Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 145


__ADS_3

sore hari Dea tengah berjalan di area taman komplek, dan tanpa sengaja matanya menangkap sosok lelaki yang sangat tampan bukan main. usut punya usut lelaki itupun terlahir dari keluarga yang kaya raya dan sangat berpengaruh di negara nya sendiri, ya orang orang tua lelaki itu seperti ayah nya yg kaya raya meskipun ayah Dea masih berada di bawah nya sedikit.


Dea ke taman ingin menemui sahabatnya yang gila menurut nya siapa lagi jika bukan Nina si mulut mercon.


Dea duduk di salah satu kursi taman, namun matanya masih menatap ke arah lelaki itu.


"tampan si tapi sayang dingin nya melebihi kulkas empat pintu" gumam Dea.


dan tak berapa lama Nina pun tiba menghampiri Dea dan duduk di samping nya.


"aaaaaaaa bohay aku rindu padamu" teriaknya memeluk Dea.


"berisik Maemunah" ucap Dea


"Lo ngapa Hay?" tanya Nina


"Hay Hay Lo lagi nyapa sapa Mun?" jawab Dea


"elo lah jamileh siapa lagi" ujar Nina


"Dea Dea ke rumah Lo Yo gue pengen nginep ni. emak bapa gue pada kagak ada" ucap Nina membuat Dea menoleh.


"lah kemana emang om sama Tante?" tanya Dea


"sibuk Dea Lo gak tau ya emak bapa gue kang cilok online" jawab Nina asal.


"haha ngaco mana ada kang cilok online" ucap Dea.


tak sengaja mata Nina menangkap sosok laki-laki yang sedari tadi dea pandangi, seketika Nina membuka mulutnya.


"ngapa na?" tanya Dea melihat tingkah temannya


"Dea sejak kapan disini ada opa opa" jawab Nina dengan mata melebar


"kan disini emang banyak opa-opa yang lagi main sama cucu-cucu nya" ucap Dea


"hilih itumah aki-aki Dea Anggita Putri, inimah opa-opa" ujar Nina kekeh.


"nggak ada na opa gue Masi belum balik, betah banget emang jadi opa Toyib hahah" ucap Dea lagi membuat Nina kesal.


"yaampun temen gue, makan apa Lo jadi oon begindang" cetus Nina


"ya abis Lo gak jelas dari tadi cuma bilang opa-opa kan udah gue bilang opa gue gak ada" jawab nya


"opa-opa Kor*a maksudnya Maemunah, bukan opa aki-aki yang jalan sama cucu nya hilih" ujar Nina membuat Dea tertawa.


"manasi na" tanya nya


"onoh ganteng kan de kaya my baby honey Dio de" jawab Nina, Dea pun mengikuti arah tangan Nina. namun seketika mulut nya terbuka karena melihat ibu-ibu yang sedang bersama nya.


(hah? itukan mami yang rumah nya kaya istana di sebrang rumah. bahkan rumah mami itu lebih gede dari rumah ayah) batin Dea.


"Dea Lo ngapa mangap gitu? Lo laper?" tanya Nina


"eh...iya gue laper pengen makan Lo" jawab Dea.


Nina adalah sahabat Dea namun keadaan keluarga Nina tidak kaya seperti keluarga Dea, maka dari itu Dea tidak mau memberi tahu nina jika dia putri keluarga Artadinata. dia tidak ingin Nina minder.


usia Nina dan Dea terpaut satu tahun dan Dea lebih tua dari Nina, namun karena Nina masuk sekolah cepat maka dia jadi satu kelas dengan Dea. mereka berdua terkenal sebagai primadona, meskipun Nina kalah cantik dari Dea.


karena Dea belum mengetahui mengenai keinginan gio yang meminta Dio menikah dengan meitha, Dea sempat ingin mendekatkan Nina dengan Dio.


"jahat bener Maemun" ucap Nina.


"na gue balik ya, gue denger bokap gue mau bawa adik gue balik hari ini kaya nya sekarang udah sampe rumah" ujar Dea


"Maemun gue dirumah sendiri ini, emak bapak gue lagi kerumah Oma gue. Lo tega biarin inces yg imut ini sendiri" ucap Nina memelas.


"cih hahaha gila Lo ah, udah gue balik dulu. kalo keadaan memungkinkan gue bakal ijin ayah buat nginep rumah Lo" ujar Dea lalu meninggalkan Nina.


