Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 370


__ADS_3

Beberapa jam kemudian bayi Nina berhasil di selamatkan, kedua orang tua Juna sudah berada di rumah sakit mereka begitu merasa khawatir saat Juna memberi tahu apa yang telah terjadi.


Awalnya orang tua Juna marah dan kecewa namun karena melihat keseriusan Juna yang ingin bertanggung jawab mereka merasa kasihan, saat ini putra nya itu harus mengurus bayi seorang diri.


"Juna tenang lah nak bayimu akan baik-baik saja" ucap mama Juna menenangkan putranya.


Tak lama kemudian dokter pun keluar dengan seorang bayi perempuan yang cantik, bayi itu terlihat lebih mirip dengan Juna bahkan dari wajah nya tidak ada yang mirip dengan Nina.


Hal itu membuat Juna yakin jika ini benar-benar bayinya, mama Juna meneteskan air matanya saat melihat bayi perempuan yang cantik itu. ia seperti melihat Juna versi wanita.


"Tuan bayinya seorang wanita dan begitu cantik, wajah nya sangat mirip dengan anda" ucap dokter itu, Juna menerima bayi nya dan mengadzani nya.


Setelah mengadzani putrinya Juna kembali memberikan bayi itu kepada dokter, ia meminta ijin untuk menemui Nina di dalam sana.


"Dok bolehkah saya bertemu dengan ibunya" ucap Juna, membuat dokter itu tersenyum dan mempersilahkan nya.


Juna masuk dan menatap tubuh Nina yang terbaring kaku, air matanya menetes saat ia membayangkan jika dirinya bisa hidup dengan Nina dan juga putrinya.


Juna mendekat dan menggenggam tangan Nina yang terasa dingin, wajah itu terlihat sangat pucat.


"Nina terimakasih, terimakasih karena kamu mau mempertahankan anak kita meskipun kamu berniat menitipkan nya kepada orang lain dan menjauh kan dia dari ayah kandung nya. tapi aku bersyukur karena itu memang anakku, terimakasih telah memberikan putri yang cantik untuk ku. dan maaf jika selama ini aku belum membuat mu merasa bahagia" bisik Juna, ia benar-benar merasa hancur pada saat ini. meskipun dulu ia tidak mencintai Nina namun melihat Nina yang mengandung anak nya Juna berfikir akan menerima Nina dan hidup bersama.


"Juna" panggil mama Juna yang masuk menghampiri putranya.


"Ma" lirih Juna.


"Biarkan dia pergi dengan tenang, kita tidak bisa menghindari takdir untuk saat ini tugas kamu hanya menjaga dan merawat anak kamu dengan baik. didik dia agar tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti apa yang kalian lakukan" ucap mama Juna menasehati anak nya.


"Tapi bagaimana jika dia menanyakan soal ibunya" lirih Juna.


"Katakan lah yang sebenarnya jika ibunya pergi saat melahirkan dia, jangan katakan apa kesalahan ibunya cepat atau lambat saat dia dewasa nanti dia akan mengetahui nya sendiri" ucap mama Juna memegang bahu putranya, saat ibu dan anak itu tengah merasa sedih Dio dan Julian datang menemui Juna.


Dio dan Julian pun bisa melihat tubuh Nina yang terbujur kaku, ada rasa bersalah di hati Dio namun ia merasa ini semua adalah takdir.


"Juna" panggil Dio dan Julian.


"Yo" balas Juna, ia tetap berusaha untuk tersenyum.


"Nina" tanya Dio.


"Nina sudah tenang Yo, dia gak akan ngerasa bingung lagi buat ngurus anak nya" lirih Juna membuat Dio langsung memeluk sahabatnya itu.

__ADS_1


"Jangan khawatir kita disini ada buat lo" ucap Dio membuat Juna mengangguk.


Mereka yang tengah merasa sedih di kagetkan oleh tangis bayi yang yang begitu keras, Juna menengok ke arah pintu dilihat nya seorang suster membawa bayi itu.


"Tuan maaf bayinya tidak berhenti menangis" ucap suster itu, Juna segera menggendong bayinya dan berjalan mendekati Nina.


