
Hari ini Mei mengganggu Dio, karena kepergian Dio yang sebentar lagi Mei terus menggoda sang Abang yang kadang membuat Dio merasa kesal. namun juga ia merasa takut karena ia akan kesepian tanpa Mei lagi nanti.
"Abang nanti Abang jangan kangen sama Mei ya" Ucap Mei percaya diri.
"Pede banget loh" balas Dio
"Abang mah begitu, tar Abang disana kesepian bang" ucap Mei, namun Dio malah melengos meninggalkan Mei.
Bukan Mei namanya jika tidak berhasil menggoda Dio, ia mengikuti Dio hingga ke kamarnya melihat Dio yang berbaring di atas tempat tidur Mei melompat ke tempat tidur milik Dio.
"Abang Mei mau tanya" ucap Mei.
"Apaan" balas Dio.
"Abang kalo orang pacaran itu ngapain aja ya" Tanya nya dengan polos. dan itu membuat Dio menatap Mei dengan tajam.
"Ngapain Lo nanya kaya gitu?" selidik Dio.
"Abang kalo orang pacaran terus cium*n, itu yang di cium apanya?" tanya nya lagi, tanpa menggubris pertanyaan Dio.
"Bodoh banget, Lo masih kecil ngapain nanya kaya begituan?" tanya Dio lagi.
"Abang ajarin dong" Ucap Mei.
"Ajarin apaan?" Tanya Dio.
"Itu Abang cium*an" jawabnya sontak membuat Dio menyentil dahi Mei.
"Awwww. sakit ih Abang" pekik Mei memegang dahinya.
"Lagian Lo ada-ada aja. di ajarin siapa Lo begitu?" tanya Dio curiga.
"Nggak ada yang ajarin, cuma mau tau aja temen Mei pada ngomongin cerita novel yang sering di baca, ada begituan nya" jawab nya polos.
"Begituan apaan?" tanya Dio heran.
"Begini bang pasti ada kata dan merekapun melakukannya apaan coba maksudnya?" jawab Mei, dan Dio pun menepuk dahinya.
"Terus apa urusannya ama elu meimunah" kesal Dio.
"Mei penasaran Abang ajarin ya" pintanya mengedipkan mata.
(ajarin apaan dah sebanyak-banyaknya gue jalan sama cwe, tapi kagak pernah main begituan. gue kan inget kakak sama adik gue cewek, mana berani gue mainin cewek) batin Dio.
"Nggak ada begitu-begitu, kalo mau di ajarin nanti kalo kita udah nikah" ucap Dio membuat Mei membuka mulutnya.
"Jadi Abang mau nikah sama Mei?" tanya nya antusias.
"Si...siapa bilang?" ucap Dio.
"Tadi kan Abang yang bilang begitu" Kesal Mei.
__ADS_1
"Gue gak ngomong gitu Lo salah denger kali" ucap di mengelak. bukan apa-apa ia hanya tidak ingin Mei bersedih karena Dio akan meninggalkan nya.
"Bang ih bilang aja iya, biar Mei seneng gitu" kesal nya.
"mana ada iya. ogah yang ada" ucap dio membuat Mei kesal. karena kesal Mei menggigit tangan Dio, dan itu membuat Dio menggaduh.
"Awwww, sakit anak Curik si*kan" teriak Dio yang melihat Mei berlari keluar.
"Hahaha, alot bang" teriak Mei berlalu meninggalkan Dio.
"Kampr*t emang bocah. untung tangan gue gak copot" gumam Dio..
Begitulah keusilan Mei sekarang, karena setelah pernikahan Dea Abang nya itu akan segera pergi.
...
Di salah satu kamar terlihat anak gadis yang tersenyum dan meneteskan air matanya, ia memandangi foto dirinya, Dea dan juga Dio.
Dea yang terlihat mirip dengan Dio meski tidak banyak, Mei tersenyum. ya gadis itu adalah Mei, ia terus memandangi wajah Dio dan Dea.
"Bang baik-baik ya disana, Mei doain Abang biar bisa banggain ayah sama bunda" Lirihnya.
Saat Mei sedang melamun, Dea masuk ke dalam kamar mei. ia bingung melihat wajah Mei yang sembab.
"Mei" panggil Dea.
"Eh iya, Kaka sejak kapan disini" tanya Mei mengusap wajahnya.
"Baru saja" balas Dea.
"Kau kenapa?" tanya Dea.
"Tidak aku tidak apa-apa" jawab Mei.
"Mei gak boleh begitu, aku kakak kamu cerita saja" Ucap Dea, dan membuat Mei meneteskan air matanya.
