Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 184


__ADS_3

Pagi hari Dio bangun dari tidurnya hari ini ia akan bermanja kepada sang bunda, karena ia akan segera meninggalkan bundanya.


Dio bergegas mandi dan menuruni tangga, selama ini ia selalu membantu sang ayah di kantor. jadi wajar saja jika Dio jarang berada di rumah, semenjak campur tangan Dio perusahaan Rio melesat lebih maju lagi.


Dio memiliki kecerdasan dan keganasan seperti ayah nya dalam mengelola perusahaan dan juga bisnis, tak di pungkiri jika wajah dingin nan menggemaskan Dio banyak di sukai para wanita.


Bahkan banyak dari rekan bisnis Rio yang ingin menjodohkan putrinya dengan Dio, namun Rio tidak menggubris nya ia hanya memberi penjelasan jika Dio masih harus mengejar studi nya.


"Good morning" ucap Dio mencium pipi sang bunda juga ayah nya.


"Morning bang" jawab Sisil dan Rio bersamaan.


"Dea mana?" tanya Dio mencari keberadaan kakak nya.


"Masi di kamar" jawab Sisil.


"Ohhhh" balas Dio tanpa suara.


"Yah Abang gak ikut ke kantor dulu" ucap nya lagi.


"Tidak masalah, ayah juga tidak akan ke kantor bang" balas Rio.


"Kenapa? tumben ayah gak ke kantor" tanya Dio.


"Ayah kamu abis di protes sama Dea, gara-gara sibuk Mulu" kali ini Sisil yang menjawab.


"Hahaha selama ini ayah selalu rajin ngantor ya Bun, kalo kita larang aja bilang nya masih banyak waktu libur" ucap Dio tertawa.


"Iyalah disaat ayah mu bilang kerja itu penting, kalo kakak kamu udah protes bisa apa?" ledek Sisil. mendengar ucapan sang bunda Dio pun terkekeh.


Tidak bisa di pungkiri Rio memang paling takut jika putrinya marah, karena jika Rio protes kepada Dea ia akan bilang tak coret dari kartu keluarga dan itu hanya bercanda. tapi Dea membalas jika Dea protes maka ia akan mengancam sang ayah dengan mengatakan ganti wali nikah. Dea pun sama hanya bercanda.


Mana mungkin Dea akan menjauh dari ayah tercintanya itu, apalagi selama ini ia sangat di sayang oleh ayah nya.


"Ledekin aja terus bang ledekin" ucap Rio.


"Haha mon maap ya" ucap Dio.


Setelah berbincang dengan Sisil dan Rio, Dio memutuskan untuk menggangu Dena Daik bontot nya yang selalu anteng dengan ponselnya.


"Dena" panggil Dio.


"Hmmmm" sahut nya tanpa menoleh. dan itu membuat Dio tercengang.


"Dek" panggilnya lagi, dan merebut ponsel sang adik.


"Abang poncel Adek" rengek nya.


"Nggak ada! lagian Abang panggil gak nyaut" ucap Dio.


"Abang" kesal nya menatap mata Dio.


"Gak takut" ucap Dio meledek sang adik.


"Hiks...hiks..." jurus andalan nya pun keluar, Dena tahu Dio dan ayah nya tidak akan membiarkan nya menangis.


"Yaahhh ko nangis" ucap Dio menciumi pipi gembul Dena.

__ADS_1


"Poncel nya Abang" rengek nya lagi.


"Adek kalo udah main ponsel lupa sama Abang" ucap Dio.


"Huhu bundaaa huaaaaaa Abang nakal, ambil poncel Adek" tangis Dena pun pecah, karena teriakan nya yang cukup keras. membuat Dea berlari ke bawah untuk melihat sang adik.


"Adek kenapa?" tanya Dea.


"Abang jahat poncel Adek di ambil huaaaaaa" tangis nya lagi.


"Bang" Rio pun mulai bersuara.


"Nggak, nggak iya ini ponsel Adek ini" ucap dio. jika mata sang ayah sudah mulai mengkilat apalah daya dio.


Setelah mendapatkan ponselnya Dena kembali diam dan berbinar, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. dan itu membuat Dio menganga.


"Dih dasar bocah! tadi teriak-teriak sekarang anteng lagi" dengus Dio.


Dio berjalan menghampiri sang bunda, dan merebahkan kepalanya di pangkuan Sisil yang membuat Rio dan Dea cemburu.


"Abang geser" ucap Rio.


"Nggak mau" balas Dio.


