
Hari ini Dio mengantar Mei untuk menjenguk Dea, dan ya soal Desi dan Dodi itu sudah di urus oleh orang kepercayaan Justin. karena Justin ingin keduanya benar-benar menderita, tidak ada kebahagiaan untuk keduanya setelah di merasa tersiksa maka Desi dan Dodi akan di serahkan kepada Lion kesayangan keluarga Abrisham.
Mei memasuki ruang rawat Dea, karena Dea sudah di pindahkan ke ruang VVIP. Mei melihat Justin yang tengah menundukkan kepalanya dengan tangan yang menggenggam tangan Dea.
Mei dan Dio merasa terharu keduanya tidak menyangka jika Justin benar-benar kacau, Dio dan Mei mendekati Justin.
"Bang" panggil Mei.
"Bang Justin" ucap Dio, dan saat itulah Justin mendongakkan kepalanya.
"Ya?" jawab Justin.
"Abang istirahat aja, biar kita yang jaga kak Dea" ucap Dio.
"Tidak, kalo kalian mau jenguk Dea silahkan" ujar Justin.
"Tapi bang_" ucap Dio terhenti.
"Aku tidak ingin menyesal untuk kedua kalinya karena meninggalkan Dea" balas Justin.
"Muka Lo pucat banget bang" ucap Dio, tentu saja semalaman Justin tidak tidur karena tidak ingin membiarkan Dea sendiri. bahkan tugas menjaga pun di bagi-bagi, jika nanti Justin merasa lelah maka ia akan bertukar dengan Rio atau Eza.
Sementara Mae ia di jaga oleh Julian dan jika Julian merasa lelah, maka akan bertukar dengan sang papi atau Zian. karena orang tua Mae yang sedang berada di luar negeri, bahkan mama Mae sempat ingin pulang namun Justin melarang. ia tidak ingin melihat mama Mae sedih karena keadaan Mae.
"Gak apa" balas Justin, karena tidak ingin berdebat Dio pun membiarkan Justin saja. sementara Mei gadis itu menciumi seluruh wajah Dea yang pucat.
"Kakak bangun, ini Mei kakak kuat ayo bangun" lirihnya di telinga Dea.
"Kita semua sayang kakak, kita nunggu kakak dan kita gak akan biarin kakak kaya gini. bangun kak disini masih ada ayah, bunda, Mei, bang Dio, Dena dan bang Justin yang butuh kakak. kita semua nunggu Kakak." tambah Mei dengan air mata yang mengalir.
Tanpa mereka sadari Dea pun meneteskan air matanya dengan mata terpejam, ia bisa mendengar namun tubuh nya merasa lelah untuk terbangun.
Saat Mei menatap wajah Dea ia tercengang melihat air mata yang mengalir, Mei pun terisak dan mencium pipi Dea.
"Kakak akan sembuh kita akan nunggu kakak kembali, kakak tahu bang Justin sangat menyayangi kakak. bahkan Abang tidak ingin membiarkan kakak sendiri" ucap Mei, yang malah membuat air mata Dea semakin deras.
"Bang" panggil Mei.
"Ya?" jawab Dio.
"Kakak nangis bang" ucapnya membuat Justin terlonjak dan menghampiri Dea.
"Mei" ucap Dio saat melihat wajah Dea.
__ADS_1
"Sayang bangun, aku disini aku akan tetap disini sama kamu. Abang gak akan ninggalin kamu sampai kamu sembuh" lirih Justin di telinga Dea.
"Abang kangen kamu Dea, plis bangun jangan siksa Abang seperti ini. dunia Abang terasa berhenti melihat kamu seperti ini" bisik Justin frustasi.
Dio dan Mei yang melihat Justin merasa sedih dan kasihan, pasalnya baru saja keduanya akan bahagia namun kejadian ini membuat kebahagiaan itu hilang.
Bahkan justin saja belum sempat mengungkapkan perasaan nya, namun melihat Justin yang seperti ini Dio dan Mei yakin jika Justin sudah mulai mencintai Dea.
