
pagi hari kanita sudah terlihat rapih dan cantik ia ingin sekali beraktivitas seperti biasa nya, saat kanita sedang bersiap-siap merapikan tas nya Sabil masuk ke kamar kanita.
"kan kamu pagi-pagi udah rapi mau kemana" tanya Sabil
"aku mau ke kampus kak" jawab kanita
"emang udah boleh masuk kampus?" tanya nya lagi
"kakak aku udah sembuh" jawab kanita
"selesai dari kampus kamu mau kemana" tanya Sabil
"gak tau ke tempat kerja paling" jelas kanita dan Sabil pun mengangguk
kanita dan Sabil keluar dari kamar dan menuruni tangga kanita menghampiri Sisil dan Rio dan si kembar yang tengah berada di meja makan...
"good morning" ucap kanita mencium pipi sisil
"morning, kamu mau kemana pagi-pagi sudah rapi" tanya Sisil
"aku mau ngampus kak" jawab nya
"udah sembuh emang" tanya Rio
"sudah aku sudah merasa lebih baik" jawab kanita Rio pun menganggukan kepalanya
kanita menyantap makanan nya dengan lahap karena selama di rumah sakit makanan nya hanya bubur saja, meski sesekali ia merengek Kepada Eza meminta makanan dari luar tetap saja makanan rumah lebih nikmat...
kanita melirik anak kembar yang sedang fokus dengan makanan nya, ia mengernyit heran dengan Dio yang biasa bawel namun saat ini hanya diam saja.
"Dio" panggil kanita Dio pun mendongak menatap sang Tante
"apa anteh" jawab nya datar
"Dio kenapa kok tumben diem aja" tanya kanita lagi
"huh" Dio menghela nafasnya kembali menyantap makanan nya, kanita terheran sama Dio
"Dio?" panggil nya lagi
"apa anteh panggil-panggil aku Mulu" jawab nya kesal
"Dio kenapa si" tanya kanita heran
"anteh Dio itu selba salah! Dio ngomong Mulu di marahin Dio diem di tanya in. emang anak cowok itu selalu salah" jawab nya sebal
"hah" balas kanita melongo dengan mulut terbuka
"tutup anteh mulut nya tar ada kecoa masuk" ucap Dea memasukan potongan apel ke Mulut kanita
"cih kamu Tante lagi makan kenapa di kasi apel" dengus kanita Sabil dan Sisil hanya tertawa saja
"tadi mulut anteh kebuka jadi aku tutup pake apel" ucap Dea lagi
kanita berjalan ke arah Dio ia tak menghiraukan ucapan Dea, kanita bingung ada apa dengan bocah laki-laki yang selalu bawel terhadap nya itu.
"Dio kenapa masa Dio mau diemin ante" ucap kanita
"anteh cukup, Dio mau sekolah nanti aja kita lanjutin lagi" balas Dio turun dari kursi nya
"cih jual mahal sekali kamu" gerutu kanita namun Dio tidak menggubris nya.
...
saat ini kanita sedang berada di kampus ia berjalan menyusuri koridor kampus, disana ia melihat sosok nenek lampir yang selalu menganggu nya siapa lagi kalau bukan dela dan Tiara...
"huh pagi-pagi udah ketemu mereka aja" gumam kanita pelan.
"eh ternyata ada yang udah sembuh dari sakit nya nih" ucap dela
"iya kenapa gak ma*i aja sekalian" tambah Tiara namun kanita bersikap bodo amat tidak mau menanggapi.
hal itu membuat dela dan Tiara kesal dan menarik tangan kanita kasar.
"heh songong Lo ya" ucap Tiara
"cih. apaan si" balas kanita
"gue lagi ngomong sama Lo jal*Ng kenapa Lo malah pergi" teriak Tiara
"CK...Lo ngomong sama gue? kirain Lo lagi ngomong sama tembok" balas kanita tersenyum kecut
"Lo gak usah songong ya. jangan mentang-mentang Lo di sukai sama banyak cowok Teru Lo bertingkah semau nya" ucap dela membuat kanita tertawa getir
"hello nona-nona asal kalian tau gue gak pernah bangga banyak cowok yang suka sama gue. dan gue bukan wanita hal*Ng kaya apa yang kalian pikirkan! satu lagi gue gak ada hak buat larang mereka suka sama gue karena itu urusan mereka. selagi merek
ga usik hidup gue ya gue gak masalah kalo mereka suka sama gue" balas kanita. dela dan Tiara merasa kesal. berani sekali wanita ini berurusan sama mereka di saat siswi yang lain tunduk dan tidak berani hanya kanita lah yang selalu melawan mereka.
"gak usah bangga Lo. gue pastikan kak Azlan bakal benci sama Lo" teriak Tiara
__ADS_1
"hahaha silahkan gue gak takut! perlu Lo inget gue gak ada rasa sedikit pun untuk kakak senior Lo itu" balas nya meninggalkan dela dan Tiara
di tempat lain ria dan Lala sedang menunggu kanita, mereka sedang berada di kantin saat ini...
