
Beberapa hari ini Dea merasa kesal kepada Justin, ya karena perubahan sikap nya yang secara tiba-tiba.
Justin jadi lebih menyebalkan dan bahkan sering membuat emosi Dea memuncak, seperti saat ini mereka yang seharusnya pergi ke butik menjadi berantakan gara-gara Justin yang tidak bisa menemani Dea.
"Kau bisa pergi sendiri bukan?" tanya Justin.
"Emang Abang mau kemana?" balas Dea.
"Saya ada urusan! dan saya harap kamu bisa pergi sendiri" ujar nya.
"Ya Dea bisa kok sendiri" balas Dea berlalu meninggalkan Justin. matanya sudah memanas dan berkaca-kaca.
"Pergi aja sana pergi, di fikir gue gak bisa apa sendiri" Kesal Dea.
Dea menjalankan mobilnya sendiri, ia menjadi ragu dengan pernikahan nya. Dea ingat bahwa ia pernah melihat foto wanita di kantor Justin, tapi itu bukan Desi Mak lampir yang selalu mencari masalah dengan nya.
Setibanya di butik Dea segera menemui manajer butik, dan buru-buru mencoba nya saat dirasa pas Dea bergegas pergi.
...
Setibanya di rumah Dea masuk ke kamar dan merebahkan diri, biarlah saat ini kebahagiaan orang tua nya lebih penting. mengingat kedekatan Dea dengan Justin membuat Dea membuang nafas nya kasar.
"Bentar-bentar baik, terus jutek dasar laki-laki menyebalkan" Gumam Dea.
Karena merasa mumet Dea beranjak dari tempat tidur nya dan turun ke bawah, dilihat nya ada tuan Gerry opa yang selama ini sangat sibuk bahkan sulit untuk di temui.
"Opaaa" panggil Dea memeluk tuan gerry.
"Hay cucu opa tersayang, udah gede ya udah mau nikah aja" goda tuan gerry.
"Opa plis berhenti berkata begitu" ucap Dea, melihat reaksi cucunya tuan gerry pun mengerti.
"Ada apa nak katakan" ucap nya. ya memang opa yang satu ini sangat perasa.
"Dea takut opa hiks...hiks" tangsi Dea pecah.
"Kenapa? apa nak Justin tidak baik kepada kamu?" tanya nya.
"Tidak opa dia sangat-sangat baik" jawab Dea.
"Nak waktunya sudah tidak lama lagi, jadi mengertilah mengenai ayah dan bundanya" sarannya, dan Dea pun mengangguk.
Terkadang Dea berfikir kenapa ia jadi seperti cerita-cerita yang dipaksa menikah, yang selalu ia baca. si gadis harus menikah dengan laki-laki kaya hanya untuk melunasi hutang orang tua nya.
Namun mengingat cerita itu Dea tersenyum, anggap saja ia tuan putri yang nantinya akan bahagia.
__ADS_1
Tidak ada prewedding karena pernikahan ini masih di sembunyikan, mengingat Dea ingin S1 dulu baru menggelar pesta.
Hari-hari begitu cepat berlalu hingga acara pernikahan tinggal satu Minggu lagi, pernikahan di adakan di rumah Rio karena Dea tidak ingin menyewa gedung.
Dea menemui Rio yang berada di ruang kerja nya, ia merindukan sosok ayah nya yang selalu sibuk. Dea tidak minta kekayaan Dea hanya minta kasi sayang Rio.
"Ayah" ucap nya tanpa mengetuk pintu.
"Ya sayang, kenapa nak?" tanya Rio.
"Akhir-akhir ini ayah sibuk terus" jawab nya duduk di sofa.
"Ya karena ayah harus menyelesaikan semuanya, sebelum pernikahan kamu nak" ujar Rio. mata Dea mulai berkaca-kaca melihat ayah nya.
"Ayah" panggil Dea.
"Hmmmmm" balas Rio tanpa menoleh.
"Yah kerja terus buat dapet uang?" tanya Dea.
"Iya nak, kalo ayah gak punya uang nanti kamu sama adik-adik gimana" jawab Rio.
"Yah uang bukan yang terpenting untuk kakak, meskipun memang segalanya harus pake uang. tapi waktu sama perhatian ayah lebih penting, selama ini ayah sibuk bahkan ayah yang biasanya nemenin kakak sekarang gak ada Buat nemuin kakak." ucap Dea menghela nafas nya.
Ia menatap mata indah milik putrinya yang sudah di genangi oleh air mata, Rio menghampiri Dea dan memeluk erat tubuh mungil putrinya.
"Maafkan ayah nak, ayah salah karena malah cuekin kamu" ucap Rio mengecup puncak kepala Dea.
"Yah kakak gak salahin ayah, kakak cuma minta ayah buat ada di samping kakak. selama ini selain Dio cuma ayah laki-laki yang kakak percaya, cuma kalian yang bikin Kaka aman dan nyaman. tapi sekarang kakak harus hidup dengan laki-laki lain yang bahkan gak kakak kenal sepenuhnya hiks...hiks..." ujar Dea.
"Ayah tau nak, tenanglah kami akan selalu ada buat kamu kak. jangan takut lagi" balas Rio menenangkan.
Rio mengerti tentang ketakutan Dea, ia tahu karena bagi anak perempuan sosok ayah lah yang menjadi cinta pertamanya. bahkan kebanyakan anak perempuan ingin memiliki pasangan hidup seperti ayah nya, begitupun dengan Dea ia ingin memiliki pasangan seperti Rio, melihat sikap Justin yang berbeda dengan sang ayah membuatnya sedikit takut.
Meskipun Dea tipe anak yang berani melawan dan bertindak, namun ia selalu di nasehati oleh sang bunda untuk nurut sama suami. dan itulah yang membuat Dea takut, ia harus bisa menutupi sikap Justin mau itu buruk atau baik. Dea takut jika ia akan merasa kecewa dan tidak bisa mengadu Dea takut akan hal itu.
...
Di tempat lain terlihat Mei sedang melamun, Dio yang memiliki sifat usil mengerjai Mei.
"Woy bengong Mulu" teriak Dio mengagetkan.
"Astagfirullah abang, jantungan nanti Mei nya" kesal Mei.
"Lagian Lo bengong Mulu" ucap Dio.
__ADS_1
"Siapa yang bengong si Abang" balas Mei.
"Elo lah, kemarin ayam gue bengong Mulu mati" ucap Dio membuat Mei mengernyit.
"Abang mana punya ayam, megang aja gak berani" ledek Mei.
"Punya lah Lo gak tau ya" ucap Dio.
"Iya punya dalam kulkas, Abang kan beraninya megang ayam goreng bukan ayam idup" ledek Mei membuat Dio mencebikan bibir nya.
"Gak usah begitu, so seksi banget" tambah Mei.
"Gue emang seksi Lo baru tau" narsis dio.
"Cih. naj*s" ucap Mei meninggalkan Dio.
Dio merasa heran karena akhir-akhir ini Mei terlihat menjaga jarak, namun Dio tidak mengetahui kenapa.
Mei selalu mencoba jauh dengan Dio karena agar ia tidak terlalu kesepian, saat nanti Dio pergi untuk melanjutkan kuliah nya.
.
.
.
.
.
.
.
***jangan lupa like komen dan vote nya ๐๐
N**: yang banyak apa Thor๐
A: tiap hari dah, tapi kasi semangat akoh terus๐
N: baik dah๐
A: oke maaciw๐
N: ๐ค๐ค๐ค*
__ADS_1