...
Sementara di ruangan lainnya terlihat Julian yang tengah menjaga Mae, tidak beda jauh dengan Justin. Julian pun merasa sesak di dada nya melihat Mae yang terbaring lemah, meskipun ia baru mengenal Mae namun Julian merasa salut kepada Mae yang rela berkorban demi Dea.
Karena menurut Julian jaman sekarang sulit untuk mendapatkan sahabat sejati seperti Dea dan Mae, Julian menggenggam tangan Mae dan memandangi wajah pucat nya.
"Lo tuh bodoh banget si, Lo kira nyawa Lo ada berapa heh?" ucap Julian.
"Dengan gegabah Lo lakuin hal yang bikin nyawa Lo hampir melayang, Lo manusia Mae bukan kucing dan nyawa Lo cuma satu bukan sembilan" tambah nya.
Tak lama pintu kamar Mae terbuka dan nampak lah Dio dan Mei, setelah menjenguk Dea keduanya memutuskan untuk menjenguk Mae.
Dan mereka melihat Julian yang sedang mengomel kepada Mae, Mei pun tersenyum karena ia tau Julian itu konyol bisa-bisanya ia mengomel kepada orang yang sedang koma.
"Jul" panggil Dio.
"Ketemi Lo panjul-panjul" dengus Julian.
"CK. baper ah" balas Mei.
"Gimana keadaan Mae?" tanya Dio.
"Masih belum ada perubahan Yo, bahkan gue ngomong aja gak ada respon sama sekali" jawab nya.
Mendengar ucapan Julian Mei mendekati Mae yang sedang terbaring, Mei tersenyum mengingat ia yang pernah bertemu Mae dan bercerita dengan Mae.
Mei mencium kening Mae tak lama air matanya luruh, Mei tidak menyangka jika Mae sangat menyayangi Dea. bahkan jika ia melihat kejadian itupun belum tentu Mei berani mengambil tindakan seperti yang Mae lakukan.
"Hai, kak mae apa kabar? pasti baik kan, kakak bangun dong aku kangen sama kakak" ucap Mei, namun tidak ada respon.
"Kak kita semua sayang kakak, kita semua nunggu kakak dan kita gak akan tinggalin kakak" ucap nya masih berusaha untuk mendapatkan respon, namun tetap saja sama.
"Kak Mae harus kuat, kak Dea pasti nungguin kakak. kak Dea pasti sedih kalo liat Kaka lemah kaya gini" tambah Mei, dan saat itulah Mae meneteskan air matanya saat mendengar nama Dea.
Karena Mae tahu bagaimana ia melihat Dea yang tergeletak tidak sadarkan diri dalam pelukan Justin, maka saat ada yang menyebutkan nama Dea Mae akan dengan mudah memberikan respon.
__ADS_1
"Kakak" ucap Mei tidak menyangka, jika Mae akan memberikan respon dengan hanya menyebutkan nama sang kakak yang juga terbaring koma.
"Kenapa Mei" tanya Dio.
"Kak Mae nangis bang" jawab Mei, dan sontak membuat Julian menoleh.
"Lo apain si Mae Mei? kenapa dia nangis gitu" tanya Julian.
"Gak gue apa-apain kok" jawab Mei.
"Bohong Lo ya, Lo sakitin dia kan Mei" ucap Julian membuat Mei mendengus.
"Gila Lo ya! mana ada gue nyakitin kak Mae" kesal Mei membuat Dio tersenyum. karena Mei Terlihat sudah baik-baik saja bahkan tidak kelihatan lemah seperti biasanya.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading 😊🤗
A**: Mon maap ya baru up 😁
N: kemana aja Lo Thor😒
A: ada kok 😁
N: nunggu gak enak ketemi😒
A: lagian gak ada yang bilang enak kok😂
N: hilihh😒
__ADS_1
A: 🤣🤣🤣*