
Di tempat lain Dio sedang merapikan pakaiannya di bantu oleh sang bunda, hatinya terasa berat namun mau gimana lagi? ia harus pergi untuk tujuannya.
Setelah selesai packing Sisil pergi meninggalkan Dio, Dio yang di tinggal oleh sang bunda memutuskan untuk membersihkan diri setelah selesai membersihkan diri, ia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur hingga akhirnya Dio terlelap.
Saat Dio tidur Mei masuk ke kamar Dio, ia memandangi wajah tampan sang Abang. Mei menatap dan mengelus wajah mulus milik Dio dengan jemari lentiknya.
"Baik-baik ya Abang di sana, jangan nakal ya. meskipun Abang disana ingat kalo disini ada gadis cantik yang selalu menunggu Abang. hehe" ucap Mei tersenyum sendiri.
Dengan ragu-ragu Mei menciumi wajah Dio dan itu membuat Dio terkejod, karena saat Mei mengelus wajahnya Dio sudah bangun. hanya saja ia enggan membuka matanya.
Hingga akhirnya pandangan Mei berhenti pada bibir seksi milik Dio, iapun menempel kan hidungnya dengan hidung mancung milik sang Abang.
"Pasti kangen banget aku sama Abang" lirihnya.
Dan saat ia akan menjauhkan wajahnya Mei di kejutkan oleh tangan Dio yang menahan tengkuknya, Dio mengecup bib*r Mei dan melum*t nya dengan lembut. hingga membuat Mei membelalakkan matanya.
Mei meronta-ronta namun tenaganya kalah kuat dari Dio, hingga akhirnya Dio melepaskan ci*mannya saat Mei kehabisan nafas.
"Abang huh huh huh. gila ya Abang jahat udah nodai Mei" ucap nya dengan nafas yang tersengal-sengal.
"Lo yang mulai kan" ujar Dio tersenyum. namun Mei membelalakkan matanya.
"Sue mana ada Mei yang mulai" protes nya.
"Gue normal Mei, mana ada laki-laki yang tahan kalo di gituin sama cewek" balas Dio yang membuat pipi Mei merona.
"Abang ih ngeselin" Grutu Mei, dan berlalu meninggalkan Dio.
Sementara Dio tersenyum penuh kemenangan, ia yakin bahwa dirinya laki-laki pertama yang mencium Mei. bagaimana tidak selama ini Mei tidak pernah keluyuran sama seperti Dea.
Mengingat tentang Dea apakah Justin berhasil menaklukkan sang kakak? ah biarkan saja itu urusan mereka.
...
Saat ini Dio menghampiri Mei ke kamarnya, dilihatnya Mei sedang berbaring di sofa dengan memainkan ponselnya.
"Lagi ngapain Mei" ucap Dio, membuat si empunya kamar terlonjak kaget.
"Abang ngagetin aja" kesal Mei.
"Haha sorry, lagian Lo fokus amat" ucap Dio.
"Ngapain Abang kesini?" tanya mei.
"Gak ngapa-ngapain, emang Lo gak mau kangen-kangenan sama gue" goda Dio.
__ADS_1
"Hidih Abang pede banget, mana ada Mei kangen sama Abang" elak Mei.
"Gak usah begitu lah, tadi sore aja Lo nyosor kan" goda Dio.
"Yaampun Abang bisa gak si diem, dan gausah bahas itu" kesal Mei, namun malah membuat Dio tersenyum.
Dio memutar tubuhnya hingga mereka berhadapan, Dio menangkup wajah Mei dan menatap nya. sementara Mei terlihat gugup, melihat tatapan Dio Mei menelan Saliva nya dengan kasar.
Mei takut jika kejadian tadi siang akan terulang lagi, namun gimana ini Mei juga ingin memeluk Dio untuk perpisahan. tapi Mei tidak berani Melakukan itu, hingga akhirnya Dio membuka suara.