"Aku sedih, kakak akan segera menikah dan Abang juga akan pergi hiks..." ujar Mei.
"Hei kamu gak usah sedih Mei, meskipun aku menikah aku akan tetap bersamamu dan bunda. jika soal Abang Dio kamu gak usah sedih ia pasti akan kembali" ucap Dea memeluk Mei.
Sikap dewa Dea memang semakin terlihat saat dirinya tahu, jika ia akan segera menikah. Dea harus bisa jadi kakak juga orang tua untuk adik-adiknya termasuk Dena adik bungsunya.
Bahkan selama libur Dea sangat membantu Sisil merawat Dena, ia begitu menyayangi si bungsu. bahkan ia selalu mengatakan kepada Justin agar dapat menyayangi keluarga juga adik-adiknya.
"Kau tidak usah takut, Mei nggak sendiri disini banyak yang sayang sama Mei" tambah Dea, Mei pun mengangguk.
(kamu adikku Mei, aku tau kamu sudah terbiasa akan kehadiran Dio. dan mungkin tanpa kalian sadari jika kalian sama-sama takut kehilangan. aku disini sebagai kakak mu meskipun kamu tidak lahir dari rahim bundaku, tapi kamu tetap adik yang aku sayangi seperti Dio dan juga Dena) batin Dea menenangkan Mei.
Setelah menenangkan Mei Dea berlalu ke kamar nya. ia membaringkan tubuhnya Dea menatap langit-langit kamar hingga Sisil masuk ke kamar putrinya.
"Kak bunda masuk ya" ijin Sisil.
__ADS_1
"Iya Bun masuk aja" ucap Dea. Sisil masuk ke kamar Dea dan memindahkan kepala putrinya ke atas pangkuannya.
"Kakak kenapa?" tanya Sisil lembut.
"Nggak apa-apa Bun" jawab Dea tersenyum. ia menatap mata sang bunda yang berkaca-kaca.
"Bunda kenapa?" tanya Dea.
"Gak apa-apa, bunda hanya terharu karena sekarang kakak udah gede. dulu jari mungil kakak yang selalu buat bunda tenang dan nyaman" jawab Sisil mengelus kepala Dea.
"Bun kakak disini sama bunda, kakak gak akan kemana-mana" ucap Dea mengelus punggung tangan Sisil.
"Kakak gak boleh gitu, surga nya istri itu ada pada suaminya. jadi kakak harus nurut apa kata suami" ucap Sisil menasehati.
"Iya Bun, tapi Abang sendiri kok yang bilang. kalo Abang masih banyak urusan dan mami alin juga sama mereka harus terus bolak-balik luar negri. jadi Abang ijinin kakak tinggal sama bunda sampai selesai S1" ujar Dea Sisil pun tersenyum.
Ia memandangi wajah putrinya yang tenang, ia mengelus wajah Dea dengan lembut hingga membuat gadis itu terlelap di pangkuannya
Sisil memindahkan kepala putrinya ke atas bantal dan ia ikut berbaring di samping Dea, Sisil memeluk Dea dengan hangat. ia takut jika putrinya mengalami masalah dalam rumah tangga, ia takut jika putrinya merasakan sakit dan kecewa. meskipun Sisil yakin Dea tidak lemah seperti dirinya justru itu yang membuat Sisil khawatir jika sang putri akan menyembunyikan apa yang di alaminya.
"Sebesar apapun kamu, dan sedewasa apapun kamu bagi bunda kamu tetap gadis kecil bunda nak. jemari lentik ini dan mungil ini yang selalu mengusap wajah bunda dengan lembut. mulut mungil ini yang selalu memanggil bunda jika kamu merasa kesusahan, dan tubuh mungil ini hehe. kenapa tubuhmu menjadi mungil, sedangkan dulu tubuh kamu begitu besar. sudah lah intinya tubuh mungil ini yang selalu bunda peluk" ucapnya. lalu mengecupi setiap inci wajah Dea.
Sisil kembali memandangi wajah putih mulus, dan cantik Milik putrinya. ia tersenyum karena mampu merawat Dea dengan baik hingga sebesar ini, Sisil selalu berdoa dan berharap agar Tuhan selalu memberikan kebahagiaan untuk putri juga anak-anak nya yang sangat ia sayangi.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: lagi ya gengs jan lupa dukungan nyaπ
N: dukungan apa Thor? π
A: vote nya voteπ*
*N: okelahπ
__ADS_1
A: Uun terbaik emangπ
**N: πππ***