aska memilih pulang saja daripada kembali masuk dan di amuk lagi oleh Chintiya.


Aska menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang meninggalkan kawasan apartemen Chintiya.


Sementara di dalam apartemennya. Chintiya tampak meratapi keanehan yang ia rasakan hari ini.


"Aku kenapa sih?" Tanya nya pada dirinya sendiri.


Dengan perasaan sedih,gadis itu merapikan makanan yang tadi sudah ia saji dan membuangnya ke tempat sampah. Ia sudah malas makan,namun perutnya terasa lapar.


"Aku mendadak ingin makan rujak buah." Gumam Chintiya dengan nada mendamba. Bahkan air liurnya hampir menetes.


"Harus! Aku harus mencari rujak buah itu."


Chintiya berkata sambil berlari masuk ke dalam kamarnya untuk mencari kunci mobilnya. Ia harus segera menemukan makanan yang membuatnya hampir ngiler malam ini juga.


♡♡♡


Sementara di tempat lain,ada Sassya yang kini  tengan merepotkan anak-anak Dark Night dengan ngidamnya.


"Bisa gak Bar?" Tanya Chintiya pada Bara yang sedari tadi ia mintai untuk mengambil buah mangga di atas pohon mangga yang ada di belakang mansion.


"Susah Sya,pada jauh-jauh ini buahnya. Mana belum ada yang gede. Bisa gak sih kita beli aja mangganya?"


Teriak Bara dari atas pohon.


Wajah Sassya tampak di tekuk mendengar jawaban Bara.


"Kalau beli lama dong dapetnya. Gue tuh pengen buat manisannya malam ini juga. Kalau harus nyari pasti lama,gue mau mangganya tuh sekarang,bukan nanti apalagi besok. Ngerti gak sih?"


Bara tak peduli,ia tampak turun dari atas pohon dan berjalan menghampiri Sassya sambil mematikan senter yang tadi ia gunakan sebagai penerangan.


"Kenapa gak langsung beli manisan aja sih? Ribet banget sih ke inginan anak lo. Minta sama bapaknya aja gimana?"


Wajah Sassya tambah murung mendengar ucapan Bara.


"Gue becanda Sya." Ujar Bara tak enak hati.

__ADS_1


Ia segera merangkul pundak Sassya dan membawa gadis itu masuk ke dalam mansion.


Di dalam sana,Sassya langsung di sambut tatapan sinis dari Rafa.


"Lo ngerepotin abang gue lagi?"


"Jadi cewe kerjaan caper mulu,gak cape lo?"


Sassya tersentak mendengar pertanyaan menusuk yang Rafa beri.


"G..gue gak maksud caper Fa. M..maaf kalau kesannya gue ngerepotin kalian. Tapi semua ini murni bawaan an.."


"Anak,anak lo. Bukan tanggung jawab kita ngabulin ngidam lo. Harusnya ya,Queen gak nemuin lo hari itu. Gara-gara lo,Queen jadi sering berantem sama bokapnya. Queen juga ngorbanin banyak hal buat lo,heran. Kenapa juga Queen mau ngelakuin hal yang gak penting kayak gini."


"Oh satu lagi,lo gak malu ya? Nerima bantuan Queen? Sadar gak sih lo? Lo itu pernah ngancurin hidup Queen,lo itu.."


"RAFA STOP!!" Bara membentak adiknya kasar.


"Kenapa sih kak? Kakak belain dia? Suka kakak sama dia?"


"Bisa gak sih lo jangan kayak cewek gini. Sejak kapan nyinyir jadi motto Dark Night? Queen dan Kai gak pernah ngajarin kita buat naruh dendam sama orang. Kita semua dari masa lalu yang buruk Raf,termasuk gue dan lo. Kita di persatuin di sini buat membentuk keluarga baru,keluarga yang gak kita dapatin di rumah kita. Pahamkan lo?"


"Paham banget kak. Tapi cuma kita,buka dia." Rafa menunjuk Sassya dengan tatapan tajamnya.


"Dia BUKAN bagian dari Dark Night."


"Udah Bar! Jangan marahin adik lo. Rafa bener,gue emang bukan bagian dari Dark Night dan gak seharusnya gue ngerepotin kalian dengan masalah gue."


"Bagus kalau lo sadar." Sinis Rafa.


"Gue bakalan cari mangganya sendiri."


Sassya memilih berlalu keluar untuk menuruti ngidamnya.


"Sya!"


Bara segera mencekal tangan Sassya.


"Biar gue sama Andre yang nemenin lo."


Bara berkata sambil menunjuk salah satu anggota Dark Night yang juga berada di situ.


"Gak usah Bar. Gue gak..."


"Biarin aja sih! Lo ngapa jadi sok care gini sih kak?"


"Rafa! Bisa gak sih,lo diam!"

__ADS_1


Bara yang sudah kepalang emosi langsung mencengkram kerah baju sang adik dengan kuat.


Rafa tak tinggal diam,ia juga mencengkram kerah baju sang kakak tak kalah kuat.


"Lo yang harusnya diem!! Kenapa lo jadi cemen gini sih? Lo suka sama dia?"


"Gue ngelakuin ini semua atas perintah Queen. Lo lupa?"


"Gue gak peduli!!"


"Lo harus peduli,karena ini perintah Queen."


"Bara,Rafa.."


Andre dan Jo yang ikut menginap di Mansion Dark Night malam itu mencoba melerai dua saudara yang kini tengah berseteru.


Sementara,Sassya. Gadis itu malas ikut campur,perutnya terasa mual saat keinginannya belum tersampaikan. Jadi ia memilih kabur saat mereka sibuk berdebat.


Ia mengambil salah satu mobil yang ada di parkiran Dark Night. Entah itu mobil siapa,Aska tidak peduli. Intinya ia harus mencari mangga itu malam ini juga.


♡♡♡


Sassya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Menikmati suasana kota di malam hari dengan relax,ia sudah melupakan masalah barusan. Ia tak ambil pusing tentang omongan Rafa,toh wajar jika Rafa semarah itu. Semua ucapan Rafa tentangnya memang tak salah.


Tapi ucapan Zee yang mengatakan akan menjadi sandaran pertamanya juga harus ia ingat,ia berjanji tidak akan menghianati kepercayaan Zee lagi kendati pun ada Rafa yang akan menghalanginya. Nanti pelan-pelan juga,Rafa pasti bisa menerimanya. Jika toh memang tidak bisa,maka ia pun tidak mau memaksa.


Mobil yang di kendari Sassya terus melaju hingga melewati sebuah kedai es krim. Tiba-tiba saja Sassya merasa ingin mencicipi makanan dingin nan manis satu itu.


"Beli es krim dulu,kali ya?" Batin Sassya.


Tanpa berpikir dua kali. Gadis itu putar balik ke arah kedai es krim dan singgah di depan kedai tersebut.


Setelah merapatkan cardigan yang tadi ia pakai. Sassya pun masuk ke kawasan kedai dan lansung menghampiri sang penjual.


"Mang,ice cream rasa Vanila satu. Pakai semua toping"


"Mang,ice cream rasa Vanila satu. Pakai semua toping."


Sassya menoleh ke arah samping,begitupun orang yang berada di sebelahnya. Keduanya saling tunjuk karena menyebutkan pesanan yang sama.


Masih dengan telunjukknya yang menggantung di depan wajah orang itu. Sassya tampak shock.


"Ngapain di sini?"


♡♡♡


Sambil nunggu otor up bab baru...mampir ya guys ke novel temen otor...sinopsisnya ada di bawah sini👇👇👇

__ADS_1



__ADS_2