"Na lihatlah anak kita bukankah dia sangat cantik, apa kamu tidak ingin merawat nya? dia masih membutuhkan kamu na" ucap Juna ia mendekatkan bayinya kepada Nina, namun nihil Nina tidak akan pernah bangun kembali.


Mungkin memang Nina sudah merasa lelah namun ia tenang karena anak nya di akui oleh Juna, hingga ia tidak ingin bangun kembali membuat bayi itu terus menangis.


"Mungkin bayi nya haus" ucap Dio membuat Julian dan juna menoleh.


"Ah bagaimana jika bayi nya aku bawa ke ruangan Mae dulu untuk sementara, dia juga melahirkan di rumah sakit ini. jadi kamu bisa mengurus pemakaman Nina dengan baik" ucap Julian membuat mama Juna tersenyum, karena bayi Juna belum bisa untuk dibawa pulang.


"Apa tidak merepotkan mu" tanya Juna yang merasa tidak enak.


"Tidak sama sekali" ucap Julian tersenyum, Juna pun memberikan bayi nya kepada Julian.


Julian langsung membawa bayi perempuan itu ke ruangan istri nya, sementara Dio membantu Juna untuk mengurus pemakaman Nina.


Juna begitu terlihat hancur hingga Dio berfikir mungkin Juna sudah mulai mencintai Nina, namun takdir berkata lain bahwa Nina memang harus pergi meninggalkan Juna dan juga putrinya.


"Julian kamu bawa anak siapa? kamu gak nyulik anak orang kan" cerocos mami alin membuat Julian mencebikan bibirnya.


"Ya nggak lah mi ngapain aku nyulik anak orang" jawab Julian.


"Ya terus yang kamu bawa anak siapa itu, jangan ngaco kamu ya anak kamu ada disini Jul" ucap mami alin.


"Mi bisa dengerin aku ngomong dulu nggak, jangan main nyerocos aja kaya bajaj gak ada rem" kesal Julian membuat mami alin melengos.


"Itu anak siapa Pi" tanya Mae yang sejak tadi diam.


"Ini anak nina_" ucap Julian, ia pun menjelaskan bagaimana keadaan Nina dan ia juga menjelaskan jika bayi ini kehausan hingga ia memutuskan untuk membawanya karena merasa kasihan kepada Juna.


Mendengar ucapan Julian Dea, Mae, mami alin dan Mei terkejut hingga menutup mulutnya. mereka tidak menyangka jika ini terjadi kepada Nina dan Juna.


"Kemarikan bayi nya" ucap Mae dengan air mata yang mengalir.


Mau tidak mau Julian memberikan bayi itu kepada Mae, Dea dan Mei pun berjalan mendekati Mae dan bayi Nina.


"Bayi yang cantik" lirih Dea dan Mei.

__ADS_1


"Beginikah cara kamu menjaganya Nina, kamu hanya mempertahankan nya hingga bayi ini lahir setelah itu kamu meninggalkan nya. kenapa kamu Setega itu na berniat memisahkan anak dan ayah hingga akhirnya kamu sendiri yang terpisah dari anak kamu" lirih Mae, membuat Julian memeluk istrinya itu.


"Sudah sayang kamu tidak boleh menyalahkan nya, biarkan bayi itu disini dulu nanti suster akan menyiapkan tempat tidur nya" ucap Julian membuat Mae mengangguk.


Bayi Nina di taruh di samping kiri tempat tidur Mae, sementara bayi Mae di samping kanan tempat tidur Mae.


Mae menatap bayinya yang begitu tampan yang diberi nama Axel Devano Abrisham, bayi tampan yang mewarisi wajah Julian hingga selalu membuat hatinya merasa kesal karena kedua anak nya begitu mirip dengan Julian.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***Happy reading πŸ˜ŠπŸ€— jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


A**: maaf ya kalo mengecewakan kalian yang berharap Nina nya hidup lagiπŸ™‚


N: dah lah gak apa-apa Thor kalo Nina nya idup lagi gue takut tobat bentaran doang, nanti dia nyuru anak nya buat deketin anak Dea atau anak Mae lagi πŸ˜‚


A: hus belum tentu jamileh πŸ˜‚


N: kan bisa aja Thor mangkanya jaga-jaga aja sii biar kaga kecolongan πŸ˜†


A: bener juga 🀣


N: 🀣🀣🀣*

__ADS_1


__ADS_2