"dasar Maemunah, lagian kenapa si dia gak ajak gue ke rumah nya aja. huh yaudah gue balik aja" gumam Nina.


Dea berjalan menuju rumahnya, dan sitibanya di gerbang utama Dea melihat cowok ganteng yang dilihat nya di taman, cowok itu sedang mengeluarkan mobilnya entah lah ia mau kemana fikirnya.

__ADS_1


Dea pun masuk ke dalam dan benar saja mobil sang ayah sudah terparkir dengan rapi, Dea bergegas ke dalam dan melihat di ruang tamu ada gadis yang tengah menangis di dalam pelukan sang bunda.


"sayang kamu habis dari mana" tanya Rio menghampiri Dea dan memeluknya.


"aku habis dari taman yah" jawab nya.


saat melihat Mei Dea merasa canggung karena keadaan yang berbeda, apalagi saat melihat kasi sayang sang bunda yang begitu tulus. dalam hatinya terbesit rasa takut jika sang bunda akan lebih menyayangi Mei. namun sudahlah itu bukan masalah baginya.


"ayah rumah istana yang di depan udah ada yg ngisi ya" tanya Dea, ya karena tadinya rumah itu kosong dan masih di renovasi.


"iya sayang kenapa memang nya?" tanya Rio


"nggak" jawab Dea


saat mendengar suara Dea meitha menoleh dan menatap Kaka sepupu nya itu, ada rasa bersalah karena kehadiran nya membuat Dea tersaingi. dan bahkan kasi sayang Sisil pun harus terbagi.


"kakak" ucapnya berhambur ke pelukan Dea


"hei kamu kenapa" tanya Dea yang kaget.


"kakak maafin aku hiks...hiks... gara-gara aku kasi sayang ayah bunda harus terbagi" lirih Mei


"nggak sayang itu bukan salah kamu, kakak gak masalah ko soal itu. udah ya Mei jangan nangis lagi" ucap Dea menenangkan.


"baiklah terimakasih karena Kaka sudah sayang dengan Mei" imbuhnya tersenyum.


setelah semuanya beristirahat untuk menunggu waktu makan malam, Rio menjelaskan mengenai kecelakaan yang di alami gio dan Rio merasa beruntung karena saat kecelakaan Mei tidak ikut bersama gio dan Nita.


pada saat kejadian gio yang semula tinggal di negara B akan pergi ke bandara bersama Nita untuk mengurus anak perusahaan yang berada di negara J, dan saat itu Mei memang memaksa dan merengek minta ikut namun gio melarang keras karena Mei harus sekolah.


akhirnya saat itu meitha menurut saja dan tinggal di rumah bersama beberapa pelayan rumah gio, dan Mei tahu akan kecelakaan yang di alami gio dari Oma nya yang tak lain mami gio.


Sisil yang mendengar itupun merasa sedih namun juga masih punya rasa syukur, karena meitha masih selamat dan bahkan sekarang tinggal di rumah nya.


keadaan Mei persis seperti keadaan kanita dulu, maka dari itu Sisil ingin merawat Mei lagipula sekarang ia sudah menikah dan Rio bisa membantu menjaga Mei.


...


malam hari tiba dan Dio pun saat ini ada dirumah, Dio dan terlihat seperti kucing dan guguk. Dio duduk di meja samping Dea sementara Mei duduk di samping Sisil. dio menatap Mei dengan tajam namun yang di tatap malah cengengesan.


"iya mata gue lompat gara-gara liat Lo" cetus Dio


"dih mana ada hahaha gak ada mata lompat liat gadis cantik dan membahana kaya Mei" ujarnya bangga. dan membuat Sisil juga Dea tersenyum karena Mei kembali ceria.


"berisik Lo anak curut" ucap Dio


"yey kalo Mei anak curut Abang anak tikus biar kita berjodoh haha" goda Mei namun Dio malah mendengus.


"sudah lebih baik kita makan" ucap rio.


di dalam ruang makan itu terlihat sepi hanya ada suara denting sendok dan piring yang beradu.


selesai makan seperti biasa Dea dan Dio duduk di ruang tengah, Dea menatap Mei yang sedang mengunyah cemilan dan juga Dio yang selalu menganggu Mei hingga membuat gadis itu menjerit minta pertolongan.


seperti sekarang saat Mei akan mengambil keripik kentang di dalam toples dengan tangan jahil nya Dio menutup toples itu.


