Terjebak Cinta Presdir

Terjebak Cinta Presdir
Epson 219


__ADS_3

Setibanya di rumah sakit Dea segera di bawa ke ruang pemeriksaan dan Mae segera di bawa ke ruang operasi, Sisil dan Rio merasa hancur melihat putri kesayangannya nya seperti itu.


Rio dan Justin segera menghubungi orang kepercayaan nya, keduanya benar-benar menghancurkan keluarga Dodi dan Desi tanpa ampun hingga ke akar-akarnya.


Merasa belum puas? tentu saja apalagi Justin yang melihat istrinya tergeletak, jika Justin lelaki yang kuat dan tidak pernah menangis hari ini lelaki itu selalu meneteskan air matanya.


"Abang" panggil mami alin, ya setelah mendengar kabar dari Julian Dea di larikan ke rumah sakit. wanita paruh baya itu buru-buru pergi ke rumah sakit.


"Mami" lirih Justin dalam pelukan sang mami.


"Abang yang sabar Dea pasti baik-baik aja" ucap mami alin menenangkan.


"Ba...bayi mi" ucap Justin membuat mami alin tersentak, ia baru inget jika menantu nya sedang mengandung.


"Abang yang sabar ya bang, kita tunggu kabar dari dokter dulu" ucap mami alin, tidak hanya mami alin kanita dan Sabil pun Adan si sana.


"Kakak" panggil kanita.


"Kan hiks...Dea" lirih Sisil.


"Kak yang kuat, kakak gak boleh kaya gini kakak harus inget kita semua gak boleh sedih kasian Dea" ucap Sabil.


Saat sedang saling menguatkan semuanya teralihkan oleh kedatangan Nina, kanita yang melihat Nina merasa murka dengan gadis itu.


"Bunda" ucap Nina.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Sabil.


"Tante aku_" jawab Nina terhenti.


"Puas kamu hah? liat gara-gara kamu yang egois sekarang liat dua sahabatnya kamu sedang mempertaruhkan nyawanya di ruang operasi" teriak kanita membuat mata Nina membulat sempurna.


"Ma... maksud Tante" tanya Nina.


"Gara-gara kebodohan kamu ponakan saya celaka, bahkan kita gak tau nasib bayi yang di kandung nya. dan gara-gara keegoisan kamu Mae tertembak Nina hati kamu dimana? kurang baik apa ponakan saya sama kamu? kurang peduli apa Dea dan Mae sama kamu hah" teriak kanita lagi.


"Tan aku minta maaf, aku tau aku salah. Bun Nina minta maaf Bun" mohon nya, namun saat ia akan menyentuh tangan sisil, tangan Nina di tarik lebih dulu oleh seseorang.


Dan betapa terkejutnya ia melihat lelaki yang suka selama ini, lelaki yang membuat ambisi nya menjadi besar.

__ADS_1


"Di... Dio" lirihnya, ya lelaki itu adalah Dio.


"Ngapain Lo disini" tanya Dio datar, dan itu membuat hati Nina sakit.


"Ak...aku mau jenguk Dea" jawab nya.


"Gak perlu, kakak gue gak butuh temen kaya Lo" cetus Dio.


"Tapi dio_" ucap Nina terhenti saat ruang ICU terbuka.


Sisil, Justin dan Rio langsung menghampiri dokter tersebut, Rio menanyakan keadaan Dea dan calon cucunya.


"Gimana keadaan anak saya dok?" tanya Rio.


"Nona muda mengalami koma tuan, tapi_" jawab dokter itu terhenti.


"Ta...tapi apa dok?" tanya Justin.


"Mohon maaf tuan kandungan nona muda tidak bisa kami selamatkan, karena kandungan nona sudah cukup kuat untuk bertahan dalam keadaan nona yang tertekan dan stres. namun kejadian hari ini dan benturan yang keras membuat kandungan itu sangat lemah, bahkan nona mengalami pendarahan hingga kandungan tidak bisa kami selamatkan. nona mengalami tertekan dan shock yang sangat berat hingga tubuh nya melemah." jelas dokter itu takut-takut.


Bagai tersambar petir disiang bolong mendengar penjelasan dokter itu, tubuh Justin ambruk di atas lantai, dan Sisil sebagai orang tua merasa tidak sanggup. hingga pandangan nya terasa buram dan gelap.


...


Sementara di ruangan lain. Mae yang sudah selesai di Operasi juga sama, ia mengalami koma hingga membuat Julian frustasi.


Dua wanita bawel yang selalu mengganggu hidupnya terbaring lemah di rumah sakit, ia tidak menyangka Mae lebih mengorbankan nyawa nya untuk Dea.


Justin meminta kepada perawat untuk menemui Dea, meskipun tadinya di larang namun ia berhasil membujuk perawat itu dan di ijinkan menemui Dea.


Hati Justin terasa sakit saat melihat istrinya tak berdaya, Dea yang bawel yang ceria hanya bisa berbaring di tempat tidur dengan alat medis yang menempel di tubuh nya.


"Sayang ini aku, kamu denger kan" ucap Justin.


"Sayang bangun, jangan seperti ini aku gak rela liat kamu seperti ini" lirihnya.


"Dea bangun, aku kangen kamu." ucap Justin dengan air mata yang menetes.


Justin merasa hidupnya hampa, melihat Dea yang seperti ini itu lebih sakit dari saat ia di tinggal pergi oleh Agis. tidak kepergian Agis itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan melihat sang istri yang tak berdaya.

__ADS_1


Justin tidak menyangka jika Dea lebih mengorbankan diri dan anaknya, hanya untuk melindungi nya. namun iapun mengerti jika Dea sudah merasa pasrah mengenai kandungan nya yang ia rasa sudah tidak baik-baik saja.


Mungkin kandungan Dea bertahan hanya


sampai bertemu dengannya yang menjadi sosok ayah, bahkan bayi itu belum terbentuk masih segumpal darah yang tinggal di tahun istrinya.


Justin menangis tersedu-sedu sambil mengecupi seluruh jawab Dea yang pucat, di elusnya pipi Dea yang mulai tirus sakit jika mengingat istrinya yang sangat manja sebelum mengetahui kehamilan nya.


Oh, andai Justin bisa menggantikan posisi Dea saat ini betapa bahagianya ia. namun sayang semua sudah terjadi, Justin hanya akan berdoa akan ada kebahagiaan setelah ini.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


***happy reading 😊🤗


A**: nyesek amat ya😭


N: elomah bikin gue nangis Thor😪


A: nangis boleh tapi jangan pake ingus lah Uun😒


N: Mon maap kelabasan 🤣


A: suee Lo😒

__ADS_1


N: 🤣🤣🤣*


__ADS_2