"Abang ini jatah ayah" ucap Rio lagi.


"Nggak mau, ayah gantian dong. ayah kan sering sama bunda" rengek Dio.


"Bang" ucap Rio.


"Nggak ayah manja" cetus Dio.


"Yah aku kan gak keringetan jadi gak asem" ucap Dio, membenamkan wajahnya di perut Sisil.


"Abang ganteng, awas dong ayah mau boboan" ucap Rio lagi.


"Abang emang ganteng kan anak ayah. kalo Abang jelek berarti bukan anak ayah" ujar Dio yang membuat Rio bungkam.


"Iya juga ya, ko gue bodoh. dilihat-lihat anak gue cakep-cakep" gumam Rio membuat Dea tertawa.


"Yah bibit nya bagus ya" ucap Dea.


"pake urea kak biar subuh dan cakep-cakep" ceplos Rio.


"Sue kamu yah, dikira anak mu tanaman pake urea" cetus Sisil.


"Kan aku yang nanam yang, berarti aku juga yang kasi pupuk" jawab Rio.


"Ya gak pake urea juga dong ayah" gemas Sisil. kembali membuat Dea terbahak-bahak.


"Terserah, bang awas ihh" ucap Rio kembali mengganggu Dio.


"Nggak mau" tolak Dio.


"Abang" panggil Rio namun tak di gubris oleh Dio. melihat perdebatan ayah dan adiknya membuat Dea gemas.


Hingga akhirnya Dea ikut memperebutkan sang bunda, tentu saja Dea ikutan karena ia yakin kedua laki-laki itu akan mengalah. karena bagi Rio dan Dio kita harus mengalah kepada wanita, menghormati wanita juga memperlakukan dengan baik dan lembut.

__ADS_1


"Ayah awas dan Abang minggir" ucap Dea, yang membuat Dio berjingkat langsung duduk.


"Kaget akunya Dea" ujar dio mengelus dadanya.


"Kenapa jadi begini gustiii" ucap Sisil menepuk dahinya.


"Di saat ayah memaksa dan bang Dio nolak ayah gak bisa berbuat apa-apa, tapi kalo kak Dea udah bertindak dengan satu gertakan kalian berdua bisa apa" ledek Mei. membuat Dio mencebikan bibirnya.


"Dia memang kelemahan mereka" ucap Sabil yang tiba-tiba muncul.


"Astagfirullah, anteh nyambung aja kaya petasan" ceplos Dio.


"Kurang asem kamu bang ngatain anteh petasan" ucap Sabil.


"Haha Mon maap dah" ucap Dio lagi.


"Kak Rio sama bang Dio mah gak bisa apa-apa, kalo Dea sama Dena udah bersuara" ujar Sabil merengkuh tubuh mungil Mei.


"Iyalah, kalo kita protes bisa roboh rumah ini" ledek Dio.


"Bener, wanita itu ibarat jantung nya rumah. Alhamdulillah gue punya anak sama bini nya bawel" ujar Rio membuat Dea dan Sisil menatap nya tajam.


"Apa kamu bilang yang?" tanya Sisil.


"Mamp*s. emak nya macan bangun, mulut ngapa blong banget" ucap Rio merutuki dirinya sendiri.


"Haha rasain kamu kak, anak dan istrimu emang tempat kamu pulang. tapi mereka juga bisa jadi ancaman untuk kamu" ledek Sabil.


"Gak usah ledek bil" ucap Rio.


"Yah enak gak di pelototin bunda" tanya Dio polos.


"Nanti kamu ngalamin kalo udah punya istri" jawab Rio.


"Lah Masi lama" ujar Dio.


Sabil sedari tadi memeluk tubuh mungil Mei dan mengelus kepalanya, sementara Mei yang di peluk oleh Sabil menatap Dea yang merebahkan kepalanya di pangkuan Sisil. Mei merasa sedih dan takut, dua orang yang selama ini menjadi teman nya akan sama-sama pergi. Dea akan menikah sementara Dio akan melanjutkan studi nya. namun Mei yakin semua akan indah pada waktunya.


.


.


.


.


.


.


.


***jangan lupa like komen dan vote nya πŸ™πŸ˜‰


A**: udah up lagi noh. yang ini ala-ala keluarga dulu ya😁


N: buat kebersamaan ya Thor😁

__ADS_1


A: ia karena si Dea mau nikah biar ada kesan nya 😁


N: bener dahπŸ€£πŸ˜‚*


__ADS_2