"lama banget si kankan" ucap ria
"tau lagi lulur dulu kaya nya" balas Lala. tidak lama kanita pun sampai dan duduk di samping Lala
"huh" lenguh nya
"woy lama amat Lo kemana aja? nyasar?" tanya Ria
"iya nyasar gue ke sarang Mak lampir" jawab kanita
"hah" respon ria dan Lala
"iya pagi-pagi apes banget gue udah di hadang sama mereka" ucap kanita
"yaaaaa Sian Lo kan" balas Lala
kanita dan dua sahabatnya pun masuk ke kelas karena dosen sudah datang.
di tempat lain Sisil sedang menemani Dio dan Dea belajar...
"bunda aku pengen main ke kantor ayah bunda" ucap Dio
"ngapain main ke kantor Dio" tanya Sisil
"bunda ayo dong Dio bosen belajar terus" jawab nya
"lah udah pinter ini anak bilang bosen" ucap Sisil
"bunda Dio kan anak ayah pasti nya Dio pinter kaya ayah" balas Dio
"iya kamu emang pinter sayang, bunda ngomong aja kamu jawab terus gimana gak pinter" ucap Sisil kesal sementara Dea sedang fokus dengan gambar yang sedang ia warnai
"kan kata Bu guru kalo orang ngomong itu di jawab bundah" balas Dio
"hah? Dio sayang dengerin bundah. kalo orang nanya baru jawab kan bundah lagi gak nanya sama Dio" ucap Sisil lembut
"iya Dio tau bunda tapi kan dari tadi bunda lagi ngomong sama Dio berarti harus Dio jawab" jelas nya
"hah yaudah gimana Dio aja lah bunda kalah Mulu kalo ngomong sama Dio" ucap Sisil pasrah
"bundah kita lagi ngomong bukan lagi berlomba mana ada menang kalah" balas Dio yang benar-benar menguras kesabaran sang bunda
"iya Dio siapa yang bilang kita lagi berlomba" tanya Sisil
"Dio bukan itu yang bunda maksud, dengerin bunda baik-baik" ucap Sisil pelan dan Dio pun mengangguk juga mengedipkan matanya. gimana Sisil bisa marah jika sang putra selalu membuat dirinya gemas, Dio sangat berbeda dengan Dea. Dio yang bawel yang aktif membuat Sisil senang selalu ada perdebatan di antara mereka.
"Dio itu pinter ngomong sama kaya ayah, dan Dio selalu jawab apa yang bunda omongin. Dio tantangan buat bunda karena Dio selalu mengajak bunda berdebat, bunda gak kesel sama Dio bunda juga gak marah karena bunda kalah ngomong. berkat Dio bunda gak merasa kesepian" jelas Sisil menggenggam tangan mungil Dio
sementara Dio mengerjakan matanya dan menatap sang bunda, Dio tahu Dio beda dengan Dea. jika Dio selalu mengajak sang bunda berdebat Dea tidak melakukan itu Dea lebih ke banyak nanya. kedua anak Rio dan Sisil sama-sama bawel dan cerdas maka dari itu Rio sangat menyayangi keluarga kecil nya...
"Dio mau ke kantor ayah?" tanya Sisil lagi dan Dio pun mengangguk kan kepalanya
"baiklah ajak kakak Dea kita ke kantor ayah" ucap Sisil mengalah karena baginya kebahagiaan anak-anak lah hal yang paling utama.
...
Sisil dan si kembar pun tiba di kantor Rio karena wajah kedua anak Sisil belum banyak yang mengetahui maka Sisil berhati-hati, wajah kedua anak nya hanya di ketahui Media saat masih bayi. itupun karena kanita dan Sabil yang selalu memposting foto Dio dan Dea...
saat berjalan memasuki lobby kantor Sisil menuntun tangan Dio dan Dea, semua karyawan menatap kagum kepada Sisil dan si kembar yang sangat tampan dan juga cantik. tidak hanya itu ada pula yang berbisik-bisik.
"itu Sisil sama anak nya kan" kata si A
"iya itu anak nya yang laki-laki mirip si bos banget" ucap si B
"itu bener kayak nya darah daging si bos" ujar si C
"iyalah Lo liat aja tuh yang laki-laki muka nya kaya si bos banget, sementara yang cewek itu perpaduan antara Sisil dan si bos" kata si A
Sisil tidak mempedulikan gosipan karyawan di kantor suaminya. ia terus berjalan menuju lift namun tiba-tiba pintu lift terbuka dan keluar lah Rio juga Rey.
Rio tersenyum melihat istri dan dua malaikat kecilnya. Dio berlari Kepada sang ayah dan Rio berjongkok untuk menyambut pelukan sang putra.
"ayah" teriak Dio melompat ke gendongan sang ayah
"Hay boy kamu ke kantor ayah" tanya Rio menghampiri Sisil dan Dea
"kenapa gak bilang dulu sayang" tanya Rio Kepada Sisil
"anak kamu nya maksa minta ke kantor ayah" jawab Sisil Rio pun terkekeh
"Rey kosongkan jadwal ku hari ini ya. karena jika tidak jagoan ku akan merusak kantor ini" ucap Rio dan Rey pun mengangguk tanda mengerti.
saat Sisil akan melangkah Mela memanggil Dea yang di tuntun oleh nya..
