
Beberapa bulan berlalu kini kandungan Mae sudah menginjak usia 9 bulan, jika usia Mae menginjak usia 9 bulan itu artinya usia Mei menginjak usia 7 bulan dan usia kandungan Dea menginjak usia 4 bulan.
Hari ini Mae tengah berjalan di taman belakang bersama dengan Julian dan juga Aleta sang putri, Julian menuntun Mae sementara Aleta tengah duduk beralaskan tikar.
Julian mendudukkan Mae di kursi taman rumah nya, ia berjongkok di hadapan Mae dengan menciumi perut istrinya itu.
Saat Julian mengelus perut Mae ia merasakan anak nya itu bergerak hingga membuat Julian kegirangan bagaikan mendapatkan sebuah lotre.
"Sayang baby nga gerak" ucap Julian senang.
"Iya dia tau kalo papi lagi ajak dia main" ucap Mae mengelus kepala suaminya itu.
"Sayang kamu bisa dengar papi nak" ucap Julian dan perut Mae kembali bergelombang.
Tanpa mereka sadari ucapan keduanya terdengar oleh Aleta hingga membuat bocah itu berjalan mendekati kedua orangtuanya, Aleta menatap Julian dan Mae dengan tajam. hingga membuat Julian dan Mae merasa bingung.
"El kenapa" tanya Julian memeluk putrinya itu.
"Daddy not papi" ucap Aleta membuat Julian tersenyum.
"Papi not Daddy" ucap Mae tidak mau kalah, semenjak memiliki Aleta Julian jadi lebih sering dengan Aleta.
Mae sangat menyayangi Aleta namun Aleta bagaikan saingan terberat baginya, ia bingung ternyata anak perempuan cenderung lebih dekat dengan ayah nya.
"Daddy not papi mom" pekik Aleta.
"Mami not mommy El" ujar Mae, Aleta menatap Julian dengan mata berkaca-kaca hal itu membuat Mae mendengus. karena putrinya itu selalu menggunakan jurus andalan nya yaitu menangis di hadapan Julian.
"Mom Daddy not papi" ucap Julian mengelus kepala Aleta lembut.
"Aku mau nya mami papi, lagian mom and dad itu kan udah sama Aiden anak bang Justin" cebik Mae, ia berharap panggilan nya tidak sama karena tidak ingin tertukar.
__ADS_1
"Eh maunya Daddy bukan papi" lirih Aleta, karena ia merasa nyaman memanggil Daddy apalagi jika mendengar ucapan Aiden kepada Justin.
"Iya sayang Daddy ya not papi" ucap Julian lelaki itu tidak pernah ingin menyakiti hati Aleta apalagi mengecewakan nya, biarlah lagi pula Aleta masih kecil fikirnya.
"Pi" rengek Mae membuat Julian tersenyum dan mengangguk.
"Udah gak apa-apa sama juga, lagian kita kan satu keluarga gak apa-apa kok" ucap Julian ia pun mengelus kepala Mae dengan lembut.
"Mom itu apa di kaki mu, kau ngompol mom" ucap Aleta ia menunjuk kaki Mae yang keluar air.
"Mana ada mom ngompol ini bukan ngomp...ol ini...ini Julian ini air air ketuban" pekik Mae membuat mata Julian terbelalak.
"Kamu mau lahiran" tanya Julian panik.
"Iya dari semalem emang udah cekit-cekit cuma aku gak berani bilang" ucap Mae, tanpa menunggu lama Julian langsung menggendong tubuh Mae dengan cepat ke dalam mobil.
Begitupun dengan Aleta melihat Julian panik Aleta berlari kedalam rumah untuk memberi tahu mami alin dan Dea, sementara Julian ia langsung melajukan mobilnya tanpa menunggu mami dan kakak iparnya.
Julian tidak ingin terjadi sesuatu kepada Mae dan bayi nya, dalam perjalanan Mae sudah mulai meracau merasakan sakit di perut nya yang semakin sering.
"Sayang sabar ya sebentar lagi kita sampai" ucap Julian mengelus pipi Mae lembut.
"Sakit" lirih Mae membuat Julian tidak tega.
"Iya sayang sebentar lagi ya sayang" ujar nya, hingga tidak lama kemudian Julian dan Mae tiba di rumah sakit milik keluarga nya.
Julian langsung keluar dan beralih ke pintu sebelah tempat Mae ia buru-buru menggendong istrinya dan memanggil dokter, beberapa dokter dan perawat berlarian menghampiri Julian dan membawa Mae menuju ruang bersalin.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊 🤗
A**: aku percepat ya readers 😊
N: jangan dulu dong Thor ah elah 😪
A: biar gak lier akunya kalo di lambat-lambat tar kebanyakan episode nya Uun 😁
N: ya nggak apa-apa Thor 😂
A: ya kaga boleh lah bala nantinya 😂
N: mana ada bala 😒
A: udah ah happi reading oke like komen dan vote nya jangan lupa 😁
__ADS_1
N: oke deh oke 😁*