
Meskipun dengan keadaan ngantuk dan kaget karena mami nya pulang dengan heboh, Dea tetap bisa bersikap tenang untuk menenangkan sahabatnya.
Setelah selesai mencerna semua ucapan mami alin tangis Mae pun pecah, tubuhnya luruh di atas lantai. Dea mencoba menahan tubuh Mae namun sulit mengingat perutnya dan perut mae yang buncit, dan juga tubuh Mae yang sangat lemah membuat Dea ikut duduk menahan Mae
Mae menangis, menjerit memanggil mama dan papa nya ia meraung berharap orang tuanya datang.
"Mamaaaa, huaaaaaaa kenapa mama tinggalin Mai kenapa. bahkan cucuk mama belum lahir, mama udah janji kan mau rawat anak Mai bareng-bareng" jerit nya, membuat air mata Dea dan mami alin menetes.
Dea kembali mengingat kejadian gio dan Nita yang meninggalkan trauma kepada Mei, namun Dea berharap Mae tidak akan mengalami trauma.
"Mae sabar Mai, tenangin diri kamu" ucap Dea, namun Mae terus saja meraung ia kehilangan kendali dirinya. Mae memukul dada nya yang terasa sesak.
Kehilangan orang tua yang di cintainya lebih menyakitkan, daripada perlakuan Julian selama ini. Mae bertahan dengan pernikahan nya karena tidak ingin orang tuanya kecewa, namun saat sikap Julian sedikit berubah mengapa orang tuanya pergi.
"Ma_ma hiks...hiks" lirih nya.
"Mae kamu harus tenang nak, mama kamu dalam perjalanan kesini kamu harus kuat" ucap mami alin.
"De gue bener-bener sendiri kan sekarang, mama papa gue pergi ninggalin gue. padahal mereka udah janji bakal terus sama gue dan anak-anak gue" ucap Mae, ia mengguncang tubuh Dea dan menatap Dea.
Dea yang melihat Mae seperti itu langsung memeluk Mae dengan erat, ia tidak ingin Mae merasa sendiri.
"Mai Lo gak sendirian disini ada keluarga yang sayang banget sama Lo, kita gak bakal biarin Lo sendiri" ucap Dea menenangkan.
"Gue bakal sendirian de, Lo sama bang Justin bakal pergi ninggalin gue. mami juga selalu pergi begitupun dengan Julian, gue selalu berharap saat kalian pergi ninggalin gue dan saat anak gue lahir nanti. gue akan tinggal sama mama dan papa gue, tapi apa nyatanya mereka lebih dulu ninggalin gue" lirih Mae, wajahnya sudah di banjiri oleh air mata.
"Mai denger gue gak akan pindah, kita akan tetap satu rumah kita akan bikin rumah ini rame dengan anak-anak kita nanti. gue gak akan ninggalin Lo sama kaya Lo yang gak pernah ninggalin gue" ucap Dea.
Tak lama kemudian Julian datang, ia berlari menuju ke kamar nya. Julian merasa takut jika Mae kenapa-napa dan benar saja saat tiba di depan pintu kamar nya ia melihat Mae yang terkulai dalam pelukan Dea.
Julian merasa sakit di dada nya melihat Mae duduk di lantai, dengan tangan lemah yang memegang perut nya.
__ADS_1
"Mae" panggil Julian, membuat Dea dan mami alin menoleh. Julian berjalan ke arah Mae ia melihat wajah rapuh istrinya itu.
"Jul mama" ucap Mae terbata, Julian yang mengerti mengambil alih tubuh Mae kedalam pelukannya.
"Sabar mama sudah di temukan, dan sekarang dalam perjalanan menuju kesini" ujar Julian.
"Mama ninggalin aku Jul hiks...hiks... kenapa mereka pergi bersamaan" ucap Mae.
"Mai semua sudah menjadi kehendak nya, kita hanya perlu mengikhlaskan dan mendoakan. kamu yang sabar kamu harus percaya akan ada pelangi setelah hujan" ucap Julian, mami alin dan Dea terharu melihat perlakuan Julian kepada Mae sekarang.
Tidak hanya Julian bahkan Justin dan Carl pun ikut pulang, agar mereka bisa ikut ke pemakaman orang tua Mae.
Justin memeluk tubuh Dea dan menciumi puncak kepala nya, sementara Carl hanya melihat pemandangan di hadapan nya.
Papi Justin tidak bisa pulang karena ia harus mengurus kasus yang terjadi, hingga hanya mami alin lah yang pulang.
...
"Ma, pa aku sayang kalian. semoga kalian bahagia disana doakan Mae semoga Mae bisa menjadi orang tua yang baik seperti yang kalian lakukan kepada Mae" lirih nya, ia menangis di saksikan oleh keluarga Abrisham dan keluarga Artadinata hanya Dio saja yang tidak ada.
Mae merasa kepalanya pusing dan matanya berkunang-kunang, pandangan Mae berubah menjadi gelap dan ia pun tidak sadarkan diri.
Hal itu membuat Julian dengan sigap menangkap tubuh Mae, tanpa sadar Julian ikut meneteskan air matanya saat melihat sisi lemah Mae.
"Bawa Mae ke rumah sakit aja Jul, dia kebanyakan nangis soalnya" ucap Dea yang di angguki oleh Julian.
Merekapun memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing, sementara Julian saat ini tengah berada di rumah sakit untuk menemani istri nya.
.
.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
***Happy reading ππ€
A**: nulis nya gak kuat gaes π
N: sedih ya Thorπͺ
A: iya nyesek aja gitu π
N: sabar ya Thorπ€
A: pastinya π
__ADS_1
N: π€π€π€*