"kok datar gak ada bolong-bolong nya" ucap Mei tanpa mengalihkan pandangan nya.


namun Mei terus berusaha, dan Karen kesal iapun menoleh.


"Abang. pantes aja aku gak bisa-bisa orang di tutup" kesal nya


"lagi Lo ngemil Mulu tar gendut kaya kak Dea" ujar Dio membuat Dea menoleh.


"apanya yang gendut si? kak Dea bukan gendut tapi bohay" ucap Mei


"Lo bilang apa barusan? gue gendut?" tanya Dea, Dio yang melihat Dea bereaksi pun merutuki kebodohan nya. kali ini bukan cuma dua macam betina namun juga ada tiga ya Sisil, Dea dan Mei yang menurut nya seperti macan betina.


"nggak siapa yang bilang" elak Dio


"gak usah boong. besok Lo berangkat naik motor dan anterin meitha ke sekolah nya" ucap dea meninggalkan Mei dan Dio.


"hahaha rasain" ejek Mei

__ADS_1


"anak curut sial*n" umpat Dio namun Mei malah berlari meninggalkan nya.


...


pagi hari Mei bangun dari tidur nya dan bergegas ke kamar mandi, Mei belum tahu jika tiap pagi di rumah Sisil sesali ada perang antara Dio dan Dea. seperti saat ini.


"kak kunci motor gue dimana dah" tanya Dio mencari kunci motornya.


"mana gue tau Lo yang naro, Lo yg make kenapa nanya gue?" jawab Dea


"bantuin apa" ucap Dio


mendengar ribut-ribut Mei pun keluar dari kamar dengan keadaan sudah rapi dan cantik.


"nyari itu pake mata Dio, jangan pake mulut! Lo kaya emak-emak kehilangan sikat cuci tau gak" teriak Dea.


sementara Rio dan Sisil hanya menggelengkan kepala melihat tingkah anak-anak nya. apalagi nanti akan ada satu wanita lagi yang masih dalam kandungan nya.


"anak curut bantu cari kunci motor" ucap Dio namun Mei malah tertawa


"hahaha" Mei terpingkal-pingkal


"gue minta tolong kenapa Lo ketawa?" tanya Dio


"Abang gimana dah orang kunci motor dari tadi di pegang juga" jawab Mei menunjuk tangan Dio


"ah yaampun gue lupa" gumam nya.


"mangkanya nyari pake mata bukan pake mulut Panjul" ucap Dea lalu meninggalkan Dio yang menatap nya sinis.


"kak gak sarapan?" tanya Sisil


"nggak Bun aku mau langsung aja lagian hari ini aku mau jemput Nina dulu" jawab Dea Sisil pun mengangguk.


setelah kepergian Dea, Dio bergegas ke garasi untuk mengeluarkan motor sport nya. karena ia biasa menggunakan mobil namun karena perdebatan semalam bersama Dea kunci mobilnya yang biasa digunakan di sita dea. sebenarnya Dio bisa menggunakan mobil yg lain namun ia tidak ingin identitas nya di ketahui dulu.


"Abang Mei gimana naiknya" tanya Mei Bingung karena ia menggunakan rok sekolah yang sedikit di atas lutut.


"terbang aja curut" jawab Dio


"Abang nggak boleh gitu nanti Abang suka sama Mei" ucap nya membuat Dio menatap nya sinis.


"Abang Mei pegang pundak Abang gak apa-apa kan, biar Mei bisa naik nya" ucap Mei lagi.


"pegang pundak Abang bakso aja Mei" cetus Dio.


"mana boleh begitu" balas Mei dan akhirnya naik juga ke motor Dio.


Dio mengantar Mei lebih dulu ke sekolah saat ia masih SMP, setelah itu ia langsung menunjukkan sekolah nya yg sekarang. Dio tidak berani membantah perintah Dea apalagi sang bunda selalu menakutinya jika Dea akan di nikahkan dengan anak tetangganya yang memiliki rumah bak istana itu. Dio mengenal nya dan lumayan dekat namun Dio diberitahu oleh sang bunda agar tidak memberitahu Dea terlebih dahulu.


.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya 🙏😉


N**: gue juga pengen jadi si Mei dah😂


A: ah Lo mah jadi siapa aja pengen Maemunah 😒


N: kalo orang ganteng kaya babang Dio aku mau 😂


A: hilih 😒

__ADS_1


N: 🤣🤣🤣*


__ADS_2