"Mei" panggil Dio.
"Iya bang" jawab Mei pelan.
"Baik-baik disini, jangan nakal" ucap Dio.
"Iya nggak" balas Mei.
"Gue janji bakal cepet kelarin studi gue" ucapnya menatap mata Mei.
"Dan Lo disini harus serius dalam belajar, dan harus dapet nilai terbaik" tambah Dio.
"Iya baik bang" jawab nya.
"Kalo Lo berhasil bikin ayah sama bunda bangga, gue bakal pastiin kali gue gak bakal bikin Lo kecewa" ucap Dio, membuat jantung Mei berdegup kencang.
"Ma... maksudnya Abang?" tanya mei, bukannya menjawab Dio malah tersenyum.
"Lusa gue akan pergi, Lo baik-baik dan inget jangan macem-macem" ucap Dio.
"Iya Mei tau. sekali juga cukup ngomong kaya gitu" balas Mei.
"Inget ada gue yang lagi berjuang buat Lo" ucap dio, yang membuat Mei semakin penasaran.
"Abang apaansi. jangan bikin Mei takut apa bang" kesal Mei.
"CK. Lo ngapain takut hmm? ada gue yang akan jaga Lo" ucap Dio membuat Mei membuka mulutnya.
"Abang dari tadi ngomong muter-muter, Mei pusing ini melebihi main komedi putar pusingnya" cetus Mei, yang membuat Dio terkekeh.
"gemes banget sii" ucap Dio, menempelkan hidungnya dengan hidung Mei.
Deegg... deegg... Jantung Mei berdegup lagi.
(Abang Lo bisa bikin gue mati secara gak langsung kalo begini terus, yaampun tolong Mei tuhan Mei belum mau mati. amal Mei belum banyak jadi belum ada bekal buat kesana) batinnya lagi.
__ADS_1
"Iya tau iya Mei emang gemesin udah" ujarnya.
"Mei" panggil Dio.
"Hmmmmm" balas Mei, masih dengan posisi yang sama.
"Inget ya ada gue yang lagi berjuang buat Lo, biar bisa sepadan sama Lo" ucap Dio. Mei tidak bicara, ia hanya mendengar kan dan menunggu kalimat selanjutnya.
"Ayah bunda gue emang orang kaya, tapi gue gak bisa manfaatin harta mereka cuma buat jadi sebanding sama cewek. gue mau studi ke luar karena gue mau usaha sendiri buat jadi pantas kalo lagi sama lo, gue pengen kaya bang Justin yang jadi pantas sama kak Dea bukan karena kekayaan orang tuanya. melainkan karena kerja kerasnya, dan gue akan ngelakuin hal yang sama agar gue pantes bersanding sama Lo. *M**eitha Putri Pradanta*" ucap Dio. menc*um bi*Ir Mei sekilas lalu pergi.
Sementara Mei masih mematung di tempatnya, ia masih mencerna ucapan Dio. dan saat sudar bisa mencerna Mei meneteskan air matanya, ia bahagia juga terharu. siapa sangka jika ia bisa menaklukkan hati Dio yang super dingin.
Ingin rasanya Mei melompat dan teriak namun ia takut akan mengundang perhatian, apalagi jika Sisil dan Rio tahu apa yang akan ia katakan kepada keduanya.
Mei tersenyum bahagia, ia berharap segala urusan Dio di permudah. dan ia berharap dirinya dan Dio akan bisa mencapai cita-citanya bersama.
.
.
.
.
.
.
.
***Jangan lupa like komen dan vote nya ππ
A**: yang minta part Dio udah akoh kasi nohπ
N: Thor gue baper sama Dio π
A: jangan kan elo, gue aja yang nulisnya senyum-senyum sendiri kaya olang warasπ
N: bang Dio buat gue dahπ
A: gak boleh nanti Mei nya galau π
N: pelitπ
A: bodomamat π
__ADS_1
N: πππ*