"dea" teriak Mela membuat semua orang menatap nya namun Mela tidak peduli ia merindukan Dea
__ADS_1
"anteh" ucap Dea berlari ke arah Mela
"oh girls aku merindukan dirimu" ujar Mela mengeratkan pelukannya
"anteh main dong ke rumah Dea" ucap Dea
"baiklah sayang anteh akan main kerumah mu" balas Mela, Sisil menghampiri Mela dan memeluk nya
"aku rindu mami muda mu" ucap Mela
"gak usah lebay oke, mainlah ke rumah ku" balas Sisil menarik tangan Dea
"baiklah aku kembali bekerja dulu" ucap Mela pergi
Sisil pun berjalan ke arah Rio, dan mereka memasuki lift khusus Presdir untuk ke ruangan Rio...
"beruntung ya si Sisil punya laki ganteng kaya raya lagi terus sekarang anak nya cantik sama ganteng pula" ucap resepsionis A
"iya tapi si bos juga beruntung Sisil kan cantik" balas resepsionis B
...
Sisil dan Rio pun tiba di ruang kerja Rio, Dio minta turun dari pangkuan sang ayah...
"ayah ini ruangan ayah" tanya Dea
"iya girls ini ruangan ayah" jawab Rio
"bagus ayah aku suka" ucap Dea tersenyum
"tentu saja apa kau ingin punya ruangan seperti ini" tanya Rio Dea pun mengangguk antusias
"iya ayah aku ingin, dan aku ingin duduk di sana di kursi yang ayah punya" jawab Dea lagi. Rio senang mendengar jawaban Dea itu artinya ia tidak perlu memaksa sang putri untuk terjun ke dunia bisnis. tidak hanya Dea Dio pun sama kedua anak Rio memiliki sifat yang sama seperti dirinya.
Sisil tidak pernah melarang keinginan anak-anak nya meskipun kedua anak nya akan mengikuti jalan dari ayah nya justru itu bagus. dengan begitu kedua anak nya akan memiliki rasa tanggung jawab yang besar.
"ayah Dio juga mau" ucap Dio Rio dan Sisil pun tersenyum
"baiklah nanti ayah akan buatkan kalian ruangan seperti ini" balas Rio kedua anak nya pun tersenyum senang.
"Dea memang Dea tidak ingin menjadi model atau dokter" tanya Sisil menatap sang putri
"tidak bunda" jawab nya cepat
"kenapa?" tanya Sisil penasaran. karena biasanya anak perempuan lebih menyukai profesi seperti itu namun kenapa tidak dengan anak nya.
"tidak apa-apa Dea hanya ingin membantu ayah. jika Dea jadi model atau dokter Dea nanti gak bisa bantu ayah bunda, Dea seneng kalo Dea bisa bantu ayah" jawab nya membuat Sisil dan Rio saling pandang
"anak kamu emang mas dua-duanya" ucap Sisil tersenyum begitupun dengan Rio, ia meraih tubuh sisil dan memeluk nya tidak lupa mengecup kening sang istri.
"terimakasih sudah melahirkan dua malaikat kecil untuk ku" bisik Rio membuat sosial tersenyum.
"iya, terimakasih juga sudah menjadi suami dan ayah yang baik untuk kami" balas Sisil mengecup bibir Rio sekilas
kedua anak nya sedang asik bermain dengan tablet milik sang ayah. Rio bahagia melihat anak nya yang tumbuh cantik dan tampan, nikmat mana lagi yang engkau dusta kan jika sudah diberi kebahagiaan yang lengkap seperti ini fikir nya...
ini visual nya Dea ya putri dari ***Rio Artadinata** dan Prisylla Anindya Pratama yang di beri nama* Dhea Anggita Putri Artadinata
dan ini putra dari Rio Artadinata dan Prisylla Anindya Pratama yang di beri nama Dhio Anggara Putra Artadinata
mohon maaf kalo gak sesuai bisa di bayangin sendiri aja ya ๐ nyari yang benar-benar sama kaya pinang di belah dua susah rupanya๐
***jangan lupa like komen dan vote nya ๐๐
N**: Thor bagi yang kaya Dio satu Thor ๐
A: dikira kacang bagi-bagi Mumun๐
N: mau akutuh Thor yang kaya begitu๐ญ
A: jangan kan elu Mun gue juga mau kalo dikasi mah๐
N: pelit amat Lo Thor, kalo gak boleh Dio yang kaya dea gak apa-apa Thor bersyukur gue๐
A: woy Mumun gue juga mau kalo ada yang ngasih. langsung dua juga gak apa-apa ๐
N: maunya elo itumah jamileh๐
A: Lo juga mau kan Mumun๐ญ
N: iya Thor moga nanti anak gue kaya begitu ya๐
A: iya serah Lo aja Mun๐
N: amin Thor ๐
__ADS_1
A: iya Mun ๐
N: ๐ค๐ค๐ค*