
Ia ingin menyelidiki orang yang mengirim foto itu kepada Mae, jangan salah diam-diam Dea memiliki keahlian dalam menyelidiki berbagai kasus.
Setibanya di ruang kerja Dea langsung melacak nomor telepon itu, Dea pun tersenyum sinis karena nomor telepon itu adalah milik manager Jeselin.
"Cih, dasar mu**Han masig saja menggunakan cara seperti ini" dengus Dea.
Ia mengelus perutnya dengan mengucapkan kata amit-amit berulang kali, setelah selesai Dea pun keluar dan menghampiri sang bunda.
"Bun" panggil Dea.
"Yaampun kaget bunda kak" ucap Sisil mengelus dada nya.
"Hehe maaf, kapan Bun acara nya Dio" tanya Dea.
"Besok malam kak, katanya keluarga aunty Nita juga mau datang" lirih Sisil, melihat bunda nya yang kurang semangat Dea menuntun Sisil untuk duduk di sofa.
"Bunda kenapa" tanya Dea.
"Bunda takut kak kalo mereka berfikir kita mau menguasai Mei" jawab Sisil membuat Dea mengerti ketakutan sang bunda.
"Bunda gak usah khawatir, siapa yang berani mengatakan bunda nya aku seperti itu. toh apa gunanya kita menguasai Mei kita bukan orang yang gila harta bukan" ujar Dea.
"Bunda tau kak, tapi gimana kalo mereka membuat kekacauan" ucap Sisil.
"Bunda liat aku, apa bunda merasa memaksa Mei untuk menikah dengan Dio? apa bunda bersikeras untuk menjodohkan mereka? tidak bunda tidak melakukan itu, mereka memiliki perasaan dengan sendirinya kita tidak pernah memaksa nya bukan. kita hanya memberi tahu jika pernikahan lebih baik daripada mereka harus pecaran lebih lama yang nantinya akan membuat mereka kelewat batas" ucap Dea, Sisil pun mengangguk ia menatap putrinya itu. Sisil melihat kesedihan di dalam mata Dea.
Entah apa yang putrinya itu sembunyikan yang jelas Dea tidak pernah mengadu kepada Sisil, meskipun sedang bersedih Dea selalu berusaha untuk menghibur orang-orang di sekitarnya.
...
Sore harinya Julian dan Justin pulang dari kantor, Justin tidak menemukan Dea namun ia yakin Dea berada di rumah Sisil dan Rio.
Sementara Julian setibanya di kamar ia di cueki oleh Mae, Mae hanya menatap nya sinis tidak ingin bertengkar Mae hanya bungkam.
Julian mendekati Mae dan mengecup kening Mae lalu pergi ke kamar mandi, Julian sedikit bingung dengan tingkah Mae.
Setelah selesai mandi Julian mendekati Mae dan duduk di samping istri nya, ia mengelus kepala Mae dengan lembut hingga membuat Mae menoleh.
"Kenapa?" tanya Julian.
"Kamu dari mana" ucap Mae.
"Tumben nanya kaya gitu, biasanya juga gak pernah nanya begitu" ucap Julian.
"Aku nanya kamu dari mana emang salah" ucap Mae dengan ketus.
"Oke, aku dari kantor bang Justin udah gitu langsung ke kantor papi" balas Julian.
__ADS_1
"Bohong" ketus Mae.
"Jujur aku gak boong, kalo gak percaya kamu tanya papi sama bang Justin aja" ucap Julian, ia takut jika Mae akan ngamuk.
"Terus ini apa?" tanya Mae melempar ponselnya kepada Julian, melihat ponsel Mae di lempar Julian cukup kaget.
"Ya ini ponsel kamu kan" jawab Julian membuat Mae kesal.
"Foto yang ada di ponsel itu maksudnya" kesal Mae, Julian pun melihat foto yang di maksud oleh Mae. ia menghela nafasnya karena merasa tidak bersalah jadi Julian tidak begitu terkejut.
"Ini aku sama Jeselin, kok cepet banget nyampe ke kamu nya" ucap Julian santai.
"Julian mah ngeselin, aku kira kamu udah berubah taunya masih sama aja" ucap Mae dengan air mata yang mengalir. hal itu membuat Julian panik.
"Sayang jangan nangis dong, kan aku araaagghhh" ucap Julian frustasi.
Huuuueeekkk, huuuueeekkk... Mae yang melihat Julian muntah menjadi khawatir.
"Julian gak apa-apa?" tanya Mae.
"Aku gak apa-apa, tapi kamu angan nangis ya" jawab Julian memegang perutnya.
"Iya aku gak akan nangis, tapi kamu jelasin dulu maksudnya itu apa" lirih Mae.
Julian pun memeluk Mae dan menceritakan semuanya yang terjadi di kantor Justin tadi, tidak ada yang di lewatkan ataupun di sembunyikan oleh Julian.
.
.
.
Sementara di kamar lain setelah kembali dari rumah Sisil Dea buru-buru ke kamar nya, ia melihat Justin yang tengah duduk di sofa.
Dengan cepat Dea duduk di atas pangkuan Justin, Justin yang merasa kaget lalu tersenyum saat melihat wajah Dea.
"Kamu mau goda Abang hmmmmm?" tanya Justin.
"Nggak, mana ada mau goda Abang" jawab Dea panik.
"Kamu harus tanggung jawab" ucap Justin.
"Abang yang hamil aku kenapa aku yang harus tanggung jawab" dengus Dea, ia merasa kesal kepada suaminya itu.
"Sayang ini sudah bangun gara-gara kamu, jadi kamu harus menidurkan nya lagi" ujar Justin.
"Mana ada begitu sii, kenapa selalu aku yang harus bobokin?" kesal dea, niat ingin bermanja malah jadi di kerjai oleh suaminya.
__ADS_1
"Sayang ayolah" lirih Justin.
"Abang" kesal Dea.
"Nolak dosa loh, mau emang jadi istri luknut" goda Justin.
"Haih dasar suami gaada ahlak selalu saja seperti ini" kesal Dea.
Hingga akhirnya ia pun menuruti keinginan suaminya itu untuk menidurkan Justin junior, dengan rasa lelah dan ngantuk Dea pun tertidur pulas dalam pelukan Justin.
"Terimakasih sayang" ucap Justin mengecup kening Dea, hingga akhirnya iapun ikut tertidur.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: nih un seadanya aja dulu yaπ
N: Mon maklum ya Thor π
A: lah iya vote kaga lu ah minta banyak π€£
N: kalo udah vote banyak kaga Thorπ
A: ya banyak lah un π
N: okelah gue nguli duluπ
A: otw un π€£
N: siaaap π*
__ADS_1